
"Kenapa?" tanya Cloud padaku.
"Cloud, aku tidak keberatan jika harus mengemban tugas itu. Tapi masalahnya, ada hal yang aku khawatirkan saat pergi ke sana." Aku mencoba mengutarakan isi pikiranku.
"Apa Ara? Katakan saja," pintanya.
Aku mengambil napas dalam. "Sebenarnya ibu ratu memintaku untuk berangkat hari ini. Tapi aku belum juga berangkat karena masih ingin membantu kalian. Apalagi kabar yang kudengar sepertinya amat mendesak. Yang Mulia juga masih harus banyak beristirahat. Aku khawatir kau akan kewalahan jika Rain pergi ke Terusa dan aku ke Bunga." Kuungkapkan kerisauan hatiku.
Cloud tersenyum. Senyuman manis yang menenangkan hati ini. Dia lantas memegang kedua tanganku. "Terima kasih, Ara. Terima kasih telah amat memedulikanku. Kau memang gadis yang kubutuhkan. Aku bahagia memilikimu," katanya lalu mengecup bergantian tanganku ini.
Aku tersenyum melihat kelembutannya. Tapi entah mengapa saat itu juga bayang-bayang Zu seakan terlintas di benakku. Bagaimana sikapnya, permohonannya dan juga hal yang terjadi di kamar kapal pesiar itu. Aku jadi merasa bersalah kepadanya. Aku seperti mengkhianatinya.
Cloud, maafkan aku. Aku tak mengerti mengapa semuanya bisa jadi seperti ini. Aku hanyalah menjalani peranku. Aku harap kau memaklumi jika suatu hari nanti mengetahui keadaan yang sebenarnya. Kalian mencintaiku, dan aku sangat berterima kasih atas cinta itu. Tapi, aku masih dilema saat teringat dengannya. Aku harus bagaimana?
"Ara, untuk saat ini Angkasa dalam keadaan aman. Jika kau mau ke Negeri Bunga, aku tak masalah. Asal ... jangan nakal di sana." Dia mencolek ujung hidungku.
"Cloud ...."
"Ini tugas kerajaan dan kau calon ratu Angkasa. Jika kau tidak keberatan, aku amat senang. Ya, anggap saja sebagai pembelajaran dalam bersosialisasi antar negeri. Semoga setelah ini kita bisa menjadi raja dan ratu yang disegani. Aku bangga padamu, Ara." Dia memegang erat tanganku.
Aku mengangguk, merasa bersyukur jika dia mampu mengemban semua tugas sendiri. Tapi tetap saja khawatir karena bagaimanapun lambungnya pernah bermasalah. Aku khawatir karena banyaknya pekerjaan membuatnya sampai lupa makan. Dan ini akan membahayakan kesehatan lambungnya.
"Cloud, jangan sampai telat makan, ya. Ingat lambungmu." Aku berpesan padanya.
Cloud mengangguk. "Kau adalah gadis berbakat yang pernah aku temui. Aku menyayangimu. Kita berjuang bersama-sama memajukan negeri ini ya." Cloud menggenggam erat tanganku.
Saat dia mengatakan kalimat itu, saat itu juga aku tahu maksudnya. Dia mendukungku dengan segala bakat yang aku miliki. Dia juga memintaku untuk menemaninya memajukan negeri ini. Dan itu memang sudah menjadi tugas seorang ratu.
__ADS_1
"Aku akan melakukan yang terbaik untuk negeri ini." Aku berjanji.
Cloud tersenyum. Dia lalu menarikku ke pelukannya. Aroma parfumnya tercium jelas di hidungku ini. Rasanya ingin selalu bersamanya, merasakan hangat kasih sayangnya. Namun, Cloud tidak mempunyai banyak waktu untukku. Dan aku harus menerimanya.
"Terima kasih, Ara. Terima kasih atas kesediaanmu membantuku." Dia memelukku lalu mencium keningku ini.
"Kakak—" Tiba-tiba saja Rain datang dan masuk ke dalam ruangan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Rain?!
Jantungku berdebar kencang dalam sekejap. Pangeran berjubah merah itu ternyata memergoki kami. Dia tampak terdiam melihat kebersamaan ini.
Ya Tuhan, bagaimana ini?
Kami pun terdiam dengan saling melirik. Keadaan menjadi canggung karena kepergok olehnya. Tapi kulihat Cloud tampak biasa-biasa saja. Dia seperti tidak merasa bersalah kepada adiknya.
Tak tahu harus bagaimana, aku jadi bingung sendiri menghadapi situasi ini. Jantungku berdebar kencang karena khawatir mereka akan berkelahi. Aku pun siap-siap untuk menjelaskan kepada Rain jika dia telah salah sangka terhadap hal yang terjadi.
"Sepertinya aku mengganggu."
Rain melangkahkan kaki mendekati kami. Saat itu juga jantungku semakin berdegup kencang tak terkendali. Rain melirik ke arahku sesaat lalu kembali menatap Cloud. Dia kemudian duduk di hadapan kami.
Astaga ... bagaimana ini?
Seperti seorang pencuri yang kepergok oleh pemilik rumah. Mungkin hal itu jugalah yang sedang kurasakan saat ini. Aku tak menyangka jika Rain tiba-tiba datang di tengah rapatnya. Dan kini aku pun menelan ludah di hadapannya.
"Rain, rapatmu sudah selesai?" tanyaku, mengalihkan perhatian.
__ADS_1
Rain melirikku sesaat. "Belum. Aku ke sini untuk mengantarkan ini kepadanya." Rain kemudian memberikan Cloud satu dokumen yang dia bawa.
Cloud mengambilnya. Aku pun mencoba ikut membacanya. Tenyata berisi keputusan sementara rapat pembagian tugas penjagaan Angkasa. Itu berarti tinggal selangkah lagi akan menghasilkan keputusan yang pasti.
"Wilayah timur dijaga dengan sangat baik. Administrasi pun telah terpenuhi di sana. Tapi di wilayah barat sepertinya harus ditambah pasukan penjaga. Terutama wilayah terdekat Arthemis. Karena bisa saja mereka menyerang tiba-tiba," tutur Rain kepada Cloud.
"Dari mana kau bisa mengambil kesimpulan seperti itu?" tanya Cloud serius. Dia sepertinya tidak menghiraukan apa yang Rain lihat tadi.
"Terusa ingin secepatnya menyatukan wilayah. Itu berarti wilayah Angkasa akan sampai ke negeri itu. Yang mana berbatasan langsung dengan Arthemis. Tentu saja penjagaan harus lebih diperketat. Karena bisa saja mereka melakukan tindakan anarkis setelah penandatanganan perjanjian penggabungan wilayah. Bukankah mereka tidak senang jika negeri ini menjadi negeri yang besar?" Rain menuturkan pada kami.
Percakapan yang terjadi amat serius. Aku pun mendengarkan dengan saksama percakapan di antara mereka. Sebisa mungkin mengerti permasalahan yang sedang terjadi. Sehingga bisa ikut membantu semampunya. Dan ya, kulaksanakan tugasku sebagai calon ratu negeri ini.
Aku bersikap logis terhadap permasalahan yang sedang dihadapi. Tidak boleh hanya mementingkan diri sendiri. Pertimbangan perlu dipikirkan matang-matang dan sebisa mungkin meminimalisir kesalahan. Dan aku akan membantu mereka semaksimal mungkin. Semoga saja semuanya lancar tanpa kendala.
Malam harinya...
Malam ini angin terasa kencang tak seperti biasanya. Langit pun berawan mendung dan tidak memperlihatkan bulan atau bintang. Namun, hal itu tidak menyurutkan kami untuk duduk bersama di ayunan teras atap kediaman Rain. Kami berpegangan tangan dengan mesra sambil bercanda ria. Seperti tidak menanggung beban sama sekali.
Putra bungsu kerajaan Angkasa ini rambutnya masih basah karena baru saja selesai mandi. Setelah melalui hari yang panjang, akhirnya dia bisa meluangkan waktu untuk bersamaku. Tentu saja hal ini kumanfaatkan sebaik mungkin untuk bertukar pikiran dan berbagi rasa. Tak terkecuali tentang surat masuk dari Negeri Bunga yang ditujukan untuk Angkasa. Rain pun menanggapinya.
"Jadi ibu memintamu ke Bunga?" Rain bertanya serius padaku.
"He-em." Aku mengangguk.
"Lalu bagaimana tanggapan kak Cloud?" tanyanya lagi.
Aku menjawab, "Cloud menyemangatiku untuk pergi ke sana. Dia menganggap hal ini sebagai saat yang tepat untuk unjuk bakat dan mengharumkan nama Angkasa. Dan aku menyanggupinya." Kukatakan terus terang kepada Rain.
__ADS_1