
" Gimana pekerjaan kamu sekarang, lancar?" Tanya Nana yang berada di ujung telepon.
" Alhamdulillah lancar, kamu sendiri bagaimana?" Tanya balik Syeira, yang lagi tiduran di atas tempat tidur.
" Sama sih, kayak kamu. Ada cowok ganteng atau enggak di sana?"
" Hahaha, kamu tuh selalu aja begitu. Tidak pernah berubah." Canda Syeira terhadap Nana. Temannya itu selalu memikirkan pria tampan. Tetapi jika didekati dia malah menghindar.
" Ya mau bagaimana lagi. Kita kan emang begini. Kalau ada cowok yang ganteng pasti ngelirik. Hahaha."
" Ya, ya, ya. Aku mengakui itu."
" Ntar kalau aku sudah gajian kita keluar bersama."
" Oke siapa takut. Belanja juga boleh. Hahaha."
" Siap, aku mah ngikut aja." Tidak masalah untuk belanja sesekali, toh dia juga sudah bekerja dan memiliki uang sendiri.
" Ya sudah aku tutup teleponnya."
" Oke, bye."
" Bye."
Sibuk dengan pekerjaan dan dunia sendiri membuat mereka jarang sekali untuk bertemu. Sesekali mereka menanyai kabar satu sama lain melalui telepon dan berkeluh kesah tentang pekerjaan masing-masing.
Selalu ada aja yang diceritakan jika mereka berbincang.
Merasa perutnya lapar, Syeira pergi ke dapur untuk mengambil makanan yang bisa dimakan.
Karena malam hari, dia hanya memakan buah yang tersedia di kulkas. Takut jika nanti dia gendut kalau memakan nasi.
Ruangan terasa sepi karena Ibu Diana sudah tidur. Lampu juga sudah dimatikan hanya kamar Ibu Diana, Syeira dan dapur.
Membawa ke dalam kamar beberapa buah untuk mengganjal perut.
*****
__ADS_1
" Gimana ra, kamu sudah persiapkan untuk meeting kita hari ini?" Tanya Jane. Mereka berada diruangan Jane dengan laptop dan berkas di atas meja sofa.
" Sudah mbak, semuanya beres." Mengambil tas untuk memasukkan semua barang yang di atas meja ke dalam tas.
" Kita berangkat sekarang."
" Oke."
Mereka berdua keluar dari ruangan menuju restoran. Hari ini Jane dan Syeira akan mengadakan meeting di restoran dan sekalian makan siang.
Mereka berdua masuk ke dalam mobil milik Jane. Karena tidak mungkin Syeira membawa motor, sedangkan mobil Jane hanya ditempati dia sendiri.
" Rumah mbak Jane jauh kah dari sini?" Tanya Syeira, memulai pembicaraan. Sambil menunggu perjalanan ke tempat yang dituju.
" Enggak juga, 20 menit sampek kok. Tidak terlalu jauh. Nanti sesekali aku ajak kamu ke rumah aku." Ucap Jane, tidak ada salahnya jika dia mengajak Syeira ke rumahnya. Toh tidak ada yang mencurigakan dari Syeira begitu pikirnya. Dia terlalu waspada terhadap orang yang baru dikenal. Karena takut jika orang itu akan berbuat jahat kepadanya nanti.
" Boleh lah kalau begitu. Hahaha." Jawab Syeira diselingi tertawa.
" Mbak Jane sudah punya pacar atau suami begitu?" Tanya Syeira memiringkan kepala ke arah Jane.
" Belum, aku masih single. Aku juga tidak tau mengapa tidak ada yang menginginkan aku untuk menjadi kekasihnya."
" Iya ra bener, suwer." Mengangkat dua jari ke samping kepala. Muka yang sudah serius dengan sedikit melototkan mata.
" Hah, teman dekat juga tidak ada?"
" Enggak ada." Jawab Jane dengan menggelengkan-gelengkan kepala.
" Oh aku tau, ini pasti karena mbak Jane terlalu pemilih." menyipitkan mata sambil menjentikkan jari.
" Maksudnya?" Tanya Jane yang belum mengerti maksud ucapan Syeira. Sehingga hampir menyatukan alis.
" Begini, mungkin ada seorang cowok yang mendekati mbak Jane. Tetapi mbak enggak nyadar atau mbak enggak merespon dia sama sekali. Mungkin untuk saat ini pikiran mbak Jane bukan soal pasangan. Iya enggak?"
" Lah, kok kamu tau." Ucap Jane terkejut dengan ucapan Syeira. Dia memang belum memikirkan soal pasangan. Untuk saat ini dia hanya berpikir tentang bekerja dan mencari uang.
" Iyalah, biasanya seorang perempuan dewasa memiliki pemikiran seperti itu. Cowok bukan prioritas utama karena untuk saat ini dia hanya berpikir tentang bekerja, uang, hiburan diri sendiri, menikmati masa muda sebelum menikah. Karena kita kalau sudah menikah itu belum tentu bisa bebas dari kita yang masih single. Suami dan anak itu sudah menjadi tujuan utama. Benar?" Ucap Syeira, yang mungkin kebanyakan perempuan berpikir seperti itu.
__ADS_1
" Iya bener,bener. Hebat kamu, bisa mengerti pikiran aku." Jawab Jane menganggukkan kepala dengan semangat. Karena memang yang diucapkan Syeira sebagian besar benar. Tidak bisa menutup kemungkinan itu salah.
" Aku enggak nyangka jika pikiran kamu bisa sejauh itu ra."
" Mungkin setiap perempuan berpikir beda, tetapi yang aku ketahui dan aku rasakan memang seperti itu."
" Iya bener, enggak salah lagi. Memang benar begitu juga yang aku rasakan ra. Karena aku merasa masih banyak tanggungan yang harus aku kerjakan."
" Ya begitulah mbak, kalau orang yang belum ingin menikah. Bukan mencari alasan lain atau apapun, karena memang mereka belum siap untuk menikah."
" He.em setuju aku. Aku merasa juga belum siap. Sudahlah, apa yang kamu katakan dan pikirkan memang benar banget." Ucap Jane dengan pasrah. Semua yang dikatakan Syeira memang benar adanya.
" Kok aku merasa kayak paranormal ya?Hahaha." Tanya Syeira yang kemudian tertawa.
" Hahaha, iya juga yha ra. Kamu juga tau apa yang aku pikirkan semua lho. Jangan-jangan kamu punya indra keenam lagi?" Tanya Jane, tubuh yang sedikit lebih dekat dengan pintu. Seolah takut kepada Syeira.
" Eh enggak ya. Aku normal, tidak bisa seperti orang lain yang mempunyai kelebihan tersendiri." Elak Syeira. Dia memang tidak memiliki kekuatan seperti itu. Tetapi hanya cara berpikirnya saja yang lebih mengerti bagaimana seseorang itu.
" Ya,ya,ya. Percaya lah."
Sampai di parkiran restoran mereka langsung menuju tempat yang sudah di pesan. Karena sebelumnya Syeira sudah memboking meja untuk mereka meeting.
Membuka tas yang berisi berkas dan laptop untuk dikeluarkan dan menaruh di atas meja. Sambil menunggu klien datang, Syeira mempersiapkan bahan untuk dia presentasikan di depan klien.
Beberapa menit kemudian mereka datang dengan dua orang laki-laki dan perempuan. Perwakilan dari perusahaan lain juga.
Duduk di depan Syeira dengan suguhan minuman terdahulu. Setelah itu Jane berbincang dengan klien.
Mulai membicarakan tentang perusahaan dan tujuan mereka.
Sesekali Syeira menanggapi pertanyaan klien untuk membantu Jane.
" Baik kalau begitu deal." Ucap Jane dengan mengulurkan tangan.
" Deal."
Jane dan Syeira merasa senang dan bahagia karena hasil presentasi mereka di depan klien membuahkan hasil.
__ADS_1
Selesai membicarakan tentang pekerjaan mereka makan siang bersama. Waktu juga sudah menunjukkan pukul 12 siang.
Setelah itu mereka kembali izin pamit untuk meninggalkan restoran. Syeira dan Jane mempersilahkan mereka untuk pergi. Begitu juga dengan Jane dan Syeira keluar dari restoran, masuk ke dalam mobil untuk kembali ke kantor.