Dua Pangeran Satu Cinta 2

Dua Pangeran Satu Cinta 2
Shopping


__ADS_3

Pria tua itu mengangguk. "Ya. Semua wanita tanpa identitas resmi tidak diperbolehkan datang ke negeri ini. Bisa dibilang hanya dari kalangan bangsawan saja yang boleh singgah. Itupun harus bersama pasangan atau kedua orang tuanya. Jika sendiri, tidak diperkenankan." Dia menuturkan lagi.


Aku jadi merasa heran. "Em, maaf. Memangnya putri Jasmine ...?" Aku ingin tahu lebih lanjut lagi.


Pria tua itu menunduk. "Saya tidak bisa menceritakan lebih banyak, Nona. Saya khawatir akan terjadi masalah besar. Tapi ada satu hal yang bisa saya ambil dari kejadian yang tlah lalu. Yaitu cukup mempunyai satu pasangan hidup agar tidak terjadi masalah kedepannya. Itu saja." Dia mengatakan padaku.


Aku jadi berpikir dengan hal yang dia katakan ini. Tentu saja pikiranku tertuju jika ratu dan putrinya telah berbuat sesuatu kepada Jasmine sampai Jasmine tidak mau kembali pulang ke negerinya sendiri. Namun sayangnya, sesuatu itu belum kuketahui.


Aku jadi makin penasaran. "Paman, bisakah Paman ceritakan bagaimana sosok putri Jasmine kepadaku?" Aku mulai mencari tahu.


Pria itu menoleh sesaat ke arahku. "Putri Jasmine adalah anak dari ratu yang ke dua. Ratu ke dua ditimpa musibah saat putri masih remaja. Dia menderita penyakit hingga meninggal dunia. Tak sampai satu tahun dari kematian ratu, Jasmine pun dinyatakan hilang dari istana. Entah ke mana. Sampai saat ini kami tidak tahu ada di mana keberadaannya." Dia menceritakan.


Aku menelan ludah. Rasa-rasanya ada sesuatu masalah yang belum terungkapkan di Bunga. "Jadi ... ibu ratu yang sekarang ...?" tanyaku lagi.


"Dia istri pertama dari raja Flow. Yang Mulia memiliki dua istri yang jarak usianya tidak jauh. Awal pernikahan ratu pertama belum dikaruniai keturunan sehingga baginda mempersunting ratu baru. Tapi tak lama dari itu, ratu pertama hamil. Beberapa bulan kemudian ratu ke dua juga hamil. Sehingga putri Rose dan putri Jasmine jarak usianya tidak berbeda jauh." Kepala konveksi istana mengungkapkan padaku.


Saat itu juga aku mengerti apa yang terjadi di istana ini. Polemik yang terjadi sepertinya tidak jauh-jauh dari harta, tahta dan wanita. Seperti yang terjadi di Asia waktu itu, dimana aku memergoki sendiri apa yang telah ratu lakukan kepada raja. Pelan-pelan memberi racun kepada suaminya sendiri. Sungguh miris sekali.


.........

__ADS_1


Dari hasil pembicaraan kami tadi sore itulah aku menarik spekulasi tentang hal yang sebenarnya terjadi di istana ini. Dimana ratu yang sekarang mempunyai pengaruh besar terhadap kekuasaan. Sehingga setiap tindakan yang diambil kerajaan pasti ada campur tangan darinya. Itu berarti perjodohan yang dilakukan raja ke pihak Angkasa juga tidak terlepas dari keinginan ratu sendiri. Tidak salah lagi.


Di sisi lain aku jadi penasaran, di sini Rose berperan sebagai antagonis atau protagonis? Aku belum mengetahui kebenaran atas cerita mereka. Dan rasanya ingin sekali mengetahui langsung dari orangnya. Tapi hal itu tidak mungkin kulakukan. Karena kurang sopan jika menanyakan langsung hal ini kepada mereka.


Kehidupan di istana ternyata tidak seindah yang kukira.


Lantas karena tak ingin ambil pusing, aku segera mandi lalu mengistirahatkan tubuh ini. Aku ingin beristirahat sebelum menyusun daftar kerjaku lagi. Semoga saja malam ini bisa tidur nyenyak tanpa terganggu. Ya, aku berharap itu.


Esok harinya...


Burung berkicau terdengar menyambut pagi. Suara ayam jantan berkokok juga ikut menghiasi fajar ini. Aku pun terbangun sambil mengucek kedua mataku. Aku harus bekerja kembali agar semua tugas terselesaikan sebelum batas waktu. Ya, aku ingin cepat-cepat kembali ke Angkasa dan bertemu kedua pangeranku.


Lantas kulangkahkan kaki menuju kamar mandi sambil menggulung rambutku. Aku pun bergegas membasuh wajah agar tidak mengantuk lagi. Dan ya aroma jeruk segar menyambut kehadiranku.


Pagi ini aku akan membuat daftar keperluan apa saja yang harus kubeli di pasar untuk mendekorasi ruangan berkenaan dengan ulang tahun Rose. Daftar kerja sudah berada di tanganku sehingga tidak perlu menanyakan lagi apa tugasku di sini. Dan setelah selesai merancang baju untuk raja, ratu dan putrinya, aku merancang seragam untuk para pelayan istana. Sehingga setelah semuanya selesai, aku menuju ke tahap selanjutnya, yaitu mendekorasi ruang tengah istana dengan dekorasi ulang tahun yang cantik dan juga meriah. Tentunya aku harus membuat daftar perlengkapan yang dibutuhkan sebelum dipasang di ruangan.


"Hoaaam."


Dengan masih mengantuk aku pun mengambil kertas dan pena. Aku mulai menulis daftar keperluan untuk mendekorasi ruang tengah istana. Aku mulai fokus mengingat apa saja yang perlu dipersiapkan. Hingga tak terasa matahari sudah terbit saja. Aku pun membaca kembali daftar yang kutuliskan ini. Sepertinya sudah siap untuk kucari di pasar.

__ADS_1


Baiklah. Saatnya kita berbelanja.


Lantas aku mempersiapkan diri sebelum berbelanja di pasar. Aku akan ke pasar hari ini dan membeli semua keperluan yang dibutuhkan. Semoga saja pekerjaanku cepat selesai dan lancar tanpa kendala. Sehingga aku bisa pulang cepat ke Angkasa.


Beberapa jam kemudian...


Ramai. Itulah keadaan yang kulihat di pasar hari ini. Kini aku tengah berbelanja di pasar tradisional yang ada di Negeri Bunga. Dan kulihat pasarnya tertata rapi sekali. Di sepanjang jalannya juga terdapat pot bunga yang menghiasi. Indah dan juga bersih.


Aku ditemani oleh seorang pelayan kerajaan. Dia adalah asistenku kemarin. Namanya Lara, dia masih muda dan mungkin hanya berbeda tiga tahun saja. Dia juga cantik jelita. Namun sayangnya, penampilannya memang seperti seorang pelayan. Andai pihak istana mau mendandaninya sedemikian rupa, pastinya kecantikannya akan mengalahi putri sungguhan.


Ya, harus kuakui jika semuanya kembali lagi ke uang. Uang lah yang dibutuhkan untuk merubah penampilan. Begitu juga dengan diriku. Jika tidak ada kedua pangeran, tentunya tidak akan bisa mendapatkan fasilitas sekelas putri kerajaan. Namun, untuk pekerjaan ini aku sendiri tidak tahu dibayar seberapa besar. Aku hanya diperintah oleh ratu tanpa dijelaskan rincian pembayarannya. Dan sebagai calon ratu, aku menyanggupinya. Hitung-hitung berbaur dengan negeri lain untuk menciptakan kerja sama yang lebih baik lagi kedepannya. Aku ingin Angkasa mempunyai banyak saudara daripada musuhnya.


"Nona, sepertinya semua keperluan sudah terbeli. Saya akan memanggilkan kereta kuda agar kemari. Mohon Nona menunggu." Lara berpamitan padaku.


"Terima kasih, Lara. Tidak perlu terburu-buru. Aku ingin melihat sebentar apa saja yang ada di sini," kataku padanya.


Lara mengangguk. Dia mengerti maksudku.


Kereta kuda kami memang diparkirkan di halaman depan. Di dalam pasar tidak boleh berbelanja sambil membawa kendaraan karena bisa menyebabkan kemacetan. Kendaraan yang masuk hanya diperbolehkan untuk mengangkat angkutan. Itu pun tidak diizinkan lama. Setelah semua barang diangkut, harus segera keluar dari pasar. Alhasil pasar pun menjadi tempat yang nyaman karena lebar.

__ADS_1


__ADS_2