
"Ibu memintaku tiga bulan pertama untuk berada di Terusa. Kau bisa main ke sana kalau mau. Atau setiap minggu aku akan pulang ke Angkasa untuk melepas rindu. Bagaimana Ara?" Rain ternyata memikirkan hal itu.
"Rain ...."
"Ara, kau tahu. Satu hari tak bertemu denganmu saja serasa satu tahun bagiku. Kemarin juga jika tidak ada kerjaan mendadak, mungkin aku sudah seperti orang frustrasi menunggumu pulang. Tapi karena harus memeriksa wilayah sungai, pikiranku jadi teralihkan. Coba kalau tidak, mungkin aku seperti ayam sakit yang merindu," katanya.
Ayam sakit yang merindu? "Hahahaha." Entah mengapa aku malah tertawa mendengarnya. Rain bisa saja menghiburku.
"Ara, aku serius." Dia memegang erat tanganku.
"Rain."
"Ya?"
"Mau kucium?" godaku.
"Kau masih bisa bertanya seperti itu setelah apa yang kita lalui?" Dia balik bertanya.
"He-em." Aku mengangguk. "Hanya untuk memastikan jika kau milikku." Aku menggodanya lagi.
Dia menarikku agar bersandar di bahunya. "Selamanya aku milikmu, Ara. Selamanya." Dia mengecup keningku ini.
Entah mengapa tiba-tiba rasanya syahdu sekali saat dia memperlakukanku seperti ini. Dia meyakinkanku jika selamanya akan menjadi milikku. Aku pun merasa tenang karenanya. Aku merasa tidak salah mencintainya. Tapi mungkin hubungan kami hanya terhalang restu saja. Ya, ratu sepertinya masih belum bisa menerimaku sebagai calon menantunya. Entah harus apa agar dia dapat menerimaku. Aku pasrah saja.
"Jika mau cium, cium saja. Aku menunggunya." Dia membuatku tersenyum.
Aku pun menggenggam tangannya seraya menyandarkan kepala ini di bahunya. Kupandangi taman kecil rumah kecantikan istana seraya menarik napas dalam-dalam. Rasanya aku ingin sekali terus seperti ini. Berada dalam damai dan cinta kasih.
Semilir angin siang kubiarkan menyapu helaian rambutku yang tergerai. Rain pun membantu merapikan poniku yang terkena angin lalu mencium keningku ini. Kami berpegangan tangan bak sepasang kekasih yang tidak akan terpisahkan masa. Kuakui jika dia adalah segalanya. Mana mungkin hati ini bisa melupakan semua kenangan indah yang telah tercipta. Rasa-rasanya aku bisa gila jika kehilangannya.
Rain, terima kasih atas segala yang telah kau berikan. Aku amat menghargai jerih payahmu selama ini. Tetaplah menjadi ksatriaku, sekarang dan selamanya. Aku selalu mendukungmu.
__ADS_1
Rain, teruslah menghidupkan bumi yang gersang akibat dipenuhi peperangan. Jadilah jembatan perdamaian antar negeri-negeri yang berseberangan. Aku yakin kau mampu melakukannya, karena kau adalah Rainku. Hujan yang menyuburkan.
Sore harinya...
Semburat merah telah menghiasi langit sore ini. Burung-burung berterbangan di angkasa meramaikan hari. Lampu-lampu istana juga sudah mulai dihidupkan untuk menerangi malam. Beberapa prajurit terlihat bergantian berjaga istana. Namun, tidak bagi Rain yang masih belum bisa menyelesaikan rapatnya.
Saat ini aku sedang berendam di kolam pemandian air panas. Aku sedang merelaksasikan tubuhku setelah hilir-mudik membantu Rain menyiapkan segala keperluan rapat. Sebagai calon istri, aku harus mendukung pekerjaannya dan membantu sebisanya. Aku juga ikut menata meja dan kursi di ruang rapat tadi. Dan kini calon suamiku yang berstatus panglima tinggi istana masih sibuk di ruangan rapatnya.
Banyak panglima tinggi dari berbagai wilayah datang dan merapatkan perihal pengajuan Terusa. Semoga saja menghasilkan keputusan yang baik untuk ke depannya. Aku sangat berharap itu.
"Hah ...."
Kuembuskan napasku bersamaan dengan beban yang kurasa. Hari ini aku diminta untuk berangkat ke Negeri Bunga oleh ratu. Tapi, belum juga pergi karena masih ada urusan di istana. Dan sepertinya ratu juga tidak mempermasalahkannya, sehingga dia tidak memintaku untuk segera berangkat. Aku tak tahu apa yang sedang dilakukan ratu saat ini, tapi sepertinya keadaan aman-aman saja.
Sampai saat ini kedua pangeranku belum mengetahui jika aku akan pergi ke Negeri Bunga. Aku juga belum menceritakannya karena tidak ingin membebani mereka. Aku bersyukur karena hari ini masih diizinkan untuk membantu Rain mengurus persiapan rapat tadi. Apalagi dia akan pergi ke Terusa selama tiga bulan lamanya. Bagaimana bisa kami menahan rindu berlama-lama?
"Permisi, Nona."
Tiba-tiba saja ada seorang pelayan datang dan memanggilku. Dia menungguku di balik tirai kolam pemandian air panas. Aku pun segera mengambil handuk untuk menutupi tubuh yang mengenakan kemben dan leging pendek ini. Aku segera menghampirinya.
"Maaf, Nona. Nona diminta pangeran Cloud untuk segera menemuinya. Sepertinya pangeran membutuhkan bantuan Nona," tukasnya.
"Cloud?"
"Benar, Nona. Tadi saya melihat ada banyak sekali surat yang datang dan harus segera dibaca. Mungkin pangeran ingin meminta bantuan Nona," katanya lagi.
Aku mengangguk. "Baiklah, Bi. Terima kasih. Aku segera ke sana," kataku padanya.
"Baik, Non. Kalau begitu permisi." Pelayan pun berpamitan padaku.
Aku mengangguk, melepas kepergian pelayan itu. Tak tahu ada apa gerangan, tak biasanya Cloud memintaku untuk menemuinya di akhir jam kerja istana ini. Aku pun lekas-lekas mengenakan pakaian untuk sampai ke sana. Kukenakan gaun ganti yang sudah kupersiapkan sebelumnya. Gaun berwarna hijau dengan make up seadanya. Aku pun bergegas menuju lantai dua istana. Aku ingin menemui Cloud di sana.
__ADS_1
Sesampainya di ruang kerja Cloud...
Aku mengetuk pintu dua kali lalu segera masuk ke dalam ruangannya. Dan kulihat putra sulung kerajaan Angkasa itu tengah membaca sebuah surat yang entah dari mana. Cloud pun mempersilakan aku duduk di sampingnya.
"Cloud, ada apa? Ada yang bisa kubantu?" tanyaku segera.
Cloud tampak serius membaca surat itu. "Negeri Bunga memintamu untuk membantu mendekorasi istana?" tanyanya sambil mengernyitkan dahi padaku.
Err ... jadi dia sudah mengetahuinya?!
Sepertinya mau ditutupi bagaimanapun tidak akan bisa. Keberangkatanku ke Negeri Bunga akhirnya diketahui juga oleh Cloud. Tentu saja aku hanya bisa diam menanggapi hal ini. Aku tidak berani banyak berkomentar karena ratu telah menyetujui.
"Ara, apa kau menerima tawaran ini?" tanya Cloud dengan raut wajah yang keberatan.
"Em ...." Saat itu juga aku merasa bingung untuk menjawabnya.
"Ibu sudah memintamu untuk ke sana, bukan?" tanyanya lagi, seperti memintaku untuk segera menjawabnya.
"Cloud, sebenarnya—"
"Ibu tidak bilang padaku, Ara. Sama sekali tidak bilang. Aku tidak tahu kenapa, tapi rasanya ibu sengaja menahan surat ini sendiri." Cloud terlihat kecewa dengan sikap ibunya.
Seketika aku merasa bersalah. "Cloud, maaf. Bukannya aku tidak mau bilang padamu. Hanya saja tidak ingin menambahi bebanmu." Aku jujur padanya.
Cloud mengusap wajahnya. "Aku sedang mengecek surat masuk dan ternyata surat ini sudah masuk dua hari yang lalu," tutur Cloud lagi.
Aku mengangguk. Hanya hal itu yang bisa kulakukan.
"Ara."
"Ya?"
__ADS_1
"Sepertinya ibu sudah mulai memintamu untuk melakukan tugas-tugas kerajaan. Jika kau keberatan, aku bisa memintanya untuk membatalkan hal ini," katanya padaku.
"E-eh. Ti-tidak perlu!" Aku segera mengelaknya.