Dinikahi Pria Tajir

Dinikahi Pria Tajir
Bab 64 - Calon mantu?


__ADS_3

Ceklek


Syeira masuk ke dalam ruangan ibunya dirawat. Setelah mengisi perut di kantin rumah sakit.


" Sudah ra?" Tanya Ibu Diana kepada Syeira yang baru masuk.


" Sudah bu."


Menghampiri Ibu Diana dan duduk di kursi samping Ibunya.


" Ibu mau sesuatu, atau apa gitu. Biar Syeira beliin."


" Enggak, ibu sudah kenyang. Tadi kan baru aja makan." Tolak Ibu Diana. Orang sakit memang tak banyak maunya. Karena merasakan apa yang tubuhnya rasakan tidak enak semua, membuat ***** makan juga berkurang. Berbeda ketika tubuh sehat, yang apapun pasti dimakan dan lidah juga terasa enak untuk menyantap berbagai makanan.


" Buah gimana? Syeira beliin ya. Maaf bu, karena Syeira buru-buru sampai tidak membawa makanan apapun." Sesal Syeira yang memang hanya membawa perlengkapan untuk ibunya menginap saja. Dia tidak membawa oleh-oleh dari luar, untuk dimakan bersama ibunya.


" Tidak pa-pa, lagipula ibu juga belum ingin apa-apa. Nanti jika ibu ingin pasti bilang sama kamu."


" Okelah, kalau begitu."


Tok tok tok..


" Permisi." Ucap Nyonya Zena yang masih berada di depan pintu. Belum berani masuk, karena pemilik ruangan belum mempersilakan masuk.


Ibu Diana dan Syeira menengok ke sumber suara. Siapakah yang bertamu?


" Ya ampun, masuk Nyonya." Ucap Syeira mempersilakan masuk. Berdiri dari tempat duduk.


Nyonya Zena dan Tuan Xander masuk ke dalam ruangan dengan Nyonya Zena duduk di kursi roda yang sedang didorong oleh Tuan Xander.


Menghampiri Ibu Diana yang terbaring lemah di atas brankar.


" Gimana keadaannya bu?" Tanya Nyonya Zena mengelus pundak Ibu Diana dengan tersenyum.


" Alhamdulillah sudah sedikit mendingan. Kalau boleh tau Nyonya siapa?" Tanya Ibu Diana yang sama sekali tidak tau siapa Nyonya Zena, karena baru kali ini melihat.


" Ini Nyonya Zena dan Tuan Xander bu, orang tua bossnya Syeira di kantor." Jelas Syeira yang mendahului menjawab. Berdiri di samping Ibu Diana sebelah kiri.


" Astaga, maaf Tuan, nyonya saya tidak tahu sebelumnya."


" Tidak mengapa bu, kita juga baru bertemu dan berkenalankan." Ucap Nyonya Zena dengan sopan dan ramah.

__ADS_1


" Kalau begitu perkenalkan nama saya Diana Ibunya Syeira."


" Dan seperti yang dikatakan Syeira, saya Zena dan ini suami saya."


" Nyonya juga sedang sakit?" Tanya Ibu Diana, melihat Nyonya Zena berada di kursi roda.


" Eh iya, tadi saya pingsan terus dibawa kesini. Yang nolongin juga Syeira, anak ibu. Padahal kata suami saya, Syeira sendiri tidak tau jika ibunya sedang di rumah sakit. Dia malah sibuk ngurusin orang lain."


" Ah tidak mengapa bu, sesama manusia kita juga harus saling tolong menolong."


" Iya benar, pantas saja Syeira baik dan sopan. Orang ibunya saja baik begini." Puji Nyonya Zena yang melihat beberapa perlakuan Syeira terhadap orang lain.


Sedangkan Tuan Xander duduk di sofa yang tersedia dalam ruangan. Meninggalkan istrinya yang asyik berbincang. Dia tau jika istrinya asyik mengobrol pasti dirinya akan menjadi patung pajangan yang tidak dianggap. Jadi, duduk di sofa sambil memainkan ponsel.


" Nyonya, bisa saja." Ucap Ibu Diana dengan tersenyum.


" Saya malah yang salut dengan anda, sebagai orang yang terpandang masih bisa menghargai dengan orang rendah seperti saya."


" Alah, saya tidak membeda-bedakan orang. Menurut saya itu sama saja. Bukan begitu ra?" Kemudian mengalihkan pandangan ke arah Syeira.


" Benar." Jawab Syeira dengan lembut sambil tersenyum dan menganggukkan kepala.


Ibu Diana dan Syeira yang mendengar melototkan mata. Terkejut dengan ucapan yang baru saja dengar.


" Busyeeettt, jadi mantu? Berarti jadi istri tu orang galak dong. Enggak kebayang aku kalau sampai jadi istrinya, bisa makan ati doang entar." Batin Syeira menerka-nerka jika sampai dirinya menjadi istri Alex. Apakah dia sanggup menghadapi sifat Alex.


" Apa tidak membuat keluarga Nyonya malu jika Syeira menjadi mantu Nyonya. Kami hanya orang sederhana yang tidak memiliki apa-apa." Jelas Ibu Diana. Dia juga takut jika anaknya akan direndahkan ketika masuk ke dalam keluarga yang begitu kaya raya. Apalagi dirinya tidak memiliki apa-apa. Hanya orang sederhana makan dan minum seadanya.


" Tidak, tidak sama sekali. Buat apa semua harta jika nanti kita mati tidak dibawa. Yang terpenting menurut saya adalah perilakunya yang baik, sayang terhadap keluarga. Itu sudah cukup." Jelas Nyonya Zena. Menolak keras tentang kasta dan membeda-bedakan kekayaan. Dia bukan orang yang gila akan kepameran. Dia hanya orang sederhana yang kebetulan memiliki apa yang diinginkan.


" Kalau begitu, saya serahkan kembali kepada yang ingin menjalankan Nyonya. Tidak memaksa, sebagai orang tua hanya mendukung yang terbaik." Ucap Ibu Diana menolehkan sebentar ke arah Syeira lalu menghadapkan kembali ke arah Nyonya Zena. Karena semua tergantung dengan Syeira.


" Tetapi jika sesama orang tua setuju itu sudah menjadi banyak peluang untuk bisa diwujudkan. Bukan begitu ta?"


" Hehehe, dilihat saja dahulu Nyonya. Yang di atas bisa membolak-balikkan hati manusia. Saya hanya mengikuti alurnya saja" Jawab Syeira dengan senyum lembutnya. Semua dia pasrahkan kepada Sang Pencipta jika sudah begini.


" Kalau papa gimana?" Menolehkan badan ke arah suaminya. Meminta pendapat kepada Tuan Xander. Setuju atau tidak?


" Papa sih, menurut anaknya saja. Jika mau, ya sudah kita nikahkan langsung." Ucap Tuan Xander dengan santai. Tidak menolak dengan pertanyaan yang terlontar dari istrinya, karena dia juga setuju dengan Syeira. Apalagi sudah melihat sendiri orangnya langsung.


" Bagus, papa memang yang terbaik." Ucap Nyonya Zena dengan senang.

__ADS_1


Tuan Xander hanya menjawab dengan mengangkat kedua alis sambil tersenyum.


Syeira hanya melongo mendengar ucapan mereka. Entah harus berkomentar apalagi, dia sendiri pun bingung.


" Ya sudah lain kali kita berbincang lagi bu, saya harus pamit."


" Baik Nyonya, terima kasih sudah mau menjenguk saya."


" Sama-sama bu, pa mana tadi?" Tanya Nyonya Zena kepada Tuan Xander. Mengedipkan sebelah mata.


" Oh ya sebentar." Beranjak dari tempat duduk dan keluar ruangan. Mengambil sesuatu yang dibawa oleh beberapa pengawal yang menunggu di depan pintu ruangan Ibu Diana.


Tak berapa lama masuk dengan membawa beberapa tas kantung oleh-oleh yang berisi makanan dan obat-obatan untuk Ibu Diana.


Menaruh di meja samping brankar Ibu Diana.


" Itu obat untuk luka yang tergores agar cepat kering. Saya juga biasanya memakai itu jika terkena sesuatu." Jelas Nyonya Zena ketika melihat Ibu Diana dan Syeira bingung, apakah yang dibawa oleh dia dan suaminya.


" Ya ampun tidak usah repot-repot Nyonya, sudah dijenguk saja saya sudah sangat senang." Ucap Ibu Diana dengan terkejut karena mendapat perhatian dari Nyonya Zena. Tidak menyangka sampai membawa obat segala.


" Enggak repot, saya juga berterima kasih karena Syeira juga membantu saya tadi."


" Saya ikhlas membantu Nyonya." Saut Syeira ketika Nyonya Zena menyinggung tentang kejadian tadi siang.


" Saya juga ikhlas ra, tidak pa-pa terima saja." Jawab Nyonya Zena dengan senyum tulus. Dia juga tau betul jika Syeira tidak mengharapkan imbalan apapun, tetapi itu keinginannya sendiri untuk memberi oleh-oleh kepada Ibu Diana.


" Tetapi itu sangat banyak Nyonya, apa tidak berlebihan."


" Tidak sama sekali."


" Terima kasih kalau begitu Nyonya."


" Iya sama-sama. Saya pamit, semoga lekas sembu Ibu Diana."


" Nyonya juga, jangan terlalu lelah. Jaga kesehatan juga."


" Iya bu, mari assalamualaikum."


" Waalaikumsalam."


Lalu Tuan Xander mendorong kursi roda Nyonya Zena untuk keluar dari ruangan.

__ADS_1


__ADS_2