
"Ara ...."
Kulihat sinar matanya seperti menginginkanku sepenuhnya. Aku pun menarik napas dalam karena terkunci di bawah tubuhnya. Jika dia ingin memintaku malam ini, tentu saja aku tidak bisa melawan. Mungkin dia juga sudah mengondisikan istana sehingga pasukan khusus yang ditinggal Cloud tidak dapat berjaga. Bisa saja dibuat mabuk hingga tak sadarkan diri lagi. Sehingga aku tidak bisa meminta pertolongan mereka dari keadaan ini.
Pangeran, kenapa kau masih bersikeras untuk mendapatkanku?
Aku tak tahu pasti apa yang terjadi di luar kamar. Tapi rasanya sepi sekali. Tidak ada orang ataupun pelayan yang lewat kamarku. Rasanya malam ini aku akan dimilikinya.
"Pa-pangeran, bisakah kau bangun dari atas tubuhku?" tanyaku padanya.
Zu menelan ludahnya. Dia terus memperhatikan apa yang ada di wajah ini. Gerakan bola matanya seolah menyiratkan keinginan besar untuk memilikiku. Namun, aku selalu saja menghindar. Dan kini aku terperangkap di bawah tubuhnya. Kedua lengan kekarnya berjaga di sisi kiri dan kananku. Aku tak bisa lari lagi.
"Ara, apakah ... di hatimu sudah tidak ada lagi namaku?" tanyanya pelan seraya menatap mata ini.
Kontak mata terjadi lagi di antara kami. Bola mata hitam yang bulat sempurna itu seolah mendominasi penglihatanku. Aku pun merasa bingung untuk menjawab pertanyaannya. Lidahku juga ikut berkeluh untuk menjawab iya. Tidak mungkin mengatakan jika di hatiku sudah tidak ada namanya, karena benih-benih cinta itu nyatanya masih ada.
"Ara ...?" Dia bertanya lagi.
Suaranya terdengar rendah sekali. Wajahnya juga sangat dekat dengan wajahku. Jarak kami hanya sekitar satu jengkal saja. Hangat napasnya pun kian terasa menerpa permukaan pipi ini. Jantungku seperti sedang berdansa cepat di dalam sana. Aku tak karuan dibuatnya. Sungguh hal ini tidak boleh terjadi pada kami.
"Pangeran, aku sudah berulang kali menegaskan jika aku—"
"Ara." Dia menyela perkataanku. "Jangan katakan itu lagi. Kumohon," pintanya dengan tatapan memohon.
__ADS_1
Aku diam karena tidak tahu harus bagaimana lagi. Saat itu juga dia membelai rambutku dengan jari-jemarinya. Dia melakukannya dengan sangat lembut sekali. Disingkapkannya rambutku ini ke belakang telinga hingga membuatku geli dan mengangkat bahu. Zu pun seperti menikmati ekspresiku ini.
"Aku ingin kau menjadi milikku, seutuhnya. Sekarang dan selamanya, Ara."
Wajahnya semakin mendekati wajahku. Napasnya terdengar berat, detak jantungnya pun terdengar melambat di telinga ini. Aku merasa jarak di antara kami sudah semakin dekat saja. Tidak ada satupun yang dapat menghalangi.
Ini terlalu dekat. Kami tidak boleh seperti ini.
Aku menelan ludah berulang kali. Akankah malam ini terjadi peristiwa yang tidak akan pernah kulupakan di sepanjang hidupku? Sungguh aku takut jika Zu sampai melakukan hal itu, sedang aku tak kuasa untuk menolaknya. Aku sendiri di sini, tanpa Rain ataupun Cloud yang menemani. Zu mempunyai kuasa tidak hanya di ruang lingkup istana, tapi juga negerinya. Hal apa yang bisa membuatku menolaknya?
Astaga ... kenapa aku tidak bisa memikirkan jalan keluarnya?
Otakku seolah tidak dapat berpikir. Jantungku semakin berdetak kencang. Napasku pun terasa berat. Zu mulai mendekatkan bibirnya ke bibirku. Semakin lama, semakin dekat. Aku pun tak kuasa untuk menolak kehendaknya. Tubuhku seperti kaku dan tidak bisa digerakkan. Lantas sekuat tenaga aku berusaha agar hal ini tidak terjadi pada kami.
"Pangeran, kita tidak boleh ...."
Pangeran, sudahi usahamu ....
Dadaku naik-turun dibuatnya. Aku memejamkan mata karena tak ingin melihatnya marah. Aku tahu dia pasti kecewa dengan sikapku. Tapi aku harus menjaga diri semampu mungkin, sekeras mungkin. Biarlah yang berlalu pergi dari kehidupanku. Aku tidak boleh terikat dengan masa lalu. Aku harus bangkit dan menata kehidupan ini. Walau kutahu bayang-bayang cintanya masih menyelimuti hatiku.
"Ara, kau menolakku lagi."
Napasnya terdengar berat seperti menahan kesal. Sedang aku hanya bisa diam di bawah tubuhnya. Mencoba membuka mata lalu melihatnya. Dan kulihat dia masih belum beranjak dari tubuhku. Bibirnya pun masih menempel di leher ini. Rasanya geli sekali. Tapi sayang aku tidak bisa melarikan diri.
__ADS_1
"Pangeran, tolong lepaskan aku," pintaku padanya.
Zu segera mengangkat wajahnya. Dia melihat wajahku ini. Dia menatapku dengan sorot mata yang penuh kecewa. Tak lama kemudian dia beranjak bangun dari atas tubuhku.
"Kita berangkat ke Angkasa sekarang."
Dia pergi. Berlalu membuka pintu lalu bergegas keluar dari kamar. Aku yang masih berada di atas kasur pun ditinggalkannya begitu saja. Sepertinya dia marah besar kepadaku.
Maaf, Pangeran. Aku tidak bisa. Maafkan aku ....
Bukannya tidak tahu terima kasih terhadap segala kebaikannya dulu. Tapi harus ada yang kujaga sekarang. Sehingga sebisa mungkin tidak mengkhianati apa yang kujaga itu. Walau kutahu pasti ada satu pihak yang akan tersakiti karena sikapku. Tapi setiap perbuatan pasti memiliki risiko tersendiri. Dan aku sadar benar akan hal itu.
Lantas aku pun beranjak bangun lalu segera bersiap-siap untuk kembali ke Angkasa. Aku mencoba melupakan hal yang baru saja terjadi. Aku tidak ingin mengingatnya lagi.
Perjalanan pulang ke Angkasa...
Udara terasa amat dingin menusuk kulit. Aku pun harus mengenakan pakaian berlapis agar tidak merasa dingin. Kebetulan sedikit alergi terhadap cuaca dingin. Napasku itu seperti tersumbat jika suhu sekitar menurun. Sehingga harus mengakalinya dengan menggunakan kaus kaki dan juga pakaian yang berlapis.
Saat ini kami sudah sampai di sepertiga jalan menuju Angkasa. Mungkin tak lama lagi akan tiba di pelabuhan barat Asia. Entah sudah jam berapa sekarang, sepertinya hari telah berganti. Aku pun lebih merapatkan jaket bulu domba yang kupakai ini agar tidak kedinginan. Maklum alergi.
Dia ngambek padaku.
Sejak kejadian tadi sampai detik ini, aku dan Zu belum bertegur sapa sama sekali. Kami duduk di dalam kereta kuda dan hanya sekedar saling mengembuskan napas saja. Tidak ada suara, tidak ada kata. Aku pun diam di sisinya karena sibuk sendiri. Aku kedinginan jadi tidak memedulikan yang lain lagi.
__ADS_1
Aku juga tidak tahu mengapa malam ini terasa begitu dingin sekali. Apakah ini respon tubuhku karena didiamkan olehnya? Entahlah, aku rasa tidak perlu terlalu memikirkannya. Toh, aku sudah mempunyai kedua pangeran Angkasa.
Zu mengembuskan napasnya dengan kuat. Dia seperti menahan kesal padaku. "Masih ingin berdiaman seperti ini?" Dia akhirnya membuka percakapan di tengah perjalanan kami.