
Setelah melihat seisi kamar apa saja yang harus dia ketahui. di mana tempat baju dan sebagainya.
Syeira keluar dari kamar, menuruni tangga. Sampai di akhir tangga dia melihat ke kanan dan kiri. Mana tempat yang harus dia tuju sekarang.
Dia ingin pergi ke dapur, tetapi tidak tau di mana letaknya.
Seorang pelayan wanita yang usianya kira-kira sama dengan suaminya, menghampiri dirinya.
" Maaf nona, ada yang bisa saya bantu?" Ucap Sania dengan sopan, menundukkan kepala.
" E-eh, emmm ini aku mau ke dapur mbak. Bisa tolong antarkan."
" Bisa nona, tetapi jangan panggil saya mbak. Anda bisa memanggil saya dengan nama saja." Sania merasa tidak enak jika dipanggil mbak, karena dia hanya seorang pelayan yang tidak perlu di hormati oleh orang yang lebih tinggi darinya. Walaupun dia juga tau umur Syeira masih di bawahnya.
" Enggak lah, mbak kan lebih tua dari aku. Jadi aku harus menghormati mbak. Sudah jangan sungkan, mari kita berteman." Ucap Syeira dengan senyum cerah dan mengajak Sania untuk berjabat tangan.
Mendengar jawaban Syeira hati Sania merasa terharu. Tuannya mendapatkan istri yang baik dan tidak salah pilih.
" Baik nona." Membalas jabat tangan Syeira.
" Nah gitu dong." Dasarnya Syeira yang mudah akrab dengan orang. Tidak sulit untuk berdekatan dengan orang baru. Sania pun jadi tidak takut dan canggung untuk mengobrol dengan Syeira.
" Mari lewat sini nona." Sania menunjukkan arah kepada Syeira dengan berjalan mendahului Syeira tetapi badannya sedikit menyamping sambil tangannya mengadah menunjuk arah.
" Kalau boleh tau nona mau ngapain ke dapur?"
" Saya bosan mbak, ingin membuat kue. Biasanya di rumah saya selalu membantu ibu untuk membuat kue dan dititipkan ke toko-toko. Atau biasanya ada pesanan kue." Jelas Syeira kepada Sania kesehariannya sebelum menikah dengan Alex.
" Ibu nona jualan kue?"
" Iya mbak, catering juga."
" Pasti enak kue buatan ibu nona dan nona. Karena sampai setiap hari buat kue dan catering juga."
" Katanya orang-orang sih enak mbak, dan kataku juga. Tetapi lidah orang tuh beda-beda. Kita enggak bisa menebak juga."
" Ah iya benar juga."
Sampai dapur ada beberapa pelayan dan koki yang sedang membersihkan dan memasak makanan untuk makan siang.
Melihat nona dan ketua pelayan datang menghampiri, mereka berhenti sejenak dan menganggukkan kepala dan di balas anggukan kepala juga oleh Syeira dengan senyum cerah.
" Ada yang bisa kami bantu nona?" Tanya koki Anton sebagai perwakilan mereka. Pria paruh baya yang masih tetap terlihat sehat dan bugar walaupun umurnya sudah tak lagi muda.
Dia berpikir ada apakah nonanya sampai mau repot-repot ke dapur.
" Saya ingin membuat kue, apakah boleh? Saya merasa bosan dan tidak ada kesibukan."
Mereka saling berpandangan, gimana jadinya jika tuannya tau. Apakah boleh istrinya yang cantik mulus ini berperang dengan benda tajam seperti pisau. Jika tergores pasti akan sangat melukai dan membuat kulit putih mulus Syeira menjadi membekas.
" Apakah nona sudah meminta izin kepada Tuan Alex?" Tanya Pak Anton yang takut jika terjadi apa-apa dengan Syeira.
__ADS_1
" Emm belum." Memang belum, dia turun saja Alex tidak tau. Dia hanya di suruh melihat-lihat kamar saja.
" Bukannya saya melarang, tetapi alangkah lebih baiknya nona tanyakan dahulu kepada Tuan, karena saya takut nanti anda kena marah karena memasak. Padahal tugas memasak sudah ada yang mengatur nona." Jelas Pak Anton dengan bijak. Bukan untuk melarang Syeira tetapi hanya mengantisipasi keadaan selanjutnya.
" Benar nona, anda harus meminta izin terlebih dahulu kepada Tuan Alex." Sania menanggapi ucapan Pak Anton yang ada benarnya. Mereka juga takut kena marah oleh Alex.
" Aih ya sudah lah. Aku ke atas dahulu mau mencari Kak Alex."
" Baik nona." Ucap mereka semua dengan sedikit membungkukkan badan.
Ketika mau melangkah dia teringat sesuatu dan membalikkan badan.
" Ruangan kak Alex di mana mbak?" Tanya Syeira kepada Sania yang masih berdiri tidak jauh darinya.
" lantai 2 sebelah kamar anda dan tuan nona."
" Oke, terima kasih mbak."
" Sama-sama nona."
Syeira berjalan ke arah tangga menuju tempat ruangan kerja Alex.
Tetapi satu yang dia lupa, sebelah kanan atau kiri kamarnya karena banyak sekali kamar di lantai 2.
" Yang mana ini, " dengan tangan sebelah memegang pinggang dan jari telunjuk tangan satunya menggaruk pelipis. Dia bingung harus memilih yang mana. " Rumah besar bukannya enak, ini malah bikin ribet. Hadeh." Gumam Syeira menggeleng-gelengkan kepala.
Dia memilih menuju ke kanan dan mengetuk pintu.
Tok tok tok...
Tok tok tok...
Tidak berapa lama pintu terbuka dengan sendiri.
Seperti biasa semua pintu rumah Alex di buat otomatis menggunakan remot jika tidak bisa dijangkau dengan tangan.
" Boleh saya masuk kak?" Tanya Syeira yang masih berdiri di depan pintu.
" Hem, masuklah."
Duduk di kursi depan meja kerja Alex.
" Ada yang kamu butuhkan atau kamu inginkan?" Tebak Alex kepada Syeira.
" Aku ingin memasak, mau buat kue boleh enggak kak?"
" Tinggal suruh pelayan saja untuk membuat beres semua. Mengapa kamu repot-repot berkutat di dapur." Jawab Alex dengan gampang tanpa menoleh dari laptop.
" Bosan kak, aku ingin melakukan sesuatu. Di rumah aku selalu membuat kue bersama ibu."
" Ya sudah terserah kau saja mau melakukan apapun, tetapi jangan sampai terluka sedikit pun. Ingat itu." Ucap Alex dengan tegas di akhir kalimat. Dia mulai posesif dengan Syeira. Karena mungkin takut terjadi apa-apa dengan Syeira.
__ADS_1
Mendengar jawaban Alex senyum cerah Syeira muncul. Akhirnya dia bisa melakukan pekerjaan yang setiap hari dia geluti.
" Iya kak siap. Kalau begitu aku keluar."
" Hem."
Syeira beranjak dari tempat duduk menuju pintu ruangan Alex sedikit berlari saking antusiasnya.
" Dasar, mudah sekali membuat dia bahagia. Dengan hal-hal sepele begitu. Memang sederhana." Gumam Alex menggelengkan kepala yang melihat Syeira pergi. Dia juga tersenyum walaupun sedikit, melihat tingkah Syeira.
*****
" Nona ingin membuat kue apa?" Tanya Sania yang berada di samping Syeira. Dia menemani Syeira untuk membuat kue. Sedangkan dapur sudah di bersihkan dan membiarkan Syeira dan Sania berdua.
" Macaron aja. Lama enggak buat macaron."
" Memang nona biasa buat kue yang bagaimana?"
" Biasanya yang basah-basah, seperti brownis , red velvet gitu."
" Owh begitu."
Mereka mulai menyiapkan bahan yang sudah tersedia di dalam lemari atas di dapur.
Menata wadah yang nanti akan digunakan. Oven dan lainnya juga sudah siap, karena koki juga biasa membuat kue untuk camilan.
Syeira mulai mencampurkan adonan, sangat cekatan dalam membuat.
Tak ada yang membuat dia lelet.
" Mbak bisa membuat kue?"
" Sedikit tetapi tidak seperti nona yang sangat cekatan begini."
" Ah mbak bisa aja. Aku mah enggak cekatan tetapi memang begini. Hahaha." Jawab Syeira dengan tawa agar suasana menjadi lebih seru.
" Saya hanya setengah dari nona, dan tidak terlalu mengetahui aneka kue."
" Iya sih mbak benar, tetapi sekarang zaman sudah modern. Banyak yang lihat di ponsel."
" Terkadang saya juga lihat ponsel nona. Hehehe."
" Aku juga dahulu begitu mbak, buat referensi."
" Iya benar nona. Eh ini terus di apain nona nanti?" Sania bertanya dengan adonan yang sudah jadi. Dia juga ingin tau, siapa tau nanti dia bisa membuat sendiri.
" Tunggu sebentar setelah itu kita kasih berbagai warna."
" Oh iya nona."
" Kak Alex biasanya suka kue apa mbak?"
__ADS_1