Dua Pangeran Satu Cinta 2

Dua Pangeran Satu Cinta 2
News


__ADS_3

Kurebahkan kepala ini di dada bidangnya. Kurasakan detak jantungnya yang mengalun begitu merdu. Saat itu juga aku merasa bersalah. Tapi, semuanya sudah terjadi. Dan kami bertiga sudah sampai sejauh ini. Tidak mungkin meninggalkan Rain karena aku sangat mencintainya. Dan mungkin melebihi rasa cintaku kepada Cloud. Tapi, aku juga tidak bisa merelakan Cloud. Karena dia telah mengikatku malam itu. Lalu apakah aku serakah jika menginginkan keduanya?


Mungkin iya, mungkin tidak. Tergantung dari sudut pandang mana orang menilainya. Toh, ini juga bukan di duniaku. Ini adalah bumi lain yang entah di mana letaknya. Aku diundang datang ke sini untuk bekerja. Tapi nyatanya aku juga mendapatkan cinta. Ya, cinta kedua pangeranku.


Maaf, Cloud. Aku tidak bisa memilih. Karena kalian bukanlah pilihan.


Sejujurnya aku memang tidak bisa memilih. Karena pilihanku pasti akan menyakiti hati salah satunya. Sedang keduanya sama-sama berarti di dalam hidupku. Jadi aku berusaha bersikap adil untuk mereka. Dan mungkin dengan cara inilah jalan terbaik untuk kami. Raja juga telah mencetuskan sendiri hasil keputusannya. Jadi aku tidak berat sama sekali. Aku menerima keputusan itu walau nantinya akan banyak waktu yang tersita untuk mengurus keduanya. Itu memang sudah menjadi tugas dan tanggung jawab seorang istri.


"Ara!" Tiba-tiba kudengar suara Rain memanggil.


Rain?!


Aku pun terkejut. Seketika ingatanku tentang apa yang terjadi di danau cinta hilang begitu saja.


"Aku mencarimu, Ara. Ternyata kau di sini." Dia segera duduk di sampingku.


"Rain, ada apa? Kenapa tergesa-gesa?" tanyaku padanya.


Rain menghela napasnya. Dia terlihat lelah sekali. Aku pun memberikan minumanku padanya. Dan ya, dia meneguknya sampai habis. Tanpa bertanya lagi aku masih ingin meminumnya atau tidak.


"Hah ... kau tahu bukan jika ibu yang mengambil alih pemerintahan sekarang?" tanyanya padaku.


Aku mengangguk.

__ADS_1


"Ibu memintaku untuk pergi ke Terusa besok. Dia memberi daftar negeri yang harus kusinggahi," kata Rain lagi.


"Tentang pengajuan penyatuan wilayah itu?" tanyaku lagi.


"Ya." Rain mengangguk. "Terusa adalah salah satu negeri yang berniat menyatukan wilayah kekuasaannya dengan Angkasa. Yang mana hal itu terdengar oleh Arthemis. Dan Arthemis tidak menyukainya." Rain menceritakan.


Aku berpikir. "Jadi maksudmu dia tidak suka jika berada di dekat wilayah kekuasaan Angkasa?" tanyaku lagi.


"Ya, tentu. Maka dari itu ibu mengambil keputusan tanpa berpikir panjang. Aku tak mengerti mengapa ibu bisa sampai seberani ini. Sedang Arthemis adalah negeri yang berbahaya untuk Angkasa." Rain mengutip kata bahaya di depanku.


"Rain, tolong ceritakan seberapa bahayanya negeri itu." Aku memintanya segera.


Rain menatapku. Tersirat dari bola matanya seperti enggan menceritakan padaku. Tapi mau bagaimanapun aku harus mengetahuinya. Apalagi waktu itu Zu sempat mengatakan jika ada hal lain selain perang dingin yang terjadi antara Angkasa dan Arthemis. Itu berarti masih ada urusan yang belum terselesaikan selain batas teritorial negeri.


"Rain." Aku memintanya lagi, berharap dia menceritakannya.


Kekuatan mistis yang sulit tertembus?


Tiba-tiba saja bayangan hitam yang kulihat saat perjalanan pulang bersama Rain terlintas di benakku. Aku jadi berpikir apakah bayangan itu ada kaitannya dengan kekuatan mistis yang Arthemis miliki? Sampai saat ini aku belum dapat memastikan siapa sebenarnya penyebab jatuh sakitnya raja. Tapi entah mengapa firasatku mengatakan jika Arthemis adalah dalangnya.


Aku juga jadi curiga kepada Xi jika dia ada andil dalam hal ini. Namun, sekali lagi aku belum bisa memastikannya. Kekuatanku belum pulih. Bahkan untuk memasuki alam bawah sadar sendiri pun aku merasa kesulitan.


"Ara, apakah kau merasakan sesuatu?" tanya Rain seraya memegang tanganku.

__ADS_1


"Em, eh? Ti-tidak. Aku hanya sedang mencoba mengaitkannya saja," jawabku, ingin menutupi.


Aku telah bertemu Xi. Dan Xi itu adalah Yang, kerabat jauh Zu. Hubungan kedua negeri baik karena adanya ikatan pernikahan. Itu berarti Zu juga tahu kisah sebenarnya dari konflik yang terjadi.


Pantas saja dia tidak mengizinkanku untuk bertemu dengan Xi di istana. Mungkin Zu tidak ingin Xi melihat ada penduduk Angkasa yang datang ke sana. Zu ingin melindungiku dari Xi. Entah benar atau tidak, sepertinya Zu punya maksud lain terhadap hal ini.


"Ara, kau seperti menyembunyikan sesuatu." Rain menerkaku.


Aku menelan ludah. Rasa-rasanya memang tidak bisa berbohong padanya. "Tidak ada, Rain. Aku hanya memikirkan jika kau pergi ke Terusa, itu berarti hanya Cloud yang tinggal di istana. Sedang raja belum pulih sempurna," kataku.


"Hanya Cloud? Maksudmu Ara? Bukankah kau juga tinggal di istana?" tanyanya segera.


Ah, sial! Aku terjebak dengan perkataanku sendiri.


Maksud hati untuk menutupi pertemuanku dengan Xi dan juga kepergianku ke Negeri Bunga, tetapi ternyata Rain malah menyadarinya. Dia menungguku memberikan jawaban yang lebih spesifik lagi.


"Ara?" Dia masih menantikan jawaban dariku.


Rain memang tidak bisa dibohongi. Dia selalu ingin tahu sampai ke akar-akarnya. Salah menceritakan sedikit saja, dia akan mencari tahu sampai habis tentang apa dan bagaimana. Terbukti dengan perkataanku tadi. Dia mencurigaiku jika tidak berada di istana. Lantas jika sudah begini, aku harus bagaimana?


"Em, Rain. Maksudku begini. Jika kau pergi ke Terusa, itu berarti putra mahkota yang tersisa hanyalah Cloud. Dia juga yang akan mengatur segi keamanan di istana ini. Tentunya tuan Dave akan membantunya. Tapi masalahnya, jika dikerjakan dalam waktu yang lama, Cloud juga pasti akan kelelahan. Dia tidak bisa menanggung beban berat selama itu. Aku khawatir Cloud jatuh sakit lalu keadaan dimanfaatkan oleh pihak luar. Sedang aku bisa saja diberi tugas kerajaan seperti kalian. Mengunjungi negeri lain dan menjalin kerja sama dengan mereka. Bukankah aku calon ratu negeri ini?"


Tak tahu bagaimana cara menjelaskannya, sebisa mungkin aku menutupi pertemuanku dengan Putra Mahkota Arthemis di danau cinta. Aku juga menutupi tugas yang diberikan ratu untukku, berangkat ke Negeri Bunga. Jangan sampai Rain mengetahui salah satunya apalagi keduanya. Karena bisa saja hal itu akan menambah beban pikirannya. Karena saat ini dia akan disibukkan dengan banyak tugas kerajaan. Dan hal itu tidaklah sebentar.

__ADS_1


Rain, sudah jangan banyak tanya. Aku pusing tahu!


Aku tahu benar bagaimana sifat aslinya. Dan karena hal itu jugalah aku tidak ingin membuatnya khawatir. Aku ingin dia fokus terlebih dahulu dengan tugas kerajaannya, baru memikirkan yang lain.


__ADS_2