
3 hari berlalu Ibu Diana sudah diperbolehkan pulang oleh dokter.
Luka yang sempat terjahit juga sudah mulai pulih. Apalagi obat yang diberikan oleh Nyonya Zena sangat mujarab untuk luka Ibu Diana.
Saat ini Ibu Diana sudah dirumah, berbaring di atas tempat tidur karena tangan dan kakinya sedikit sakit untuk digerakkan. Jadi untuk sementara tidak melakukan pekerjaan terlalu berlebihan.
Untuk kue yang biasa di titipkan ke toko, digantikan oleh Syeira yang membuat. Pagi-pagi sekali Syeira bangun dan langsung membuat kue, hanya semampu Syeira berapa yang harus dia buat, karena setelah itu dia juga harus berangkat kerja pagi. Karena lumayan juga penghasilan yang di dapat dari hasil kue. Jika berhenti sayang, apalagi itu bisa menambah untuk membeli makanan sehari-hari.
" Gimana ibu kamu ra, sudah sembuh?" Tanya Jane yang saat ini duduk di hadapan Syeira. Mereka duduk di sofa ruangan Jane sambil mengerjakan pekerjaan.
" Alhamdulillah, sudah mbak. Tinggal pemulihannya saja."
" Alhamdullilah kalau begitu, lukanya juga sudah kering?"
" Sudah, obat yang diberikan oleh Nyonya Zena benar-benar manjur banget."
" Ya iyalah ra, secara beliau kan orang kaya pasti obatnya mahal dan cepat bikin sembuh." Jane juga sudah tau apa yang terjadi dengan Ibunya Syeira. Karena Syeira menceritakan semua kejadian yang terjadi beberapa hari lalu kepada Jane. Tidak lupa dengan Nyonya Zena yang sempat memberikan obat.
" Iya juga ya, uang bisa mengubah segala-galanya."
" Iyaps tepat sekali."
Kring kring kring
Suara telepon kantor ruangan Jane berbunyi. Segera beranjak dari sofa menuju meja yang terdapat telepon.
" Ya tuan?"
" ......"
" Baik tuan."
"...."
" Baik, siap tuan."
Menutup telepon dan berjalan ke arah Syeira.
" Ra kamu diajak meeting dengan Tuan Alex."
" Lah kok aku mbak, bukannya mbak ya?" Bertanya sambil mengkerutkan dahi.
" Aku juga meeting tetapi di tempat lain, jadi kamu menggantikan aku."
" Baiklah mbak, aku pergi dahulu."
" Eh, kamu bawa berkas di atas meja. Itu berkas untuk menambah bahan meeting hari ini."
" Oke siap."
__ADS_1
Kemudian Syeira keluar dari ruangan Jane menuju ruangannya. Mengambil tas dan keperluan yang akan digunakan nanti saat meeting.
Lalu keluar berjalan menuju ruangan Alex.
Tok tok tok
Merasa belum ada suara kunci terbuka Syeira menempelkan telinga tepat ke pintu. Mendengarkan apa yang sedang dilakukan Alex sampai tidak mendengar suara pintu terketuk.
" Ni orang ke mana, kok tidak buka-bukain kunci pintunya. Tidur atau pingsan atau bagaimana?" Batin Syeira. Karena biasanya Alex selalu cepat untuk membuka pintu, tetapi kali ini entah mengapa begitu lama.
Setelah beberapa menit menunggu akhirnya Syeira mengetuk kembali pintu ruangan Alex.
Tok tok tok
Klek,
" Nah ini baru dibuka, ke mana aja sih ni orang. Lama banget, apa jangan-jangan beneran tidur." Batin Syeira dengan kesal. Menunggu terlalu lama di depan pintu ruangan Alex tanpa adanya kepastian. Hiyak, kepastian.
Lalu Syeira masuk ke dalam ruangan Alex.
Hem, dingin.
Ruangan yang sepi, hening, wangi dan begitu dingin.
Hanya ada Alex yang tetap duduk di kursi menghadap ke arah laptop.
" Duduk saja di sofa, saya akan menyelesaikan pekerjaan sebentar." Ucap Alex dengan dingin tanpa mengalihkan pandangan.
" Baik tuan."
Berdiam tanpa ada sepatah kata yang keluar dari mulut mereka masing-masing.
" Duh, sepi amat kayak dikuburan. Mana enggak selesai-selesai lagi si tuan. Krik, krik banget nih." Batin Syeira dengan mata melihat ke seluruh ruangan Alex. Dia tidak berani berbicara langsung, hanya dalam hati. Bisa ngamuk jika sampai tuannya mendengar semua ucapan dan umpatan Syeira. Bisa-bisa dirinya dipecat dari perusahaan.
Alex pun tak menghiraukan Syeira, karena memang masih fokus dengan pekerjaan.
Beberapa saat menunggu akhirnya Alex selesai mengerjakan pekerjaan. Beranjak dari tempat duduk dan menghampiri Syeira.
" Kita pergi sekarang, bawa perlengkapan saya yang ada di atas meja." Suruh Alex kepada Syeira.
" Baik tuan." Ucap Syeira seraya menganggukkan kepala.
Dengan sigap Syeira langsung menurut, memasukkan ke dalam tas yang berada di meja Alex. Sedangkan Alex berjalan ke arah toilet yang berada di ruangan itu.
Lalu mereka keluar dari ruangan dengan Syeira menenteng tas dan mapnya.
Masuk ke dalam mobil yang sudah siap di depan pintu kantor perusahaan.
Kalau ditanya ke mana Miko pergi? Miko pergi bersama Jane untuk meeting sebentar di perusahaan. Nanti setelah selesai Miko langsung menyusul Alex.
__ADS_1
Sampai di restoran mewah, syeira dan Alex turun. Menuju tempat yang sudah dibooking oleh pihak klien sendiri.
Di sana sudah ada satu orang paruh baya yang masih terlihat gagah dan juga lelaki yang seusia di atas Syeira sedikit.
" Selamat pagi Tuan Alex, akhirnya anda datang juga." Ucap Tuan Brendi, lelaki paruh baya yang saat ini bersalaman dengan Alex.
" Selamat pagi Tuan Brendi, saya selalu menepati janji."
" Ahahaha ya saya tau Tuan. Oh ya, perkenalkan ini anak saya, Jerick," Menunjuk ke arah Jerick.
" Jerick."
" Alex."
Lalu mereka berjabat tangan, tak lupa kepada Syeira dengan tersenyum manis.
" Jerick."
" Syeira."
Setelah itu mereka memulai pembicaraan tentang pekerjaan. Tuan Brendi menjelaskan tujuannya bertemu dengan Alex. Mereka berbincang-bincang.
Sedangkan Jerick hanya menjadi pendengar karena baru terjun ke dunia bisnis. Mendengar semua pembicaraan Alex dan Tuan Brendi. Memahami apa saja yang harus nanti dia lakukan jika sudah terjun langsung ke perusahaan.
Sesekali melirik Syeira dengan tersenyum. Mengamati wajah Syeira yang cantik nan manis.
Syeira hanya cuek dan berpura-pura tidak merasa diamati oleh Jerick. Berusaha profesional di depan Alex. Dia juga tidak tertarik dengan Jerick. Buat apa ditanggepi? begitu pikirnya.
Malah Alex sendiri yang merasa kesal ketika Jerick mengamati Syeira. Dia juga merasa heran, mengapa menjadi kesal. Padahal Syeira bukan siapa-siapa untuknya.
Sampai ketika mata Alex dan Jerick tidak sengaja bertatapan. Alex melototkan mata kepada Jerick. Membuat Jerick sendiri terkejut. Berpikir apa salahnya sehingga Tuan Alex melototkan mata kepada dirinya. Sampai dia sadar jika dari tadi dirinya mengamati Syeira.
" Apakah Tuan Alex kekasih Syeira. Tetapi apakah iya?" Batin Jerick. Melihat Syeira yang juga santai saja, padahal sesekali dia tersenyum tetapi tidak ditanggapi oleh Syeira. Menyakinkan diri jika memang Syeira kekasih Alex.
Setelah beberapa jam, mereka selesai dan dilanjut makan siang. Setelah itu kembali ke perusahaan karena pekerjaan juga sudah selesai.
" Apakah kamu sadar dari tadi Jerick memperhatikanmu?" Tanya Alex tiba-tiba. Masih di dalam mobil menuju perusahaan.
" Ha, " Syeira terkejut mendengar pertanyaan Alex. Mengapa tiba-tiba menanyakan seperti itu." S-sadar tuan."
" Kamu membalas senyumnya?"
" Tidak tuan." Jawab Syeira dengan cepat. Karena memang dirinya tidak menanggapi semua gerak-gerak Jerick yang dilakukan kepadanya.
" Hem, bagus." Dengan senyum yang sedikit mungkin tidak terlihat oleh orang. Wajah yang menghadap ke arah jalanan.
Syeira yang mendengar menjadi bertanya-tanya dalam hati. Ada apakah dengan tuannya? Mengapa bertanya seperti itu.
Tetapi ya sudahlah, mungkin cukup hanya bertanya saja tidak lebih. Syeira mengabaikan ucapan Alex. Tidak terlalu memikirkan.
__ADS_1
Sedangkan Alex sendiri entah sadar atau tidak bertanya seperti itu. Yang jelas hatinya sudah merasa lega.