
Cloud masih mempunyai banyak urusan di Angkasa sehingga dia tidak bisa menemaniku sampai berhasil mendapatkan bunga itu. Cloud juga harus mengantikan raja mengurus semua administrasi negeri selama raja belum tersadarkan dari komanya. Dan hal itu pastinya amat menyita waktu. Aku pun mencoba memakluminya. Mungkin jika sudah menjadi ratu, aku akan mengangkat beberapa menteri untuk meringankan pekerjaannya.
Ya, pekerjaan Cloud amat menyita waktu kesehariannya. Bahkan terkadang dia tidak sempat untuk beristirahat. Makan juga sering telat karena terlalu fokus dengan banyak pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Dan sebagai calon pendamping hidupnya, aku harus mengerti benar bagaimana kesibukannya. Karena dari kesibukannya itulah kelak kami akan menghidupi anak-anak nanti. Dan aku berharap dia selalu sehat, sejahtera. Serta selalu berada di dalam lindungan Tuhan Yang Maha Kuasa. Aku mendoakan yang terbaik untuknya.
"Ara." Kudengar Cloud mengetuk pintu ruanganku.
Saat ini aku tengah bersiap-siap berangkat ke Asia. Aku menyiapkan pakaian ganti untuk kubawa ke sana dan beberapa kebutuhan pribadi lainnya. Aku pun bergegas menuju pintu untuk membukakannya. Sepertinya ada kabar baru untukku.
"Cloud?" Kulihat memang benar Cloud lah yang datang.
"Ara, semuanya sudah siap. Bagaimana denganmu?" tanyanya padaku. Ternyata semua persiapan keberangkatan ke Asia telah selesai dipersiapkan.
Aku mengangguk. "Aku juga sudah siap. Mari kita berangkat." Aku tersenyum penuh semangat kepadanya.
Cloud tersenyum. Tapi tersirat dari bola mata birunya seperti enggan melepaskanku. Dia kemudian membantuku membawakan pakaian ganti dan keperluan pribadi yang kujadikan satu di dalam tas. Kutahu jika dia terpaksa melakukannya karena tidak mempunyai pilihan lain untuk menyelamatkan nyawa ayahnya. Dan aku pun berusaha untuk memakluminya.
"Baik. Kita berangkat sekarang."
Keputusan telah ditetapkan. Sore ini juga aku akan berangkat ke Asia. Entah bagaimana nantinya, aku harap ini adalah langkah yang tepat. Semoga saja raja bisa terselamatkan dan kembali berkumpul bersama kami. Aku berdoa yang terbaik untuk negeri ini. Semoga Tuhan memberikan jalan kepada kami untuk terus dapat memajukan negeri ini. Ya, semoga saja. Aku sangat berharap itu.
Keberangkatan ke Asia...
Kereta kuda khusus telah disiapkan. Beberapa puluh pasukan khusus juga sudah menunggu di dekat gerbang istana. Kini tiba saatnya bagiku berangkat ke Asia untuk mengambil bunga malaikat itu. Namun, aku masih menunggu kedatangan Rain sebelum berangkat ke sana. Aku ingin berpamitan padanya.
Rain masih belum bangunkah?
__ADS_1
Entah sudah jam berapa ini, tapi jika dilihat dari arah matahari yang condong ke barat, diperkirakan sudah jam empat lewat. Aku pun menunggu kedua pangeranku datang. Cloud yang akan mengantarkanku ke Asia, sedang Rain masih kutunggu untuk berpamitan padanya. Semilir angin sore seolah menjadi saksi diriku yang menunggu di taman depan istana.
"Ara, sudah siap?"
Ternyata Cloud duluan lah yang datang. Kulihat dia membawa sebuah dokumen di tangannya. Mungkin berisi perjanjian yang akan disepakati kedua negeri setelah sesampainya aku di sana.
"Sudah." Aku mengangguk. "Tapi aku ingin berpamitan kepada Rain terlebih dulu," kataku padanya.
"Rain?" Cloud menoleh ke belakang. "Mungkin dia masih ada urusan. Akan terlalu lama jika menunggu kedatangannya, Ara. Perjalanan kita panjang. Jadi mari bergegas untuk ke sana. Diperkirakan akan sampai saat pergantian hari tiba." Cloud seolah tidak ingin aku menunggu kedatangan Rain.
Aku merasa berat. Rasanya tidak enak jika tidak berpamitan kepada Rain. "Cloud, aku ke kediamannya saja ya. Aku ingin menemuinya langsung. Tidak lama kok." Aku beranjak pergi.
"Ara." Cloud menahan tanganku. "Sudah, bisa nanti. Waktu kita tak banyak." Cloud masih melarangku.
"Ara!!!" Kudengar suara Rain berteriak memanggilku.
Rain?
Aku pun tidak jadi menaiki kereta kuda yang dibukakan Cloud untukku.
Aku menoleh, melihat ke belakang untuk mencari asal suara. Dan kulihat Rain berjalan cepat menghampiriku. Aku pun segera bergegas untuk menemuinya. Tidak jadi menaiki kereta kuda yang Cloud bukakan untukku. Pada akhirnya kami bertemu di taman istana dengan napas yang terengah-engah. Seolah-olah habis berlari saja. Kulihat pangeran bungsu kerajaan Angkasa ini seperti mengejar waktu agar tidak ketinggalan untuk mengantarkanku.
"Ara, kau ingin pergi?" Rain memegang wajahku.
Kubiarkan dirinya memegang wajahku ini. Aku pun mengangguk padanya. Tak tahu apa yang Cloud lakukan saat Rain menyentuhku, untuk sementara aku tidak memedulikannya. Karena bisa saja ini adalah pertemuan terakhirku dengannya. Aku tidak tahu bagaimana ke depannya. Tapi jika boleh meminta, aku ingin selalu bersamanya. Di manapun kami berada.
__ADS_1
"Ara, aku tidak bisa menahan kepergianmu. Aku sangat lemah untuk melakukannya." Rain mengatakan padaku.
Aku memegang tangan Rain yang memegang wajahku. "Tak apa, Rain. Aku hanya sekedar mengambil bunga itu. Jangan khawatir, ya."
Aku tersenyum padanya. Saat itu juga kulihat matanya berlinangan butiran kristal bening. Dia pun langsung menarikku ke dalam pelukannya.
"Cepat kembali, Ara. Aku menunggumu." Dia memelukku erat sambil mengusap rambutku.
Aku mengangguk dalam pelukannya. Berusaha tersenyum di waktu kami akan berpisah. Tanpa sengaja kulihat ratu tengah berdiri di balkon istana lantai tiga dan melihat ke arah kami. Sepertinya dia ingin menyaksikan sendiri bagaimana perpisahan ini.
Aku melepaskan pelukan Rain. "Jangan nakal, Rain. Tetaplah jadi ksatriaku," kataku, memberi semangat padanya.
Dia mengangguk. Rain kemudian ingin mengecup keningku. Namun, saat itu juga Cloud menarik tanganku. "Jika ingin bermesraan, tunggu waktu yang tepat." Aku pun ditarik oleh Cloud untuk masuk ke dalam kereta kuda. Saat itu juga aura persaingan di antara kakak-beradik ini begitu terasa olehku.
Rain, jaga dirimu. Sampai jumpa kembali.
Aku pun pasrah menaiki kereta kuda yang telah Cloud siapkan. Dengan perbekalan yang cukup, aku akan menyeberangi lautan untuk menuju ke negeri di timur Angkasa. Semoga saja misiku ini berjalan lancar dan cepat terselesaikan. Sehingga membuahkan hasil yang maksimal.
"Jalan!"
Cloud pun dengan intonasi tinggi meminta Pak Kusir untuk segera melajukan kereta kudanya. Sepertinya dia cemburu melihat perlakuan Rain padaku.
Bagi seorang pria, tidak mungkin mau dimadu. Begitu juga dengan Rain ataupun Cloud. Mereka pasti terluka jika hal itu terjadi. Tapi, mereka juga tidak ada yang mau mengalah untuk merelakanku. Seolah terasa berat untuk melepaskanku.
Entah bagaimana akhirnya, kunikmati saja jalan cerita ini sambil mengambil hikmahnya. Semoga saja ada pelajaran yang bisa kupetik darinya. Ya, terlepas dari segala kekurangan yang ada.
__ADS_1