
Syeira masuk ke dalam ruangannya. Menaruh tas di atas meja begitu saja.
" Hah." Menghela napas panjang. Sambil menyandarkan punggung di kursi dengan mata yang terpejam.
Ceklek...
Tiba-tiba pintu ruangan Syeira terbuka.
Syeira yang mendengar ada orang membuka pintu langsung membuka mata dengan terkejut.
" Gimana ra, keadaan mamanya Tuan Alex." Tanya Jeni dengan penasaran, langsung duduk di kursi yang berhadapan dengan Syeira.
" Sudah mendingan tadi, tetapi ya sedikit masih lemas." Jawab Syeira sambil membenarkan cara duduknya.
" Terus apa katanya sampai pingsan begitu?"
" Hanya kelelahan dan tadi juga makan sedikit, sedangkan kegiatannya sedikit menguras tenaga. Tetapi jika Nyonya Zena sarapan dengan benar pasti tidak sampai pingsan." Jelas Syeira yang tau permasalahan tadi.
" Bagaimana dengan Tuan Alex, apakah sudah diberitahu?"
" Sudah, tadi juga langsung kesana beberapa saat papanya datang."
" Owh gitu, terus langsung dibawa pulang ke rumah?"
" Enggak, masih di rawat rumah sakit." Jawab Syeira, dengan membuka laptopnya dan mulai menyelesaikan pekerjaannya.
" Emmm." Mengangguk-anggukkan kepala. " Kamu belum selesai ra?" Tanya Jeni yang melihat Syeira mulai mengetik di laptop.
" Tinggal sedikit lagi ini aku sudah selesai mbak."
" Ya sudah, aku balik ke ruangan. Kamu teruskan pekerjaannya."
" Oke mbak, siap."
Lalu Jeni berjalan ke luar ruangan Syeira. Meninggalkan Syeira sendiri agar lebih fokus untuk mengerjakan pekerjaan. Lagi pula dia juga masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan.
*****
Sore hari Syeira pulang ke rumah. Seperti biasa memarkirkan motornya di samping rumah.
" Assalamualaikum!"
" Bu, ibu. Syeira pulang." Ucap Syeira ketika masuk ke dalam rumah. Sepi, tidak ada suara ibunya yang biasa menjawab.
Dia berjalan ke arah dapur, berpikir jika ibunya selalu berada di dapur. Entah itu memasak atau membuat kue.
Tetapi sampai dapur, dia juga tidak mendapati ibunya di sana. Lalu mencari lagi ke belakang siapa tau ada.
Sampai di sana Syeira juga tidak menemukan ibunya.
" Ke mana ibu, kok tidak ada?" Gumam Syeira sendiri.
Segera dia keluar, barang kali di rumah tetangga atau pergi ke toko untuk membeli sesuatu.
__ADS_1
Sampai depan rumah, Ibu Tutik tetangga depan rumah Syeira menghampiri Syeira.
" Ra kamu nyari ibu kamu?"
" Iya, ibu tau tidak ibu Syeira ke mana?"
" Ibu kamu ada di rumah sakit ra, tadi ibu kamu kesrempet motor."
Deg,
Jantung Syeira seakan berhenti berdetak, matanya sudah berkaca-kaca.
Ibunya tersrempet motor, bagaimana keadaannya sekarang. Orang yang sudah tidak muda tersrempet motor? Bagaimana dengan tubuhnya apakah masih bisa dikatakan baik-baik saja. Syeira bertanya-tanya, membayangkan kemungkinan yang terjadi.
" T-terus ada di rumah sakit mana bu?" Tanya Syeira dengan suara yang sudah serak. Menahan air mata yang ingin keluar. Kesedihan tidak bisa ditutupi dari matanya.
" Rumah sakit lender William."
" Terima kasih bu, kalau begitu Syeira langsung pergi ke rumah sakit."
" Iya hati-hati yang sabar. Kuatkan hati kamu." Ucap Ibu Tutik untuk memberi semangat kepada Syeira. Karena dia juga tahu apa yang di rasakan Syeira saat ini.
" Iya bu, terima kasih. Syeira bakal kuat kok menghadapi ini semua." Jawab Syeira dengan tersenyum. Karena benar apa yang dikatakan oleh Ibu Tutik jika dia harus kuat untuk menjalani musibah ini. Apa yang sudah terjadi tidak bisa di kembalikan seperti semula. Hanya kesabaran dan ketabahan yang harus dimilikinya saat ini.
Segera Syeira memakai helm dan menaiki motornya menuju rumah sakit.
Dengan kecepatan penuh dia mengendarai motor. Menyalip beberapa kendaraan yang memang lumayan ramai saat ini.
Setelah tau ibunya di rawat ruangan mana. Syeira segera berjalan cepat menuju ruang rawat.
Sampai di sana, Syeira melihat ibunya dengan merebahkan badan di atas brankar. Tangan yang diperban serta kaki.
" Ibu ." Panggil Syeira kepada ibunya. Menghampiri Ibu Diana.
Ibu Diana yang tadinya sempat memejamkan mata lalu membuka mata karena mendengar Syeira yang memanggil dirinya.
" Ra." Jawab Ibu Diana dengan suara lirih.
" Ibu mengapa kok bisa begini?" Tanya Syeira dengan air mata yang sudah keluar. Dia tidak bisa lagi menahan karena melihat keadaan ibunya saat ini. Sedih, sakit, seperti merasa apa yang dirasakan ibunya saat ini. Orang yang begitu menyayangi dirinya dan orang tua yang selalu berjuang untuk dirinya agar bisa tumbuh menjadi Syeira yang sekarang.
Perban di tangan kiri serta kaki kiri. Tangan sebelah kanan dan kaki tergores.
Dia juga tidak berani memeluk ibunya hanya menyentuh tangan Ibu Diana sedikit, dia takut jika mengenai luka ibunya.
" Tidak pa-pa, kamu jangan nangis dong." Ucap Ibu Diana dengan tersenyum. Masih menampilkan senyumnya untuk menguatkan Syeira dan seperti memberitahu jika dia baik-baik saja.
" Kok bisa sih ibu tersrempet motor, bagaimana ceritanya?" Tanya Syeira dengan sedih.
" Tadi ibu mau menyeberang, tiba-tiba ada motor yang lewat dengan kecepatan penuh. Jadilah ibu terkena motornya." Jelas Ibu Diana.
Flasback on
Pagi tadi setelah Ibu Diana membereskan rumah dia pergi ke toko untuk membeli bahan membuat kue, karena ada beberapa bahan yang habis dan belum sempat membelinya.
__ADS_1
Berjalan ke arah toko yang tidak terlalu jauh dari rumahnya.
Ketika menyeberang untuk ke toko di seberang jalan, Ibu Diana sudah menengok kekanan dan kiri jika tidak ada motor. Tetapi tiba-tiba motor yang baru belok dari arah lain berjalan ke arah Ibu Diana dengan kecepatan penuh karena dia terburu-buru.
" Ahhhkkkkkk!"
Brakkkkk..
Akhirnya motor itu menyerempet Ibu Diana dan Ibu Diana terguling ke jalan. Sedangkan yang menabrak Ibu Diana juga terguling menggores jalan.
Ibu Diana tidak sadarkan diri dan langsung di bawa ke rumah sakit oleh beberapa orang yang melihat kejadian itu.
Flasback off
" Terus orang yang menabrak ibu bagaimana, apakah dia juga mau bertanggung jawab?"
" Iya dia sudah membiayai administrasi rumah sakit ibu, dia juga dirawat di sini."
" Ya sudah, setidaknya dia tidak lari dari kesalahan. Sekarang yang sakit sebelah mana bu?" Tanya Syeira dengan wajah yang sedih. Apalagi melihat banyaknya luka di bagian tubuh ibunya. Dengan tubuh yang begitu lemah.
" Kaki dan tangan kalau digerakin sakit. Soallnya tadi sempat dijahit juga."
" Astaga di jahit?, berarti parah dong bu." Ucap Syeira terkejut dengan melototkan mata. Dia tidak menyangka luka ibunya sampai dijahit. Dia kira hanya luka gores yang sedikit lebar sehingga harus di perban, ternyata lebih parah dari dugaannya.
" Ya lumayan ra."
" Kapan sih ibu tersrempet motor, tadi sore atau jam berapa gitu?"
" Pagi tadi."
" Pagi! Dan ibu enggak bilang Syeira atau telepon Syera gitu." Pekik Syeira kepada ibunya. Mengapa jika pagi tadi ibunya tidak mengabari dirinya. Pasti Syeira langsung ke rumah sakit.
" Ibu hanya tidak mau mengganggu kerja kamu ra. Nanti jika ibu telepon kamu, pasti langsung ke sini dan ibu takut jika kamu dimarahi oleh boss kamu."
" Astaga ibu, ya enggak lah. Bos Syeira juga pasti mengerti, karena dia juga mempunyai orang tua. Jika sampai tidak boleh, apakah dia juga tega dengan orang tuanya jika sampai itu terjadi pada dirinya."
" Ya maaf ra, ibu kan tidak tahu."
" Huh, " menghela napas panjang. " Ya sudah tidak pa-pa bu. Sekarang ibu mau apa, lapar enggak?"
" Tidak, ibu sudah kenyang tadi habis makan. Kamu sendiri sudah makan?"
" Belum, nanti aja Syeira makan di kantin rumah sakit."
" Kamu pulang aja ra, bersihkan diri kamu. Pasti kamu baru aja pulang kerja terus langsung kesini." Ucap Ibu Diana yang melihat baju Syeira masih sama seperti pagi tadi. Apalagi rambut yang sedikit berantakan.
" Iya sih bu."
" Nah kan, sekarang kamu pulang terus istirahat sebentar. Ibu tidak pa-pa di sini. Toh jika ada apa-apa pasti suster langsung ke mari."
" Ya sudah kalau begitu, Syeira pulang dahulu. Nanti secepatnya Syeira ke sini lagi."
" Iya."
__ADS_1