Dua Pangeran Satu Cinta 2

Dua Pangeran Satu Cinta 2
Flash Back


__ADS_3

Waktu itu...


Aku sedang menunggu kereta kuda di depan istana Asia. Aku duduk sendiri, sedang Zu tengah mengarahkan para menterinya karena akan pergi dari istana. Kami berniat mengunjungi rumah Tabib Fu hari ini.


Saat aku duduk sambil melihat halaman hijau yang luas, kulihat Jasmine datang mendekatiku. Wajahnya tampak sedih, seperti menyimpan kepiluan yang mendalam. Dia pun akhirnya sampai di hadapanku lalu menyapaku.


"Putri."


Aku pun menoleh ke arahnya lalu mempersilakannya duduk. Aku sengaja duduk di pelataran teras istana sambil menunggu kereta dan raja datang. Karena sebentar lagi kami akan pergi ke rumah Tabib Fu di kaki Gunung Fuji. Seorang tabib ahli tanaman herbal berkhasiat di Asia.


"Putri Mine?" Aku pun menyapanya.


"Putri Dewi. Em, ada yang ingin aku bicarakan padamu tentang pangeran Zu." Dia mengawali pembicaraannya dengan malu-malu.


"Pangeran Zu?"


"Ya, benar. Sepertinya aku harus mengatakannya padamu," tutur dia kembali.


Aku antusias menanggapi. "Katakan saja, Putri. Aku akan mendengarkannya." Aku tersenyum padanya.


Kulihat Mine menundukkan kepalanya, seperti malu untuk mengungkapkannya padaku. Tapi tak lama dia mengangkat wajahnya kembali. Kulihat dia juga mulai bersedih, entah kenapa.


"Aku ... sebenarnya aku sudah lama memendam rasa kepada pangeran setelah dia menolongku di perbatasan hutan waktu itu." Dia mulai menceritakan.


"Perbatasan hutan?"


"Ya. Dia yang menolongku saat itu. Sejak saat itulah aku merasa jika aku menyukainya," katanya lagi.


Astaga!


Saat itu juga kusadari jika pria yang mendekatiku ternyata ada yang menyukainya lebih dulu. Dan itu adalah Jasmine.


Ya, Zu menyukaiku. Bisa dikatakan seperti itu. Tapi setelah mendengar penuturan Jasmine, aku sedikit ragu akan hubungan yang baru dimulai ini. Kisahku dan Jasmine tidaklah berbeda jauh. Aku juga ditolong oleh Zu dari dinginnya ruang bawah tanah Angkasa. Bedanya Zu memang menyukaiku, dia yang mengejarku. Sedang dengan Jasmine tidak. Tapi setelah mendengar pengakuan Jasmine, aku merasa tidak enak untuk melanjutkan hubungan ini.

__ADS_1


Aku terdiam sejenak. Memikirkan baik-baik apa yang harus kukatakan padanya. Dan mungkin Jasmine juga menyadari apa yang sedang kupikirkan ini.


"Em, maafkan aku. Tapi aku berharap kau dapat mengerti apa yang kurasakan," katanya lagi, memecah lamunan ini.


Ternyata benar dugaanku selama ini jika Mine memang menyukai Zu. Tapi saat itu juga aku berpikir, apa yang telah Zu perbuat hingga putri yang pernah disukai Cloud ini bisa jatuh hati kepadanya? Ya, Jasmine adalah seorang putri yang pernah membuat pangeran sulung Angkasa jatuh hati. Saat itu juga pikiran buruk mulai menyelimuti hatiku tentang Zu.


"Putri, nama aslimu siapa, ya?" tanyaku memastikan.


Dia menoleh ke arahku. "Apa kau ingin mengetahuinya?" tanyanya balik.


"Hm, ya. Aku pikir kita bisa berteman baik jika tidak ada yang disembunyikan," kataku lagi.


Dia tersenyum kecil. "Mungkin pangeran Zu sudah menceritakannya padamu." Dia lagi-lagi menunduk, namun kali ini sambil tersenyum.


"Em, mungkin ...." Tiba-tiba aku merasa kaku untuk melanjutkan pembicaraan ini.


"Namaku Jasmine. Hanya saja di sini namaku menjadi Mine atas permintaan nenek Lin."


"Nenek Lin?"


"Kalian sudah saling mengenal sebelumnya?" tanyaku lagi.


"Em, mungkin bisa dibilang seperti itu. Sebelum pertemuan kami, nenek Lin memang suka berkunjung ke Negeri Bunga."


"Negeri Bunga?"


"Benar, Putri. Aku adalah Jasmine dari Negeri Bunga. Aku putri bungsu negeri itu." Mine menuturkan.


"Lalu mengapa kau bisa sampai di sini, Putri?" tanyaku yang penasaran.


Seketika roman wajah Mine berubah. Dia seperti sedih sekali. Aku pun jadi tak enak sendiri. "Aku ... aku dibuang ibu tiriku."


"Apa?!"

__ADS_1


"Kau pasti kaget mendengar hal ini." Mine menoleh ke arahku.


Aku tidak menyangka jika akan mengetahui hal ini. "Em, maaf. Aku tidak tahu." Aku turut bersedih.


"Hm, tak apa. Kehidupan kerajaan tidaklah semanis yang dibayangkan. Terkadang tidak hanya di luar, tapi di istana juga sering terjadi saling serang antara pihak yang berlawanan."


"Maksud Putri?"


"Ya, seperti nasibku saat ini. Ibuku dituduh merebut ayah dari ratu. Sehingga ratu dan putrinya marah kepadaku."


"Maaf, Putri. Bisa ceritakan sejelas mungkin. Aku kurang mengerti," kataku penasaran.


Aku sengaja pura-pura tidak paham agar dia menceritakan lebih banyak tentang dirinya dan juga kerajaan Bunga. Aku merasa akan mendapatkan informasi menarik hari ini.


"Dewi, mari kita berangkat."


Tiba-tiba saja Zu datang sebelum kami sempat meneruskan pembicaraan. Zu datang bersama Shu dan juga ayahnya. Kulihat raja tengah digandeng mesra oleh putra bungsunya, Shu. Sehingga akhirnya aku pun mengakhiri pembicaraan ini bersama Mine. Mungkin lain waktu aku bisa menyelidiki keterkaitan semua ini.


.........


Sepertinya aku harus sedikit demi sedikit menyelidiki hal ini. Aku tidak bisa mencari tahu lebih cepat karena hal itu amat membahayakan keberadaanku dan juga hubungan di antara kedua negeri. Aku harus perlahan-lahan mendapatkan informasi.


Mungkin pepatah bagai pucuk dicinta ulam pun tiba cocok untuk disematkan kepadaku saat ini. Dulu saat tinggal di istana Asia, Jasmine sempat menceritakan hal ini kepadaku. Dan sekarang aku mendengarnya sendiri jika ada sesuatu yang pernah Rose lakukan terhadap Jasmine. Itu berarti memang benar-benar terjadi masalah di antara keduanya. Dan ratu berperan dalam hal ini.


Tidak mungkin bagi seorang ratu sembunyi-sembunyi membicarakan sesuatu kepada putrinya jika tidak takut masalah ini terbongkar. Mungkin saja raja tidak tahu hal yang terjadi sesungguhnya. Karena tidak mungkin ada ayah yang membiarkan putrinya celaka. Apalagi Jasmine sampai dibuang ke perbatasan hutan Asia dan Negeri Bunga. Benar-benar kejam sekali.


Lantas aku pun segera pergi dari tempat persembunyianku. Pelan-pelan melangkahkan kaki agar mereka tidak menyadari kehadiranku. Aku pun kembali ke kamar untuk meneruskan pekerjaanku. Semoga saja rancangan busana ketiga keluarga utama kerajaan bisa selesai hari ini. Sehingga aku bisa tidur nyenyak malam ini.


Malam harinya...


Malam yang cerah mengantarkanku ke sebuah hasil pekerjaan yang menakjubkan. Tidak sia-sia bekerja keras dua hari belakangan. Akhirnya pekerjaanku dalam merancang busana raja dan ratu beserta putrinya selesai sudah. Setelah bolak-balik menanyakan kemauan mereka, akhirnya fix juga. Aku pun sudah mengantongi rancangan busana mereka.


Hah ... akhirnya ....

__ADS_1


Segera kurapikan berkas rancanganku lalu kumasukkan ke dalam map. Setelahnya aku bergegas menuju rumah konveksi istana. Kulihat cuaca malam ini juga cerah dan berbintang. Sepertinya tidak akan turun hujan. Awan-awan berarak mendung tak kulihat di langit malam. Benar-benar cerah sekali malam ini.


"Salam, Nona. Nona mau ke mana?" Tiba-tiba seorang pelayan menyapaku saat baru keluar beberapa langkah dari istana.


__ADS_2