Dinikahi Pria Tajir

Dinikahi Pria Tajir
Bab 69 - Meminta pendapat


__ADS_3

" Ya menikah. Mama dan papa akan mempersiapkan semua." Ucap Nyonya Zena dengan kekeh mengenai keputusannya.


" Tetapi ma, menikah bukan buat main-main."


" Siapa yang buat main-main? Kamu dan Syeira memang harus menikah secara sah, agama, dan dimata hukum."


" Mama juga belum bilang dengan Syeira dan keluarga. Apakah mereka setuju atau tidak? Jangan asal mengiyakan dari salah satu pihak." Alex mencari alasan lain agar mamanya mau membatalkan rencana pernikahan dirinya dengan Syeira. Dia belum ingin menikah dalam waktu dekat ini. Walau sebenarnya dia sudah merasa sedikit tertarik dengan Syeira.


Nyonya Zena yang mendengar ucapan Alex. Menghampiri Syeira, memegang tangan Syeira dengan lembut.


" Sini ayo kita duduk ra, mama mau tanya?" Mengajak Syeira duduk di sofa.


Syeira juga masih syock mendengar ucapan Nyonya Zena yang akan menikahkan dirinya dengan Alex. Tidak mungkin dia akan menikah dalam waktu cepat ini.


" Kamu setuju kan dengan ide mama. Kalian harus menikah. Apa kamu mau orang yang sudah menyentuhmu dibiarkan begitu saja?tidak bertanggung jawab." Ucap Nyonya Zena dengan seringai licik. Dia berusaha mencuci otak Syeira agar mau menikah dengan Alex. Dia sudah sangat menyukai Syeira, dia ingin menjadikan Syeira sebagai mantunya.


Alex yang melihat mamanya tersenyum jahat, melotkan mata.


" Wah mama bener-bener ya, berusaha memengaruhi otak Syeira." Geram Alex dalam hati.


" Apakah ini tidak terlalu cepat Nyonya?"


" Tidak, lebih cepat lebih bagus. Kamu mau Alex berbuat macam-macam lagi dan terjadi kesalahan untuk kedua kalinya yang lebih parah. Dan akhirnya berakibat lebih fatal."


" Iya ya bener juga, tadi aja Tuan sudah berani memegangnya. Jika sampai aku diapa-apain lagi dan hamil di luar nikah. Bisa bikin malu keluarga terutama Ibu." Batin Syeira berpikir dua kali mendengar saran Nyonya Zena. Lelaki tidak bisa di tebak? kalau ada celah pasti tidak akan diam begitu saja.


" Tetapi bagaimana membicarakan ini semua kepada ibu saya. Syeira tidak mau jika kejadian ini diketahui oleh ibu?"


" Tenang, saya yang akan berbicara dengan ibu kamu. Kamu dan Alex terima jadinya saja." Ucap Nyonya Zena dengan senyum penuh kemenangan. Akhirnya dia berhasil membujuk Syeira untuk menikah dengan Alex.


" Dan kamu lex, jangan bermacam-macam menggagalkan rencana ini. Jika sampai itu terjadi, mama tidak akan mau menganggap kamu sebagai anak lagi." Ancam Nyonya Zena kepada Alex. Dengan wajah yang serius, mata yang melotot.


" Sial, mama tau apa yang sudah aku pikirkan." Batin Alex kesal. Dia juga sudah berpikir untuk menggagalkan rencana mamanya, tetapi Nyonya Zena sudah mengetahui terlebih dahulu.


" Ya sudah, mama pulang dan segera persiapkan semuanya. Mama tinggal, jangan macam-macam sebelum pernikahan ini terjadi." Ucap Nyonya Zena mengingatkan Alex dan Syeira.


" I-iya Nyonya." Ucap Syeira menundukkan kepala dan sedikit malu, jika terbayang kejadian tadi. Ingin sekali dirinya tenggelam di dasar bumi untuk menghindari masalah ini, tetapi itu semua tidak mungkin. Jika masalah di hindari akan semakin membuat dirinya tersiksa dengan bayang-bayang masalah tersebut.


" Hem." Jawab Alex acuh.


" Assalamualaikum." Beranjak dari tempat duduk.


" Waalaikumsalam!!"


Sekarang hanya ada Syeira dan Alex di dalam ruangan. Mereka saling menatap penuh tanya. Berpikir apakah bisa menjalani rumah tangga yang sama sekali belum ada cinta.


" Kalau begitu saya permisi tuan."


" Hem."


*****


" Assalamualaikum!"


" Waalaikumsalam."


Mencium tangan Ibu Diana sepertia biasa.


Duduk di samping Ibu Diana yang sedang menonton televisi.


" Tadi Nyonya Zena datang ke sini ra." Ucap Ibu Diana memulai pembicaraan.

__ADS_1


Deg,


Syeira terkejut mendengar ucapan Ibu Diana. Walaupun tadi Nyonya Zena sudah bilang, tetapi masih ada aja rasa takut yang menyelimuti dalam dirinya. Takut jika ibunya tidak menyetujui keputusannya.


" Terus gimana?" Balik bertanya kepada Ibu Diana dengan wajah serius.


" Kalau ibu sih, terserah kamu. Asalkan kamu mau dan menurut mu baik ibu merestui. Kamu sudah dewasa, bisa menentukan mana yang baik dan buruk. Ibu pun juga selalu berdoa yang terbaik untukmu." Jelas Ibu Diana menatap Syeira dengan senyum. Dia yakin anaknya sudah memikirkan matang-matang mengenai keputusan itu.


" Doakan semoga ini yang terbaik untuk Syeira ya bu?" Pinta Syeira dengan mata berkaca-kaca. Dia tidak menyangka ibunya akan menerima keputusan dirinya.


" Pasti, itu pasti. Sini peluk ibu." Merentangkan tangan yang juga dengan mata berkaca-kaca. Anaknya yang dia besarkan penuh rasa sayang sebentar lagi akan menikah.


" Kalau nanti Syeira tinggal di rumah suami Syeira bagaimana dengan ibu?" Tanya Syeira yang masih berada di pelukan Ibunya.


" Tidak pa-pa, memang seharusnya begitu. Istri harus mengikuti ke mana pun suami pergi. Kamu harus berbakti kepada suami mu."


" Apa ibu ikut Syeira aja." Mengangkat kepala dengan cepat. Menolehkan wajah ke arah ibunya.


" Ibu mah, enak di rumah ini. Sudah, yang terpenting sesekali jenguk ibu." Ucap Ibu Diana tersenyum lembut sambil menghapus air mata yang keluar dari mata Syeira.


" Ya enggak lah, Syeira pasti selalu jengukin ibu." Dia tidak mungkin melupakan orang yang selalu berjuang untuk hidupnya.


" Iya ibu tau, sana kamu mandi, keburu magrib lho."


" Eh iya, sampai lupa. Aku ke kamar dahulu kalau begitu bu."


" He.em."


Masuk ke kamar untuk mengambil baju dan handuk, lalu berjalan ke arah kamar mandi.


Selesai mandi, Syeira merebahkan tubuhnya sebentar di atas tempat tidur. Membuka ponsel yang sama sekali belum dia pegang selama kejadian di kantor hingga kembali ke rumah.


Trut trut trut..


Menempelkan ponsel di telinga dengan tubuh yang masih tiduran di tempat tidur.


" Assalamualaikum, halo."


" Waalaikumsalam, na!" Ucap Syeira dengan heboh.


" Ya ampun, lama kali kau tak telepon diriku. Hahaha." Jawab Nana dengan logat konyolnya.


" Hahaha, bisa aja lu."


" Apa? kamu telepon aku pasti ada sesuatu nih?"


" Hehehe, tau aja deh. Besok kita ketemuan ya?"


" Emmm besok ya? Sore atau malam atau kapan?"


" Sore aja lah."


" Oke deh. Aku ngerasa ada sesuatu hal yang penting. Iya kan?"


" Iya na, besok aku jelasin semua." Ucap Syeira dengan wajah yang tadinya ceria menjadi murung. Begitu pun suara nya juga menjadi berubah lesu.


" Ya okelah."


" Ya sudah, aku tutup teleponnya."


" Oke."

__ADS_1


" Assalamualaikum."


" Waalaikumsalam."


*****


Sesuai ucapan mereka di telepon. Syeira dan Nana bertemu di cafe untuk membicarakan perihal keputusan Syeira.


Duduk berhadapan dengan memesan juz yang sudah berada di hadapan mereka.


" Jadi apa yang mau kamu tanyakan?" Tanya Nana sambil meminum juz di hadapan.


" Emmm, na." Jawab Syeira dengan ragu. Tangan yang saling menautkan di meja, memainkan jari satu sama lain.


" Apa, ayo coba bicara?"


" A-aku mau menikah." Ucap Syeira dengan ragu. Sesekali menundukkan kepala.


" Apa!" Teriak Nana dengan kencang. Untung cafe itu penuh dengan suara musik yang membuat suasana menjadi makin ramai. Jadi ketika Nana berteriak, tidak ada yang mendengar sama sekali. Kebetulan juga tempat yang mereka duduki, meja sebelah masing-masing belum ada yang menempati.


" Ssssttt," menempelkan telunjuk di bibir. Kepalanya celingukan ke arah lain. " Jangan teriak dong."


" Kamu bikin aku kaget, gimana enggak teriak." Ucap Nana dengan mata melotot. Dia bener-bener terkejut dengan ucapan Syeira yang tiba-tiba ingin segera menikah. Padahal dia tau impian Syeira masih banyak yang harus di gapai.


" Ya, aku akan menikah dalam waktu dekat ini."


" Mengapa kamu tiba-tiba ingin menikah. Bukankah kamu masih muda dan ingin mewujudkan impianmu."


" Ada kejadian yang mengharuskan aku menikah na, mau tidak mau aku harus menerima tawaran itu." Jelas Syeira menundukkan kepala. Tangan yang mengaduk-aduk juz di hadapannya. Dengan bibir melengkung ke bawah.


" Memang kejadian apa yang kamu alami sampai harus menikah?"


" Begini..." Syeira menceritakan awal mula dia mengalami kejadian di kantor yang mengakibatkan dirinya harus menikah. Tidak ada yang terlewatkan sedikit pun, karena dia juga percaya kepada Nana yang pasti tidak akan menyebarkan.


" Jadi ceritanya kamu dinikahi pria tajir?" Tanya Nana dengan jahil. Menaikkan alis beberapa kali.


" Ya bisa di bilang begitu. Hahaha." Ucap Syeira dengan diiringi tawa.


" Enak dong, tinggal makan, tidur aja ra. Kamu enggak usah lelah-lelah kerja." Ucap Nana dengan becanda.


" Gilak, ya enggak juga kali. Aku tetep ingin bekerja lah. Bosan dong di rumah terus."


" Terus uang yang di kasih suami kamu, buat apa coba kalau kamu kerja?"


" Buat simpenan aja, jika butuh yang lebih penting."


" Serah kamu lah, ra,ra." Mengibaskan tangan di depan wajah dan memutar bola mata.


" Iya dong. Jadi gimana menurut kamu, apakah keputusanku salah?"


" Kalau aku sih terserah kamu ra. Kamu yang menjalankan, mana yang terbaik dan buruk. Pasti kamu sudah memikirkannya. Bukankah cepat atau lambat seorang wanita juga akan segera menikah. Jadi, apa salahnya? Dan kamu bukan orang yang berpikiran sempit, pasti kamu sudah memikirkan matang-matang." Terang Nana kepada Syeira. Tidak mungkin keputusan besar seperti ini Syeira mengiyakan dengan mudah. Sudah pasti Syeira memikirkan secara matang dan kedepannya. Sambil Mengangkat bahu dan telapak tangan secara bersama.


" Iya sih bener kamu. Aku sudah berapa kali memikirkan ini, tetapi jika takdir ku menikah cepat. Mau bagaimana lagi." Ucap Syeira dengan pasrah. Dia juga sudah salat istikharah untuk memantapkan hati dan pikirannya.


" Nha itu, kamu sudah melakukan apapun. Jadi pasrahkan saja pada yang di atas. Pasti itu yang terbaik untuk kamu."


" Iya bener kamu na."


" Undangannya belum ada, nanti setelah mengetahui kapan tanggalnya, akan ku hubungi lagi."


" Iya."

__ADS_1


__ADS_2