
Sampai di rumah Nana masuk ke dalam rumah tidak lupa untuk mengucapkan salam. Mencari di mana semua keluarganya. Dia merasa bersalah karena terlalu lama pergi dari rumah hingga pekerjaan rumah yang biasa dia lakukan menjadi terbengkalai. Nana yang biasa membantu ibunya membereskan rumah merasa bersalah dan kasian kepada ibunya karena bekerja dengan sendiri. Sebenarnya untuk ibunya Nana sendiri tidak keberatan jika Nana pergi main atau ke mana, asalkan tidak terlalu sering itu saja sudah cukup. Sebagai orang tua dan pernah muda Ibu Farah sangat mengerti bagaimana anak seumuran Nana.
" Ibu ke mana yah?" Bertanya kepada ayahnya yang minum kopi dan pisang goreng di ruang tengah depan televisi.
" Di belakang biasa, mengurus tanamannya." Jawab ayahnya sambil mengunyah pisang goreng.
" Pantas enggak kelihatan." Mengangguk-anggukkan kepalanya, berjalan ke arah ayahnya yang ingin duduk dan mengambil pisang goreng.
" Eh ini punya ayah, sana kamu ambil sendiri di belakang." Ucapnya dengan mengangkat piring yang berisi pisang goreng. Menjauhkan dari Nana.
" Ih!, ayah mah pelit." Jawab Nana dengan kesal dengan muka yang cemberut.
" Biarin sudah sana ambil sendiri."
" Tau ah." Menghentakkan kakinya dan berjalan meninggalkan ayahnya sendiri.
Sedangkan ayahnya tertawa lepas melihat anaknya yang sedang kesal.
Nana menghampiri ibunya di belakang rumah yang terdapat banyak tanaman yang bisa di olah. Bukan bunga tetapi tanaman yang bisa diolah untuk memasak ketika bahan persediaan sayur telah habis. Maka Bu Farah pun tinggal memetik di belakang rumahnya.
Memiliki warisan yang bisa dibilang tidak sedikit dari orang tua pak Hasan, menjadikan harta warisan itu untuk membeli halaman belakang rumahnya. Dahulu belakang rumahnya bukan tanah miliknya. Tanah itu miliki tetangga sebelah yang dia beli dari uang warisan itu dan modal untuk membuka usaha.
Dari sisa warisan itu Pak Hasan membuka toko dan menyewa toko yang berada tidak jauh dari rumahnya. Memilih tempat yang stategis dan cocok untuk dijadikan tempat sewa.
Toko yang dibuka oleh Pak Hasan pun sangat ramai pengunjungnya. Banyak orang yang membeli di sana. Karena banyak sekali berbagai macam kebutuhan yang digunakan untuk sehari-hari. Mangkanya banyak orang pergi ke toko Pak Hasan, selain lengkap harga di sana juga tidak terlalu mahal dan orang-orang di sana juga senang belanja di toko Pak Hasan karena dekat dengan rumah mereka.
" Ngambil apaan bu?" Tanya Nana kepada ibunya. Bu Farah yang tadi memetik cabai pun terkejut dengan kedatangan Nana.
" Na!, ngagetin ibu aja. Untung ibu enggak jantungan." Mengusap dadanya yang berdebar karena Nana datang menghampirinya.
" Ehehehe maaf bu, Nana enggak sengaja. Abis Nana pikir ibu sudah tau jadi yang Nana langsung tanya aja." Menyengir memperlihatkan giginya dan menggaruk rambut yang tidak gatal.
" Ya, ya. Ini ibu ambil cabai. Sudah saatnya dipetik kalau enggak cepat di petik terburu busuk nanti." Kembali lagi membungkuk dan memetik cabai.
" Ohw gitu."
__ADS_1
" Kamu sudah dari tadi pulang na?"
" Iya, aku pulang langsung mandi. Aku pikir ibu belum masak, eh ternyata sudah. Ya sudah aku menghampiri ibu di sini." Jelas Nana dengan melihat tanaman ibunya.
" Iya ibu sudah memasak dari tadi. Kamu sudah makan apa belum?"
" Belum bu, nanti aja Nana belum lapar." Langsung menjawab apa yang di pikirkan ibunya.
" Ya sudah kalau gitu, kamu bantu ibu menyirami tanaman ini semua."
" Oke siap."
Berjalan mengambil selang yang disediakan untuk menyirami tanaman. Dengan senang Nana menyirami semua tanaman ibunya. Lega karena tidak dimarahi oleh ibunya. Nana berpikir nantinya dia akan dimarahi oleh ibunya karena pulang terlalu sore. Tetapi ternyata tidak, ibunya sangat pengertian terhadapnya.
Nana yang melihat tanaman ibunya sangat senang dan bahagia karena semua tanaman ibunya bisa tumbuh dengan subur. Apalagi yang sudah berbuah dan buahnya sangat bagus hasilnya.
Nana sangat kagum terhadap ibunya yang bisa mengurus semua keperluan keluarga dan hal lain hingga mulus tidak ada yang lecet sedikitpun.
Karena kalau di pikir pekerjaan ibunya sangat membuat lelah. Mengurus rumah, anak, suami, membantu ayahnya di toko dan lainnya. Tetapi semua itu di kerjakan tanpa mengeluh. Ibu Farah mengerjakan dengan senang hati dan ikhlas. Di sisi lain Nana juga senang karena ayahnya juga membantu ibunya jika memang sedang kesulitan.
Setelah menggulung selang Nana kembali ke dalam rumah karena sudah hampir magrib.
Melihat ibunya yang menata makanan untuk persiapan makan malam. Nana pun membantu ibunya.
Mengambil piring untuk di tata di atas meja. Nasi yang sudah di masukkan ke dalam wadah lalu diletakkan di atas meja.
Derix yang baru pulang dari lesnya pun langsung masuk ke dalam rumah agar bisa segera membersihkan badannya dan bersiap untuk makan malam.
" Assalamualaikum semuannya!" Ucap Derix dengan nada yang sedikit tinggi.
" Waalaikumsalam!" Jawab mereka berdua.
" Anak ganteng pinter, sudah langsung mandi sebelum makan malam tanpa disuruh." Kata ibu Farah memuji Derix dengan senyuman tulusnya.
" Iyalah, ntar kalau enggak di omelan aku. Daripada kena omelan ibu yang bikin pusing mending langsung dikerjain aja." Jelas Derix dengan memonyongkan bibirnya dan memperlihatkan muka yang bikin gemas.
__ADS_1
" Aih adik kakak lucu banget kalau lagi cemberut gitu, jadi ingin cium." Dengan tangan menyentuh pipi dan berjalan ke arah adiknya.
" Stop!", mengarahkan telapak tangannya ke depan. " Jangan mendekat aku enggak mau di cium kakak, najis." Jawabnya dengan bergidik.
" Waah adik kurang ajar, dikasih kasih sayang malah enggak mau. Durhaka kamu." Dengan meletakkan kedua tangannya ke pinggang.
" Bukan gitu kak, tetapi kakak tuh kalau cium bukan hanya sekali tetapi berkali-kali." Jawabnya dengan muka cemberut.
" Sudah, sudah. Ayo panggil ayah untuk bersiap makan malam. Ini sudah waktunya."
" Oke sebentar bu aku panggil." Ucap Nana kepada ibunya.
Menghampiri ayahnya yang sedang menonton televisi. Saking fokusnya melihat tv sampai tidak sadar Nana yang sudah ada di sampingnnya.
" Yah, ayah!" Memanggil ayahnya tepat di sampingnya. Dan ternyata ayahny sedang fokus menonton televisi sampai tidak mendengar jika Nana memanggilnya.
" Eh, kaget ayah, apa sih na." Ucapnya lalu kembali fokus ke arah televisi.
" Itu makanannya sudah siap. Ayo makan terburu dingin entar."
" Oh sudah to. Ayok lah ayah juga lapar banget ini."
Berjalan kearah dapur dengan Nana yang membawa piring bekas pisang goreng dan cangkir kopi ayahnya.
Paham jika ayahnya lupa, Nana berinisiatif untuk membawanya sekalian.
Menaruhnya di tempat cuci piring dan meninggalkannya untuk memulai makan malam bersama. Duduk di samping ibunya.
Sebagai kepala keluarga Pak Hasan memulainya terlebih dahulu untuk makan malam.
Derix yang sudah kelaparan hanya fokus ke arah makananannya. Makan dengan lahap sambil menggigit ayam goreng kesukaannya. Sampai tidak sadar jika sekitar bibirnya penuh dengan bumbu ayam goreng.
" Der pelan-pelan entar keselek loh. Kamu makan kayak orang kesetanan." Ucap Nana melihat adiknya yang makan dengan lahap.
" He.eh, he.eh." Jawabnya hanya bergumam karena mulutnya penuh dengan makanan sampai pipinya yang putih dan mulus menjadi kembung.
__ADS_1
Kedua orang tua Nana menoleh ke arah Derix dan mereka pun hanya menggelengkan kepala. Sudah terbiasa dengan kelakuan anak keduanya itu.