
Karena ujian yang dilakukan kelas 3 sudah selesai banyak kelas yang tidak di beri pelajaran pagi ini. Guru yang menjadi wali kelas 3 pun sedang menyiapkan rapor mereka dan mengoreksi hasil ujian.
Hari yang sangat sibuk bagi semua guru ketika siswa kelas 3 akan menerima rapor dan ijazah mereka.
Tak ayal jika banyak siswa yang kosong pada pelajaran itu.
Tetapi bagi siswa kelas 3 itu hal yang menyenangkan. Tidak ada pelajaran dan berakhir dengan mengobrol, memainkan ponsel, juga berolahraga dengan peralatan yang sudah disediakan oleh pihak sekolah.
Seperti siswa laki-laki yang sedang bermain basket bersama teman-temannya.
" Gimana ra? kamu sudah bicara dengan ibu kamu untuk pergi ke puncak itu." Tanya Nana kepada Syeira mengenai rencana mereka yang akan pergi liburan. Mereka duduk di kantin dengan bekal makanan yang dibawa.
" Sudah dong, tadi malam aku berbicara dengan ibuku." Jawabnya dengan senang, mengunyah makanan yang baru di beli dari kantin.
" Terus apa katanya, diijinin apa enggak?"
" Iyes, ibu membolehkan aku pergi asal, teman aku mau menjemput ketika akan berangkat."
" Eh lah, sama kita. Aku juga gitu, mungkin mereka ingin melihat tampang mereka seperti gimana. Apakah seperti preman, urakan, atau baik-baik dan bisa di percaya itu yang terpenting. Hahaha."
" Wah kamu, aku aduin sama mereka tau rasa." Ancam Syeira dengan menunjuk Nana dan melototkan matanya.
" Eh, becanda. Hehehe, abis gimana orang tua aku tanya begitu. Aku kan cuma menebak." Jawab Nana dengan menyengir.
" Ya iya juga sih bener."
" Eh, tetapi kamu kok dibolehin. Maksudku, ibu kamu bertanya yang aneh-aneh apa enggak?"
" Enggak dong, ibu tau aku masih remaja dan masih muda. Jadi puas-puasin main aja, sebelum nanti aku punya tanggung jawab sendiri. Ibu juga pernah muda jadi dimaklumin."
" Iya benar juga kamu. Enak juga kamu, pemikiran ibumu luas dan enggak gampang memberi kesimpulan."
" Iyaps betul sekali. Terus kamu gimana boleh apa enggak?" Balik bertanya kepada Nana. Hampir saja dia terlupa oleh pertanyaan itu yang jika dia bisa ikut tetapi Nana enggak. Itu hanya percuma.
__ADS_1
" Aku juga boleh, jadi kita bisa pergi ke puncak bersama. Yeay!" Ucap Nana dengan gembira. Senang, karena bisa pergi liburan bersama teman-temannya. Tidak hanya di rumah saja.
" Beneran!, akhirnya kita bisa pergi. Aku pikir tadi kamu tidak di perbolehkan. Huh, untung saja. Lega aku." Jawab Syeira dengan mengelus dada. Merasa bersyukur bisa menghabiskan masa liburan dengan pergi ke luar.
Datanglah Doni Cs berjalan menghampiri mereka.
" Kalian pagi-pagi sudah di kantin aja." Ucap Dika kepada Nana dan Syeira.
" Ada apa, enggak ada masalah dong. Terserah kita mau ngapain. Pelajaran juga kosong, kalau enggak ke kantin ke mana lagi." Jawab Nana dengan ceplosnya.
" Ya iya juga sih. Enggak ada yang melarang."
" Justru karena masih pagi jadi banyak orang yang ke kantin karena ingin sarapan." Ucap Nana sambil mengunyah makanan yang ada di tangannya.
" Wei, sudah-sudah. Kalian ini berantem aja." Syeira yang dari tadi menyimak akhirnya berbicara dan melerai berdebatan antara Nana dan Dika.
" Iya, kalian ini kalau bertemu berantem mulu." Ucap Doni dan tangannya hendak mengambil jajan yang di pegang Nana.
" Orang dia duluan yang mulai. Ya aku tanggepin dong, entar dikira kita lagi berantem kalau diam." Dengan mulut yang terus mengunyah makanan bersama Doni.
" Allhamdulliah kita di bolehin." Jawab Syeira.
" Allhamdulliah!" Ucap Doni Cs serempak.
Nana dan Syeira yang melihat Doni Cs mengucapkan syukur dengan serempak melongo. Membuka mulut dengan lebar dan mata melotot.
" Kalian kompak banget deh." Ucap Syeira kepada Doni Cs. Setelah sadar dari terbengong.
" Ya, soalnya acara kita jadi. Coba kalau kalian enggak diijinin pasti batal kan." Ucap Soni yang diangguki kepala oleh Dika dan Doni.
" Ya kalau enggak ada kita, kalian kan bisa berangkat sendiri atau dengan teman yang lain." Jawab Syeira dengan santai.
" Enggak bisa, orang kita inginnya dengan kalian." Ucap Dika.
__ADS_1
" He.em." Jawab Soni dan Dika sambil menganggukkan kepala.
" Haish." Syeira yang mendengar hanya memutar bila matanya.
" Berarti ini kita tinggal menunggu kapan liburannya akan di mulai. Setelah itu kita langsung pergi ke puncak." Ucap Soni.
" Iyaps betul sekali. Dan kalian persiapkan saja baju yang akan di bawa. Untuk yang lain jangan di pikirkan." Ucap Doni dengan menunjuk ke arah Syeira dan Nana. Memperingatkan kembali kepada mereka. Jika tidak usah membawa apapun kecuali baju yang akan mereka gunakan di sana.
" Iya,iya!" Jawab Nana dan Syeira serempak.
" Oh iya tetapi kira-kira berapa hari kita liburannya?" Tanya Nana kepada teman-temannya.
" 3 hari kayaknya sudah cukup kali ya." Saut Syeira memberi saran untuk acara pergi berlibur.
" Iya tidak pa-pa, paling tidak itu sudah cukup." Jawab Doni menanggapi ucapan Syeira.
*****
Di perusahaan Miko sedang pusing mengerjakan beberapa pekerjaan yang banyak. Beberapa kali dia menghela napas panjang untuk menetralkan pikiran yang sudah jengah.
Sang asisten yang kerap kali membantu pekerjaannya sedang izin untuk libur karena sakit. Biasanya jika dia memiliki pekerjaan banyak, dia akan mengalihkan sebagian dari pekerjaannya untuk dikerjakan oleh asisten.
Tetapi karena sakit, dia harus mengerjakan sendiri semua pekerjaan.
Berdiam diri di depan laptop berjam-jam tanpa mengalihkan pandangan membuat kepalanya sedikit pening. Maka dari itu kopi hitam juga tersedia di samping meja. Sesekali menyeruput kopi untuk merilekskan pikirannya.
" Huft, lelah juga mengerjakan semua pekerjaan ini sendiri. Apalagi ini harus cepat selesai. Sialan! si sofi juga, pakek acara sakit segala. Ada-ada aja." Gumam Miko dengan sendirinya. Mengumpat, karena merasa pekerjaannya tidak selesai. Menyalahkan orang yang sakit, padahal itu juga bukan keinginan orang itu untuk sakit.
Memang, jika orang yang sedang lelah apapun ucapan keluar dan menyalahkan orang yang tidak bersalah untuk meluapkan kekesalannya.
Sesekali Miko berkata kasar kepada pekerjaan yang dikerjakan.
Sampai beberapa jam Miko menyelesaikan pekerjaannya dan merebahkan tubuhnya di sofa yang tersedia di dalam ruangan.
__ADS_1
Menggantungkan kaki di pinggiran sofa, karena badannya yang tinggi membuat sofa itu menjadi tidak muat untuk ditiduri. Merilekskan pikiran sejenak dan melemaskan otot karena kebanyakan duduk dan mengetik.
" Bodo amat nanti kalau tuan masuk, tubuhku lelah karena banyak sekali pekerjakan yang dia berikan. Sesekali tak apa jika aku tidur sebentar. Semua pekerjaan juga sudah aku selesaikan." Ucap Miko dengan sendiri. Mengeluhkan hari ini apa yang dia lakukan. Apalagi jika tuannya masuk ke ruangan, dia sudah tidak memedulikan. Yang terpenting badannya kembali segar setelah tidur sebentar nanti.