Dinikahi Pria Tajir

Dinikahi Pria Tajir
Bab 35 - Quality time sendiri


__ADS_3

Happy reading guyysss


Seorang lelaki yang tengah berlari di taman dekat apartemen miliknya dengan pakaian casual. Hoodie berwarna abu-abu dan celana sepasang juga berwarna sama. Ditambah topi berwarna hitam menambah kesan cool dan tampannya lelaki itu. Banyak pasang mata yang melihat kearahnya. Menganggap darimanakah ciptaan tuhan yang paling indah itu. Tampan, berkulit putih, tinggi, badan tegap dan berotot. Uwooow, apalagi yang belum dia dapat.


Bahkan ibu-ibu yang melihat sampai terpesona dengan ketampanannya. Sampai kakek dan nenek yang melihat melongo dengannya. Sehingga membuat kakeknya harus menyenggol tangan nenek. Seolah cemburu dengan apa yang nenek lihat dan menyadarkan kalau disampingnya masih ada suami yang tidak kalah keren dan tampan seperti dia.


Ahahaha. Sungguh lucu sekali mereka.


Sampai tua tetap bersama dan menghabiskan waktu dengan sukacita.


Drt drt drt....


Tiba-tiba ponsel Alex berdering, membuat dia menghentikan larinya. Ya, lelaki yang sedang dikagumi oleh banyak orang itu adalah Alex. Lelaki yang tampan, mapan dan kaya raya.


Mengambil ponselnya di saku celana.


" Ya?"


"  Maaf tuan saya mengganggu, saya hanya bertanya apakah surat yang kemarin saya berikan sudah anda tandatangani?" Ucap Miko di telepon.


" Ya, kemarin aku taruh di belakang meja kursi ku bersama dengan tumpukan dokumen lain. Kau ambillah di sana dan jangan lupa beri syarat yang lebih tinggi dari sebelumnya." Jelas Alex dengan kaki sebelah menumpu pada tempat duduk melingkar yang disediakan di sana.


" Baik tuan, kalau begitu saya tutup teleponnya. maaf jika sudah mengganggu waktu libur anda."


" Hem, ya tak apa."


*****


" Ra kamu anterin ini kue ke rumah Ibu Susi ya. Sudah ibu siapkan di tas belanja." Suruh Ibu Diana yang baru selesai memasukkan kue itu ke keranjang.


" Ya bu, nanti Syeira antar. Syeira mau mandi sebentar, gerah banget ini." Jawabnya dengan mengibaskan baju bagian depan.


" Iya kamu mandi sana, sudah bau acem ini." Ucap Ibu Diana sambil menutup hidungnya. Tetapi itu hanya candaan semata untuk Syeira.


" Ibu!, enggak ya. Aku enggak pernah bau acem lho." Mengerucutkan bibirnya sambil menghentakkan kaki.


" Hahaha, enggak ibu hanya bercanda. Ya sudah sana mandi."


" Iya ini juga mau mandi."


Syeira segera membersihkan badannya yang baru saja selesai merawat tanaman yang ada di rumahnya. Tadi setelah membantu ibunya memasak dia langsung menyirami tanaman dan membuang daun yang sudah kering yang terdapat pada tanamannya. Karena jika tidak segera di buang takutnya nanti akan merusak tanaman tersebut.


Selesai mandi dan mengganti pakaiannya Syeira berangkat mengantar kue ke tempat rumah Bu Susi. Jika pembeli yang memesan kue kepada ibunya Syeira dan tidak bisa di ambil sendiri, maka Syeira siap untuk mengantarnya.


Karena jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi, jalanan pun tidak terlalu ramai. Orang-orang yang bekerja dan bersekolah pun sudah berangkat dari tadi.

__ADS_1


Sambil mengendarai motor Syeira juga menikmati segarnya pagi hari saat diperjalanan. Melihat orang yang berlalu lalang dan membayangkan hal-hal yang menurutnya nanti akan indah untuk dinikmati.


Untuk sekarang biarlah dia menikmati hidupnya dahulu sebelum merasakan pahitnya dunia.


Menengok ke arah samping dan tidak sengaja melihat rumah yang begitu besar dan indah. Impiannya untuk memiliki rumah sendiri dan penghasilan sendiri.


" Wow indah banget rumahnya, ingin deh punya rumah kayak gitu. Semoga nanti aku juga bisa memiliki rumah seperti itu." Gumam Syeira sambil melihat rumah yang dilewatinya dan tersenyum sendiri.


Rumah yang besar dan luas memiliki gerbang yang menjulang tinggi, tetapi tidak menutupi bentuk dari rumah itu dan indahnya halaman depannya. Dengan disambut patung kuda yang lumayan besar di depan rumah tersebut. Membuat kesan tersendiri dalam model dan bentuk rumah itu.


Dan itu membuat jarang sekali orang yang memiliki rumah dan terdapat patung kuda. Jika orang tersebut tidak memiliki pemikiran yang unik dalam arti rumah yang didesainnya.


" Mengapa rumahnya ada patung kuda, apakah ada arti yang indah dari patung kuda itu." Mengkerutkan dahi seolah berpikir sangat keras apakah arti dari itu semua.


Tetapi setelah berpikir sangat keras tak ada jawaban satu pun yang didapatkannya.


Sudahlah, kalau belum meminta bantuan dari mbah g**g*e dia belum tau jawabannya.


*****


Beberapa menit kemudian Syeira sampai di rumah Bu Susi. Dengan membawa 2 keranjang kue yang diletakkan di belakang motor dan bagian depan untuk keranjang lebih kecil dari keranjang satunya,sudah agar muat untuk ditaruh di depannya.


Tok tok tok...


" Assalamu'alaikum!" Dengan mengetuk pintu.


" Waalaikumsalam."


" Maaf bu, saya ingin mengantarkan kue ini." Ucap Syeira dengan sopan dan menampilkan senyum manisnya.


" Wah sudah sampai ya, kalau begitu masuk dahulu nak." Jawabnya dengan ramah kepada Syeira.


" E-eh iya bu." Jawab Syeira dengan sedikit ragu.


Bu Susi masuk dengan membantu membawa keranjang kue ke dalam rumahnya. Kemudian mengambil loyang dan menaruh kue-kue itu ke loyang.


" Sebentar ibu buatkan minum ya."


" Enggak usah repot-repot bu."


" Enggak, enggak repot. Ibu malah berterima kasih sudah mau mengantar kue ini. Kalau enggak, bakal tidak ada camilan untuk arisan ibu nanti."


" Iya bu sama-sama. Saya dan ibu malah lebih berterima kasih karena sudah mau pesan kue ditempat rumah ibu saya."


Dan Ibu Susi hanya tersenyum mendengar ucapan Syeira.

__ADS_1


" Sebentar ya."


" Iya bu." Jawabnya sambil menganggukkan kepala.


Sambil menunggu bu Susi membuatkan minum Syeira mengeluarkan ponselnya untuk melihat sosmed sebentar.


Biasa, anak muda jika tidak ada sosmed dibilang bukan anak zaman now. Atau lebih tepatnya jadul. Tetapi bukan hanya itu saja, sosmed juga membantu untuk mendapatkan informasi yang begitu penting saat kita membutuhkannya.


Karena sekarang apapun bentuknya entah itu informasi tentang sekolah, bekerja, mencari pekerjaan, berdagang. Semuannya ada disitu. Lebih mudah dan efisien untuk diketahuinya.


" Ini nak, diminum biar seger."


" Terima kasih bu, emmmm ini ibu tinggal sendiri di sini?" Mengambil minumannya lalu meminum.


" Tidak, suami ibu ada. Tetapi dia lagi kerja jadi ya begitu tidak bisa mengambil kue itu. Kalau malam baru dia ada dirumah." Jelasnya dengan tersenyum lembut.


" Oh gitu, kalau anak ibu?"


" Dia lagi bekerja di luar kota, jadi ya cuma berdua saja dengan suami."


" Pantas saja agak sepi ya."


" Ya begitulah nak, kalau anak cuma satu dan harus pergi jauh jadi ya sepi seperti ini."


Banyak berbincang dengan bu Susi, Syeira menjadi sedikit siang untuk pulang ke rumah. Segera dia berpamitan dengan bu Susi.


" Kalau begitu saya pamit bu, terima kasih atas hidangannya." Pamit Syeira dengan sopan.


" Oh gitu, sebentar ibu ambilkan uangnya. Berapa totalnya ini semua nak?"


" 700 ribu bu."


Mengambil uang yang ada di saku bajunya dan menyerahkan kepada Syeira 750 hitung-hitung untuk biaya ongkos kirim.


" Lah, ini kabanyakan bu." Menyerahkan kembali yang 50 ribu.


" Tidak ini untuk biaya ongkosnya ya. Tidak pa-pa ibu sudah berterima kasih sudah mau mengantar." Dia memberinya dengan penuh ikhlas dan sangat berterima kasih karena Syeira mengantar kue-kue itu kerumahnya.


" Duh jadi enggak enak, kalau begitu saya terima. Terima kasih sebelumnya, saya pamit bu." Karena Syeira berpikir jika uang itu kebanyakan kalau hanya sekadar ongkos kirim. Biasannya ongkos kirim tidak sampai segitu, berbeda jika jauh maka dia akan langsung meminta ongkos kirim.


" Iya sama-sama nak." Berjalan keluar untuk mengantar Syeira ke depan rumahnya.


" Assalamu'alaikum."


" Waalaikumsalam."

__ADS_1


Jaangan lupa Like, like like like like like like like like like, komen dan vote vote vote vote vote vote vote vote vote vote vote vote vote vote vote vote yang banyak ya🙏🙏😊😊😊😊😊... Terima kasih atas dukungannya😁😁


__ADS_2