Dua Pangeran Satu Cinta 2

Dua Pangeran Satu Cinta 2
I Wanna Say


__ADS_3

"Rain, kau dari mana?" tanyaku seraya beranjak berdiri.


Kami berdiri berhadapan di tepi kolam. Dan kulihat raut wajahnya lelah sekali. Aku pun mencoba mengusap keringat di dahinya. Tapi saat itu juga dia memegang tanganku.


"Ara, ibu mencarimu. Aku tidak tahu jika Zu mengantarkanmu sampai ke istana. Bagaimana keadaanmu sekarang? Apakah dia berbuat macam-macam padamu?" tanyanya segera.


Aku tersenyum. Geli rasanya saat mendengar dia menanyakan hal itu. Rainku tidak pernah berubah dari dulu. Dia selalu saja over protektif terhadapku. Dan ya, aku menyukai sikap protektifnya walaupun terkadang kesal sendiri. Aku pun segera memeluknya, menghirup dalam-dalam aroma parfumnya yang telah tercampur dengan keringat. Kusadari jika dia amat memedulikanku.


"Aku baik-baik saja, Rain. Dia tidak berbuat macam-macam padaku."


Kurebahkan kepala ini di dada bidangnya. Saat itu juga kudengar detak jantungnya yang perlahan stabil. Sepertinya dia telah merasa tenang sekarang.


"Ara, maaf. Aku tidak tahu jika kau akan pulang saat aku harus pergi mengecek wilayah sungai. Syukurlah kalau kau baik-baik saja."


Dia membalas pelukanku dengan melingkarkan kedua tangannya di punggungku. Tangannya pun mengusap-usap kepalaku ini. Rasanya tenang sekali. Harus kuakui jika aku menyayanginya. Tak tahu apa yang akan terjadi nanti jika sampai kehilangannya. Selama ini dialah yang selalu ada untukku. Menjagaku dari kerasnya dunia.


Rain, aku rindu sekali.


Sesibuk apapun dirinya, Rain tetap berusaha meluangkan waktunya untukku. Kami seperti berada di satu frekuensi yang sama. Dalam cinta kasih yang direstui semesta. Aku pun ingin sekali kami terus selalu seperti ini. Saling menyayangi dan mengerti satu sama lain. Ya, walaupun terkadang aku harus tak mengindahkannya karena sesuatu. Itu juga bukan tanpa alasan. Karena kuyakin Rain lebih memahamiku.


"Ara."


"Hm?"


"Aku belum mandi. Kau mau mandi bersamaku?" tanyanya tiba-tiba. Segera saja kulepaskan pelukanku darinya. Saat itu juga dia terkejut. "Ara?" Dia tampak terheran dengan sikapku.


Dia ini. Baru juga dipuji, mesumnya sudah keluar. Dasar hujaaan!

__ADS_1


"Ara, kau baik-baik saja?" tanyanya yang masih terheran dengan sikapku.


Aku pun menghela napas dalam. "Rain, apa kau tidak berpikir jika Cloud datang dan melihat kita mandi bersama?" tanyaku ingin mengetahui responnya.


Seketika itu juga dia menundukkan kepalanya. "Iya juga ya. Si bodoh itu selalu saja iri padaku. Tapi ya sudah. Biarkan saja dia datang. Asal..."


"Rain! Turunkan aku!"


"Asal kita mandi dulu."


Rain tiba-tiba menggendongku. Kupikir dia merasa khawatir jika Cloud tiba-tiba memergoki kami. Tapi nyatanya, tidak. Dia malah menggendongku ke kamar mandi yang ada di rumah ini. Dia begitu berani bersaing dengan kakaknya sendiri. Padahal di tengah situasi yang sedang sulit seperti ini. Tapi ya, namanya juga hujan. Datang tanpa diundang dan bisa berhenti kapan saja. Tinggal akunya yang sabar-sabar menghadapinya. Bukankah kami sudah ditakdirkan bersama?


Sepuluh menit kemudian...


Aku cepat-cepat keluar dari kamar mandi karena si hujan mulai merusuh di dalam. Dan kini dia masih menghidupkan shower air untuk membersihkan tubuhnya. Dia itu memang tidak pernah berubah. Selalu saja menunjukkan sisi nakalnya saat kami berdua. Dan pada akhirnya dadaku ini terkena tato gratis darinya. Dia menghakpatenkan apa yang masih menjadi milikku ini.


Aku panik. Jelas saja panik karena ada tanda merah di dekat belahan dadaku. Siapa lagi pelakunya kalau bukan si hujan itu. Dia menarikku lalu mengunciku di dalam kamar mandi. Hingga akhirnya tubuh kami berdekatan sekali. Di saat itu juga dia menghidupkan shower air untuk menciptakan suasana yang lebih menggairahkan. Aku pun tergoda untuk mengikutinya. Sampai akhirnya kusadari jika ada yang tak beres dengannya. Aku pun segera lari dan menyelamatkan diri.


"Dia itu. Tidak pernah berubah."


Lantas kucari krim untuk menyamarkan tanda merah di dadaku ini. Aku pun dengan cepat mengenakan gaun serba panjang agar dia tidak nakal lagi. Karena Rainku itu memang nakal. Dia tidak bisa diam jika melihatku sedang menganggur. Ada saja keinginan dari hasratnya yang memintaku untuk memenuhinya. Tapi sayang waktunya belum tepat. Sehingga aku masih menahannya.


"Lumayan, bisa sedikit tersamarkan."


Sampai detik ini aku masih bersikeras untuk mempertahankan diri dari hasratnya yang menggebu-gebu. Walau kutahu pasti dia akan mempertanggungjawabkan perbuatannya kepadaku. Tetapi tetap saja janji suci itu belum diucapkan. Sehingga semampu mungkin aku menahan diri darinya. Aku tidak boleh melepas satu-satunya sesuatu yang paling berharga dalam hidupku. Aku ingin ikatan resmi terlebih dahulu baru menyerahkannya. Dan aku harap Rainku sabar menunggunya.


"Hah ...."

__ADS_1


Kuhela napasku lalu segera menyisir rambut. Kebetulan di kamar ini sudah tersedia segala macam kebutuhan wanita. Jadinya aku tinggal mengambilnya saja. Cloud mempersiapkan rumah ini untuk kami berumah tangga. Tapi nyatanya, dia diserobot adiknya.


"Gaunnya indah."


Aku berdiri di depan cermin lalu berpose ria menggunakan gaun yang kukenakan. Gaun terusan berbahan dasar halus dan lembut seperti sutra. Lengan gaunnya juga panjang dengan bagian dada yang tertutup. Sehingga aku bisa menyembunyikan tanda ini sebelum ada yang melihatnya. Aku tidak boleh membiarkan siapapun melihatnya karena hal itu amat berbahaya.


"Pakai make up minimalis saja."


Setelah mengenakan gaun, aku memoleskan make up tipis pada wajah dengan lipglos berwarna peach. Hari sudah akan menjelang malam, jadinya kugunakan make up yang tipis-tipis saja. Tak lupa kusemprotkan parfum beraroma menenangkan sebelum bergegas keluar kamar. Karena jika menggunakan parfum favoritku, bisa-bisa si hujan turun deras. Siapa lagi kalau bukan si bungsu Rain itu.


"Ara, buka pintunya!" Tiba-tiba suaranya memanggilku.


Rain mengetuk pintu kamar. Sepertinya dia baru saja selesai mandi. Dan ya, aku bergegas membukakan pintu. Dia pun segera masuk ke dalam kamarku. Dia masuk lalu membuka lemari pakaian. Dia ingin mengenakan pakaian milik Cloud.


"Rain, apa yang kau lakukan? Itu punya Cloud." Aku khawatir.


"Pakaian kerajaanku harus dicuci terlebih dahulu, Ara. Aku pakai punya kak Cloud saja," katanya, lalu mengambil sweter dan celana panjang milik Cloud.


"Kau yakin?" Aku merasa khawatir.


"Ya, tentu saja." Dia dengan mudah mengatakannya.


"Hei, bagaimana jika dia melihatnya dan bertanya padamu? Pastinya dia akan berpikiran yang aneh-aneh." Aku memperingatkannya.


Rain segera mengenakan pakaian kakaknya di depanku. "Jangan khawatir. Nanti aku bilang saja sedang mampir ke sini." Dia segera menyisir rambutnya.


Rambut Rain masih basah. Dan kini dia sudah mengenakan sweter krim dan celana gunung panjang milik Cloud. Dia tampak gagah dan rupawan. Rasanya aku ingin memeluknya saja. Dia begitu memukau pandangan mataku. Dialah hujanku, Rain Sky.

__ADS_1


__ADS_2