Dinikahi Pria Tajir

Dinikahi Pria Tajir
Bab 18 - Berpisah dengan adik


__ADS_3

Tok tok tok.....


Sekretaris Miko mengetuk pintu ruangan Alex. Ketika saat membuka pintu tetapi bisa di buka itu tandanya Alex tidak mengunci pintu ruangannya menggunakan remote control yang ada di meja kerjanya.


Terkadang Alex mengunci pintu ruangannya yang dirasa dia membutuhkan ketenangan dan ketentraman di dalam ruangan itu sendiri. Entah ketika dia beristirahat atau sedang mengerjakan pekerjaannya.


Klek, ceklek...


" Permisi tuan saya ingin memberitahukan bahwa meeting sudah akan dilaksanakan lima menit lagi."


" Ya sebentar aku selesaikan ini, kau tunggulah di sini saja."


" Baik tuan." Berjalan kearah sofa yang ada di ruangan Alex.


" Kira-kira berapa jam meetingnya akan selesai?" Tanya Alex dengan jari-jarinya mengetik tombol di laptop dengan cepat dan cekatan.


" Kalau tidak terlambat 4 jam sudah selesai tuan."


" Untuk Pt Johson terakhirkan?"


" Iya tuan mungkin jam sebelasan."


" Hem, oke."


Setelah beberapa menit Alex sudah menyelesaikan pekerjaannya. Mereka berjalan keluar untuk keruangan meeting.


Sampai di ruangan meeting semua sudah menunggu hanya Alex yang belum ada di sana.


Alex berjalan kearah kursi paling ujung di depan papan yang biasa untuk mempresentasikan hasil mereka.


Meeting di mulai semua mendengarkan penjelasan apa yang di presentasikan oleh Jimin. Dengan tegas dan lugas Jimin mempresentasikan apa yang ada di perusahaannya yang kemudian nanti bisa memikat Alex agar mau bekerja sama dengannya.


" Hem boleh juga ni orang, apa yang di presentasikan menarik juga." Batin Alex dengan melihat gerak gerik Jimin yang sedang mempresentasikan.


" Sekian terima kasih."


Prok prok prok... Semua bertepuk tangan dengan hasil presentasi Jimin. Menandakan bahwa apa yang di ucapkan sangat bagus.


" Terima kasih tuan sudah mau bekerja sama dengan perusahaan kita." Sambil berjabat tangan dengan Alex.


" Ya, kurasa kau punya tujuan menarik untuk menguntungkan perusahaan ku."


" Berarti kita deal ya tuan."


" Ya benar."


" Kalau begitu saya permisi tuan."


" Ya, silakan."


Setelah mendapat kerja sama dengan perusahaan Alex. Jimin dan asistennya keluar dari ruangan meeting.


Mereka senang akhirnya Alex mau bekerja sama dengannya, karena seorang Alex sangat pemilih untuk mau bekerja sama dengan perusahaan lain.


Sebenarnya dia bukan orang pemilih tetapi lebih memikirkan mana perusahaan yang menguntungkan untuknya dan merugikan bagi perusahaannya.


Tidak berapa lama setelah Jimin keluar masuklah seorang lelaki tidak jauh beda umurnya dengan Alex. Dengan setelan jas yang rapi menambah kesan kewibawaannya. Tampan dan manis karena memiliki kulit agak hitam sedikit dibandingkan dengan Alex. Diikuti asistennya dibelakang.


" Silakan duduk tuan." Ucap Alex yang masih memainkan ponselnya dengan masih duduk di kursi.


" Terima kasih tuan."


Alex pun meletakkan ponselnya dan mengalihkan penglihatannya dengan seorang yang sudah masuk beberapa saat tadi.


" Lah Audrey! Ternyata elo yang mau mengajukan kerja sama diperusahaan." Terkejut dengan orang yang ada di sampingnya.


" Hehehe iya." Ucap Audrey dengan cengengesan.


" Gimana kabar lu." Menjabat tangan Audrey dan menabrakkan pundaknya ke pundak Audrey.


" Baik lex, lu sendiri gimana? Lama kagak bertemu sekarang tambah sukses aja."


" Ya beginilah, sesuai yang kau lihat."


" Kau tinggal di sini sekarang?"


" Enggak lah aku hanya sebentar, ada beberapa masalah yang harus aku urus di sini."

__ADS_1


" Oh ku kira kau stay di sini."


" Mengapa kau bisa di sini apakah kau tinggal di sini?"


" Ya, untuk sementara waktu, sama seperti kau ada masalah sedikit."


" Hem, ya ya." Mengangguk-anggukkan kepala.


" Kita ke klab yok, nanti malam." Bisik Audrey ketelinga Alex.


" Cih, kau masih saja ke tempat seperti itu, aku sudah lama tidak menginjakkan kakiku yang mahal ini kesana."


" Ah, kau sama saja tidak berubah, seperti dahulu yang selalu naif."


" Aku tidak berubah sama sekali dry, kau tau akulah."


" Hem, okelah okelah."


" Heh!, kau ini mau mengajukan kerja sama apa mau mengobrol."


" Oh iya lupa lupa, kita mulai saja sekarang."


Audrey pun mengajukan berkasnya dan sedikit mempresentasikan. Menjelaskan secara detail apa kerja sama yang diuntungkan untuk kedua belah pihak.


Beberapa jam lamanya mereka sudah selesai dengan meeting dan mengobrol sedikit tentang masa lalu mereka.


Audrey dan Alex memang mengenal satu sama lain karena mereka sempat satu kuliah yang sama.


Mereka berteman dekat hingga sampai mereka menemukan apa yang mereka inginkan masing-masing sehingga membuat mereka terpisah.


Dan akhirnya takdir mempertemukan mereka dengan cara yang menguntungkan juga.


Audrey dan asisten pribadinya meninggalkan ruangan Alex karena sudah sepakat dengan keputusan mereka, untuk bekerja sama.


*****


Jam makan siang sudah terlewat beberapa jam yang lalu tetapi Alex masih berkutat dengan pekerjaannya. Juga sekretaris Miko yang masih setia diruangan Alex dengan membawa ped nya.


Mereka memang begitu jika sudah menyangkut pekerjaan apalagi pekerjaan yang sangat tidak bisa ditunda mereka akan lupa dengan segalanya terutama dengan kesehatan mereka sendiri.


Terutama sekretaris Miko yang sudah lama bersama Alex sangat hafal dengan kebiasaan yang dimiliki oleh Alex.


Menjadi sekretaris pribadinya membuat Miko selalu bersama Alex hampir 24 jam lamanya. Mengetahui semua apa yang dilakukan oleh sang boss besar.


Lama mereka mengerjakan pekerjaan masing-masing akhirnya selesai.


" Hah akhirnya selesai juga." Ucap Alex bernafas lega dengan menyenderkan badannya di kursi.


" Benar tuan."


" Kita makan siang di luar saja."


" Baik tuan, kalau begitu saya keluar dahulu."


" Hem, ya."


Sekretaris Miko keluar dari ruangan Alex.


Alex membereskan berkas-berkas dimeja dan menata di meja kerjanya. Karena biasannya sekretaris Miko akan mengambil sendiri di meja kerja Alex jika sudah dibutuhkan.


Menutup laptop mengambil jas yang disampirkan di kursi , membawa dan berjalan keluar meninggalkan ruangan.


Semua mata melihat kearah Alex yang sedang berjalan melewati mereka.


Bagaimana tidak, melihat seorang boss besar berjalan dengan sebelah tangan membawa jas kebelakang yang disampirkan di atas pundak sedangkan tangan satunya dimasukkan ke saku celana.


Uhhh kereeen!


Membuat cewek-cewek di sana klepek-klepek melihatnya. Ditambah dengan kemeja berwarna putih membuat badan berototnya menjadi terlihat.


Entah apa yang membuat Alex tidak memakai jas yang rapi seperti biasanya. Apa mungkin karena pekerjaan yang membuat lelah hingga lupa akan keberadaan jas yang biasa dilekatkan.


Tak ada yang tidak memuji dengan ketampanan Alex hari ini hingga para cowok yang melihatnya membuat iri juga.


Siapa yang tidak iri mempunyai badan yang bagus, kaya raya, dan wajah yang tampan. Tetapi dibalik semua yang Alex miliki pasti ada kekurangannya karena semua manusia tidak ada yang sempurna.


Sampai di depan pintu perusahaan mobil sudah siap sekretaris Miko membuka pintu mobil untuk Alex. Mereka pergi meninggalkan gedung perusahaan.

__ADS_1


Di dalam mobil Alex memejamkan matanya untuk merileksasikan otaknya sebentar.


Pekerjaan yang banyak membuat otaknya terus berputar tidak berhenti sampai pekerjaan itu selesai. capai memang jika sudah menyangkut dengan kepala kalau badan lelah bisa tidur tetapi kalau capai otak gimana? semua benar-benar membingungkan.


" Besok pagi kita kembali, di sini sudah bisa di handle kan?"


" Bisa tuan, nanti saya urus keberangkatan kita."


" Hem, kau memang bisa di andalkan."


" Terima kasih tuan."


Mereka sampai restoran, memilih tempat duduk yang dirasa nyaman untuk mereka duduki dengan pemandangan indah dari luar jendela.


Makan sambil melihat pemandangan yang indah memang sangat melegakan.


Setelah dirasa perutnya kenyang mereka kembali ke mobil.


" Kita mampir ke apartemen Sasa sebentar."


" Baik tuan."


Sampai di apartemen mereka di sambut dengan ceria oleh Sasa.


" Kakak!" memeluk kakaknya dengan sayang.


"Hem, gimana sekolahmu?" Tanya Alex berjalan ke dalam apartemen dengan tangan yang masih digandeng oleh Sasa.


" Aman semua, kakak enggak perlu khawatir."


" Kakak besok akan kembali."


" mengapa cepat sekali, kakak kan baru satu hari kesini?" Tanyanya dengan wajah yang sedih.


" Kakak harus urus perusahaan di indo, kau harus baik-baik ya di sini." Mengelus kepala Sasa dengan lembut.


" Hem, ya udahlah mau gimana lagi."


Sasa mengerti dengan pekerjaan kakaknya yang super sibuk itu. Sebagai pimpinan perusahaan yang tinggi memang pantas jika memiliki kesibukan yang lumayan padat. Dengan jerih payah yang di dapat tidak membuat rugi dengan hasilnya. Contohnya sekarang Alex memiliki banyak cabang di mana-mana dengan kerja keras nya sendiri. Walaupun ayahnya seorang pengusaha sukses juga tetapi dia melewati semuanya dari nol.


Kalau tidak dari bawah dari mana lagi. Seorang yang sukses harus mempelajari semua apa yang belum dia ketahui sampai akhirnya mengetahui semuanya.


Maka dari itu belajar dari bawah kalau tidak? Memang bisa orang yang langsung tidak bisa apa-apa langsung jadi boss. Kan runyam, disuruh mengerjakan ini, malah mengerjakan lain. Dan akhirnya akan berantakan semua.


" Belajar yang rajin dan bener jangan kelayapan tidak bener."


" Iya,"


" Kalau ada lelaki yang mendekat kau pastikan dahulu dia orang yang baik atau tidak, jangan asal mau diajak pergi aja."


" Iya iya."


" Jangan iya-iya aja tetapi kau tak lakukan!"


" Ish kakak, baik kakak ku sayang." Dengan senyum selembut mungkin.


" Kalau mau apa-apa kau telepon kakak nanti aku transfer."


" He,em." Menganggukkan kepala.


" Eh tetapi katanya kakak akan menginap di sini?" tanyanya dengan wajah sedih dan cemberut.


" Gimana kalau hari ini aja kakak menginap di sini."


" Oke aku setuju."


" Ko, kau boleh kembali ke hotel aku akan kembali ke hotel besok."


" Tetapi, apakah tuan tidak ingin saya jemput?"


" Tidak usah, aku akan naik taksi saja."


" Baik tuan, kalau begitu saya permisi, mari nona."


" Ah iya kak Miko."


Miko pun meninggalkan Alex dan Sasa berjalan keluar apartemen.

__ADS_1


__ADS_2