Dinikahi Pria Tajir

Dinikahi Pria Tajir
Bab 33 - Main ke rumah Syeira


__ADS_3

Syeira dan Nana sudah sampai di rumah. Memarkirkan motornya seperti biasa, mereka berjalan ke arah pintu.


" Assalamualaikum!" Ucap mereka bersamaan sambil terus berjalan masuk ke dalam rumah. Syeira yang berjalan duluan diikuti Nana di belakangnya.


Syeira langsung masuk ke dapur untuk menaruh wadah roti. Mencari ibunya yang entah di mana. Sedangkan Nana langsung duduk di sofa yang berada di ruang tamu.


" Waalaikumsalam!" Jawab Ibu Diana yang keluar dari arah kamarnya.


" Loh ibu, aku cariin ternyata di kamar." Ucap Syeira terkejut karena dia baru keluar dari dapur dan berjalan akan melewati kamar ibunya.


" Iya, ibu istirahat tadi." Mengisyaratkan dengan Menolehkan kepala ke arah kamar.


" Ada Nana bu, dia kesini tadi sekarang ada di depan."


" Lah masa?, ajak makan aja sudah siang juga kan, dia pulang nanti?" Tanya Ibu Diana sambil melihat jam yang di tempel di dinding.


" Iya nanti sorean dia pulang. Panas katanya kalau pulang jam segini."


" Ya emang panas."


Mereka berjalan ke arah depan menuju sofa. Menghampiri Nana yang sedang duduk di sana sendirian sambil memainkan ponsel.


" Kamu kok lama enggak kesini na? ke mana aja." Tanya Ibu Diana yang berjalan duduk ke arah sofa.


" Eh ibu", beranjak dari duduknya dan mencium tangan Ibu Diana. " Di rumah aja bu hanya saja Nana malas untuk keluar rumah." Jelas Nana.


" Gitu ya, ibu kira sudah lupa dengan ibu di sini." Ucap Ibu Diana mencandai Nana dengan nada yang sedih.


" Ya enggak lah bu, masa Nana lupa sama ibu yang baik hati serta cantik ini." Jawab Nana dengan memuji Dan tersenyum lembut.


" Aih bisa aja kamu, ya sudah yuk makan terburu laper ntar pingsan." Menepuk tangan Nana dengan pelan.


" Enggak lah, masa anak milenial mudah pingsan. Kita mah kuat dan strong girl." Mengepalkan tangan ke atas dengan wajah yang serius.


" Hahaha." Disertai dengan tawa renyahnya.


" Nah kan, kalau ada dia pasti rumah ramai ra." Menoleh ke arah Syeira.


" Iya bener bu, kayak anak ayam mencari induknya, hahahah."


" Hush, ada-ada aja kamu, yuk ke dapur." Dengan mengibaskan tangan ke wajah Syeira.


" Let's go bu." Ucap Nana dan Syeira bersamaan.


Mereka pun tertawa bersama . Sampai di dapur Ibu diana menghidangkan makanan di atas meja. Ibu Diana memang orang yang baik dan bisa juga di ajak bercanda tak heran jika Nana sangat akrab dengannya.


Dan selalu ada aja yang membuat Ibu Diana tertawa dengan tingkah mereka berdua. Entah menceritakan tentang Nana atau Syeira yang menurut mereka lucu.


Juga saling sharing mengenai sekolah dan teman yang lain yang berada di sekolah.


Setelah makan mereka kembali ke sofa. Melonggarkan agar makanan yang dimakan tadi sudah dipastikan sampai keperut. Sebelum melaksanakan salat dan tidur siang.

__ADS_1


" Ibu mau salat, kalian salat juga ya, Na ibu tinggal ya?" Ucapnya kepada Nana yang ingin beranjak dari tempat duduknya.


" Iya bu, siap-siap." Mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mempersilahkan Ibu diana untuk pergi salat terlebih dahulu.


Di susul dengan Syeira dan Nana juga ikut salat tetapi mereka wudhu terlebih dahulu. Lalu setelah wudhu mereka menuju ke kamar Syeira untuk salat. Karena di rumah Syeira tidak ada ruangan khusus untuk salat. Kalau pun semua keluarga Syeira berkumpul mereka akan salat di masjid terdekat rumah Syeira.


Sambil menunggu Nana salat Syeira memainkan ponsel dengan bersender di atas tempat tidur.


Keakraban mereka seperti adik kakak yang tidak bisa dipisahkan. Karena terlalu dekatnya pertemanan dan memahami satu sama lain apa yang sedang dirasakan oleh diri sendiri. Mungkin kalau sedarah pasti ada ributnya sedikit tetapi akan akur kembali beberapa saat kemudian. Tetapi berbeda jika teman yang sudah sangat dekat dan memiliki rasa marah dan sedikit egois pasti tidak akan bisa, mereka pasti akan sungkan satu sama lain atau marahan mereka justru tidak lagi berguna dan malah akan tertawa dengan tingkahnya sendiri.


Selesai salat mereka merebahkan badan ke tempat tidur Syeira yang tidak terlalu besar tetapi cukup untuk berdua. Asyik bermain ponsel masing-masing.


" Enak juga kamar kamu ra, nyaman." Ucap Nana menoleh ke arah Syeira yang masih tiduran di atas tempat tidur.


" Ya beginilar kamar aku, tidak luas tetapi juga tidak sempit untuk ditiduri." Melihat ke atas dan melihat di sekelilingnya. Mencermati kamarnya sendiri.


" Lumayan luas lho ini daripada kamar aku, enak masih bisa bernafas dengan lega." Sambil menghirup udara dan melepaskan dengan perlahan. Seolah menikmati suana di dalam kamar tersebut.


" Aih kau kira kamar mu tidak bisa buat bernafas." Melirik sinis ke arah Nana.


" Hehehe ya bisa tetapi tidak seluas ini, eh kalau kakak kamu kamarnya di mana ra?. Tanya Nana penasaran dengan menolehkan kepala kearah Syeira.


" Tuh di depan kamar aku dan ibu kalau kamar ibu ada di samping kamar aku." Jelas Syeira sambil menggerak-gerakkan tangannya dan kaki yang menumpu pada dinding.


" Ohw yang sendiri itu ya, pantas kayak kosong gitu." Ucap Nana menganggukkan kepala.


" He.em."


Mereka tidur dengan nyenyak sampai menjelang sore hari mereka belum juga bangun sampai suara dering ponsel memecahkan mimpi nyenyak mereka.


Brip brip brip...


Nana yang tidur di dekat meja dan ponsel yang berada di atas meja langsung bangun mendengar dering ponselnya.


Menggerakkan badannya dan bangun meraih ponsel lalu mengangkatnya.


" Assalamu'alaikum ya hallo." Menjawab dengan suara yang masih serak khas bangun tidur.


" Waalaikumsalam, kamu kok belum pulang na, masih di rumah Syeira ya?" Tanya ibunya Nana dari telepon.


" Astaga! Iya bu, aku lupa. Sampek ketiduran di sini." Ucap Nana menepukkan tangannya ke dahi.


" Ya sudah pulangnya jangan sore-sore. Hati-hati di jalan."


" Ya bu, assalamu'alaikum."


" Waalaikumsalam."


Melihat jam di ponsel dan terkejut karena sudah jam setengah 4 sore. Saking nyenyaknya tidur sampai lupa untuk pulang.


" Ada apa na?" Tanya Syeira dengan muka bantalnya sambil menguap.

__ADS_1


" Hooaamm." Menutup mulutnya dengan telapak tangan.


" Aku harus pulang ra, dicariin ibu. Ketiduran di sini sampai enggak tau kalau sudah jam setengah 4 sore." Jawab Nana beranjak dari tempat tidur dan bersiap untuk pulang.


" Iya kah, ayok aku anterin sampai ke luar."


" Yok lah."


Mereka berjalan ke arah pintu, keluar meninggalkan kamar Syeira. Sedangkan Syeira mencari ibunya untuk memberitahu jika Nana ingin pamit pulang.


Tidak lama ibunya keluar dari kamar karena setelah menunaikan salat asar.


" Bu, Nana mau pamit pulang."


" Loh kok enggak di ajak makan sore ra, kan bisa sekalian."


" Sudah dicariin ibunya katanya, tadi aja sudah ditelepon."


" Ya sudah. Ayo ke depan kalau begitu."


" Emm." Menganggukkan kepalanya. Dan mengekor ibunya untuk mengikuti ke depan.


Nana yang sedang bermain ponselnya mengalihkan perhatiannya ke arah orang yang sudah datang untuk meminta pamit.


Berdiri dari sofa yang sempat dia duduki.


" Mengapa tidak makan sekalian di sini na, sebentar lagi kita akan makan sore." Ucap Ibu Diana kepada Nana.


" Ah tidak bu, kapan-kapan saja. Nana sudah ditelepon supaya cepat pulang, takutnya nanti kesorean." Jawab Nana dengan sopan.


" Gitu ya, ya sudah. Hati-hati di jalan jangan bawa motor kencang-kencang."


" Iya bu, siap. Nana pamit bu assalamu'alaikum." Sambil mencium tangan Ibu Diana.


" Waalaikumsalam, yuk ibu anterin."


" Tidak usah bu, biar Syeira yang antar." Saut Syeira di samping ibunya.


" Iya deh."


Syeira pun mengantar Nana ke depan.


" Aku pulang ra, kapan-kapan kalau liburan aku kesini." Pamitnya sambil memakai helm.


" Tidur di sini jugak dong, gimana?" Tantang Syeira dengan melipatkan tangan ke depan dadanya.


" Oke siap. Bye."


" Bye, hati-hati." Melambaikan tangannya dengan sedikit memajukan tubuhnya.


" Sip." Ucap Nana singkat dengan membentuk jari tangan dengan bentuk.

__ADS_1


__ADS_2