
Syeira pulang ke rumah segera membersihkan diri. Seharian ini dia mondar mandir ke rumah sakit sampai badannya lengket.
Membawa baju ibunya untuk ganti nanti di rumah sakit. Karena Ibu Diana masih rawat inap.
Memasukkan ke dalam tas yang tidak terlalu besar.
Merasa pinggangnya ingin sekali direbahkan mau tidak mau Syeira tidur sebentar di tempat tidur. Nanti setelah tenaganya full kembali, dia langsung ke rumah sakit. Karena jika dia sendiri sakit pasti akan tambah repot. Dia juga harus tetap menjaga kesehatan agar bisa merawat Ibu Diana.
Satu jam lamanya Syeira untuk tidur dan mengembalikan tenaga. Bersiap ke rumah sakit dengan membawa keperluan yang dibutuhkan selama dirumah sakit.
Jalanan sedikit ramai karena masih pukul setengah tujuh malam. Aman bagi Syeira untuk keluar karena belum terlalu malam. Banyak pedagang kaki lima juga yang masih berjualan di pinggir jalan.
Tidak berapa lama Syeira sampai di rumah sakit.
Turun dari motor tak lupa membawa tas yang dia bawa.
Ketika masuk ke dalam pintu awal rumah sakit, Syeira sedikit berpikir.
" Loh bukannya tadi aku juga mengantar Nyonya Zena ke mari." Gumam Syeira melihat sekelilingnya. " Astaga." Lalu menepuk dahi.
Dia baru ingat ternyata rumah sakit tempat Ibu Diana dirawat adalah tempat yang sama dengan Nyonya Zena tadi siang yang sempat diantar oleh Syeira.
Karena Syeira terlalu memikirkan tentang ibunya waktu masuk ke rumah sakit, dia jadi tidak begitu tahu bahwa rumah sakit ini sama dengan yang tadi dia datang ke sini.
Ceklek...
Masuk ke dalam kamar Ibu Diana, berjalan pelan takut jika ibunya sudah tidur.
Menaruh tas di dalam lemari yang memang sudah di sediakan oleh pihak rumah sakit untuk menyimpan perlengkapan pasien yang dibawa.
" Ra." Panggil Ibu Diana dengan lirih. Melihat Syeira yang sibuk di bawah.
Syeira yang mendengar dirinya di panggil segera bangun dari duduknya dan berdiri. Tidak lupa menutup pintu lemari.
" Eh, iya bu. Ada apa?"
" Kamu sudah makan apa belum?"
" Belum bu."
" Kamu tinggal makan gih, nanti kamu sakit. Dari tadi kamu belum makan."
" Iya bu, ini Syeira juga mau makan. Syeira tinggal ya, ini handphone ibu, kalau ada apa-apa segera hubungi Syeira." Menaruh ponsel di atas meja yang dekat dengan Ibu Diana, agar ketika ingin mengambil Ibu Diana tidak kesusahan.
" Iya."
Lalu Syeira berjalan keluar ruangan.
__ADS_1
Melihat kanan dan kiri, banyak pasien yang sakit seumuran dengan ibunya. Karena ruanggan yang ditempati oleh Ibu Diana khusus dengan orang yang seumuran dengan Ibu Diana.
Kalau untuk anak-anak ada di bagian atas khusus dengan anak-anak.
Sampai kantin Syeira memesan makanan serta minuman. Menunggu di tempat duduk yang tersedia kantin. Mengeluarkan ponsel untuk melihat sosmed serta apakah ada email masuk yang harus dikerjakan besok.
" Ra, kamu kok ada di sini?" Tanya Tuan Xander yang baru datang ke kantin dan menghampiri Syeira. Dia yang ingin pergi ke kantin tidak sengaja melihat Syeira duduk sendirian.
Syeira yang mendengar pun terkejut hampir menjatuhkan ponsel.
" Tu-uan," Berdiri dari tempat duduk. " iya saya menemani ibu yang sedang dirawat di sini juga." Jawab Syeira dengan sedikit tergagap.
" Loh, bukankah tadi kamu juga sempat kerja," duduk di hadapan Syeira. " Ayo duduk aja, jangan sungkan ra. Anggap saja saya keluarga kamu yang sudah sangat akrab dengan kamu." Jelas Tuan Xander agar Syeira lebih santai lagi untuk berbicara dengan dirinya.
" I-iya tuan," lalu Syeira duduk berhadapan dengan Tuan Xander. " Benar tuan, saya juga baru tahu jika ibu saya juga sedang dirawat padahal tadi saya ke sini." Dia masih merasa menyesal karena baru mengetahui keadaan ibunya. Padahal sudah pagi tadi Ibu Diana mengalami kecelakaan dan dirawat di rumah sakit.
" Apa yang terjadi dengan ibu kamu?"
" Ibu saya kecelakaan, tersrempet motor tuan ."
" Bagaimana keadaannya, apakah sudah mendingan?"
" Sedikit mungkin Tuan, soallnya tadi ibu masih merasa kesakitan ketika menggerakkan salah satu tangannya." Jelas Syeira.
" Semoga ibu kamu cepat sembuh ya." Ucap Tuan Xander sambil tersenyum.
" Amin, terima kasih atas doa nya tuan. Tuan sendiri ada yang mau dibeli?"
" Saya kira tuan tidak meminum kopi?"
" Tidak, saya selalu minum kopi. Bagi saya kopi itu wajib untuk diminum. Hahaha." Ucap Tuan Xander dengan diselingi tawa.
" Hahaha. Ah tuan, bisa saja."
Tidak berapa lama makanan pesanan Syeira datang beserta minuman, diikuti kopi pesanan Tuan Xander. Tuan Xander tidak pilih-pilih untuk memesan minuman atau makanan ditempat mana pun. Walaupun Tuan Xander orang yang kaya raya, dia juga bisa menjadi orang yang sederhana seperti istrinya.
Akhirnya mereka makan berdua sembari mengobrol dan bercanda bersama.
Apalagi Syeira sudah sedikit tidak sungkan dengan Tuan Xander.
Selesai makan serta minum dan sedikit berbincang mereka kembali ke ruangan di mana keluarga mereka dirawat.
Ceklek...
" Lama sekali sih papa." Ucap Nyonya Zena yang duduk bersender di atas brankar. Dengan wajah yang cemberut karena ditinggal sendirian di dalam ruangan.
Karena Alex pulang untuk berganti baju sebentar.
__ADS_1
" Abis nyari cewek sebentar." Jawab Tuan Xander becanda untuk mengerjai istrinya.
" Apa!" Teriak Nyonya Zena sambil melototkan mata. Dia terkejut dengan apa yang baru saja didengar.
" Ssst, ma. Jangan kenceng-kenceng teriaknya, malu di dengar orang." Jawab Tuan Xander, menengokkan kepala ke seluruh arah seolah takut jika ucapan istrinya didengar oleh orang lain.
" Buat apa nyari cewek lagi, mau dijadikan istri muda. Ha!" Nyonya Zena yang tidak tahu jika sekarang dirinya lagi dikerjai oleh Tuan Xander, menjadi marah dan kesal. Bisa-bisanya suaminya berbicara seperti itu ketika dirinya lagi sakit.
" Ya, kalau mama bolehin, papa sih mau-mau aja." Ucap Tuan Xander dengan santai, padahal dalam hatinya sudah menahan tawa.
" Berani nyari lagi, kuracuni kamu dan kuhabisi seluruh harta kamu sampai tak tersisa sedikit pun." Ancam Nyonya Zena dengan berapi-api, apalagi matanya sudah melotot. Wajah yang memerah dengan tangan mengepal, napas yang sudah naik turun dengan cepat. Sudah seperti bom yang ingin meledak.
Glek,
" Wah bisa mati dong aku, nih mama memang tidak bisa diajak becanda." Batin Tuan Xander dengan menelan ludahnya. Dia menjadi takut mendengar ancaman Nyonya Zena.
" Ehehehe, mama. Jangan gitu dong, papa kan cuma becanda." Ucap Tuan Xander dengan muka yang sudah tidak enak dilihat. Ancaman istrinya membuat merinding. Kalau sampai itu terjadi, entah apa yang terjadi dengan dirinya. Lagi pula dia sangat mencintai istrinya tidak mungkin jika ingin menikah lagi. Hatinya hanya untuk Nyonya Zena, tidak ada orang lain lagi.
Mendekat kearah Nyonya Zena, ingin memeluk tubuh Nyonya Zena.
" Cantikku." Rayu Tuan Xander yang biasa diucapkan ketika Nyonya Zena sedang marah.
" Tidak usah pegang-pegang! sana pergi." Menggerakkan bahunya untuk menghindari sentuhan Tuan Xander. Dia sudah telanjur kesal dengan suaminya.
" Papa hanya becanda, abisnya lihat muka mama yang cemberut, papa jadi gemas sendiri. Ya sudah papa kerjai sekalian aja."
" Tau ah!"
Merasa belum berhasil, Tuan Xander memutar otaknya, bagaimana agar istrinya tidak lagi marah dengan dirinya. Memang ini salah dirinya, sudah tau istrinya itu tidak bisa diajak bercanda malah dikerjai.
Lalu dia teringat dengan ucapan Syeira jika ibunya masuk ke rumah sakit.
" Oh ya ma, tadi papa bertemu Syeira di kantin rumah sakit." Melirik istrinya yang bersedekap dan menghadap ke arah lain. Apakah ada pergerakan? Begitu pikirnya.
Mendengar nama Syeira disebut Nyonya Zena menjadi luluh. Menghadapkan tubuhnya ke arah Tuan Xander.
" Ha, mengapa Syeira berada di kantin?"
" Berhasil." Batin Tuan Xander.
" Ibunya sakit dan dirawat dirumah sakit ini." Mengambil kesempatan untuk memeluk istrinya dan menduselkan wajah di leher Nyonya Zena.
" Ha, terus bagaimana keadaannya. Kita harus menjenguk pa. Ayo." Ucap Nyonya Zena dengan semangat.
" Iya nanti, kita bilang sama dokter. Kamu boleh turun atau belum."
" Alah, boleh-boleh. Mama sudah sehat pa, badan mama merasa sudah mendingan."
__ADS_1
" Enggak! Kita tunggu dokter." Ucap Tuan Xander dengan tegas, menarik wajah dari leher Nyonya Zena. Dan kini wajahnya sudah berubah menjadi serius.
Merasa jika suaminya menjadi berubah posesif, Nyonya Zena menurut, karena dia tidak mau jika membuat Tuan Xander marah.