Dinikahi Pria Tajir

Dinikahi Pria Tajir
Bab 42 - Khawatir


__ADS_3

Sampai di rumah Syeira membersihkan badannya yang lengket karena seharian memakai baju seragam yang membuat tubuhnya menjadi berkeringat.


Menaruh tasnya di kamar dan mengambil baju ganti serta handuk untuk di bawa ke kamar mandi.


Ketika melewati dapur Syeira tidak melihat ibunya memasak atau membuat kue. Syeira berpikir jika ibunya keluar ke toko membeli bumbu dapur yang habis.


Melanjutkan berjalan ke arah kamar mandi. Segera masuk dan menyiram badannya yang sudah sangat lengket itu.


Air yang dingin karena sama sekali tidak terkena sinar matahari membuat air itu seperti air es. Sungguh segar sekali ketika tubuh yang terasa lengket disiram oleh air yang dingin. Setelah membilas badannya Syeira segera keluar.


Berjalan ke arah kamar sambil menunggu ibunya yang entah ke mana. Dari Syeira pulang sampai selesai mandi Ibu Diana belum pulang ke rumah.


Di depan cermin sambil mengusapkan body lotion agar membuat tubuh tetap halus dan mulus.


Siap, setelah ritual mandi dan setelahnya dilakukan oleh Syeira, keluar dari kamar menuju ruang televisi dengan membawa ponsel di tangannya.


Menyalakan agar ruangan yang tadinya sepi terlihat ramai karena suara yang dihasilkan dari televisi.


Menonton sinetron kesukaannya yang membuat dia nanti emosi, sedih, dan nangis karena terbawa suasana oleh sinetron yang dilihat.


Setelah menonton cukup lama tiba-tiba seseorang mengucapkan salam.


" Assalamualaikum."


" Waalaikumsalam." Beranjak dari tempat duduk untuk membuka pintu, siapa yang berkunjung.


Ceklek..


" Ibu, dari mana saja, kok baru pulang jam segini?" Tanya Syeira ketika melihat ternyata ibunya yang mengucapkan salam. Berjalan mengikuti ibunya dari belakang untuk masuk ke dalam rumah. Lega karena Ibu Diana akhirnya pulang. Tadi Syeira sempat khawatir karena ibunya tak kunjung pulang, padahal waktu sudah menjelang magrib.


" Ibu dari rumah tetangga sebelah, nganter kue yang baru di pesan." Ucap Ibu Diana dan duduk di depan televisi.


" Aku kira ke mana bu, abis lama sekali keluarnya. Aku pulang ibu enggak ada eh sampai aku nunggu mandi dan selesai juga belum pulang." Jawab Syeira kepada ibunya.


" Iya tadi ngobrol sebentar sama tetangga yang memesan kue, eh enggak taunya sampai menjelang magrib. Biasa ibu-ibu kalau bertemu suka lupa waktu." Jelas Ibu Diana yang merasa bersalah karena melihat kekhawatiran anaknya yang menunggu dia pulang.

__ADS_1


" Terus ibu sudah mandi apa belum?"


" Sudah, tadi setelah membuat kue ibu langsung mandi. Ya sudah yuk makan, ibu sudah masak juga buat kita makan malam." Ucap Ibu Diana dengan tersenyum.


" Yuk lah, aku juga lapar ini."


Mereka pun berjalan ke arah dapur untuk bersiap makan.


*****


Di tempat lain Doni yang baru pulang dari cafe dengan baju yang berantakan dan muka yang sudah kucel seperti baju yang belum di seterika. Langsung masuk ke kamar untuk membersihkan diri. Tetapi ketika melewati orang tuanya yang duduk santai di sofa ruang tamu Doni berhenti.


" Dari mana kamu!, jam segini baru pulang. Mama tau kalau waktu pulang sekolah kamu lebih awal dari biasanya. Mengapa ini baru sampai rumah?" Omel Nyonya Zena kepada Doni. Dengan muka yang menahan amarah. Sedangkan Tuan Victor hanya menghendikkan bahu. Menyerahkan semua kepada Nyonya Zena karena dia tau ini hanya masalah sepele yang bisa di selesaikan dengan cepat.


Muka Doni menjadi khawatir karena melihat mamanya yang menahan amarah dan siap meledak. Papanya kali ini tidak mendukungnya sama sekali.


" E-ehm ma, ini tadi Doni keluar sama teman sekelas Doni untuk merayakan hari terakhir ujian." Jelas Doni dengan gugup, takut melihat mamanya.


" Lalu, mengapa kamu tidak menelpon mama. Mama khawatir tau enggak. Telepon enggak diangkat, sore baru pulang. Ibu mana yang tidak khawatir ketika menunggu di rumah, sedangkan dia tau kalau waktu pulang sekolah sudah dari siang tadi." Muka yang dari tadi menahan amarah menjadi pudar. Dengan muka yang penuh kekhawatiran.


Doni berjalan ke arah mamanya untuk menenangkan mamanya yang tengah mengkhawatirkan dia.


Memeluk mamanya dengan penuh kasih sayang. Merasa bersalah karena tindakan yang dia lakukan tadi.


" Mama hanya ingin ketika mama di rumah kamu mengabari mama. Agar mama tau ke mana kamu pergi dan pulang jam berapa. Mama yang setiap keluar kota pergi menemani papa, tidak ingin kamu merasa kurang perhatian dan kurang kasih sayang." Jelas Mama Zena yang tengah memeluk Doni dengan muka sendu.


" Iya ma, maafin Doni. Tadi ponsel Doni lobet jadi enggak sempat ngabarin mama. maaf ya ma." Ucap Doni yang masih memeluk mamanya dan menenggelamkan wajahnya ke leher Nyonya Zena.


" Ya sudah kamu bersih-bersih sana. Badan kamu sudah bau asem ini." Ucap Nyonya Zena dengan melepaskan pelukannya dan menyengirkan hidungnya.


" He.em," menganggukkan kepala. " Kalau begitu aku ke atas duluan." Jawab Doni lalu mencium pipi mamanya. Muach.


Setelah itu, naik ke atas melewati papanya yang hanya melirik sebentar.


Tuan Victor kembali mengalihkan penglihatannya ke arah televisi. Setelah melihat perdebatan antara ibu dan anak yang baru saja terjadi.

__ADS_1


Nyonya Zena menghela nafasnya setelah perdebatannya dengan Doni.


Duduk kembali di samping suaminya yang masih asyik melihat tontonan dari televisi.


" Papa kok diem aja sih, enggak ngomong apa-apa sama Doni?" Tanya Nyonya Zena yang melihat suaminya masih anteng melihat televisi.


" Terus papa mau ngapain, kan sudah di wakilkan sama mama." Jawab Tuan Victor dengan santai. Merebahkan punggungnya ke sofa dengan kaki di angkat ke kaki satunya.


" Ih, kok gitu. Enggak bantu mama atau bilang sesuatu gitu sama Doni. Nasehatin kek." Ucap Nyonya Zena dengan nada judes. Kesal dengan suaminya yang hanya membiarkan dirinya mengomel sendiri dengan anaknya.


" Papa yakin mama bisa mengendalikan semua. Jadi papa santai aja. Kasihan Doni kalau kedua orang tuanya sama-sama memarahinya. Dia kan sedang menikmati masa muda. Jadi wajarlah ma." Ucap Tuan Victor dengan nada lembut. Untuk meredakan amarah istrinya agar tidak mengomel lagi. Menoleh ke arah istrinya.


" Hem." Jawab Nyonya Zena dengan singkat. Masih merasa kesal dengan suaminya.


Melihat istrinya yang masih kesal Tuan Victor menghadap ke arah istrinya kemudian memeluk dengan manja.


" Uh mama kalau marah-marah tambah cantik. Pesona mu semakin bersinar sayang." Gombalan maut keluar dari mulut Tuan Victor. Dengan wajah yang menempel tepat di dada dan tangan yang melingkar di pinggang disertai senyuman.


Nyonya Zena yang mendengar ucapan Tuan Victor menjadi tersenyum. Rasa kesal yang melanda di tubuhnya hilang seketika setelah mendengar ucapan suaminya.


Berbalik memeluk suaminya dengan erat. Tuan Victor selalu bisa meredakan amarahnya.


" Bisa aja kalau merayu mama, dan ini mengapa jadi manja melebihi Doni. Tadi mama hanya minta pendapat tetapi malah nglunjak." Mengelus punggung Tuan Victor dengan pelan. Mencium rambut yang selalu dengan suaminya dengan sayang dan selalu wangi setiap saat.


Melepaskan pelukan terhadap istrinya.


" Enggak, sudah lupakan hal tadi. Sekarang ganti topik aja. Papa lapar ma." Melepaskan pelukan terhadap istrinya lalu berucap dengan muka melas yang di buat-buat.


" Ya sudah yuk, kayaknya Doni hampir selesai mandi. Kita tunggu saja di ruang makan." Ajak Nyonya Zena kepada suaminya.


" Hem."


Mereka beranjak dari ruang tamu menuju meja makan dengan Tuan Victor melingkarkan tangan ke pinggang Nyonya Zena.


Walaupun sudah berumur tetapi jiwa mudanya masih tertanam di diri mereka. Dan keromantisan yang di timbulkan tetap terjaga.

__ADS_1


__ADS_2