Dua Pangeran Satu Cinta 2

Dua Pangeran Satu Cinta 2
What's This?


__ADS_3

"Hahaha." Dia pun tertawa di sampingku.


Xi beranjak dari duduknya lalu memetik setangkai bunga mawar hitam yang tak jauh dari kami. Dia mencium bunga mawar hitam itu lalu kembali mendekatiku.


"Ini untukmu," katanya seraya memberikan bunga mawar hitam kepadaku.


Aku terperangah. "Untukku?" tanyaku tak percaya.


"Ya. Untukmu. Aku rasa kau mengerti apa artinya." Dia masih menantikanku menerimanya.


Karena bingung bercampur tak mengerti, akhirnya kuambil saja bunga mawar hitam pemberian darinya. Dia pun terlihat senang aku menerimanya.


"Tetaplah menjadi dirimu yang apa adanya, Ara. Karena aku menyukainya," katanya lalu tersenyum padaku.


"Pangeran ...." Aku pun beranjak berdiri.


Xi tersenyum padaku. Dia kemudian memutar tubuhnya, membelakangiku. Entah mengapa aku seperti tidak dapat berkata apa-apa. Kupegang bunga pemberian darinya seraya memegang map dekorasi dan penaku. Pada akhirnya dia pun pergi dari hadapanku. Tanpa kata, tanpa bicara.


Pangeran ....


Saat itu juga aku merasa aneh sekali. Aku merasa perlu mencerna ulang kata-katanya. Dia pun berbalik ke belakang kembali, melihatku. Dan kulihat dia tersenyum padaku. Senyuman manis dari sosok putra mahkota Arthemis. Apakah ini pertanda baik untukku?


Angin menjelang siang ini mengantarkan kepergian Xi dari hadapanku. Dia memasukkan kedua tangan ke saku celana seraya berjalan meninggalkanku. Di tengah taman istana dia tersenyum-senyum sendiri di sana. Seolah memberi isyarat kebahagiaan padaku.


Beberapa hari kemudian...


Cuaca hari ini terlihat mendung tidak seperti biasanya. Sepertinya hujan akan segera turun dan membasahi bunga-bunga di taman istana. Aku sendiri sedang mengecek kembali persiapan apa saja yang belum terpenuhi. Dan ternyata, semuanya sudah selesai dikerjakan.


Akhirnya ....

__ADS_1


Kulihat tatanan dekorasi ruangan di hadapanku ini sudah seperti keinginan putri. Warna merah dan hitam mendominasi dengan warna putih sebagai penghubungnya. Ruangan utama istana terlihat amat berbeda dari ruangan lainnya. Balon-balon berwarna-warni juga sudah menghiasi sekelilingnya. Tak jauh berbeda dari pesta ulang tahun mewah di duniaku. Ada balon, kado dan juga hiasan pesta lainnya. Sepertinya acara akan berjalan lancar malam ini.


Tak terasa seminggu lebih aku berada di sini. Tak terasa juga pekerjaanku sudah mau selesai saja. Lantas aku kembali menemui kepala dekorasi hari ini. Aku ingin mengatakan jika semuanya sudah sempurna. Namun, baru saja beberapa langkah, kudengar deru suara langkah kaki kuda yang datang. Dan ternyata kuda-kuda para pangeran berdatangan ke istana ini.


Astaga, mataku!


Entah ada berapa, sepertinya para putra mahkota dari banyak kerajaan telah datang ke istana. Aku pun menuju jendela untuk melihat lebih jelas apa yang ada di halaman istana. Dan ternyata, raja dan ratu sudah menunggu di teras depan untuk menyambut para pangeran yang datang. Tapi anehnya, kenapa aku tidak melihat putri kerajaan yang datang ke sini? Apakah hanya pangeran saja yang diundang?


"Hei! Sedang apa?!" Tiba-tiba ada yang menepuk bahuku dari belakang.


Aku menoleh. "Pangeran Xi?" Aku terkejut saat melihatnya sudah berada di hadapanku. "Em ...," Dia ikut melihat ke luar jendela. "Kau melihat mereka ya?" tanyanya padaku.


Tinggi tubuhku hanya setelinganya saja walaupun sudah memakai high heels. Tak tahu jika tidak menggunakannya, mungkin akan lebih pendek lagi. Xi memang pangeran bertubuh tinggi sama seperti kedua pangeranku. Yang membedakan hanya garis wajahnya yang lebih tirus. Sehingga terlihat lebih imut dari yang lainnya.


"Kau sendiri sedang apa? Menanti putri-putri datang kemari?" Aku balik bertanya padanya.


Dia tersenyum padaku sambil menahan tawa. "Bunga tidak akan mengundang banyak putri ke sini." Dia mengatakannya dengan yakin.


"Negeri ini lebih memprioritaskan pangeran yang datang. Mungkin jika ada putri yang datang, itu hanya beberapa saja. Tidak banyak." Dia meyakinkanku.


"Kau seperti tahu benar bagaimana negeri ini, Pangeran?" Aku menyelidikinya.


"Hahaha. Ya ... mungkin. Aku cukup tahu bagaimana negeri ini. Tapi tidak dirimu, Ara," katanya yang membuatku terdiam seketika.


Err, apa maksudnya?


Aku menelan ludahku saat dia berkata seperti itu. Aku jadi deg-degan kala dia mengatakan hal seperti tadi. Rasanya ingin lari saja.


"Pangeran, kau banyak bercanda." Aku pura-pura tersenyum padanya.

__ADS_1


Dia memegang lenganku. "Tidak. Aku serius," katanya yang membuatku terdiam seketika.


Beberapa hari belakangan ini kami memang sering bertemu karena dia ikut membantuku mendekorasi ruangan. Tapi aku fokus bekerja dan tidak terlalu memedulikannya. Rose juga ikut menemani, jadinya aku cuek saja. Namun nyatanya, setelah beberapa hari berlalu, kami bisa sedekat ini. Dan tentunya membuatku semakin khawatir sesuatu terjadi pada pertemanan kami.


Aku tersenyum, nyengir tak karuan lalu menepiskan tangannya yang memegang lenganku. "Pangeran, tanganku ini sering hilang kendali. Ada baiknya jangan sembarangan menyentuhku, karena aku bisa menamparmu kembali." Aku pura-pura tidak terjadi apa-apa di antara kami.


Xi terperanjat. Matanya terbelalak karena perkataanku. Dia pun menelan ludahnya seraya menatapku. Mungkin tak menyangka aku akan seberani ini.


"Ara, sebenarnya—"


"Pangeran Xi!!!" Tiba-tiba ada yang berteriak memanggilnya.


Tak tahu siapa, kulihat seorang wanita berjalan cepat ke arahnya. "Pangeran Xi, lama kita tidak bertemu." Wanita itu pun segera memegang lengan Xi lalu memeluknya.


Astaga! Astaga!


Aku tak percaya akan melihat pemandangan ini di depanku. Wanita ini begitu berani. Siapa dia?


Karena tidak ingin menjadi obat nyamuk. Aku pun lekas pergi dari hadapan mereka. Namun, saat melangkahkan kaki, saat itu juga Xi menahan tanganku. Dia memegang tanganku ini.


Pangeran ...? Aku pun melihat tangannya yang memegang tanganku. Dia ini ....


Aku tak tahu apa maksudnya. Tapi aku tidak mungkin mengganggu kebersamaan orang lain. Apalagi Xi kelihatan diam saja saat dipeluk oleh wanita itu. Seperti tidak ada pencegahan sama sekali. Mungkin hal ini sudah biasa baginya.


"Em, maaf. Aku masih harus bekerja. Permisi."


Lantas segera kulepas pegangan tangannya. Aku berlalu dari keduanya yang sedang bertemu. Namun, kulihat Xi tidak membalas sedikitpun pelukan dari wanita itu. Dia terlihat biasa saja. Aku juga tidak mau memedulikannya. Toh, bukan urusanku.


Lebih baik aku segera menemui kepala dekorasi lalu menyelesaikan tugas ini.

__ADS_1


Aku pun melangkahkan kaki menuju ruang kepala pelayan pria di istana. Dia juga kebetulan bertugas sebagai kepala dekorasi acara ulang tahun Rose. Ratu sendiri yang menunjuknya untuk membantuku karena aku sempat pingsan kemarin. Dan karenanya juga pekerjaanku jadi cepat terselesaikan. Semoga saja acara nanti malam bisa terlaksana dengan baik. Ya, semoga saja, agar aku bisa lekas kembali ke Angkasa.


Tetap semangat, Ara. Garis finis sudah di depan mata. Kedua pangeranmu sedang menunggu di Angkasa. Cepat selesaikan pekerjaanmu dan pulanglah dengan membawa kabar gembira.


__ADS_2