
Hari makin petang, jaket dan semua perlengkapan yang mereka bawa dikenakan untuk menghangatkan suhu tubuh. Apalagi sekarang ini mereka di luar vila, membuat suhu tubuh makin dingin jika tidak mengenakan jaket atau apapun.
Bintang yang bertebaran di atas membuat suasana menjadi sangat indah.
Mereka tidak menyangka akan seindah ini.
" Don kamu bakar sosis aja, aku bakar daging." Ucap Syeira kepada yang saat ini mereka lagi di depan tempat untuk membakar.
" Owh, oke."
Yang lain duduk di gazebo membuat bumbu untuk di oleskan ke dalam daging dan sosis yang belum di bakar.
" Dengan iringan gitar juga bagus lho." Ucap Nana yang duduk di gazebo. Berhadapan dengan Dika dan Soni.
" Boleh juga, sebentar aku ambil gitar di dalam." Jawab Soni. Kemudian dia hendak masuk ke dalam vila untuk mengambil gitar.
" Sini aku bantu kipasin don." Ucap Nana yang sudah ada di samping Doni.
" Ya nih, kipas yang bener. Kalau enggak, ini debu bisa ke mana-mana." Jawab Doni sambil menyerahkan kipas yang di bawa.
" Iya! Bawel." Jawab Nana dengan ketus.
Syeira yang melihat kedua temannya yang berdebat tersenyum sendiri.
Sampai beberapa menit kemudian semua makanan yang mereka bakar sudah matang. Di hidangkan di tengah-tengah mereka yang duduk di gazebo.
Kini mereka duduk melingkar sambil di tengahnya di penuhi banyak makanan.
Mulai menyantap semua makanan yang ada dengan lahap.
" Enggak nyangka banget bakal liburan seseru ini. Mana langitnya juga mendukung." Ucap Dika yang menghadapkan kepala ke atas untuk melihat banyaknya bintang.
" Iya benar, enggak pernah sekalipun liburan. Sekali liburan indah banget." Jawab Syeira sambil memakan sosis di tangannya.
" Suatu saat kita kembali ke sini dengan sudah membawa pasangan. Jadi kita bergandengan. Gimana deal?" Usul Soni dengan semangat.
" Oke Deal!" Seru mereka bersama. Lalu menumpu telapak tangan masing-masing sebagai tanda tos.
*****
" Awas jalannya sedikit berbatu, kalian harus berhati-hati." Ucap Soni yang kini berada di depan teman-temannya.
Saat ini mereka ingin pergi ke kebun teh dengan berjalan kaki.
Sambil membawa kamera untuk mereka pergunakan berfoto.
Jarak vila dari kebun teh memang tidak terlalu jauh, tetapi itu lumayan menguras tenaga bagi orang yang jarang sekali ke kebun.
Apalagi harus melewati jalan yang berbatu.
Doni dan Dika berada di belakang sendiri untuk mengawasi Syeira dan Nana jika terjadi sesuatu.
Beruntung Syeira dan Nana adalah cewek yang jarang mengeluh dan cepat lelah. Membuat para cowok tidak merepotkan. Itulah mengapa mereka senang jika pergi dengan Syeira dan Nana.
__ADS_1
Menempuh perjalanan sedikit lama, keringat bercucuran. Akhirnya mereka sampai di jembatan panjang, ditengah-tengah kebun teh untuk menghubungkan ke puncak yang lebih tinggi di kebun teh tersebut.
( Uwis lah kalian bayangin sendiri itu bagaimana. Hehehe Terserah kalian)
Sedangkan di puncak kebun teh terdapat gubuk kecil untuk berteduh ketika sudah melewati perjalanan yang cukup panjang.
Sengaja pemilik kebun teh ini membuat spot seperti itu untuk para wisatawan jika ingin berkunjung ke angsana.
Tetapi mereka juga harus membeli tiket masuk jika ingin melewati jembatan. Kebersihan juga sangat di jaga, tidak boleh membuang sampah di sembarang tempat bagi wisatawan yang berkunjung. Jika tidak, mereka akan terkena denda.
" Ya ampun indah banget, mana panjang sekali jembatannya. Siapa yang punya ini, pasti tajir melintir-lintir." Ceplos Syeira sambil melihat pemandangan di tengah jembatan.
" Bisa ae lu ra, tetapi bisa jadi sih. Mana ini luas pake banget." Jawab Dika yang saat ini memfoto sekitar yang menurutnya bagus.
" Ayo kita berfoto." Ucap Doni yang teringat dengan kamera yang di bawa Dika.
" Ayok, ayok. Untuk kenang-kenangan kita." Ucap Nana dengan semangat.
" Ah kalian, kalau soal foto aja semangat." Jawab Doni dengan memutar bola mata malas.
Sedangkan Nana dan Syeira hanya menyengir mendengar perkataan Doni.
Kini mereka berfoto bersama, setelah itu satu persatu.
Sekiranya cukup untuk berfoto, mereka melanjutkan perjalanan ke tempat yang paling ujung yang terdapat gubuk kecil.
" Ampun deh, panjang amat nih jembatan. Habis berapa buat jembatan segini panjang." Eluh Soni karena tidak sampai di ujung jembatan.
" Iya ya, kok bisa ni orang buat. Berapa hari coba buatnya. Dan duh, masih bertanya-tanya berapa kekayaannya." Jawab Syeira yang masih penasaran.
" Yang pasti mahal lah. Sudah kalian ini, cepat ayo selesaikan perjalanan. Setelah itu kita istirahat di angsana." Ucap Doni.
" Iya!". Jawab mereka bersama.
Lelah dan napas yang naik turun dengan cepat terbayar sudah setelah sampai di gubuk.
Semua pemandangan terlihat dari angsana. Kebun teh yang begitu luas juga terlihat sangat indah dari angsana. Kabut yang tersisa masih ada di angsana. Karena sebelumnya mereka berangkat masih pagi sekali. Tak ayal jika masih ada kabut di puncak kebun teh.
Buru-buru mereka berfoto yang bagus untuk diabadikan di sosmed. Biasa anak muda zaman now. Hehehe.
( Author aja gitu kok, hahaha)
" Ayo cepet son, terburu nih kabut ngilang." Ucap Syeira kepada yang juga belum di foto oleh Soni karena sedang mensetting kamera.
" Sabar dong ra, ini kameranya aku benerin dahulu." Jawab Soni kepada Syeira yang saat ini masih mengutak atik kamera.
Sedangkan Dika yang juga menunggu untuk di foto protes kepada Soni yang tidak cepat memfoto Syeira.
Soni yang mendengar mereka mendumel hanya mentulikan telinga. Biarkan saja mereka bicara seenak jidat toh nanti diam sendiri jika lelah.
Puas melakukan berbagai gaya foto. Akhirnya mereka turun dan sampai di musala.
Mushola yang biasa digunakan untuk para wisatawan jika berkunjung ke angsana.
__ADS_1
Istirahat sebentar dan sambil menunggu teman yang lain pergi ke toilet.
Syeira yang sudah kebelet lari terbirit-birit sampai tidak melihat gambar yang tertera di depan pintu bagian atas.
Dengan bodohnya Syeira masuk ke dalam toilet dan...
" Aaaaaarrrrgggg!" Teriak mereka berdua.
" Hei!, kau tidak lihat ini toilet laki-laki atau perempuan." Ucap lelaki yang saat ini memasang kembali ikat pinggangnya. Untung dia hanya melepas ikat pinggang belum sampai membuka celana.
" E-ehm ma-af. Saya tidak sengaja. Tadi saya pikir ini toilet perempuan karena terburu-buru." Ucap Syeira sesal. Sambil menyatukan telapak tangan sebagai tanda permintaan maaf. Dan tubuhnya sedikit bergetar karena menahan sesuatu yang ingin keluar di tambah malu karena salah masuk toilet.
" Makanya dilihat, jangan asal masuk saja." Ucap lelaku itu, dengan muka yang sudah kesal dan menahan amarah.
" Iya ma-af. Kalau begitu saya permisi." Kemudian Syeira ngloyor pergi dari situ. Masuk ke toilet sebelah untuk menuntaskannya.
Setelah selesai Syeira kembali berkumpul dengan teman-temannya.
" Lama amat ra?" Tanya Nana yang baru saja selesai salat dzuhur.
" Iya ada gangguan sedikit, ya sudah aku salat duluan ya."
" Iya, yang lain juga masih salat kok."
" He.em."
Mengambil air wudu yang di dekat mushola. Setelah itu memakai mukena yang sudah di sediakan oleh pihak angsana. Mukena yang ada di angsana juga wangi, mengingat pemilihnya sangat menjaga kebersihan.
Di tempat lain, seseorang masih kesal atas kejadian tadi. Kok bisa ada orang yang tidak melihat akan masuk ruangan mana. Padahal gambar sudah di tempel di depan pintu.
Bukan apa-apa, jika tadi Syeira melihat privasi nya Alex. Pasti Alex sangat marah karen dia sangat tidak suka jika privasi nya diketahui oleh orang lain. Apapun itu, bagi dia privasi hanya boleh dilihat oleh dirinya sendiri. Tidak ada yang boleh melihat jika dia tidak mengijinkan.
Ceklek..
Masuk ke dalam ruangan sudah ada asisten pribadi yang selalu setia menemani. Duduk di sofa dengan ipad yang di genggamnya.
Melihat tuan nya dengan raut wajah tidak mengenakkan. Dia berinisiatif untuk bertanya.
" maaf tuan, apakah ada masalah?"
" Tidak, aku hanya kesal kepada wanita yang main nyelonong masuk ke toilet laki-laki."
" Mungkin dia lagi terburu-buru tuan, jadi tidak melihat apakah itu toilet perempuan atau laki-laki."
" Kau membelanya ko!" Ucap Alex yang memelototkan matanya kepada Miko. Seolah siap menerkam atau mencekiknya sekarang.
" B-bukan begitu tuan, saya hanya menyimpulkan apa yang anda katakan." Jawab gugup Miko. Dia yang tidak tau apa-apa malah dibentak oleh Alex.
" Ah sudahlah. Cepat bereskan pekerjaan ini lalu kita kembali ke vila."
" Baik tuan."
Ya, lelaki yang sempat bentrok dengan Syeira tadi adalah Alex. Alex yang sedang mengunjungi tempat itu untuk melihat bagaimana perkembangan kebun tehnya sekarang. Karena dia sudah lama sekali tidak pergi ke sana. Barulah pagi tadi Alex sampai di tempat tujuan.
__ADS_1
Dan pemilik kebun teh tersebut adalah Alex. Selain beberapa perusahaan dia juga memiliki investasi lainnya. Salah satunya juga kebun teh tersebut.