
Menuju ke arah ruangan Alex, tetapi tiba-tiba saat berjalan kepalanya pusing dan,,
Brukk..
Nyonya Zena pun terjatuh di lantai, lorong itu pun sepi karena semua karyawan berada di ruangan masing-masing.
" Astaga siapa itu." Gumam Syeira yang baru keluar dari ruangan Jane. Dia berjalan cepat menuju Nyonya Zena yang tergeletak di lantai.
" Ya ampun. Nyonya, nyonya bangun Nyonya." Menepuk tangan dan pipi Nyonya Zena dengan pelan. Karena tidak segera bangun Syeira berteriak meminta tolong.
" Tolong! Tolong, siapa pun tolong!"
Lalu beberapa orang berjalan ke arah Syeira dengan tergopoh-gopoh.
" Astaga ini Nyonya Zena, mamanya Tuan Alex." Ucap seorang karyawan laki-laki yang menghampiri Syeira.
" Hah, ya sudah. Ayo cepat kita bawa ke rumah sakit."
" Iya."
Mereka pun membawa Nyonya Zena masuk ke dalam mobil, ditemani Syeira yang berada di samping Nyonya Zena. Sopir Nyonya Zena yang melihat terkejut, karena tadi sebelum ke sini Nyonya Zena tidak mengapa-napa. Tetapi setelah masuk malah pingsan.
Membawa mobil dengan kecepatan penuh, tetapi juga berhati-hati. Pengawal yang dipilih oleh Tuan Xander juga bukan pengawal sembarang. Mereka memiliki kemampuan yang melebihi batas dari pengawal biasa.
Sampai di rumah sakit Nyonya Zena langsung di bawa oleh beberapa suster dan dokter. Sedangkan sopir Nyonya Zena langsung menelepon Tuan Xander jika istrinya berada di rumah sakit sekarang.
" Maaf nona, silakan anda tunggu di sini." Ucap suster kepada Syeira, karena melihat Syeira ingin masuk ke dalam ruangan.
" Oh, ya baik-baik." Syeira yang terlalu khawatir menjadi lupa jika tidak diperbolehkan masuk ke ruangan ketika pasien sedang di periksa. Bagaimana tidak khawatir, jika orang yang di bawa ke rumah sakit adalah mama dari tuannya yang sangat galak dan kejam. Apalagi tadi Syeira yang melihatnya duluan, semoga saja tidak di salahkan lagi.
Beberapa saat menunggu, barulah dokter dan suster keluar dari ruangan VIP Nyonya Zena.
" Bagaimana dok, apakah ada sakit yang serius terhadap beliau." Tanya Syeira.
" Tidak pa-pa nona. Nyonya Zena hanya kelelahan karena perutnya belum terisi dan sedikit dehidrasi." Jelas Dokter Fathoni yang baru saja menangani Nyonya Zena. Dia adalah dokter pilihan yang terbaik di rumah sakit ini. Dia juga mengetahui jika itu Nyonya Zena karena siapa yang tidak tau dengan orang besar dan sangat berpengaruh di negeri ini. Apalagi rumah sakit ini milik keluarga William.
" Apakah saya boleh masuk dok?"
" Boleh silakan saja. Kalau begitu saya pamit. Permisi."
Berjalan ke arah ruangan lain meninggalkan Syeira yang masih berdiri di ambang pintu.
__ADS_1
" Iya dok."
Dia sedikit ragu untuk masuk karena tahu siapakah orang yang sedang sakit di dalam. Takut jika nanti bangun dia tidak diperbolehkan masuk, dan takut jika orangnya sama galak dengan Alex.
" Masuk, enggak, masuk, enggak." Gumam Syeira yang mondar-mandir di depan pintu. Dia masih bingung dan ragu.
" Tau ah, masuk aja. Masa bodo jika nanti dimarahin."
Ceklek...
Masuk ke dalam ruangan dengan berjalan pelan. Mendekati Nyonya Zena, melihat dengan masih menutup mata dengan rapat.
" Masih terlihat cantik walaupun sudah tidak muda lagi." Batin Syeira yang melihat Nyonya Zena.
" Aku tunggu di sofa aja, sampai nanti beliau sadar. Setelah itu aku kembali ke kantor." Gumam Syeira, kemudian berjalan ke arah sofa.
Tetapi ketika ingin beranjak dia mendengar,
" Air, air, " ucap Nyonya Zena dengan lirih karena baru saja sadar. Sehingga tenaganya belum sepenuhnya pulih.
" Eh." Menengok ke arah Nyonya Zena. Lalu segera mengambil air minum yang tersedia di atas meja.
Glek glek glek..
Setelah itu menaruh kembali di atas meja.
" Kalau boleh tau, siapa kamu nak?" Tanya Nyonya Zena yang sudah duduk dengan bersender.
" Saya Syeira nyonya, karyawan di perusahaan Tuan Alex." Jelas Syeira dengan sopan sambil tersenyum manis.
" Kok saya baru lihat kamu?"
" Iya nyonya, saya memang baru masuk ke perusahaan beberapa minggu yang lalu."
" Pantas saja saya belum tahu kamu sebelumnya."
Brakkk...
Pintu terbuka dengan kasar, seorang pria paruh baya dengan wajah yang sangat khawatir dan napas yang naik turun dengan cepat. Tetapi ketampanannya tidak pernah pudar yang melekat pada dirinya, walaupun sudah tidak muda lagi.
" Sayang, apa yang terjadi. Mengapa kamu bisa masuk rumah sakit. Ha!" Ucap Tuan Xander dengan wajah yang sangat khawatir. Memeluk erat Nyonya Zena dengan erat, menciumi kepala serta kening.
__ADS_1
Syeira yang melihat adegan di depannya menjadi terkejut sehingga melototkan mata.
" Ya ampun, ini pasti suaminya. Masih terlihat tampan dan gagah sekali. Apalagi beliau juga terlihat sangat mencintai istrinya. Dilihat dari wajahnya yang sangat khawatir sekali." Batin Syeira, melihat kemesraan orang tua Alex.
" Aku tidak pa-pa. Hanya kelelahan karena perut aku kosong." Jelas Nyonya Zena dengan tersenyum lembut. Dia sangat mengetahui jika saat ini suaminya sangat amat khawatir terhadap dirinya. Apalagi dia pingsan Tuan Xander tidak berada di sampingnya.
" Apa yang kamu lakukan sehingga perut kamu kosong. Pelayan di rumah banyak, makanan juga banyak. Apa yang belum tersedia. ke mana aja kamu sampai bisa pingsan begini?" Tanya Tuan Xander dengan beruntun. Dia merasa heran, mengapa istrinya bisa pingsan, padahal dia bisa membelikan semua yang dia inginkan. Masa hanya makanan dia tidak mampu untuk membelikan istrinya. Begitu pikirnya.
Dia juga sedikit kesal karena istrinya itu tidak menjaga kesehatannya sendiri.
" Aku tadi pergi ke panti asuhan melihat anak-anak. Karena saking seru dan bahagianya melihat bayi yang baru saja ditinggalkan di panti jadi lupa belum makan siang." Jelas Nyonya Zena dengan lembut sambil mengelus rahang kokoh suaminya. Dari dahulu suaminya itu selalu khawatir jika terluka sedikit saja pada dirinya. Perhatian dan kasih sayang serta cinta yang diberikan oleh Tuan Xander tidak pernah luntur sampai sekarang. Dia sangat senang karena suaminya itu tidak pernah berubah.
" Sarapan pagi? Memang kamu tidak sarapan pagi terlebih dahulu sebelum pergi?"
" Aku sarapan tetapi hanya roti dan sedikit susu karena merasa belum terlalu lapar. Jadi aku keluar sekalian ingin pergi ke restoran dan makan siang bersama Alex."
" Terus ke mana anak itu, di mana dia. Sampai mamanya pingsan tidak ada di sini." Ucap Tuan Xander yang melihat disekelilingnya tidak mendapati Alex. Hanya wanita cantik dan masih muda yang berada di ruangan.
" Aku juga tidak tau ke mana dia. Belum masuk ke ruangan sudah pingsan duluan. Hahaha." Ucap Nyonya Zena diselingi candaan agar sedikit mencairkan suasana.
" Aku enggak mau kalau sampai kamu pingsan lagi. Aku akan menyuruh beberapa bodyguard untuk menemani kamu ke mana pun kamu berada." Ucap Tuan Xander dengan tegas. Karena dia tidak ingin hal buruk terulang kembali oleh istrinya.
" Ih papa! Mama tidak mau ya kalau sampai diikutin mulu. Pokoknya tidak, Titik!" Jawab Nyonya Zena yang tak kalah tegasnya.
" Ayolah ma, ini semua demi keselamatan kamu. Aku tidak mau jika ini terjadi lagi. Apalagi papa sering keluar kota sekarang." Bujuk Tuan Xander, yang memang beberapa hari ini dia selalu meninggalkan istrinya. Pulang sudah larut malam, dia merasa tidak bisa menjaga istrinya selama 24 jam.
" Enggak ya enggak, " Tegas Nyonya Zena. Tetap kepada pendiriannya. Please pa, mama janji jika terjadi sesuatu langsung menghubungi papa." Lalu dia sedikit melunak dan merayu suaminya agar diberi kebebasan seperti sebelumnya.
Mendengar bantahan dari istrinya Tuan Xander hanya menghela napas. Dia tidak bisa membantah ucapan Nyonya Zena.
" Oke, tetapi kamu harus hati-hati. Jangan sampai terulang kembali."
" Iya-iya, sudah malu sama Syeira yang dari tadi mendengar ucapan kita."
" Ya enggak pa-pa. Ini pasti sudah biasa buat dia. Iya kan nak?" Menolehkan kepala ke arah Syeira.
" Iya tuan, tidak masalah. Saya mengerti kekhawatiran tuan." Jelas Syeira dengan tersenyum.
" Nah kan, apa papa bilang." Jawab Tuan Xander dengan penuh percaya diri. Karena merasa ada yang mendukung dirinya.
" Ya sudahlah terserah saja." Ucap Nyonya Zena dengan pasrah. Kekuatannya untuk berdebat dengan Tuan Xander belum sepenuhnya ada.
__ADS_1