
Berbeda dengan Rain, Cloud lebih bisa kumaklumi kesibukannya. Mungkin suatu saat aku juga akan terbiasa dengan segala kesibukannya. Bisa saja aku tidak terlalu menginginkannya karena jarang bertemu. Dan mungkin suatu hari nanti aku bisa merelakannya. Karena waktu ke depan tidak ada yang tahu. Saat ini aku hanya menjalani apa yang ada di hadapanku saja.
Bagi seorang wanita amat membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari pria yang dicintainya. Jika hal itu tidak didapatkan, niscaya hati wanita bisa lemah dan berpindah arah. Maka dari itu seharusnya sebagai seorang pria menyempatkan diri dan waktunya untuk berduaan bersama wanita yang dicintai. Karena dengan komunikasi yang lancar dan baik, bisa membuat semuanya jadi terkendali. Termasuk isu-isu yang beredaran di luar sana.
Bagiku keduanya mempunyai kisah tersendiri. Begitu juga dengan Zu. Putra mahkota Asia yang tidak bisa kulupakan begitu saja. Terbukti aku pasrah saat diciumnya di kamar kapal pesiar itu. Setelah berulang kali mencoba melepaskan diri, akhirnya aku pasrah juga. Dan akhirnya ciuman lembut itu terjadi di antara kami. Kami pun saling menikmatinya.
Sepertinya tak lama lagi akan sampai di istana.
Kulihat dari kejauhan seperti ada tembok besar di ujung sana. Mungkin itu adalah istana negeri ini. Aku pun lekas-lekas berdandan rapi sebelum rombongan Angkasa memasuki area. Kupoleskan make up dan menyemprotkan parfum kesukaanku. Semoga kehadiranku bisa diterima dengan baik di sana. Dan tentu saja menjalankan tugas kenegaraan dengan sempurna. Aku berharap itu.
Sesampainya di istana Bunga...
Angin sore menyambut kedatangan kami di istana mungil ini. Kukatakan mungil karena istananya lebih kecil dari istana kedua pangeranku. Mungkin hanya sepertiga lapangan bola. Lebih kecil sedikit dari Angkasa. Dan di sekeliling istananya dipenuhi oleh bunga-bunga yang merekah indah. Tertata rapi sampai ke warna-warna potnya. Aku rasa tidak perlu mendekorasi ulang kecuali bagian dalam istananya. Karena kulihat keadaan luar istana sudah tampak begitu indah.
"Selamat datang Tuan Shane, Nona Ara." Seorang pria berjubah putih bermahkota emas menyambut kedatangan kami.
"Senang sekali bisa menyambut kedatangan tamu kehormatan dari Angkasa." Wanita bergaun merah dan bermahkota emas itu mendampingi dan menyambut kami.
Mereka adalah raja dan ratu negeri ini. Usianya tidak jauh berbeda dari raja dan ratu Angkasa. Hanya saja warna pakaiannya yang tak sama. Karena raja dan ratu Angkasa mengenakan baju kerajaan berwarna hitam dengan mahkota emas di kepalanya. Sedangkan raja dan ratu Negeri Bunga mengenakan pakaian kerajaan berwarna putih dan merah. Seperti warna bendera.
"Terima kasih. Suatu kemuliaan bagi kami disambut dengan semeriah ini."
Itulah kata-kata yang diucapkan oleh Tuan Shane saat membalas sapaan dari penguasa negeri ini. Begitu baku, formal dan juga indah didengar. Aku rasa harus banyak-banyak belajar tata bahasa lagi. Karena selama ini hanya seadanya saja.
"Nona Ara. Mata Anda terlihat kurang tidur. Mari kita meminum kopi sejenak." Ratu beralih kepadaku.
Eh? Mataku?
Saat itu juga kusadari jika dia memerhatikan penampilanku hari ini. Tentu saja aku kurang tidur. Semalam si hujan bergentayangan di atas tubuhku sampai aku lupa diri. Dan untungnya, semua masih bisa terkendali. Hah ... dia itu memang tidak pernah berubah. Bagai virus yang meracuni diriku. Tapi anehnya, aku mencintainya, tidak mau kehilangannya.
"Baik, Yang Mulia." Aku pun memenuhinya.
"Mari, silakan." Raja pun mempersilakan kami.
"Terima kasih." Tuan Shane pun mengiyakan.
Betapa senang hati ini saat disambut dengan baik oleh raja dan ratu Negeri Bunga. Aku sendiri tersenyum senang lalu melihat keadaan sekitar. Tentu saja julukan bunga memang pantas disematkan untuk negeri ini. Di mana luas wilayahnya sebagian besar memang dipenuhi oleh bunga-bunga yang indah. Dan aku pun ingin menanamnya di Angkasa. Semoga saja bisa.
__ADS_1
Lantas kami pun berjalan bersama memasuki istana. Sepanjang jalan kulihat Tuan Shane bercakap-cakap formal dengan raja dan ratu Bunga. Sedang aku kembali memfokuskan tujuan kedatanganku ke sini. Aku pasti bisa mengharumkan nama Angkasa. Karena aku adalah seorang pejuang.
Baiklah Ara. Sekarang kerjakan tugas kerajaanmu.
Sebagai calon ratu, tentu saja dengan sepenuh hati akan kujalankan tugas kenegaraan ini. Hanya saja dari Angkasa tidak membawa siapa-siapa selain Tuan Shane sendiri. Dan selama dua minggu ke depan pastinya dia tidak akan ikut tinggal di sini. Pekerjaannya masih banyak di Angkasa. Itu berarti aku harus tinggal sendiri di sini. Bekerja keras menjalin hubungan baik antar negeri.
Entah mengapa aku bisa diminta ke sini padahal sebelum-sebelumnya tidak pernah membayangkannya. Mungkin memang sudah suratan takdir yang dituliskan untukku. Jadi mau tak mau aku pun harus menjalaninya. Dan tetap berpikiran positif dalam setiap keadaan. Karena tidak mungkin sesuatu terjadi secara kebetulan. Pastinya ada sesuatu di balik semua ini. Entah apa, semoga itu yang terbaik untukku. Dan semoga saja tugas ini bisa kulakukan dengan baik.
Aku bersemangat. Ya, harus bersemangat dalam menjalani hari. Toh, hidup hanya sekali. Jadi apapun yang ada, harus dinikmati. Suka atau duka itu biasa. Seperti pasang-surut di lautan. Tapi semoga saja akan selalu ada jalan keluar di tengah kesulitan.
.........
Aku tersesat dan sendirian, mencoba untuk terbiasa.
Membuat jalanku menyusuri jalan panjang berliku itu.
Tidak punya alasan, tidak ada rima, seperti sebuah lagu yang kehabisan waktu.
Dan dulu kau ada di sana, berdiri di depan mataku.
Bagaimana bisa aku menjadi orang yang begitu bodoh?
Gadis, ketika kau berjalan keluar dari pintu itu.
Meninggalkan sebuah lubang di hatiku.
Dan sekarang aku tahu dengan pasti...
Kau adalah udara yang kuhirup.
Kau adalah segala yang kubutuhkan.
Kau adalah kata-kata yang kubaca.
Kau adalah cahaya yang kulihat.
Dan cintamu adalah segala yang aku butuhkan...
__ADS_1
Aku sia-sia mencari.
Memainkan sebuah permainan.
Tidak punya orang lain selain diriku yang tersisa untuk disalahkan.
Kau datang ke dalam duniaku.
Bukan permata atau mutiara.
Yang pernah bisa mengganti apa yang telah kau berikan padaku, Gadis.
Sama seperti istana pasir.
Gadis, aku hampir saja membiarkan cinta jatuh dari tanganku.
Dan sama seperti sebuah bunga yang membutuhkan hujan.
Aku akan berdiri di sisimu melewati kegembiraan dan rasa sakit.
Kau adalah udara yang kuhirup.
Kau adalah segala yang kubutuhkan.
Kau adalah kata-kata yang kubaca.
Kau adalah cahaya yang kulihat.
Dan cintamu adalah segala yang aku butuhkan.
Kau adalah lagu yang aku nyanyikan.
Gadis, dapatkah kau menjadi segalanya bagiku?
Dan aku ingin berterima kasih padamu, Nona.
.........
__ADS_1
...Bagian Kedua Tamat...