
Sampai dirumah Syeira seperti biasa memarkirkan motornya dan masuk lalu mengucapkan salam.
" Assalamualaikum!" Masuk kedalam rumah mencari ibunya.
" Waalaikumsalam."
Menyalami ibunya yang masih memasak untuk menu makan malam.
" Kok pulang sore banget ra?" Tanya bu Diana yang masih menggoreng ikan di wajan.
" Emm Iya bu, tadi aku main ke mall sama temen aku." Ucapnya dengan ragu takut ibunya memarahi.
" Ya sudah kamu bersih-bersih dan antar kue ini."
" Oke bu siap." Ucapnya dengan tersenyum.
Masuk ke dalam kamar yang masih membawa tasnya. Menaruh di tempat meja belajar. Berjalan mengambil pakaian lalu membawanya ke kamar mandi.
Setelah semua bersih Syeira bergegas mengantarkan kue-kuenya.
Saat di perjalanan dia teringat akan kue yang dititipkannya kepada Sandra.
Kue tambahan untuk membayar bukunya nanti. Syeira langsung membelokkan kue-kue itu ke toko langganan dan yang terakhir tempat Sandra.
" Assalamualaikum!"
" Waalaikumsalam, ra mau ngambil kue?" Tanya Sandra yang baru menata barang-barang di rak yang tersusun.
" Iya san, gimana abis semua tidak?"
" Abis kok tenang aja, kamu ambil sendiri aja, itu wadahnya ada di atas rak sendiri." Jawabnya tanpa berpindah tempat untuk menata barang-barangnya.
" Oh oke-oke." Berjalan mencari wadahnya dan mengganti dengan lain yang sudah terisi penuh dengan kue hari ini.
" Udah, bentar aku ambilkan uangnya." Masuk kedalam rumah untuk mengambilkan hasil jualan kue kemarin.
" Ini ra," menyerahkan uang kepada Syeira.
" Itu semua hasil jualan kemarin, dan untuk tambahannya juga udah aku satukan disitu semua." Jelasnya kepada Syeira.
" Oke, trimakasih san, yaudah aku pamit."
" Enggak main dahulu sini ra?"
" Udah sore san, besok-besok aja, Assalamualaikum."
" Waalaikumsalam."
Syeira berjalan kearah motornya dan melajukan meninggalkan toko.
Sandra juga termasuk anak yang berbakti kepada orang tua. Membantu orang tuanya ketika mereka sibuk. Untuk perekonomian memang Sandra lebih beruntung dari Syeira karena Sandra masih memiliki kedua orang tua.
__ADS_1
Sandra juga bukan anak yang nakal, dia disekolah juga baik kepada teman-temannya. Di kelas Syeira tidak ada yang saling membuli kepada Teman-temannya. Semuanya baik dan menerima temannya dengan apa adanya.
Sebelum masuk kedalam rumah Syeira mengambil hasil uang untuk kue brownisnya yang dibuat kemarin, memasukkan ke dalam saku celananya. Lalu sisanya diserahkan kepada ibunya.
" Ini bu, uang untuk hasil kemarin." Menyerahkan uang kepada ibunya yang lagi duduk di sofa sambil menonton televisi.
" Gimana, kejual semua kue nya?" Mengambil uang, menghitungnya.
" Alhamdulillah iya bu." Ikut duduk disamping ibunya sambil memakan camilan di meja.
" Alhamdulillah kalau begitu, eh besok ibu ada catering ra, kamu jangan pulang sore ya, bantuin ibu memasak."
" Siap bu, mang untuk berapa orang?"
" 80 orang sih, tetapi kan ibu harus buat kue juga."
" Okedeh besok aku langsung pulang, semoga aja besok pulang cepet."
" Lah kok bisa, emang mengapa?"
" Kan aku mau ujian bu, siapa tau dipulangkan cepat, hehehe."
" Dasar kamunya aja yang ingin pulang cepat, emang ada kayak begituan."
" Ya adalah bu, kan gurunya mau rapat atau mempersiapkan ujian gitu kayaknya."
" Kalau begitu kamu harus rajin belajar dong kan mau ujian."
" Ah itumah udah pasti bu, orang kalau nilainya baik juga buat aku sendiri ntar yang untung juga aku, iyakan."
" Sekarang aja tetapi aku mau salat magrib."
" Ya ibu tungguin."
Berjalan meninggalkan ibunya yang masih menonton dan memakan camilan yang sempat di makan oleh Syeira tadi.
Selesai salat Syeira masuk kedalam dapur bersiap untuk makan malam dengan ibunya.
Sederhana tetapi sangat membahagiakan karena masih bisa makan yang enak dan bersama orang yang sangat disayanginya.
Walaupun hanya berdua tetapi Syeira dan ibunya sangat menikmati.
*****
Sama halnya dirumah Syeira, Nana juga makan malam bersama dengan kedua orang tuanya dan adiknya.
Nana memang memiliki satu adik cowok yang masih duduk di kelas 4 sekolah dasar. Dia juga memiliki paras yang ganteng dan menggemaskan.
Karena saking gemasnya Nana sering juga mencubit pipi tembem adiknya yang seperti bakpao itu. Tetapi karena terlalu sering dicubit oleh kakaknya, Derix selalu marah dan menghindar disaat kakaknya ingin mencubit pipi tembem itu.
" Kak nanti aku ada pr, bantuin ngerjain ya?" Pintanya kepada Nana yang masih mengunyah makanan.
__ADS_1
" Iya, emang apa pr nya?"
" Matematika biasalah."
" Alah matematika mulu, emang yang lain tidak ada?"
" Enggak soallnya yang sulit itu aja." Ucapnya dengan santay dengan mengigit paha ayam yang sudah digoreng.
" Heh sudah, kalian ini kita lagi makan nanti aja bicaranya." Ucap pak Hasan ayahnya Nana.
" Iya yah!" Jawab Nana dan Derix dengan muka cemberutnya.
Sedangkan ibunya hanya cekikikan mendengar anaknya dinasehati oleh suaminya.
Setelah makan malam Nana dan Ibunya membersihkan meja setelah digunakan makan malam tadi.
Sedangkan para cowok menonton televisi yang bisa menghibur mereka. Karena ayah dan anak itu suka sekali dengan bola, akhirnya mereka menonton bola yang baru saja tayang.
Memang begitu kalau cowok kebanyakan suka menonton bola sampai istrinya dilupain, hahaha....
Dan pernah suatu hari ketika mereka menonton bola sampai malam, bu Farah ibunya Nana marah kepada kedua lelaki itu. Karena sampai tengah malam belum tidur dan masih teriak-teriak karena menonton bola, disaat bolanya akan masuk kegawang.
Dan terjadilah Ibu Farah menghampiri mereka, memarahinya, mematikan televisi dan mengancam mereka jika tidak tidur akan menyiram mereka dengan air.
Bayangin aja tengah malam disiram air dingin pastilah akan kedinginan dan akhirnya mereka kabur kekamar sendiri-sendiri takut singa betina mengamuk.
Hahaha memang benar-benar keluarga mereka itu....
" Yok dex, katanya mau ngerjain tugas, jadi tidak?" Tanya Nana yang berjalan kearah mereka setelah merapikan bekas makan malam.
" Bentar kak, sedikit lagi ya." Yang masih fokus ke televisi.
" Aih yaudah kakak kekamar dahulu kalau udah selesai nanti ketuk aja pintu kamar kakak."
" Oke siap."
Nana pun meninggalkan ayah dan anak itu yang masih fokus dengan menonton bola.
Nana yang tau adiknya jika keinginannya belum terselesaikan pasti akan membuat Derix kesal dan tidak konsen untuk belajar.
Jadi dia membiarkan Derix untuk menonton bola kesukaannya sebentar.
Nanti kalau Derix sudah dibukakan hatinya pasti akan menghampiri Nana sendiri atau akan belajar sendiri. Walaupun Derix suka tidak tau waktu untuk bermain atau menonton bola kesukaannya seperti itu dia sadar akan batasannya kapan dan saat apa dia harus melakukannya. Bukan seperti tidak tau waktu yang bermain dan lupa untuk tugas belajarnya.
Derix yang sudah dibimbing oleh orang tuanya untuk menjadi anak yang baik dan sholeh dia mengerti apa yang harus dilakukan, mana baik mana buruk, walaupun umurnya masih kecil.
" Dah ah yah aku mau ngerjain tugas."
" Ya, sana kerjain tugas, tenang aja ini masih lama waktu bermainnya."
" Iya bener, mangkanya aku mau cepet-cepet ngerjain biar bisa menonton lagi."
__ADS_1
" Yaudah sana."
Derix pun pergi kekamar kakaknya untuk memanggil kakaknya yang sudah siap untuk belajar.