Dinikahi Pria Tajir

Dinikahi Pria Tajir
Bab 67 - Malunya itu lhoo


__ADS_3

Syeira kembali duduk di sofa berhadapan dengan Alex. Dengan lega, karena sudah mendapatkan apa yang dia butuhkan.


" Apakah kau sedang datang bulan?" Tanya Alex tiba-tiba, ketika Syeira duduk kembali di sofa.


" A-apa!" Jawab Syeira dengan sedikit terkejut.


" Ya, lihat saja celanamu. Itu ada toilet." Dengan kepala menunjuk ke arah toilet.


Segera Syeira lari terbirit-birit dengan tangan berada dibelakang untuk menutupi bagian yang terkena noda merah.


Mengaca dan melihat bokongnya apakah ada darah. Dan ternyata ada, darah itu tidak banyak tetapi cukup terlihat, karena Syeira memakai celana yang berwarna cerah. Mungkin jika warna celananya hitam, tidak akan terlihat. Tetapi nasib baik tidak berpihak kepada dirinya.


Bingung, malu, harus bagaimana. Apalagi sekarang dirinya berada di ruangan Alex. Lelaki juga, sungguh Syeira begitu bingung. Tidak ada baju ganti untuk dia kenakan sekarang.


Mengigit kuku jari dan berjalan mondar-mandir di dalam toilet.


" Ya ampun aku harus bagaimana. Mana aku tidak membawa baju ganti lagi." Gumam Syeira.


Tok tok tok..


" Mengapa kau tidak keluar, cepat keluar!"


" I-iya tuan." Mau tidak mau Syeira harus keluar dari kamar mandi karena Alex memanggil dirinya.


Ceklek..


Berjalan ke arah sofa dengan ragu.


" Aku tau kau sedang membutuhkan pakaian, itu ada baju segera kau kenakan." Suruh Alex menunjuk tas yang berisi pakaian di atas meja.


" Darimana itu tuan?"


" Tadi aku menyuruh Jane untuk membelikan pakaian. Sudah sana kenakan, tidak usah banyak tanya!"


" Baik tuan." Mengambil tas dan berjalan cepat ke arah toilet. Mengenakan semua perlengkapan yang dia gunakan ketika datang bulan. Juga mengganti pakaian yang baru dibelikan oleh Alex. Baju yang dia pakai tadi dimasukkan ke dalam tas untuk dicuci nanti dirumah.


" Terima kasih tuan atas bantuannya." Ucap Syeira yang sudah duduk berhadapan dengan Alex.


" Hem." Jawab singkat Alex tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel.


" Maaf  saya sudah merepotkan anda." Ucap Syeira yang merasa tidak enak kepada Alex.


" Ya, tidak pa-pa. Sudah selesaikan pekerjaan kamu."


" Baik tuan."


Sebenarnya ini juga pertama kali untuk Alex melihat seorang perempuan datang bulan. Sama seperti Syeira yang juga terkejut dan bingung harus ngapain. Tetapi untung Alex sedikit mengerti dan mempelajari bagaimana seorang wanita, otaknya juga langsung bekerja dengan baik. Jadi dia tau apa yang harus dia lakukan.

__ADS_1


Setelah beberapa saat mengerjakan pekerjaan di ruangan Alex, Syeira keluar dari ruangan Alex karena sudah menyelesaikan tugasnya. Tidak lupa membawa baju kotor yang sempat terkena noda tadi.


Seperti biasa, Syeira berjalan menuju ke arah ruangan Jane.


Tok tok tok,


Ceklek..


" Mbaakkkkk!" Ucap Syeira dengan muka yang sedih dan dibuat-buat seperti ingin menangis.


" Gimana tadi, sukses." Jawab Jane dengan bercanda, menahan tawa.


" Jangan begitu dong, aku malu. Pakek banget ini."


" Ya mau gimana lagi, sudah telanjur ra. Hahaha." Ucap Jane sambil tertawa. " Ups sorry." Menutup mulut dengan kedua telapak tangan.


" Tau ah, sebel aku." Jawab Syeira dengan cemberut.


" Pasti Tuan Alex juga memaklumi ra."


" Memaklumi bagaimana, orang tadi dia juga syock lihat di celana aku ada darah. Dan parahnya lagi dia yang mengetahui duluan mbak!" Ucap Syeira dengan merengek sedih, sambil menghentakkan kaki.


" Ya terus mau bagaimana lagi. Toh sudah telanjur." Jawab Jane mengangkat bahu.


" Sayangnya kejadian tadi masih ingat betul. Masih jelas banget ingatanku."


" Mungkin dia sudah sangat jijik kali."


" Bukan, bukan jijik. Lebih ke perhatian banget. Kayak seperti pasangan yang sangat perhatian dan tau apa yang dia butuhkan."


" Ah! Ngarang aja kamu mbak. Ya enggak lah, mana mau Tuan Alex dengan diriku yang seperti ini." Mengibaskan tangan di depan wajah.


" Siapa tau ra, perasaan orang tidak bisa ditebak. Bisa saja minggu depan kalian sudah jadian."


" Ih enggak, jangan dong. Aku takut ini jadinya." Ucap Syeira dengan bergidik.


" Kok malah takut, emang ada apa?"


" Ya dia orang kaya mbak dan aku orang miskin yang tidak punya apa-apa." Ucap Syeira yang sadar dengan kehidupannya. Tidak mungkin dia bisa mendapatkan lelaki kaya raya, seperti di novel.


" Takdir juga tidak ada yang tau ra."


" Tau ah, ngomong sama orang marketing memang ada aja alasan jawabnya."


" Hahaha, ya iya lah. Kalau enggak, mana bisa masuk ke kantor ini bagian marketing."


" Oh iya, bener juga. Uang tadi untuk mengganti bajunya berapa mbak?" Tanya Syeira yang baru ingat jika baju yang diberikan oleh Tuan Alex adalah baju baru.

__ADS_1


" Tenang itu sudah dibayar oleh Tuan Alex, jadi kamu enggak usah mikir terlalu dalam." Jawab Jane dengan santai. Yang memang uang tadi milik Alex, sebelum pergi membeli baju, Alex memberikan salah satu kredit cardnya kepada Jane untuk membayar baju Syeira.


" Terus berapa kira-kira harga bajunya mbak?"


" Sekitaran 15 juta kalau enggak salah atau lebih aku juga lupa." Ucap Jane sambil mengingat-ingat berapa harga baju yang dia ambil di butik tadi. Karena Jane terburu-buru untuk mengambil, takut jika Alex memarahi jika terlalu lama.


" Apa!" Teriak Syeira dengan terkejut. Jantungnya hampir copot mendengar harga yang barusan dia dengar. Uang segitu hanya untuk membeli baju. Jika dibelikan di toko biasa, bisa sampai beberapa stell pakaian.


" Aku kan sudah bilang, jangan dipikirkan. Uang segitu tidak ada apa-apanya untuk Tuan Alex."


" Tetapi mbak, itu uang lho. Banyak lagi, masa tidak diganti."


" Kamu mengejek Tuan Alex jika tidak punya uang untuk membeli semua baju yang harganya segitu?"


" Enggak, bukan gitu. Aku hanya sayang uang segitu banyak hanya untuk membeli satu stelle baju."


" Ya mau gimana lagi, orang kaya mah, bebas!"


" Iya juga sih."


" Ngomong-ngomong kok mbak tau ukuran daleman aku, darimana?" Tanya Syeira, ketika tadi memakai pakaian terutama daleman, itu pas semua di badannya. Tidak ada yang kekecilan atau kebesaran.


" Nebak aja ra, dilihat dari bentuk tubuhmu juga. Hahaha." Ucap Jane sembari tertawa.


" Yah, jadi tau semua luar dalam ku dong." Canda Syeira dengan wajah lesu.


" Iya dong, kecuali bra kamu. Hahaha." Jawab jane dengan suara sedikit keras


" Hust, mbak! Jangan kenceng-kenceng takut didengar orang." Ucap Syeira sambil celingukkan, apakah ada orang yang mengintip.


" Maaf, maaf," menutup mulutnya dengan telapak tangan, tetapi masih sedikit tertawa." Keceplosan ra."


" Sengaja itu namanya bukan keceplosan." Sewot Syeira kepada Jane. Karena sering kali Jane berucap yang diluar kendalinya.


" Heheheh, peach." Mengangkat dua jari ke atas.


" Aih, sudahlah."


" Sudah, ayo makan siang. Aku lapar banget nih. Dari tadi perut keroncongan tetapi enggak ada makanan." Eluh Jane, yang memang tidak ada makanan apapun di ruangnnya. Padahal cacing di perut sudah minta diisi, tetapi tidak ada satu pun makanan yang ada. Jika keluar dia malas, karena sebentar lagi juga akan makan siang.


" Eh, emang sudah waktunya makan siang?" Tanya Syeira sambil melihat jam di ponsel.


" He.em." Menganggukkan kepala.


" Ayoklah, ini aku taruh di sini saja ya mbak. Nanti sebelum pulang aku ambil."


" Iya taruh situ aja. Gapa-pa."

__ADS_1


Lalu mereka berjalan bersama ke arah kantin.


__ADS_2