Dinikahi Pria Tajir

Dinikahi Pria Tajir
Bab 59 - Panti Asuhan


__ADS_3

" Bu aku berangkat dahulu ya!" Pamit Syeira yang sibuk memasukkan barang ke dalam tas selempang. Berjalan ke arah Ibu Diana yang berada di dapur.


" Iya hati-hati. Jangan ngebut kalau bawa motornya. Ibu aja suka takut kalau kamu bawa motor kayak gitu." Ucap Ibu Diana, yang sedang membuat adonan kue di meja.


" Iya bu, Syeira juga kalau ngebut lihat kondisi. Ketika jalanan ramai Syeira juga enggak ngebut. Kalau sepi, baru Syeira ambil kecepatan yang lebih tinggi."


" Ya sudah lah. Terserah kamu, ibu hanya berdoa yang terbaik." Ibu Diana pasrah, yang terpenting dia sudah berdoa untuk keselamatan Syeira. Dan juga Syeira juga sudah ahli mengendarai motor. Mungkin sedikit tidak membuat Ibu Diana khawatir.


Mendengar ucapan ibunya, Syeira tersenyum. Tak pernah berhenti ibunya itu selalu mendoakan yang terbaik untuk Syeira.


" Syeira berangkat, assalamualaikum." Mencium telapak tangan Ibu Diana.


" Waalaikumsalam." Lalu melanjutkan membuat adonan kue.


*****


Sampai di perusahaan Syeira langsung menuju ke ruangannya untuk segera mengerjakan pekerjaan.


Menaruh tas di laci bawah meja dan juga jaket yang dia kenakan. Syeira tak ingin membuat kursinya menjadi banyak barang yang akhirnya membuat ruangan tidak rapi.


Barang apapun yang sekiranya tidak dia gunakan pada saat bekerja, dimasukkan ke dalam laci yang sedikit besar di bawah meja.


Hanya ponsel yang berada di atas meja. Karena ponsel sangat penting jika ada hal serius yang menghubungi dirinya.


Membuka laptop milik kantor , yang memang fasilitas yang harus Syeira gunakan ketika menjabat sebagai asisten manajer marketing.


Mulai mengerjakan satu persatu pekerjaan yang masuk lewat email. Dia harus segera mengerjakannya jika sudah selesai akan diberikan kepada Jeni.


" Banyak banget email yang masuk, mana enggak berhenti-berhenti lagi." Gumam Syeira melihat pesan dari email yang masuk terusmenerus. Apalagi dia baru mengerjakan beberapa saja. Tetapi sudah dikirimi lagi dan lagi.


Blebep blebep blebep...


Mendengar ponselnya berbunyi Syeira mengalihkan pandangan ke arah ponsel. Menghentikan sejenak pekerjaan di laptop.


" Ya hallo mbak?"


" Kamu sudah mengerjakan email yang baru saja masuk ra?"


" Sudah mbak, ini sedang aku kerjakan."


" Oh ya sudah. Percepat ya ra, karena aku membutuhkannya segera."


" Oke mbak." Menaruh ponsel di dekat laptop.


Kembali mengerjakan pekerjaannya. Untung Syeira pintar jadi dia tidak masalah jika harus cepat-cepat menyelesaikan. Karena sebelumnya dia juga sudah diajari oleh Jeni. Dan untuk sekarang dia bisa mengatasi sendiri.


*****


Di tempat lain seperti biasa Nyonya Zena berkunjung di panti asuhan. Memberi hadiah kepada beberapa anak yang tinggal di panti dan memberi kan sedikit uang untuk keperluan anak-anak.

__ADS_1


Anak-anak di sana sebagian besar anak jalanan yang tidak memiliki tempat tinggal dan orang tua. Ada juga anak yang dipekerjakan oleh preman untuk mengemis dan sebagainya. Lalu hasilnya diberikan kepada preman dan mereka hanya mendapatkan makanan.


Nyonya Zena yang melihat anak-anak itu tidak di urusi dengan baik dia menyuruh beberapa pengawal untuk mengambil anak-anak itu dan memasukkan ke dalam panti asuhan.


Memiliki kekuasaan yang tinggi tidak sulit bagi Nyonya Zena untuk mengambil anak-anak yang malang itu. Apalagi anak dan suaminya paling ditakuti di negeri ini. Siapakah yang berani menantangnya, tidak ada kan.


Panti asuhan itu juga milik Nyonya Zena yang dia pergunakan untuk anak yang telantar dan ditinggalkan oleh orang tuanya.


" Bagaimana pertumbuhan anak-anak bu?" Tanya Nyonya Zena kepada orang yang mengurusi panti asuhan ini. Untuk mendidik anak-anak supaya lebih baik lagi.


" Alhamdulillah, mereka berkembang dengan baik Nyonya. Pelajaran juga sudah mulai bisa mereka terima." Jelas Ibu Wanda. Usianya sekitar 40 tahun. Yang di pekerjakan oleh Nyonya Zena untuk mengurusi anak-anak. Ibu Wanda juga tidak sendiri, dia dibantu beberapa orang juga.


" Alhamdulillaah, kalau begitu. Anak-anak bisa lebih mendalami lagi tentang pelajaran. Yang saya takutkan mereka tidak mau belajar."


" Tidak, mereka malah senang belajar. Karena banyak teman juga yang belajar jadi mereka semangat. Ada juga guru baru yang sukarela untuk mengajari anak-anak di sini belajar. Apalagi cara beliau untuk menarik hati anak-anak agar mau belajar begitu bagus. Banyak sekali ide-idenya."


" Hem, alhamdulillah. Ada juga yang peduli terhadap anak-anak."


" Iya benar nyonya."


Oek oek oek


" Itu siapa bu?" Tanya Nyonya Zena yang mendengar suara bayi menangis. Karena setahu dia tidak ada bayi yang berada di panti asuhan. Hanya anak berusia 2 tahunan yang paling kecil.


" Oh itu anak yang kemarin ditemukan depan pintu panti. Kayaknya baru melahirkan langsung ditaruh di sini." Jelas Ibu Wanda.


" Ya ampun. Kok tega sekali dipisahkan dengan orang tuanya." Ucap Nyonya Zena dengan sedih. Bayi yang belum menerima kasih sayang orang tua, ditinggalkan begitu saja di panti asuhan.


" Iya kamu benar, saya mau lihat bayi itu. Apakah boleh?"


" Boleh, boleh saja. Mari saya antarkan."


Mereka beranjak dari tempat duduk menuju kamar bayi tersebut.


Melewati beberapa kamar yang ditempati oleh anak-anak.


Di sana sudah ada orang yang menimang dan mengasih susu formula untuk bayi itu.


" Mari, silakan masuk." Ucap Ibu Wanda.


" Oh iya, permisi." Ucap Nyonya Zena dengan sopan ketika masuk ke dalam kamar.


" Eh Nyonya. Silakan masuk, pasti mau melihat bayi ini ya." Ucap Ibu Fitri, yang lagi menggendong bayi itu.


" Iya, katanya ada bayi yang baru masuk di sini ya?"


" Iya bu."


Nyonya Zena menghampiri bayi itu, dia melihat dan mulai menggendong.

__ADS_1


Bayi yang sangat lucu dan menggemaskan. Cantik, kulit putih dan rambut yang hitam lumayan tebal. Mata yang terpejam sehabis minum susu. Mungkin dia sudah kenyang, mangkanya tidur kembali.


" Lucu banget sih. Adu du, kamu namanya siapa cantik. Hem?" Ucap Nyonya Zena dengan suara yang mengecil. Seperti mengajak bayi itu berbicara dan seolah sudah bisa bicara.


" Kebetulan belum dikasih nama, Nyonya boleh memberi nama kepada bayi itu."


" Gimana jika namanya, Fawnia. Yang artinya sangat berharga." Ucap Nyonya Zena tersenyum sambil mengelus dahi bayi itu.


Ibu Wanda dan Ibu Fitri tersenyum mendengar nama dan arti nama yang diberikan.


" Bagus, nama yang sangat bagus. Fawnia, hallo. Selamat datang di dunia." Ucap Ibu Wanda yang sedikit mendekat dengan Nyonya Zena.


" Susu dan berbagai perlengkapan sudah kamu belikan?"


" Sudah nyonya, semua sudah kami belikan kemarin sore."


" Oh ya sudah kalau begitu. Nanti kapan-kapan aku belikan lagi perlengkapan untuk Fawnia."


" Iya Nyonya."


Ibu Wanda dan Ibu Fitri duduk di sofa yang sudah di sediakan di dalam kamar Fawnia. Mereka menunggu Nyonya Zena yang senang menimang Fawnia. Terlihat jika Nyonya Zena sangat tulus dan sayang terhadap Fawnia. Walau dari orang yang terpandang Nyonya Zena masih ingat dengan orang kecil dan sederhana seperti mereka.


Sedikit mengalunkan melodi untuk Fawnia ketika ingin menangis.


Merasa Fawnia sudah pulas untuk tidur. Nyonya Zena menaruh di box bayi yang sudah tersedia.


" Jaga Fawnia baik-baik ya. Jika terjadi sesuatu atau butuh sesuatu telepon saja. Tidak pa-pa." Pesan Nyonya Zena kepada Ibu Wanda dan Ibu Fitri. Karena dirasa sudah terlalu lama dia di panti asuhan.


" Baik Nyonya."


" Kalau begitu saya pamit, Assalamualaikum."


" Waalaikumsalam."


Masuk ke dalam mobil yang sudah siap di depan pintu gerbang panti asuhan.


" Kita ke perusahaan Alex ya pak." Ucap Nyonya Zena yang baru masuk ke dalam mobil.


" Baik nyonya." Menolehkan kepala lalu menganggukkan dengan sopan.


Beberapa menit kemudian mobil yang dikendarai Nyonya Zena sampai di perusahaan Alex.


Masuk ke dalam kantor dengan menenteng tas yang berharga ratusan juta. Dengan anggun Nyonya Zena berjalan ke arah lift . Semua orang sudah tau jika Nyonya Zena adalah mama Alex. Mereka menundukkan kepala sebagai penghormatan atas kedatangan Nyonya Zena.


Membalas dengan senyuman ramah kepada mereka semua. Karena memang dasarnya Nyonya Zena orang baik dan jika orang itu tidak berbuat salah maka Nyonya Zena juga akan membalas dengan baik pula.


Ting..


Menuju ke arah ruangan Alex, tetapi tiba-tiba saat berjalan kepalanya pusing dan,,

__ADS_1


Brukkk...


__ADS_2