Dua Pangeran Satu Cinta 2

Dua Pangeran Satu Cinta 2
Hopeness


__ADS_3

Rain, cepatlah ikat aku dengan janji sucimu agar kita bisa bebas melakukan apa saja.


Aku tersenyum lalu menghambur ke pelukannya. Saat itu juga dia berhenti menyisir rambut lalu membalas pelukanku. Aroma tubuhnya pun seakan memintaku untuk terus memeluknya. Dan aku rasa akan terus melakukannya. Aku ingin bersama Rainku.


"Pangeran!!!" Tiba-tiba saja kudengar seorang prajurit berseru dari luar rumah ini.


"Rain?" Saat itu juga jantungku berdetak kencang tak karuan.


"Ada apa ya?" Rain segera melepas pelukannya.


"Rain, jangan-jangan Cloud datang." Aku menduga.


Rain mengernyitkan dahinya. Dia kemudian segera keluar dari kamar. Aku pun mengikutinya.


"Tidak mungkin. Kak Cloud sedang menghadiri rapat pertemuan penting. Pertengahan malam dia baru sampai di istana. Mungkin ada kabar lain." Rain bergegas menuju pintu seraya berjalan bersamaku.


Aku mengangguk. Tak lama kemudian Rain membukakan pintu rumah ini. Prajurit yang menjaga rumah ini pun tampak santun kepada kami.


"Ada apa?" tanya Rain segera.


"Maaf, Pangeran. Tadi utusan Yang Mulia datang dan meminta Nona Ara segera menghadap." Prajurit itu menjelaskan kepada kami.


Astaga!


Saat itu juga kusadari jika ratu lah yang menginginkan kehadiranku dengan cepat.


"Baik. Kami segera ke sana." Rain pun menyanggupinya.

__ADS_1


Entah apa yang akan dikatakan ratu, sepertinya lebih baik bergegas untuk memenuhi panggilannya. Karena saat ini ratu sedang menggantikan raja mengatur pemerintahan Angkasa. Jadi jika memperlambat kedatangan, itu sama saja dengan mencari masalah padanya. Dan aku tidak menginginkan hal itu terjadi.


"Ara, kita ke istana sekarang. Mungkin ada yang ingin ibu bicarakan padamu." Rain mengajak ku ke istana.


Aku mengangguk. Kami akhirnya bergegas untuk segera kembali ke istana. Entah bagaimana selanjutnya, kujalani saja yang ada. Semoga tak ada kabar buruk untukku.


Setengah jam kemudian, sesampainya di istana Angkasa...


Aku duduk di ruang tamu kerajaan yang berada di lantai tiga. Tepatnya dekat dengan ruang utama keluarga kerajaan. Yang mana saat ini aku sedang mendengarkan ratu berbicara tentang tujuannya memintaku datang menghadapnya.


"Putra mahkota Asia itu menitipkan surat ini padaku. Yang mana isi surat ini ditujukan untukmu." Ratu memberikan selembar surat padaku.


"Terima kasih, Yang Mulia." Aku pun menerimanya.


Ratu meneguk teh yang berada di atas meja. "Pangeran Zu mencarimu, dia ingin mengajakmu kembali ke Asia. Tapi ternyata, kau tidak ada. Apa kau sengaja melarikan diri darinya?" tanya ratu dengan dinginnya.


Ratu mengangguk pelan. Kulihat aura wajahnya tidaklah pernah berubah. Intonasi bicaranya juga begitu dingin kepadaku. "Putra mahkota Asia itu telah dengan lancang mengancamku demi dirimu, Nona." Ratu berkata lagi.


"Mengancam? Maksud Yang Mulia?" Aku pura-pura tidak tahu.


Kulihat dia menghela napasnya lalu menatap tajam ke arahku. "Dia ingin menukar kebebasanku dengan dirimu. Menurutmu, apakah hal itu pantas dia lakukan padaku?" tanyanya dengan sorot mata yang tajam ke arahku.


Yang Mulia ....


Ratu sama sekali tidak bisa bersikap baik padaku. Padahal selama ini aku telah melakukan apapun untuk Angkasa. Aku jadi berkecil hati dengan sikapnya yang tidak pernah berubah. Padahal raja sendiri yang telah mencetuskan jika aku akan menikah dengan kedua putranya. Tetapi tetap saja dia berlaku angkuh padaku. Padahal aku ini calon menantunya.


"Pangeran Zu adalah calon raja Asia. Tak lama lagi dia akan diangkat menjadi raja. Dan apa kau tahu, Nona. Luas Asia berkali lipat dari Angkasa. Tidakkah kau ingin menjadi istrinya?" tanyanya lagi padaku.

__ADS_1


Ap-apa?!


Jantungku berdegup kencang sekali. Denyut nadiku seolah ikut berhenti. Rasanya hati ini sakit mendengar pertanyaannya. Secara tidak langsung dia mengusirku dari Angkasa dan memintaku untuk tinggal di Asia. Apakah perasaanku ini salah?


"Yang Mulia, Yang Mulia Raja telah mencetuskan titah kepada kami. Alangkah buruknya jika aku melanggar titah itu sendiri." Aku menolaknya secara halus.


Dia tersenyum seperti merendahkanku. "Nona Ara, saat ini suamiku sedang tidak sadarkan diri. Sehingga akulah yang berkuasa atas pemerintahan Angkasa. Jadi mulai saat ini akulah yang mengatur semuanya. Termasuk keberadaanmu di sini," cetusnya dengan angkuh.


Ratu ....


"Negeri Bunga mengirimkan undangan kepada kedua pangeran untuk menghadiri pesta ulang tahun putrinya. Aku mengutusmu untuk datang ke sana dan membantu mereka mempersiapkan segala sesuatunya agar pesta dapat berjalan lancar. Sehingga kau bisa meninggalkan Angkasa sekarang juga."


Entah perintah atau pemaksaan yang kudengar, sepertinya aku tidak boleh berharap banyak dari pertemuan kali ini.


"Ini surat tugasmu!" Ratu lalu memberi surat tugas kepadaku. "Berangkat esok hari dan jangan pulang sebelum tugasmu selesai!" serunya lalu beranjak berdiri.


Aku terdiam, menelan ludah dan menarik napas panjang agar bisa menerima semua sikapnya. Saat itu juga kulihat betapa angkuh dan sombong dirinya terhadapku. Kutahu jika dia tidak menginginkanku. Aku pun hanya bisa terdiam di kursi sambil mengambil surat tugas yang diletakkannya di atas meja.


Kuambil dan kubuka segera. Kubaca perlahan isinya yang berisi banyak perintah untukku. Aku pun mengambil napas dalam-dalam agar hati ini bisa tenang menerima keputusan ratu. Aku tidak tahu harus menanggapi apa dari surat tugas yang diberikannya padaku. Tapi yang jelas, aku sakit hati. Setiap kali bertemu dan berbicara dengannya, aku sakit hati karena ucapannya.


Rain, Cloud, aku harus pergi lagi ....


Tak tahu mengapa, aku merasa ratu seperti tidak pernah menyukaiku. Dia juga tidak menginginkan kehadiranku di Angkasa. Aku pun sebagai pendatang baru harus tahu diri dengan segala perkataannya. Aku harus bisa menerima. Ya, mau tak mau pengusiran secara halus ini kuterima karena tak berdaya melawannya.


Aku belum menikah dengan kedua pangeran dan hanya berstatus sebagai calon ratu saja. Belum menjadi ratu yang sesungguhnya. Dan karena hal itulah aku jadi pesimis dalam menjalani hubungan ini. Aku tak tahu harus bagaimana. Mungkin memang suratan takdir yang harus kujalani.


Ya Tuhan, kuatkan aku.

__ADS_1


Ratu pun berlalu begitu saja tanpa meninggalkan pesan kepadaku. Dia hanya meninggalkan surat tugas untukku. Yang mana tugas itu harus kuselesaikan dalam waktu dua minggu. Waktu yang cukup lama untuk menahan rindu dengan kedua pangeranku. Tapi semoga saja dengan menuruti perintahnya, dia bisa bersikap baik padaku. Aku akan mencobanya. Semoga dengan keberangkatanku ke Negeri Bunga dapat mengubah cara pandangnya terhadapku yang dari kalangan biasa. Aku berharap itu.


__ADS_2