Dua Pangeran Satu Cinta 2

Dua Pangeran Satu Cinta 2
Like a Dream


__ADS_3

Aku terdiam, menunduk karena tidak tahu harus bicara apa. Lantas saja beranjak berdiri, keluar dari ruangan ini. Aku keluar untuk menghirup udara segar yang ada di sekitar. Aku pun menuju teras depan rumah pohon ini. Dan kulihat cahaya keungu-unguan mulai berganti. Pertanda fajar telah dilalui dan akan segera berganti pagi.


Pangeran, kenapa kau tidak bosan-bosan juga meminta hatiku?


Aku tak tahu harus berkata apa. Aku juga tidak bisa berlama-lama bertatapan mata dengannya. Kontak mata yang terjadi di antara kami seolah menggetarkan hati ini, untuk mengakui jika rasa cinta itu masih ada. Namun, aku tidak ingin mengakuinya. Aku masih ingin menutupinya dari diriku sendiri. Hanya ingin aku saja yang mengetahui perasaan ini. Jangan sampai ada orang lain yang mengetahuinya karena itu amat berbahaya.


"Ara ...."


Tiba-tiba saja kurasakan hangat tubuh seseorang memelukku. Aku pun menyadari jika Zu lah yang memelukku dari belakang. Dia melingkarkan kedua tangannya di perutku. Aku pun mencoba melepaskan tangannya. Namun, nyatanya tidak bisa. Zu memelukku dengan erat.


Jangan lagi, Pangeran. Hatiku ini sudah kacau balau dengan cerita cinta yang kualami. Jangan lagi kau meminta apalagi memohon hati ini. Tidak mungkin bagiku untuk bersamamu karena aku sudah terikat dengan kedua pangeran di sana. Aku berharap kita bisa berteman saja.


"Pangeran, lepaskan! Tidak enak jika ada yang melihatnya!" Aku mencoba melepaskan tangannya.


Dia menggelengkan kepala. "Tidak, Ara. Biarkan aku merasakan sejenak jiwaku kembali setelah hilang dari ragaku ini." Dia berbisik lembut padaku.


"Pangeran ...."


Saat itu juga aku tidak tahu harus bagaimana. Rasanya seperti menemui jalan buntu saja. Aku tak berdaya untuk melepaskan pelukannya. Sehingga akhirnya hanya bisa menikmati setiap pancaran energi cinta yang diberikannya. Pagi ini pun menjadi saksi atas hati yang goyah kembali. Maafkan aku kedua pangeranku. Dia masih juga mengejarku.


Satu jam kemudian...


Matahari mulai terbit di ufuk timur. Cahayanya menerangi hutan perbatasan ini. Aku pun bersiap-siap untuk memetik bunga malaikat. Katanya tak jauh dari rumah pohon berada. Tak tahu di mana gerangan, aku mengikut saja ke mana akan pergi. Aku menunggu Zu mengantarkanku sendiri.


Itu dia ....


Tak lama kemudian yang ditunggu pun datang. Kini putra mahkota Asia itu telah berganti pakaian dengan mengenakan seragam kerajaan berwarna biru tua. Dia mendatangiku yang sedang duduk menghangatkan badan di depan api unggun. Dan entah mengapa saat dia datang, aroma parfumnya itu membuatku ketagihan. Aku jadi ingin dekat-dekat dengannya.

__ADS_1


Baiklah, Ara. Fokus kembali dengan tujuanmu.


Tadi aku bingung harus berbuat apa saat dipeluknya. Hingga akhirnya hanya bisa diam dan merasakan setiap hela napasnya yang berembus mengenai rambutku. Tak berapa lama dia membenamkan wajahnya di bahuku. Aku pun jadi risih dengan sikapnya itu. Namun anehnya, aku tak berdaya untuk menolaknya. Seperti sedang dihipnotis saja.


Aku jadi teringat sebuah kisah di bumiku. Pernah terjadi di kampung tetanggaku. Dia adalah seorang kembang desa yang sangat cantik jelita. Dari berbagai kalangan sudah banyak pria yang mencoba melamarnya. Tetapi karena ingin menggapai pendidikannya terlebih dahulu, semua yang melamar itu ditolaknya. Hingga akhirnya dia jadi gila dan tak bersekolah. Pada akhirnya dia menikah juga dengan salah satu pria pilihan orang tuanya. Katanya sih untuk mengobati penyakit guna-guna.


Hal ini jugalah yang sempat terbesit di pikiranku. Banyak pangeran yang mencintaiku. Mungkin dengan kedua pangeran Angkasa aku tidak terlalu khawatir. Tapi dengan Zu, rasa takut itu ada. Bisa saja dia melakukan sesuatu untuk mendapatkan hatiku. Dan entah mengapa, memikirkannya saja aku sudah takut sekali. Aku jadi bingung harus bersikap bagaimana padanya. Sudah kutegaskan jika akan menikah, tetapi dia tetap saja menginginkanku.


"Ara, kau kedinginan?"


Zu mendekatiku yang sedang menghangatkan badan di depan api unggun. Aku pun hanya bisa mengangguk padanya.


"Ya Tuhan." Dia memegang dahiku. "Kau demam, Ara. Beristirahat saja ya." Dia memintaku.


Aku menggelengkan kepala. "Pangeran, tidak bisa. Kita harus segera mendapatkan bunga itu," kataku padanya.


Sejenak aku berpikir. Ternyata tidak mudah untuk mendapatkan bunga itu. "Tak apa. Kita berangkat sekarang ya," pintaku lagi.


Zu menatapku dengan iba. Dia kemudian meminta salah satu pasukan khususnya untuk mengambilkan mantel tebal. Dan tak perlu menunggu lama, mantel tebal miliknya diantarkan oleh pasukan khusus itu. Zu pun memakaikannya kepadaku.


"Sini pegang pundakku. Kita pakai kaus kaki juga ya."


Di kantong mantel ini ternyata ada kaus kaki dan juga sarung tangan tebalnya. Sepertinya memang sepaket dengan mantelnya. Lantas saja dia merendahkan tubuhnya di hadapanku. Dia memintaku untuk memegang pundaknya agar tidak jatuh saat dipakaikan kaus kaki. Dan tentu saja hal ini membuat hatiku semakin terenyuh. Baru kali ini ada seorang pria yang memperlakukanku seperti ini. Dan Zu melakukannya untukku. Aku bak seorang putri kerajaan yang begitu dicintai pangerannya. Aku beruntung sekali.


Pangeran, sudah hentikan usahamu! Aku ini calon istri kedua pangeran Angkasa!


Betapa sedih hatiku saat melihat Zu memakaikan kaus kaki itu. Satu per satu dia pakaikan ke kakiku. Rasanya ingin menangis saja. Aku tak tega dengan semua usahanya yang akan berakhir sia-sia. Dan kini tak hanya kehangatan yang kurasakan pada tubuhku, tapi juga hatiku. Hatiku seolah-olah mencair karena sikapnya.

__ADS_1


"Sudah. Sekarang kita bisa berangkat."


Dia berdiri di hadapanku seraya tersenyum. Gigi-gigi kecilnya seolah menyilaukan pandangan mata ini. Bibir merah mudanya juga ikut menghias senyumnya menjadi lebih indah lagi. Tak tahu mengapa mataku berkedut begitu saja. Rasa-rasanya air mata akan segera tumpah karena melihatnya.


"Pangeran, terima kasih." Dengan suara serak aku mengatakannya.


Dia mengusap kepalaku seraya tersenyum. "Sudah kewajibanku untuk melindungimu, Ara. Mari." Dia menjulurkan tangannya kepadaku.


Lagi, hatiku terenyuh dengan sikapnya. Hingga akhirnya aku pasrah menyambut uluran tangan darinya. Aku memegang tangannya dan dia pun menggenggam erat tanganku ini. Kami berjalan bersama menuju kuda yang telah dipersiapkan sebelumnya. Seolah tak peduli lagi dengan keadaan sekitar. Aku merasa dunia ini hanya ada aku dan dirinya. Mungkinkah ini hanya halusinasiku semata?


.........


Kau adalah udara yang kuhirup.


Gadis, kau adalah segala yang kubutuhkan.


Dan aku ingin berterima kasih kepadamu, Nona.


Kau adalah kata-kata yang kubaca.


Kau adalah cahaya yang kulihat.


Dan cintamu adalah segala yang kubutuhkan...


Kau adalah lagu yang aku nyanyikan.


Gadis, dapatkah kau menjadi segalanya bagiku?

__ADS_1


Dan aku ingin berterima kasih padamu, Nona...


__ADS_2