
Sampai di sekolah Syeira memarkirkan motornya. Beberapa motor di sana sudah sedikit banyak, tidak seperti hari biasa yang hanya sedikit datang. Karena jika saat ujian mereka takut akan kena hukuman dan akan mengulur waktu banyak untuk mengerjakan ujian.
Melepaskan helm dan menaruh di kaca spion motor. Ketika menengok ke arah kiri dia melihat Nana yang baru datang.
Nana memarkirkan motornya di jejeran motor siswa lain. Sedikit jauh dari tempat parkir motor Syeira.
" Lah ra, kamu juga baru datang?" Tanya Nana kepada Syeira ketika menoleh ke arah kanan.
" Eh, iya nih. Kok kita bisa bersamaan gini." Menghampiri Nana yang baru melepaskan helmnya. Sedikit membenahi poni rambut yang berantakan
" Gak tau juga ya, aku langsung berangkat gitu aja takut telat nanti."
" Iya sih bener, tau sendiri kalau ujian kita disuruh berangkat lebih awal dari biasanya."
" Iya sih bener juga, mungkin takut kita telat terus mengerjakan ujian sedikit lama dan akhirnya ketinggalan deh."
" Iya kali ya, yaudah yuk masuk ntar terburu telat."
" Ayok."
Mereka berjalan bersamaan untuk masuk ke dalam ruang ujian yang sudah di siapkan oleh guru dan dibantu OSIS.
Di halaman sekolah belakang yang terdapat gazebo sudah banyak siswa yang membawa buku untuk belajar sebelum ujian. Dan di pinggiran kelas yang disediakan kursi juga sudah ada anak yang memegang buku. Entah mereka belajar sambil mengobrol atau belajar dengan serius. Tidak ada yang tau hanya mereka sendiri yang tau.
" Kamu enggak belajar lagi na?" Tanya Syeira sambil berjalan menuju ruang kelas ujian.
" Ah aku sudah belajar, pusing kalau kelamaan belajar. Yang terpenting sudah belajar dan memahami apa isi dari semua bacaan di buku itu."
Jelas Nana dengan nada santai.
" Iya bener kamu, aku juga sudah belajar. Biarlah nanti otak kita yang bekerja saat ujian. Seberapa dalam daya ingat dan respons otak ketika pelajaran yang kita pelajari di rumah."
" Yaps betu sekali, sudahlah jangan di buat pusing. Tidak bisa ya sudah jangan di paksakan . Gitu wae kok dibikin ribet. Hahaha." Ucap Nana dengan ceplos.
" He.em, nanti cepat tua baru tau rasa."
" Betul sekali."
Sampai di kelas juga mereka melihat siswa belajar, menghadap buku untuk pelajaran hari ini.
Anak laki-laki yang jarang belajar menjadi insaf untuk hari ini. Mereka banyak yang belajar untuk menghadapi ujian akhir yang akan segera di mulai.
__ADS_1
Biasalah namanya anak laki-laki jika tidak ada hal yang mendesak pasti tidak akan segera dilakukan.
Syeira dan Nana duduk ke tempat duduk kursi yang sesuai dengan nomor ujian serta nama mereka masing-masing. Syeira yang berada di depan meja guru dan Nana juga depan tetapi berjarak dengan satu meja dengan Syeira.
Sebelum duduk mereka mengobrol sebentar sebelum ujian. Dengan nada yang sedikit berbisik karena takut mengganggu mereka yang sedang belajar.
" Ini ke mana Doni Cs kok enggak nongol, apa mereka lupa kalau hari ini ada ujian." Ucap Nana kepada Syeira dengan suara pelan. Duduk bersebelahan dengan berhadapan.
" Tau tuh, apalagi ini akan segera masuk. Kalau enggak cepat datang, pasti kena hukuman."
" Iya juga ya, apalagi di perjalanan ya. Masa iya ujian mereka tetap seperti biasa masuk sekolah."
" Kayaknya enggak deh, mereka kan bukan termasuk anak bandel. Sebandel-bandelnya mereka pasti tau aturan."
" Ya iya, bener juga kamu. Mungkin lagi di perjalanan juga. Sebentar lagi pasti nyampe."
" Kita lihat aja ntar."
Dan tidak berapa lama Doni Cs masuk ke dalam kelas. Diikuti Ibu Guru yang menjaga ujian hari ini.
Tidak ada kesempatan untuk Nana dan Syeira bertanya kepada mereka, mengapa baru datang. Bukankah saat ujian 10 menit sebelum di mulai harus sampai di kelas. Tetapi mereka 5 menit sebelum dimulai dan diikuti Ibu Guru baru masuk ke ruang ujian.
Nana dan Syeira hanya bertanya dalam hati, tidak berani berbicara karena ujian akan di mulai.
" Ibu Guru sudah membagikan semua kertas ujian yang akan kalian kerjakan, tolong kerjakan dengan jujur jangan ada yang menyontek. Kejujuran dimulai dari sekarang agar kalian terbiasa jujur dalam hal apapun dan bisa membuat kalian menjadi orang sukses dan dipercaya oleh orang lain. Sebelum ujian mari berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Berdoa di mulai." Ucap Ibu Guru dengan berdiri di depan mereka semua dan memberi motivasi sedikit agar mata mereka terbuka untuk memulai hal yang positif.
Semua siswa mendengar apa yang guru mereka ucapkan dan mulai berdoa dalam hati. Untuk melancarkan ujian mereka.
" Selesai, silakan di mulai mengerjakannya."
Dan semua siswa pun mengerjakan ujian dengan tenang. Sepertinya mereka mendengarkan apa yang di ucapkan oleh Ibu Guru barusan. Toh, itu semua untuk kebaikan mereka masing-masing.
*****
Di tempat lain Alex sudah masuk kerja seperti biasa. Karena pekerjaan yang menumpuk jika tidak segera masuk kantor.
Duduk bersandar di kursi kebesarannya. Menumpu kaki yang satu dengan tangan yang terus mengetik di laptop. Mata yang tajam dan berfokus kepada laptop, terkadang mengkerutkan dahi ketika berpikir sangat keras.
Tok tok tok....
Mendengar pintu terketuk, Alex mengambil remot yang terletak di sampingnya dan membuka kunci pintu.
__ADS_1
Klek, Ceklek...
" Permisi tuan ada berkas yang harus saya sampaikan." Ucap Miko berjalan ke arah Alex dengan membawa berkas di tangan kanannya.
" Hem." Jawabnya dengan singkat.
Miko duduk di kursi depan meja kerja Alex. Menaruh berkas di atas meja.
Alex yang sudah merasa Miko duduk di depan mejanya mengadahkan kepalanya menghadap ke arah Miko dengan menaikkan alis sebelah. Menandakan ada maksud apa kau kemari dan cepat sampaikan.
" Anda harus membaca ini tuan." Miko menyerahkan berkas yang ada di atas meja kepada Alex.
Dan Alex membuka berkas itu kemudian membaca dengan teliti. Sehingga tak ada satu kata yang terlewatkan.
" Bagus, terus pantau perkembangan klien kita yang sedikit menjengkelkan ini. Aku tidak mau jika sampai dia mengacaukan semuanya." Mata yang terus fokus ke arah berkas yang dibaca dengan berkata nada dingin.
" Baik tuan, mereka akan terus menyetujui syarat dari kita karena jika tidak mereka akan bangkrut." Jawabnya dengan nada sama dinginnya .
" Ya aku tau, mereka pasti tidak akan berkutik lebih banyak lagi."
" Keuntungan yang kita hasilkan apakah tidak terlalu banyak dari mereka tuan?"
" Tidak sama sekali, mereka seharusnya yang harus berterima kasih karena kita mau bekerja sama dengan perusahaan yang hampir bangkrut itu."
" Ya saya mengerti tuan."
" Kau boleh pergi sekarang dan bawakan aku makanan." Menaruh berkas itu di samping berkas yang sudah bertumpukan dengan berkas lain.
" Baik tuan, kalau begitu saya permisi."
" Hem."
Miko keluar dari ruangan Alex, berjalan ke arah ruangannya sendiri.
Duduk di kursi kerjanya, membuka kancing jas yang dipakai lalu menyampirkan di kursi yang di dudukinya. Menyisakan kemeja warna putih yang ketat karena dada bidangnya sehingga membuat kemeja itu seperti kekecilan. Miko juga sama seperti Alex untuk meluangkan waktu berolahraga ketika pekerjaannya sudah selesai.
Meraih telepon yang ada di samping laptopnya. Memencet tombol yang mengarah langsung ke OB.
" Belikan makanan seperti biasa lalu kau antar ke ruangan tuan Alex."
" Baik tuan."
__ADS_1
Miko menutup telepon lalu meraih laptopnya untuk mengerjakan pekerjaan hari ini.