
Tinggal menunggu tuan rumah yang memesan catering di Ibu Diana. Nasi kotak yang sudah rapi tinggal di bawa karena sudah selesai semua. Ibu Diana dan Syeira pun juga sudah membersihkan diri karena tadi setelah semua beres mereka langsung mandi agar nanti jika orang yang ingin mengambil catering tidak jijik dengan mereka yang kumel dan lecek akibat memasak.
Beberapa lama di tunggu tetapi orang yang memesan belum juga mengambil makanan. Ibu Diana dan Syeira bingung takut mereka tidak mengambilnya sedangkan uang yang di keluarkan lumayan banyak untuk memasak catering. Saat menelepon mereka juga tidak mengangkat, entah masih sibuk atau yang lainnya mereka juga tidak tau. Tidak ingin berseudson, mereka akhirnya menelepon kembali. Syukur kalah di angkat telepon.
" Gimana bu, ada jawaban apa enggak?" Tanya Syeira yang juga gelisah, takut juga jika tidak di ambil. Duduk di sofa dengan kaki bergetar dan tangan bibir menggigit jarinya.
" Belum ra, gimana ini ibu sudah banyak mengeluarkan uang lho, kalau sampai enggak di jemput apa yang kita lakukan." Jawab sedih dengan tangan yang masih memegang ponsel di telinga.
" Loh belum di Dp bu?" Tanyanya dengan terkejut atas apa jawaban ibunya. Menurunkan tangan yang tadi di gigitnya dengan badan yang sudah di tegakkan.
" Cuma sedikit Dpnya, tetapi kan ibu juga takut enggak di ambil."
" Aku kira belum bu, semoga di ambillah kalau enggak rugi dong kita."
" Iya mangkanya itu."
Sampai beberapa saat ada sebuah mobil yang berhenti di depan rumah Syeira. Seorang lelaki yang berbadan besar keluar dari mobil. Berjalan dengan terburu ke arah pintu rumah Syeira.
Tok tok tok....
" Kayaknya itu ra." Menoleh ke arah pintu rumahnya.
" Iya bu, ayo kita bukain." Berdiri dari sofa berjalan mengikuti ibunya di belakang.
Ceklek...
" Maaf permisi bu, saya orang suruhan yang ingin mengambil catering." Ucapnya dengan sopan.
" Oh iya, ayo masuk pak saya sudah menyiapkannya tinggal di bawa saja."
" Eh, iya bu." Masuk mengikuti Ibu Diana dan Syeira ke dalam rumah.
" Tadi saya menelepon kok tidak bisa pak? Saya kira tidak jadi mengambilnya."
" Owalah tadi kebetulan di jalan ban mobilnya bocor bu, saya tambal ban dahulu mangkanya sedikit lama."
" Yaampun kok ada-ada saja, terus gimana pak? Apakah ini terlambat."
" Tidak bu, sebenarnya acara nanti jam 5, tetapi nyonya saya takut kalau terlambat jadi sedikit lebih awal untuk mengambilnya."
__ADS_1
" Oh gitu saya kira terlambat pak, ya sudah ini semua sudah rapi tinggal di bawa saja."
" Dan ini uangnya bu." Menyerahkan amplop kepada Ibu Diana. " Kalau begitu saya permisi." Pamitnya dengan membawa kotak makanan.
" Loh tidak duduk dahulu pak? Saya buatkan minum."
" Tidak usah bu, saya langsung saja takut nanti di marahin."
" Owalah begitu terima kasih sebelumnya pak."
" Saya juga terima kasih bu, mari Assalamu'alaikum." Pergi dengan membawa semua nasi kota yang sudah di susun rapi. Memasukka. Ke dalam mobil.
" Waalaikumsalam." Syeira dan ibunya melihat mobil yang keluar dari halaman rumahnya.
" Orang mana sih yang pesen makanan bu?" Bertanya kepada ibunya sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
" Kompleks sebelah sedikit jauh dari sini, ibu juga kurang tau."
" Yang pesen juga orang tadi atau gimana?"
" Bukan, yang pesen orangnya langsung."
" Di pasar, waktu itu kan ibu belanja di pasar nungguin tukang ojek, nah dia juga nungguin jemputan, kita ngobrol sebentar sambil menunggu. Eh pas lama ngobrol dia tanya catering gitu yaudah ibu tawarin punya ibu aja, waktu di tawarin dia mau, jadilah tuh orang pesen sama ibu." Jelasnya kepada Syeira.
" Owalah aku kira dari mana." Mengangguk-anggukkan kepala tanda paham terhadap apa yang di ceritakan oleh ibunya.
" He.em, yuk makan ibu sudah lapar."
" Ayok lah."
Semua makanan yang sempat di buat untuk catering tadi masih tersisa sedikit. Ibu Diana sengaja melebihkan agar ketika ingin makan ada sore hari atau malam hari tidak usah memasak lagi.
Mereka makan dengan lahap, selain tenaga yang digunakan tadi perut yang sudah lapar juga membuat nafsu makan mereka menjadi sangat berselera.
*****
Sore hari menjelang magrib Doni baru saja pulang dari sekolah. Keikutsertaannya dalam kegiatan OSIS membuat dia sering pulang lebih terlambat dari temannya yang lain. Apalagi ketika ujian yang akan sedang berlangsung dan kegiatan kelas membuatnya lebih lama sibuk untuk di sekolah. Sebagai anggota OSIS memang harus mau jika di sibukkan dalam hal apa pun, karena OSIS adalah salah satu bagian pengurus sekolah yang bertanggung jawab membantu sekolah jika ada keperluan sesuatu.
Sampai di rumah dengan pakaian yang sudah berantakan dan muka yang terlihat lelah. Melewati ruang tamu Doni melihat kedua orang tuanya sedang menonton televisi bersama.
__ADS_1
" Loh mama sama papa kapan pulang? kok enggak ngabarin aku." Terkejut tiba-tiba orang tuanya sudah ada di rumah, berjalan ke arah mama dan papanya.
" Tadi siang papa dan mama pulang, melihat di rumah sepi banget kayak kuburan." Jawab Ibu Zena mamanya Doni , menghadap ke arah Doni yang duduk di sampingnya.
" Iyalah aku kan sekolah dan ada juga maid, kalau aku pergi ya sepi." Yang sudah duduk di samping Nyonya Zena.
" Ya kan biasanya ada teman kamu yang nemenin, lah ini papa mama pulang malah enggak ada di sambut."
" Maaf ma, tadi Doni ada kegiatan OSIS jadi pulang telat." Ucapnya dengan sesal.
" Iya, ya sudah kamu mandi sana, bau tuh." Ucap Nyonya Zena dengan menjepit hidungnya dengan tangan. Sedangkan Tuan Victor hanya tersenyum.
" Iya don, sana mandi setelah itu kita makan malam bersama." Ucap Tuan Victor dengan lembut dengan tangan memegang pinggang Nyonya Zena.
" Okelah, aku ke atas dahulu ma pa."
" Ya!" Jawab mama dan papa Doni bersamaan.
Doni meninggalkan papa dan mamanya di ruang tamu. Dia berjalan sedikit cepat ke arah kamar yang berada di lantai atas. Membuang tasnya ke arah sofa dengan sembarangan. Sedangkan dia masuk ke kamar mandi untuk segera membersihkan diri yang sudah lengket terkena keringat.
Serasa sudah bersih Doni berjalan ke ruang wardrobe, mengambil pakaian yang cocok. kaus santai dan celana pendek selutut, sangat nyaman untuk digunakan di rumah. Setelah itu dia turun ke bawah untuk makan malam dengan orang tuannya.
" Wah banyak sekali makanannya ma, emang mau ada tamu?" Tanya Doni duduk di sebelah papanya berhadapan dengan mamanya.
" Enggak, ini khusus buat kamu, mama sudah tau kalau kamu ada kegiatan OSIS jadinya pasti lelah dan lapar dan sengaja banyakin makanan buat kamu." Ucap Nyonya Zena dengan senyum lembut kepada Doni.
" Sudah don, ini semua buat kamu, itung-itung permintaan maaf mama dan papa karena beberapa hari enggak pulang." Saut Tuan Victor.
" Ya, ya, berarti ini semua sogokan, okelah. No problem." Jawab Doni dengan senyum meremehkan tetapi masih dalam bercanda.
" Ya bisa di bilang begitu." Ucap Tuan Victor dengan menghendikkan bahu dan kepala yang di miringkan serta bibir mencebikkan.
" Hust, sudah-sudah mari makan, terburu dingin ini semua makanannya." Lerai Nyonya Zena kepada dua orang yang sangat di sayang dalam hidupnya.
" Iya ma!" Jawab Tuan Victor dan Doni bersamaan.
Nyonya Zena hanya terkikik dengan nada lirih, senang karena anak dan suaminya menurut.
Mereka makan dengan tenang dan senang karena sudah beberapa hari tidak terlihat untuk makan bersama. Biasanya ketika di luar hanya papa dan mamanya atau Doni sendiri di rumah, sekarang mereka makan bersama.
__ADS_1