
Satu jam kemudian...
Malam ini terasa sesak sekali. Air mata seakan ingin keluar dari persembunyiannya. Dinginnya udara malam seakan tidak berpengaruh terhadapku. Aku masih di sini, sendiri dalam kebimbangan akan penantian. Bak terombang-ambing di lautan luas, hanya kepasrahan yang bisa kulakukan.
Terima saja, Ara ....
Aku menarik napas dalam-dalam agar rela menerima takdir Tuhan. Mungkin ada baiknya jika aku pergi ke sana untuk mendapatkan bunganya. Sehingga tidak dikira hanya berdiam diri saja di istana. Walaupun sesungguhnya aku memikirkan bagaimana cara untuk menyelamatkan raja. Tetapi tetap saja, hanya sebatas berpikir tidak akan terlihat bekerja.
Ya. Ratu Angkasa menganggapku tidak melakukan apa-apa untuk menyelamatkan suaminya. Sehingga dia memintaku pergi ke Arthemis untuk mendapatkan bunga itu. Dan sebagai rakyat biasa, mau tak mau aku memenuhinya. Aku hanya seorang pendatang baru di istana. Sekalipun sudah dicetuskan sebagai calon ratu, tetap saja Ratu Moon yang berkuasa.
"Baik, Yang Mulia. Saya akan mempersiapkan diri untuk pergi ke Arthemis." Masih teringat jelas kepasrahanku terhadap perintahnya.
"Bagus. Persiapkan dirimu dengan baik. Esok kau akan berangkat ke Arthemis bersama belasan pasukan khusus. Jangan kecewakan aku. Dapatkan bunga itu, bagaimanapun caranya. Kau mengerti, Nona Ara?" Dia mempertegas intonasi bicaranya.
Aku mengangguk.
"Aku tunggu kehadiranmu di gerbang istana esok pagi." Ratu pun berlalu dari hadapanku.
Pertemuan kami tadi seolah mengisyaratkan jika masih ada penghalang di antara aku dan kedua putranya. Ratu tidak menyukai. Dan selamanya mungkin akan tetap seperti itu. Entah apa alasannya, bagiku ini adalah sebuah hambatan besar. Bagaimana bisa aku hidup bahagia dengan kedua putranya sedang dirinya tidak menyukaiku? Ya Tuhan tolonglah aku.
Mungkin ratu belum bisa menerima calon menantu dari kalangan rakyat biasa, Ara.
Aku tersadar siapa diri ini. Aku bukanlah dari kalangan bangsawan. Tapi cinta itu tidak menjadikan kasta sebagai penghalang. Dia benar-benar membutakan kedua pangeran. Dan aku pun demikian, merasa cinta itu telah membutakan hati dan pikiranku. Aku ingin memiliki keduanya dengan dalih tidak ingin menyakiti salah satunya. Walau kutahu pasti sesungguhnya mereka akan tersakiti jika memilikiku secara bergantian. Entahlah. Aku dilanda kebimbangan yang berkepanjangan tanpa tahu bagaimana ujungnya.
__ADS_1
Sekarang aku harus bagaimana?
Tanpa basa-basi ratu memintaku pergi ke Arthemis untuk mendapatkan bunga malaikat itu bagaimanapun caranya. Terkadang aku heran, sebenarnya ratu mengetahui atau tidak permasalahan yang terjadi antara Angkasa dan Arthemis? Atau dia memang sengaja ingin menjauhkanku dari kedua putranya melalui alasan ini? Bisa saja di pertengahan jalan terjadi hal-hal tak terduga terhadapku yang membuatku tidak bisa kembali ke Angkasa. Bukankah ratu memang tidak menyukaiku? Bahkan jika bukan karena Zu, mungkin aku telah tiada karena kedinginan di ruang bawah istana.
Ya. Masih teringat jelas jika dalang dikurungnya aku di ruang bawah istana waktu itu ternyata karena ratu. Tapi puji syukur Tuhan masih melindungiku melalui kebaikan Zu. Dan aku tidak akan pernah melupakan kebaikan dari Pangeran Asia itu.
Rain, Cloud, aku tidak tahu ini kabar baik atau buruk. Tapi aku harus berangkat ke Arthemis esok hari. Semoga kalian bisa menindaklanjuti keberangkatanku ini.
Hanya doa yang bisa kupanjatkan. Karena tidak ada hal lain yang bisa kulakukan selain itu. Semoga saja Tuhan melindungiku dari orang-orang yang berniat jahat padaku. Aku pasrahkan diri ini terhadap segala sesuatu yang akan terjadi. Semoga kebaikan dan keberuntungan selalu menyertaiku.
Menjelang pertengahan malam di istana Angkasa...
Guling ke kanan, guling ke kiri. Ternyata aku masih tidak bisa tidur karena terpikirkan ucapan ratu. Pada akhirnya aku memutuskan keluar ruangan untuk mencari udara segar. Sepertinya balkon teras istana tidak jauh dari ruanganku. Aku pun bergegas menuju ke sana walaupun sudah larut malam. Aku tidak merasa takut lagi walau sendirian.
Tak berapa lama aku pun sampai di balkon teras lantai tiga istana. Segera saja aku duduk di kursinya sambil menatap bintang yang bertaburan di angkasa. Kali-kali saja aku bisa mendapatkan ilham untuk mengambil langkah selanjutnya. Karena sampai saat ini aku masih mati kutu menghadapi hal yang melanda. Sedang ratu tidak ingin aku berdiam saja.
Cloud, cepatlah pulang. Aku ingin tahu bagaimana hasil negosiasinya. Apakah aku harus di sini atau pergi ke sana? Aku bingung, Cloud.
Aku duduk sambil menunggu kepulangan Cloud. Kali-kali saja dia pulang malam ini dan bisa membantuku dalam mengambil keputusan. Jika dibandingkan, kemungkinan besar lebih baik pergi ke Asia daripada pergi ke Arthemis. Karena aku belum tahu bagaimana ruang lingkup negerinya. Sedang Asia, sudah kujelajahi walaupun tidak semua.
Bagaimana ya?
Tak lama kemudian, kudengar deru langkah kaki kuda yang mendekati istana. Pintu gerbang istana pun dibuka. Dan kulihat sesosok pangeran berjubah putih lah yang datang. Dia adalah cinta pertamaku dalam jalinan asmara ini, Cloud Sky.
__ADS_1
Cloud, kau sudah pulang?
Panjang umur untuknya. Baru saja dibicarakan, dia sudah pulang. Segera saja aku bergegas menuju lantai satu istana. Aku ingin menyambut kedatangannya. Dengan cepat melangkahkan kaki lalu menuruni anak tangga. Hingga akhirnya aku sampai juga di pelataran teras istana. Saat itu juga aku berlari ke arahnya.
"Cloud!" Betapa senangnya aku melihat kepulangannya ke istana.
Cloud juga melihatku. Dia kemudian turun dari kudanya. Dia memberi perintah kepada para pasukan khusus agar segera membawa kuda putihnya ke belakang istana. Para pasukan khusus pun memenuhinya. Mereka segera menuju ke belakang istana bersama kuda putih Cloud. Sedang Cloud berjalan ke arahku.
"Cloud!" Aku pun segera menghambur ke pelukannya.
Entah mengapa kupeluk begitu saja pria yang baru saja kembali ke istana tanpa sungkan ataupun malu. Aku pun tersenyum semringah dalam pelukannya. Dan ya, kuhirup dalam-dalam aroma parfumnya yang menenangkan. Rasanya ingin sekali untuk terus bersamanya.
"Ara ...." Cloud pun mengusap rambutku.
Kulepaskan pelukanku lalu menatapnya tepat di mata. "Cloud, selamat ulang tahun." Kuucapkan kalimat itu dengan riang kepadanya.
"Ara?!" Dia tampak terkejut dengan ucapanku.
Aku tersenyum. Tentu saja tidak boleh lupa jika pergantian hari adalah hari ulang tahunnya. Aku pun memeluknya kembali. Tapi dia diam saja, entah mengapa. Namun, tak lama kemudian tangannya membalas pelukanku. Dia melingkarkan kedua tangannya di pinggangku. Dia juga membenamkan wajahnya di pundakku.
"Ara, terima kasih," ucapnya lirih sambil memelukku dengan erat.
"Kembali, Pangeran. Semoga keselamatan dan kebahagiaan selalu menyertaimu." Aku pun mendoakannya.
__ADS_1
Cloud mengangguk di bahuku. Sepertinya dia terharu dengan ucapanku. Malam ini menjadi saksi atas diriku dan dirinya yang berpelukan di taman istana. Kutahu jika Cloud membutuhkanku untuk melepas lelahnya sehabis berpergian jauh. Dan aku memberikannya.