
"Nona, bagaimana jika hiasannya adalah berlian? Cocoknya ditaruh di bagian mana?" tanya ratu padaku.
Ruang tamu kediaman raja dan ratu ini tidak selebar di Angkasa. Minimalis tapi tetap terlihat elegan. Terdiri dari dua sofa, meja kaca dan perabotan lainnya sebagai hiasan. Di sini juga terpajang foto keluarga utama kerajaan. Tapi anehnya, tidak ada foto Jasmine terpajang. Entah mengapa.
"Baiklah. Saya akan menuliskan untuk ke bagian konveksi jika hiasan gaunnya adalah berlian. Tapi Yang Mulia, hiasan berlian tidak dapat terlalu banyak karena akan sangat mencolok pandangan. Mungkin lebih baik jika diletakkan di bagian sekitar dada dan juga leher. Apa Yang Mulia tidak keberatan?" tanyaku padanya.
Ratu bergaun putih itupun tampak berpikir. "Baiklah. Aku akan melihatnya setelah jadi saja. Tapi jika ingin menambahkan di bagian lain, apakah bisa?" tanya ratu padaku.
Aku mengangguk. "Tentu, Yang Mulia. Saya rasa dalam waktu tiga hari pihak konveksi istana dapat bekerja keras menyelesaikan gaun ini. Saya akan membicarakannya langsung kepada kepala konveksi." Aku meyakinkannya.
"Terima kasih, Nona." Ratu pun berterima kasih padaku.
"Kembali, Yang Mulia. Kalau begitu saya pamit untuk menyempurnakan rancangannya. Permisi." Aku pun membungkukkan badan, meletakkan tangan di dada. Memberi hormat kepadanya sebagai ratu dan juga klienku.
Akhirnya gaun ratu sudah kudapatkan ukurannya.
Rancangan gaun ratu sudah tergambar di otakku. Dan kini tinggal memberi hiasan saja agar terlihat lebih elegan dan juga mewah. Ratu menyerahkan sepenuhnya padaku. Dia hanya berpesan untuk menggunakan berlian sebagai hiasan gaunnya. Dan aku pun memenuhinya. Aku akan membicarakan hal ini kepada pihak konveksi istana agar dapat mewujudkan keinginannya. Jadi ya sudah, mari kita bekerja.
Beberapa jam kemudian...
Semilir angin berembus mengenai helaian rambutku. Aku pun menikmati sejuknya angin sambil mendesain ulang rancangan baju yang diinginkan oleh raja dan ratu negeri ini. Aku duduk sendiri di gazebo depan istana sambil bekerja karena tak ingin membuang-buang waktu lagi. Sebisa mungkin pekerjaanku selesai sebelum batas waktunya.
Sehabis menemui ratu dan mendengarkan keinginannya tentang busana yang akan dipakainya nanti, aku segera menemui raja untuk mencatat ukuran bajunya. Tentunya ditemani oleh putrinya sendiri, Rose. Jadi hari ini aku akan fokus menyelesaikan dua rancangan bajuku untuk raja dan juga ratu. Tanpa terasa jam makan siang istana sudah datang. Aku pun mulai merasa kehausan.
Mana ya pelayan? Kenapa di depan istana ini tidak ada pelayan yang lewat?
__ADS_1
Aku melihat keadaan sekitar gazebo dipenuhi oleh banyak bunga-bunga indah bermekaran. Segala jenis mawar ada di sini. Dari mawar merah, putih, biru, hitam, bahkan mawar berwarna ungu dan kuning juga ada. Benar-benar lengkap sekali. Apalagi ditata sedemikian rapi. Istana negeri ini bak taman seribu satu bunga yang indah dan memanjakan mata.
Mawar merah dan putih. Sedang apa ya mereka di sana?
Saat melihat warna, saat itu juga pikiranku teringat dengan kedua pangeran Angkasa. Aku merindukan mereka. Padahal baru satu hari tak bertemu rasanya sudah seminggu. Apalagi jika berminggu-minggu, mungkin aku sudah membeku dalam rindu. Keduanya baik Rain maupun Cloud sangat berarti untukku.
"Nona Ara." Tiba-tiba kudengar suara seseorang menyapaku.
Aku menoleh, melihat ke asal suara. Dan ternyata putri bergaun hitam yang datang sambil menjinjing gaunnya ke gazebo ini. Di kepalanya terdapat hiasan mawar merah yang besar, mirip seperti bando. Dia adalah Rose, putri Negeri Bunga. Dia sangat cantik dengan rambut panjang yang amat lurus. Namun sayangnya, dia tidak mempunyai saudara di sini. Dia tinggal sendiri di istana.
"Putri Rose." Aku berdiri, menyambut kedatangannya.
"Nona, aku ingin berbincang sebentar. Boleh?" tanyanya seraya tersenyum.
"Em ...," Kulihat kertas-kertas hasil rancanganku yang belum selesai. Namun, karena tak enak menolak, kubereskan saja rancangan busanaku. "Tentu, Putri. Silakan." Aku mempersilakannya duduk.
"Nona, aku tidak tahu harus bertanya kepada siapa. Aku tidak mempunyai teman di sini. Ibu melarangku untuk dekat dengan para penghuni istana. Jadi aku ingin menanyakan sesuatu padamu." Dia memulai pembicaraannya.
Sejenak aku menyadari jika nasib seorang putri tidaklah semenyenangkan yang dipikirkan. Ternyata Rose dipingit oleh ibunya.
"Silakan, Putri. Tanyakan saja." Aku pun mempersilakannya.
Rose tersenyum padaku. "Em, begini. Aku ingin bertanya, apakah ... kau tahu bagaimana cara menarik hati pria?" tanyanya padaku.
Ap-apa?!
__ADS_1
Saat itu juga aku terkejut mendengar pertanyaannya. Bak mendengar guntur yang tiba-tiba. Aku pun menelan ludah karena tak percaya. Rasanya kurang pantas seorang putri bertanya seperti itu.
"Em, Putri. Maaf, aku tidak tahu bagaimana cara menarik hati pria. Bukankah itu naluri alami semata?" Aku balik bertanya padanya.
Rose menghela napasnya. Dia terlihat sebal sendiri. "Aku pusing, Nona. Ibu memintaku untuk segera menikah. Tapi aku belum juga mendapatkan kekasih. Sedang baik pangeran Rain maupun pangeran Cloud menolakku. Mereka hanya mencintaimu," katanya sambil memegang kepalanya sendiri.
Err ... apa maksudnya ini?
Sungguh aku tak tahu ada maksud apa Rose berkata seperti ini padaku. Aku juga tidak tahu mengapa kedua pangeran menyukaiku. Dan aku lebih tidak tahu mengapa mereka sampai menolak Rose. Padahal Rose cantik. Dia juga putri satu-satunya Negeri Bunga. Masa iya tidak ada pangeran yang tertarik padanya? Mustahil sekali.
"Em, aku rasa ... seorang pria lebih menyukai wanita yang mandiri." Aku berkata seperti itu saja padanya.
"Mandiri?" Dia antusias menanggapiku.
"He-em." Aku mengangguk. "Aku tidak bisa memberi saran yang banyak, Putri. Tapi tidak ada salahnya mencoba untuk menjadi lebih mandiri lagi," kataku.
"Bagaimana caranya?" tanyanya segera.
Aku berpikir cepat. "Mungkin dengan jangan pernah menunjukkan rasa manja di depan orang lain," kataku lagi, memberi saran padanya.
"Oh, begitu ...." Rose pun manggut-manggut di hadapanku.
Aku nyengir tak karuan di depannya. Aku bingung. Sungguh bingung harus bagaimana memberi saran untuk menarik hati seorang pria. Jadi kukatakan saja apa yang kutahu. Karena setahuku, pria serius akan mencari wanita yang mandiri. Karena mereka pikir wanita mandiri itu bisa mengurus anak-anaknya kelak tanpa kerepotan sama sekali. Mungkin seperti itu pola pikir seorang lelaki.
"Em ... baiklah, akan kucoba. Minggu depan adalah hari ulang tahunku, tapi aku masih belum juga mendapatkan pasangan. Nona, bisakah bantu aku untuk mendapatkannya?" tanyanya lagi.
__ADS_1
"Ap-apa?!"
Sontak aku terkejut dengan permintaannya. Bagaimana mungkin seorang pekerja istana menjadi perantara cinta. Ini tak pernah kubayangkan sebelumnya.