
Satu jam kemudian...
Segar, cantik dan juga elegan. Itulah aku saat berkaca di kamar tamu kediaman Zu yang berada di lantai satu. Para pelayan menyambut kedatanganku dengan ramah dan sopan. Mereka antusias melayaniku hingga sampai repot-repot ikut merias diri ini. Dan kini aku bak putri kerajaan Asia yang cantik jelita.
Aku mengenakan gaun sutra berwarna putih dengan rambut yang dibiarkan tergerai begitu saja. Aku juga mengenakan parfum khas sini dengan aroma yang manis. Para pelayan pun kini sedang mempersiapkan makan malam untukku. Tercium dari aroma masakan yang begitu sedap dari dapur kediamannya. Rasanya sudah tidak sabar lagi untuk menunggu kedatangannya ke rumah ini.
"Bibi, apakah pangeran sudah kembali?" tanyaku seraya beranjak dari kursi rias.
"Belum, Non. Kemungkinan pangeran masih di istana." Salah satu pelayan menjawabnya.
"Oh. Kalau begitu aku menyusulnya saja, Bi. Terima kasih." Aku pun bergegas keluar kamar.
"Nona, Nona tidak ingin menunggunya saja?" Seorang pelayan bertanya, dia tampak enggan membiarkanku menemui Zu saat ini.
"Tak apa, Bi. Sekalian berjalan-jalan di istana." Aku pun berlalu dari hadapan mereka seraya tersenyum.
Kulihat para pelayan kediaman Zu tampak saling pandang karena aku tidak mengindahkan peringatan mereka. Tapi aku tidak mau ambil pusing. Aku kembali menaiki kuda Zu yang ada di halaman depan rumah. Setelahnya kulajukan kuda seraya melihat pemandangan di sepanjang jalan rumahnya. Aku ingin menjemput Zu agar makan malam dapat segera dimulai.
Kau lama sekali pangeran!
Aku sudah lapar dan tidak lagi bisa menahannya. Tahu sendiri kehidupan di istana begitu tertata. Jika belum waktunya, maka harus rela menunggu lama. Sedang aku tidak bisa menahan laparku. Jadi aku pergi saja menjemputnya.
Belasan menit kemudian....
Akhirnya aku tiba juga di istana. Semburat merah mengantarkanku tiba di istana super megah ini. Segera saja aku bergegas masuk lewat pintu depannya. Aku ingin menemui putra mahkotanya. Namun, tiba-tiba saja langkah kakiku terhenti saat melihat sesosok pria berpakaian kerajaan berwarna putih. Dia tampak formal kali ini. Yang mana sebelumnya pernah aku temui.
__ADS_1
Di-dia?!
Aku terkejut. Benar-benar terkejut saat melihat pria itu lagi. Pria tinggi dengan bibir imut yang dimiliki. Tidak salah lagi jika dia adalah pria yang kutemui waktu itu. Namun, sekarang dia mengenakan seragam kerajaan. Yang mana membuatku terpana melihatnya.
Aku harus bersembunyi!
Segera saja aku bersembunyi sebelum ketahuan olehnya. Aku bersembunyi di balik dinding istana saat melihatnya berjalan bersama Zu menuju pintu depan. Aku ingin tahu siapa dia sebenarnya. Apakah dia salah satu sekutu Asia atau Angkasa? Tapi jika dilihat dari roman wajahnya, sepertinya dia sekutu Asia.
"Lain kali jangan datang mendadak. Aku tidak punya persiapan untuk menyambutmu, Yang." Kudengar Zu berkata seperti itu kepadanya.
Pria itu tersenyum kecil. "Apa aku terlalu merepotkanmu?" tanyanya kepada Zu.
Zu tertawa kecil. "Tidak merepotkan, hanya saja aku tidak mempunyai persiapan untuk menjamumu." Zu menjawabnya.
Pria yang berjalan bersama Zu adalah pria yang kutemui di danau angsa putih. Tidak salah lagi, keduanya sangat mirip. Apa dia memiliki saudara kembar? Entahlah. Rasanya aku semakin penasaran dengan hal yang kutemukan ini.
Garis wajahnya tirus, bibir mungil yang merah dan juga tinggi tubuhnya sama. Tidak salah lagi jika pria itu adalah pria yang kutemui di danau angsa putih. Namun, ada hal yang mengherankan. Mengapa dia sampai ke Asia? Ada urusan apa? Sebenarnya dari mana dia berasal? Kenapa terlihat begitu dekat sekali kepada Zu?
Aku harus mencari tahu tentangnya. Ya, aku harus mendapatkan informasi.
"Hah, baiklah. Lain kali aku akan memberi kabar terlebih dahulu. Apa kau ingin sekalian dibawakan oleh-oleh?" tanyanya kepada Zu.
Zu tersenyum malu. "Kalau begitu aku yang jadi merepotkanmu." Dia terlihat malu sendiri.
"Hahahaha." Keduanya pun tertawa bersama.
__ADS_1
Tak lama keberadaan mereka semakin mendekatiku. Aku pun segera pergi untuk bersembunyi lebih jauh dari pintu istana. Dan kulihat mereka menuju halaman depan bersama. Sepertinya Zu ingin mengantarkannya pulang.
Ini aneh sekali. Aku tidak tahu siapa dirinya tapi kini bertemu lagi. Apakah aku harus bertanya kepada Zu tentangnya? Bagaimana jika dia lebih berpihak ke pria itu? Astaga ... kenapa aku merasa pria itu ada kaitannya dengan jatuh sakitnya raja?
Tak tahu mengapa aku merasa pria itu ada kaitannya dengan jatuh sakitnya Raja Angkasa. Entah sebagai pelaku atau dalang dari ini semua. Aku sendiri ragu untuk menanyakannya kepada Zu. Aku takut dia mencurigaiku. Karena kurasa dengan landasan cinta saja tidak cukup untuk memberi kepercayaan sepenuhnya. Karena pria terbiasa menggunakan logika dibandingkan perasaannya. Sedang ini adalah urusan kerajaan. Kira-kira Zu akan lebih berpihak kepadaku atau pria itu? Ini membuatku penasaran sekali.
"Sampai jumpa lagi. Kapan-kapan temani aku ke Negeri Bunga." Pria itu berpamitan kepada Zu.
"Ya, tenang saja. Kudengar putri kerajaannya masih sendiri. Mungkin dia mau denganmu." Zu mencandai pria itu.
"Hahaha." Kulihat pria itu tertawa sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Kalau begitu sampai nanti. Aku akan melanjutkan pengembaraanku. Sayang rasanya jika tunjangan yang diberikan istana tidak terpakai sama sekali." Pria itu berpamitan.
Zu pun tersenyum menanggapinya. "Baiklah. Hati-hati di jalan." Keduanya lalu berpelukan bak saudara dekat.
Entah siapa pria itu, sepertinya hubungan keduanya sangat akrab. Aku pun makin penasaran dengan siapa dirinya. Aku harus diam-diam menyelidikinya untuk mendapatkan informasi. Mungkin bisa kugunakan rasa cinta yang Zu punya agar dia tidak terlalu mencurigai pertanyaan yang kuajukan nanti. Ya, hanya dengan hal ini aku bisa mendapatkan informasi. Walaupun nyatanya harus ada yang dikorbankan. Tapi tak apalah, namanya juga usaha. Asal tidak sampai kelewatan saja.
"Sampai nanti." Pria itu menaiki kudanya.
"Sampai nanti." Zu pun melepas kepergian pria itu.
Pria itu melaju dari istana Asia ini. Dia seorang diri tanpa pengawalan yang berarti. Sedang Zu melihat kepergiannya sampai hilang dari pandangan mata. Aku sendiri lekas-lekas pergi dari tempat persembunyianku. Aku tidak boleh ketahuan mengintip karena Zu bisa mencurigaiku.
Baiklah. Saatnya mencari informasi.
Kini tiba saatnya bagiku untuk mencari informasi tentang pria itu. Semoga saja perasaanku salah tentangnya. Tapi jika benar, berarti pemilik seribu wajah itu adalah dirinya. Dialah yang masuk ke istana lalu menyamar menjadi pelayan dan memberi racun kepada raja. Lantas jika benar, apa yang harus kulakukan? Aku tidak bisa bergerak sendiri saat ini. Meminta bantuan Zu juga tidak mungkin. Benar-benar hal yang merepotkan sekali.
__ADS_1