Dinikahi Pria Tajir

Dinikahi Pria Tajir
Bab 76 - Menyiapkan keperluan suami


__ADS_3

" Nah sudah beres, tinggal kita sajikan di meja makan." Ucap Syeira tersenyum sambil mengusuk tangannya. Saat ini dia sedang memasak makanan untuk sarapan bersama. Sebenarnya para pelayan sudah melarang, tetapi apa boleh buat. Syeira memaksakan diri, mereka hanya bisa diam dan sesekali membantu Syeira. Sedangkan Pak Anton yang biasa menanggapi ucapan Syeira dengan bijak agar ketika Syeira ingin melakukan sesuatu tidak kena semprot oleh Alex, sedang pergi keluar. Jadi tidak ada yang bisa menghalangi Syeira untuk mengerjakan sesuatu.


Sania selaku pelayan pribadi juga selalu mendampingi Syeira memasak. Takut-takut nanti Syeira tiba-tiba kelelahan dan membutuhkan dirinya.


" Biar saya saja nona, lebih baik nona naik ke atas dan memastikan apakah tuan Alex membutuhkan sesuatu." Saut Sania dengan sopan yang berada di samping Syeira. Berniat menggantikan Syeira mengambil alih menyiapkan makanan.


" Oh iya juga. Ya sudah aku ke atas dahulu ya mbak." Sambil berjalan untuk mencuci tangan. Menolehkan kepala ke arah Sania.


" Silakan nona." Dengan sedikit menundukkan.


Syeira berjalan meninggalkan Sania dan pergi ke lantai atas dengan sedikit berlari.


Ceklek..


Dibukanya pintu kamar dan melihat ke arah tempat tidur. Tidak ada Alex, tetapi Syeira mendengar gemericik air dari arah kamar mandi. Berarti Alex sedang mandi.


Segera Syeira menyiapkan baju kerja yang akan dipakai Alex.


Masuk ke walk in kloset, ada banyak sekali baju dirinya dan Alex yang tertata dan digantung rapi.


Hanya berbeda lemari, semua keperluan Alex dan Syeira ada di sana semua.


Syeira berjalan ke arah lemari yang berisi kemeja dan jas Alex. Memilih yang cocok untuk digunakan Alex saat ini.


" Aihhhh, ini mau milih yang mana? Semua warna gelap." Gumam Syeira sambil menaruh tangannya di pinggang dan tangan satunya memegang dagu. Berpikir mana yang cocok untuk Alex gunakan.


Mengambil kemeja warna hitam dan jas serta celana berwarna abu-abu gelap.


Beralih membuka laci yang berisi dasi. Memilih warna abu-abu gelap juga.


Lalu Syeira berjalan ke arah tempat penyimpanan jam tangan.


" Gilakkkk, ini bukannya jam mahal banget itu ya. Semua berbagai merek dia punya." Ucap Syeira terkejut, menutup mulutnya dengan tangan dan melototkan mata. Syeira sedikit tahu apa saja dan berapa harga jam yang dimiliki Alex. Karena dia sering melihat di internet. Ya, sedikit kepo lah tentang apa yang digunakan oleh orang kaya. Siapa tau dia bisa juga jadi orang kaya dan membeli, paling tidak satu lah.


Dan ternyata apa yang dia bayangkan menjadi kenyataan. Dia mendadak menjadi orang kaya dengan menjadi istri seorang Alex yang memiliki perusahaan di mana-mana dan kekayaan tujuh turunan tidak akan habis.


" Mending ini di skip aja kali, nanti kalau aku pegang dan jatuh, bisa berabe ini. Mahal banget nanti di suruh ganti kalau rusak." Ucap Syeira dengan sendiri. Tidak jadi mengambil karena takut merusaknya dan pergi menaruh pakaian Alex.


Tiba-tiba pintu ruangan walk in kloset terbuka. Menampakkan Alex yang hanya memakai handuk di pinggang. Dengan menampilkan perut kotak-kotak dan lengan kekarnya. Rambut yang masih basah.

__ADS_1


Syeira yang melihat Alex menjadi panas dingin, takut-takut ngeri gimana gituu.


" Duhhh, otak aku kok ke mana-mana ya. Mana badannya besar banget." Batin Syeira sambil menelan saliva dan melotot. Tangannya menjadi dingin dan gemetar.


" Mengapa kamu melotot begitu?" Tanya Alex yang sedang menggoda Syeira. Dia tau jika Syeira terkejut dan terpesona dengan tubuhnya. Tetapi Alex diam dan ingin mengerjai Syeira. Berjalan ke arah pakaian yang Syeira letakkan tadi.


Memegang handuk dan ingin membuka handuk di depan Syeira.


" Aaaaaaa." Teriak Syeira dengan menutup muka menggunakan telapak tangan.


" Tidak usah berteriak, toh tidak lama lagi kita akan melakukannya." Ucap Alex dengan santay tanpa merasa bersalah dengan perkataannya.


Syeira sendiri terkejut, masih melototkan mata dengan tangan masih menutup wajah mendengar ucapan Alex tanpa difilter.


Syeira membalikkan badan agar tidak melihat Alex yang sedang berganti baju.


Alex berjalan ke arah lemari untuk mengambil boxer, karena melihat pakaian yang Syeira siapkan belum ada celana boxernya.


Memang Syeira tadi belum menyiapkan karena lupa saking excitednya menyiapkan pakaian lain. Apalagi melihat jam tangan Alex tadi.


Segera Alex memakainya dan memang Alex tidak memakai apa-apa tadi hanya handuk saja.


" Sudah, balik badan." Ucap Alex yang sudah selesai memakai pakaian, tinggal mengancingkan lengan.


Syeira membalikkan badan, melihat Alex belum memakai dasi. Mengambil dasi dan ingin memasangkan ke leher Alex.


" Sini aku bantu memakaikan dasi." Berjalan ke arah Alex berniat memakaikannya.


Tetapi ketika ingin memakaikan ke leher Alex, Syeira sangat sulit menjangkaunya padahal dia sudah berjinjit, tetapi tetap masih sulit. Entah dia yang terlalu pendek atau Alex yang terlalu tinggi.


" Mangkanya tumbuh itu ke atas." Ucap Alex sambil menoyor kening Syeira.


" Kakak saja yang terlalu tinggi, ini aku sudah ideal bagi seorang perempuan ya." Jawab Syeira sinis, karena mendengar Alex mengejek dirinya.


" Hemmm, terserah kamu lah." Alex celingukan mencari benda yang dapat digunakan untuk membantu Syeira.


" Nah ini dia." Mengambil kursi jengkok dari bawah meja.


" Nih, berdiri di atasnya." Menaruh di depan Syeira.

__ADS_1


Syeira menurut dan mulai memasangkan simpul dasi.


Wajah mereka saling berhadapan dan sangat dekat. Membuat mereka bisa merasakan napas satu sama lain.


Mata yang sempat bertemu saling bertatapan.


" Ehem." Alex berdehem untuk menghilangkan rasa kecanggungan di antara mereka.


Syeira pun menolehkan kepala ke samping. Menetralkan jantungnya yang sekarang berdebar dengan kencang.


" Emm kak, aku boleh bekerja lagi apa enggak?" Tanya Syeira mengingat jika dirinya sekarang sudah menjadi istri. Jadi, apapun itu harus meminta izin terlebih dahulu kepada suami.


" Buat apa kerja, memang kekurangan uang kita?" Ucap Alex yang seakan tidak suka Syeira kembali bekerja.


" Ih, bukan begitu kak. Aku bosan di rumah terus. Kalau bekerja kan ada teman, bisa ngerjain ini itu. Tidak berdiam diri dirumah." Syeira mencoba membela diri. Mencari alasan yang tepat agar Alex menyetujui keinginannya.


" Terserah kamu, yang terpenting tugas kamu sebagai istri tidak lupa. Selalu menomor satukan suami. Karena kamu sudah menjadi istri." Ucap Alex dengan tegas.


" Iya kak." Jawab Syeira dengan patuh.


" Sama satu lagi, boleh enggak aku sesekali ke rumah ibu. Kasihan ibu di rumah sendirian." Sebenarnya Syeira tidak tega meninggalkan ibunya di rumah sendirian. Tetapi apa boleh buat, dia sudah menjadi seorang istri. Yang harus mengikuti ke mana pun suami pergi.


" Mengapa ibu kamu tidak tinggal di sini saja. Ini rumah juga besar." Usul Alex yang melihat wajah Syeira menjadi murung. Dia tau jika Syeira tidak bisa meninggalkan ibunya.


" Aku sih senang, tetapi ibu pasti tidak mau. Aku sangat mengerti bagaimana ibu, dia pasti tidak akan nyaman di rumah baru."


" Nanti akan kusuruh beberapa anak buahku untuk menjaga ibu. Setidaknya ibu tidak sendirian jika ingin membutuhkan sesuatu."


" Boleh juga, nanti aku tanya ibu."


" Tidak usah bertanya, biarkan mereka langsung ke sana. Nanti jika bertanya ibu akan menolak."


" Iya juga. Ya sudah kalau begitu."


" Hem."


" Terima kasih ya kak."


" Hem, sama-sama."

__ADS_1


__ADS_2