
" Hush sembarangan! Enggak lah orang tadi ibu melihat dengan mata kepala ibu sendiri di depan nyata ta! Lho ra, gimana sih kamu." Jelas Ibu Diana kepada Syeira dengan yakin kalau yang dibicarakannya adalah fakta dan nyata.
" Lagian di suruh ngebantuin malah enggak tau rumah pasnya di mana kan bertanya-tanya lah."
" Lupa tadi ibu lupa, saking cantiknya tuh orang."
Wah, Ibu Diana mulai bergosip nih....
" Masa sih, emang cantiknya kayak apa?"
" Lebih muda dari ibu lah pokoknya tetapi masih cantik, hadeuh wajahnya mulus kek sawah yang sudah dibajak tetapi belum ditanemi padi dan masih ada airnya itu loh ra, kan mulus kinclong kamu tau tidak?" Berbicara heboh kepada Syeira dengan telapak tangan ditempelkan ke kedua pipinya membayangkan bu Rayana yang bertamu di rumahnya tadi.
" Dih kayak sawah! masa manusia disamain ama sawah si bu, ibu ni ada-ada aja," menggelengkan-gelengkan kepalanya. "Trus orang kaya ya bu?"
" He.eh kayaknya, pakaiannya aja bagus semua pakek hils jugak, yaampun ra sosialita itu orang."
" Duh ibu kalau udah begini alamat diajak gibah aja terooosss." Batin Syeira sambil menggelengkan kepalannya.
" Terus ibu ke sananya jam berapaan?"
" Sore sih, enaknya jam berapa ra?" Balik tanya kepada Syeira.
" Jam 3 sore aja gimana?" Usul Syeira kepada ibunya.
" Iya gak apa-apa."
" Udah ibu istirahat aja ini aku yang nerusin."
" Iya deh, ibu istirahat bentaran." Berlalu pergi meninggalkan Syeira yang masih bergulat dengan alat masaknya.
" Iya bu."
Syeira pun melanjutkan membuat kuenya. Dengan telaten dan hati-hati dia mengaduk bahan yang akan dibuat. Bekal pembelajaran yang diajari dari ibunya Syeira jadi pintar membuat kue. Resep turun temurun juga diajarkan oleh bu Diana kepada anak-anaknya agar bisa membuat kue yang enak.
Untuk kali ini Syeira menambah sedikit bahan untuk membuat kue nya karena nanti akan dijual untuk membayar buku. Syeira tidak memberitahu kepada ibunya, biar dia saja sendiri yang mengetahui nanti tahu-tahu sudah menghasilkan uang lebih banyak dari biasanya.
Untuk kue yang lain Syeira membuat ketika ibunya sudah pergi ke kompleks sebelah membantu memasak.
__ADS_1
Jam sudah menunjukkan pukul 3 sore saatnya bu Diana pergi ke rumah bu Rayana.
" Ra kamu anterin ibu sebentar ya ke kompleks sebelah." Pinta bu Diana kepada Syeira yang sudah rapi dan sudah siap untuk pergi.
" Iya bu, bentar Syeira bersihin tangan dahulu." Ucap Syeira yang tangannya penuh dengan tepung dan rambut yang sedikit acak-acakan.
Berjalan kearah wastafel dan masuk kekamar membenahi rambutnya yang berantakan. Ntar kalo tidak di rapiin dikira orgil atau orang gila kan malu, masa cantik-cantik dikira orgil kan memalukan.
Syeira keluar dari kamar dengan keadaan sudah rapi dan berjalan keluar rumah. Mulai melajukan motornya yang membonceng ibunya. Mengendarai dengan pelan karena takut dimarahi oleh ibunya. Bu Diana selalu ngomel jika Syeira melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, katanya takut jatuh.
Apalagi ketika melewati motor, mobil dan di depannya juga ada motor. Ihh ngeri kayak mau di samber aja. Memikirkan saja udah pusing apalagi menjalaninya, eak eak eak....
Syeira membelokkan motornya kearah kanan rumahnya. Karena setau dia kalau jalan yang sering di lewati untuk berangkat sekolah tidak ada rumah yang terlalu mewah. Dan dia berfikiran mungkin di sebelah kanan rumahnya terdapat kompleks elite untuk orang kaya.
" Kok kamu belok kesini ra?" Berbicara kepada Syeira dengan memajukan wajahnya dekat dengan telinga Syeira, biar kedengaran karena mereka sedang berada diperjalanan.
" Siapa tau aja bu, soalnya kan jalan yang sering aku lewatin enggak ada rumah elite."
" Oh iya ya, ya udah ibu nurut aja sama kamu."
Tidak berapa lama Syeira menemukan rumah yang besar dan bertingkat. Dia memberhentikan motornya tepat dirumah yang gerbangnya sangat besar dan tinggi.
" Apa ini ya bu, ini kelihatan baru deh?" Tanya Syeira kepada ibunya yang wajahnya tetap melihat kearah rumah itu tanpa melirik kearah ibunya.
" Iya kalik ra, ibu juga enggak tau."
" Kita pencet bellnya aja itu ada bellnya.
Mereka turun dari motor, berjalan kearah gerbang.
Beberapa menit kemudian keluarlah seorang lelaki setengah baya dengan badan besar dan tinggi yang memakai seragam putih hitam dengan topi dan peluit diikatkan di tangannya sebelah kiri. Membuka gerbang.
" Selamat sore ada yang bisa dibantu?" Tanyanya dengan sopan kepada Syeira dan ibunya.
" maaf pak, saya mau tanya apakah ini rumahnnya Ibu Rayana?"
" Oh iya benar mbak ini rumah Ibu Rayana, ada apa ya mbak?"
__ADS_1
" Begini pak, ibu saya dimintai tolong untuk memasak hari ini katannya ada acara syukuran."
" Iya benar mbak, memang hari ini ada acara syukuran atas rumah ini, ibu Rayananya ada dirumah silakan masuk."
" Iya pak terima kasih."
Membalikkan badannya kepada ibunya.
" Bu Syeira langsung pulang aja ya, soallnya kuenya belum jadi."
" Iya gak apa-apa, kamu hati-hati ya." Ucap Ibu Diana setelah Syeira mencium punggung tangan ibunya.
" Permisi pak, trimakasih sebelumnya."
" Loh enggak masuk dahulu mbak?"
" Enggak pak langsung saja saya, Assalamualaikum."
" Waalaikumsalam."
Syeira meninggalkan ibunya di rumah besar itu, sedangkan ibunya masuk ke rumah diantarkan oleh pak satpam yang memang bertugas berjaga dirumah bu Rayana.
Syeira sampai di rumah berjalan cepat karena teringat kue yang belum sempat di buat tadi. Bahkan sekarang masih harus membuatnya sedikit lagi untuk tambahan membeli buku.
" Aduh aku harus cepat ini, udah jam segini lagi." Gumam Syeira dengan membuat adonan lagi.
Syeira yang sudah membuat adonan meletakkan kembali di atas meja. Kemudian menaruh panci kukusan untuk mengukus kue brownis nya, menyalakan kompor dengan api yang sedang. Setelah itu kembali ke kue brownisnya yang sempat diletakkan di meja tadi. Memasukkan adonan kue itu kedalam cetakan kue brownis dan dimasukkan ke dalam panci pengukus selama beberapa menit.
Sambil menunggu kue itu matang, Syeira mengambil kue lain untuk dimasukkan kedalam wadah yang siap untuk dijual. Peluh keringat menghiasi wajahnya karena membuat kue-kue itu.
Setelah beberapa kue itu dimasukkan ke wadah saatnya Syeira membuka kue brownisnya yang ada di dalam panci kukusan. Meletakkan di atas meja, membiarkannya sampai dingin, sambil menunggu kue brownis dingin Syeira membersihkan peralatan yang digunakan untuk membuat kue-kue itu. Termasuk panci kukusannya agar tidak terlihat oleh ibunya dan kemudian bertanya-tanya.
Semua beres tinggal kue brownisnya yang belum sempat dimasukkan ke wadah. Beberapa saat kue brownis itu sudah di masukkan kewadah yang cantik agar anak-anak suka dan terpikat untuk membelinya. Meletakkan ke keranjang kue untuk di antar ke toko-toko sekitar rumahnnya.
Membersihkan sedikit tempat kue brownis tadi kemudian mengelap meja agar dapur yang berantakan seperti kapal pecah tadi berubah menjadi indah dan rapi.
" Ah dah siap mari saatnya mengantarkan kue-kue ini, semangat!" Ucap Syeira dengan mengepalkan tangannya kedepan.
__ADS_1
Dengan keranjang yang ditaruh dibelakang yang sudah diikat dengan kuat siap berjalan. Bernyanyi-nyanyi dengan menggelengkan kepala kekanan dan ke kiri sambil menaiki motor Syeira melajukan ke toko-toko terdekat di rumahnya.