Dua Pangeran Satu Cinta 2

Dua Pangeran Satu Cinta 2
I Want You


__ADS_3

Rain terdiam sejenak. Pria bersweter putih di sampingku tampak memikirkan hal yang kukatakan. Sepertinya dia mempunyai tanggapan lain tentang hal ini. Atau hanya perasaanku saja?


"Sepanjang aku di istana, aku tidak pernah melihat ibu pergi sendirian ke luar negeri selain bersama ayah. Hal ini terasa sedikit aneh bagiku." Rain mengungkapkan.


"Aneh?"


"Ya. Bagaimana bisa kau dibiarkan pergi tanpa aku atau kak Cloud, sedang kau adalah calon istri kami?" Dia mengajak ku berpikir.


Aku terdiam. Sejujurnya sempat merasakan hal yang sama. Tapi aku mencoba berpikiran positif dan melihat dari sisi baiknya. Terlepas dari benar atau tidaknya tujuan ratu memintaku untuk ke Negeri Bunga.


"Ara." Rain memegang tanganku.


"Ya?"


"Negeri Bunga adalah negeri dengan lebih banyak penduduk wanita dibandingkan pria. Perbandingan pria dan wanita sangat jauh di sana. Mungkin lima banding satu." Rain mengungkapkan.


"Kau serius, Rain?" Aku tak percaya.


Rain mengangguk. "Biasanya negeri-negeri dari barat berdatangan ke sana untuk melihat eloknya para gadis yang ada di negeri itu. Tak terkecuali juga putra mahkota. Terkadang ada perkumpulan dari barat yang singgah dan berpesta pora," kata Rain lagi.


Pesta pora? Apakah yang dimaksud Rain ...?


"Jika kau di sana, jangan kaget bila menemukan suatu pemandangan yang tak biasa. Para wanita dari kalangan remaja bahkan sampai dewasa sudah terbiasa memamerkan lekuk tubuh indahnya. Mereka tidak segan untuk menarik mata pria dengan keelokan tubuh mereka." Rain seperti sangat tahu bagaimana negeri itu.


"Hei! Hei! Hei! Kau seperti sangat tahu. Apakah kau juga sudah pernah ke sana? Atau ... jangan-jangan pernah tergoda dengan gadis yang ada di sana?" Aku menyelidiki.


Seketika itu juga Rain menjitak kepalaku dengan kepalan tangannya. Saat itu juga kutahu jika apa yang kupikirkan adalah salah. Namun, jitakannya seolah memberi arti lain padaku. Entah mengapa aku malah merasa disayang olehnya.


"Aw!" Aku pun memegangi kepala ini.


"Aku tidak tertarik dengan wanita yang suka memamerkan bentuk tubuh di hadapan banyak pria, Ara. Aku suka yang masih murni dan terjaga. Karena aku juga seperti itu." Dia mengatakan dengan amat yakin kepadaku.


"Ah, yang benar? Bukannya kau ini mesum ya?" tanyaku, menggodanya lagi.

__ADS_1


Saat itu juga Rain melirik tajam ke arahku. "Kau macam-macam denganku Ara."


"Rain!"


Tiba-tiba saja Rain menggendongku. Gendongan ala pengantin yang membuatku merasa akan segera dihakimi olehnya. Dia lantas menuruni anak tangga dari teras atap paling atas rumahnya. Dia melangkahkan kaki menuju ke sebuah ruangan yang ada di bawahnya. Dia membuka pintu, menghidupkan lampu, lalu menguncinya dari dalam. Aku pun diturunkan olehnya setelah pintu terkunci. Saat itu juga aku bergidik sendiri.


"Nona Ara yang kucintai. Aku memang mesum. Tapi percayalah, semua kemesuman itu hanya kulakukan padamu. Tubuhku ini hanya bereaksi saat berada di dekatmu." Dia mengatakannya.


"Dan kau juga pencemburu?" tanyaku.


"Tentu saja. Seperti kejadian tadi sore, jika bukan karena kakakku, pasti sudah kutebas kepalanya karena berani menyentuhmu." Dia menegaskan.


Saat itu juga aku menelan ludahku sendiri. Kata-katanya begitu menakutkan bagiku. Sepertinya aku juga harus berhati-hati dengannya. Karena dia adalah panglima tinggi di istana. Salah sedikit bisa mendapat hukuman yang berat.


"Ara."


"Rain?!"


Rain menyandarkan tubuhku ke dinding. Kedua tangannya berada di samping tubuhku. Dia mengunciku agar tidak lari. Dan aku hanya bisa diam menatapnya.


"Kau telah memporak-porandakan kekerasan di hatiku. Maka jangan mengira aku pernah melakukannya dengan gadis selain dirimu. Sungguh, hanya dirimu yang bisa membuatku menyerahkan kehormatan ini. Tidak hanya itu, kau jugalah yang mampu menundukkan seorang panglima tinggi istana. Kau segalanya bagiku, Ara." Rain menjelaskan dengan baik bagaimana dirinya kepadaku.


Aku tersenyum. Tentu saja hal yang dia ucapkan membuat hatiku senang. Lantas di ruangan sempit berukuran 2x2 meter ini aku menghambur ke pelukannya. Kutatap paras tampannya dan kutatap dalam bola mata birunya. Kunikmati getaran-getaran di dalam tubuhku yang mulai bergejolak. Aku menginginkannya malam ini.


"Rain, aku mencintaimu." Tanpa malu aku mengungkapkan padanya.


Dia tersenyum, membungkukkan sedikit badannya untuk meraih sesuatu.


Rain ....


Dia kemudian mencium bibirku. Kurasakan lembut bibirnya menyentuh bibirku. Hangat napasnya pun berpadu dengan hangat napasku. Dia menyapu bibirku, menekan-nekannya dengan lembut seolah meminta izin untuk beradu. Kedua tangannya pun mulai menyusuri kedua lenganku.


Rain ... rasanya beda sekali.

__ADS_1


Semilir angin yang masuk lewat ventilasi kecil di ruangan ini seolah memberi sensasi tersendiri pada kami. Aku pun mulai terbawa suasana yang dia berikan padaku. Perlahan kulingkarkan kedua tangan ini di lehernya, sedang Rain mulai meraih tengkuk leherku.


Napas kami mulai memburu. Detak jantungku berpacu lebih cepat dibandingkan tadi. Rain pun semakin mendekatkan tubuhnya kepadaku.


Dia menarik pinggulku ini agar lebih menempel dengan tubuhnya. Sentuhan lembut dari bibirnya memaksaku untuk menyerah. Aku pun mulai mengikuti permainannya. Rain mengajak ku beradu lidah.


Rain ... aku milikmu ....


Kuturuti kemauannya dan kunikmati saat lidah kami berpadu. Saling beradu dengan pelan hingga kelembutan itu memunculkan sensasi yang begitu menyenangkan. Sesekali dia pun menarik lidahku ini dengan bibirnya. Saat itu juga pikiranku mulai melayang ke angkasa. Dia mendominasiku.


Rain.


Aku semakin tak terkendali. Ditambah lagi penekanan-penekanan yang dia berikan pada perutku. Aku jadi semakin menginginkannya.


Miliki aku, Rain.


Rain kemudian menyudahi ciumannya. Dia beralih ke telingaku. Menggigitnya kecil seraya meremas pinggulku ini. Aku pun melenguh tertahan di hadapannya. Tubuhku terasa aneh sekali. Seperti bergetar sendiri. Bibirnya pun kemudian menyusuri leherku. Mengecupnya dan sesekali menjilatnya. Jilatan kecil yang menggetarkan seluruh saraf di tubuh ini. Dia berhasil mengendalikanku.


"Rain ... emhh."


Aku meremas sweter belakangnya. Cairan kimia dari dalam tubuhku mulai bereaksi karena ulahnya ini. Rain pun masih terus mencumbuku. Napasnya terdengar memburu seperti menginginkanku.


"Ara ...."


Sungguh aku merasa aneh sekali. Aku menginginkan hal yang lebih dari ini. Aku terhanyut oleh belaian lembut darinya. Aku tergoda untuk melanjutkannya. Namun, Rain tiba-tiba menyudahinya.


"Rain?" Tatapan mataku begitu sayu, terpantul di bola mata birunya.


"Kau menginginkannya, Sayang?" tanyanya seraya mengusap lembut pipiku ini.


Aku mengangguk.


"Kau menginginkan aku?" tanyanya lagi.

__ADS_1


Lagi-lagi aku mengangguk seraya menutup mulut dengan tanganku. Aku tidak mau ada yang mendengar suaraku ini.


Rain tersenyum. Dia lalu berbisik ke telingaku. "Aku bisa memberikannya malam ini. Tapi, sudah siapkah kau menjadi seorang ibu?" tanyanya lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggulku.


__ADS_2