Dua Pangeran Satu Cinta 2

Dua Pangeran Satu Cinta 2
Solve the Problem


__ADS_3

"Pangeran, jangan."


Aku mencoba melepaskan diri sekuat mungkin darinya. Tapi Zu seakan tidak memedulikan perkataanku. Dia terus saja menarikku agar lebih dekat kepadanya. Deru napasnya pun mulai terasa menerpa permukaan pipi ini. Seolah memberi tanda jika sesuatu akan segera terjadi pada kami.


Pangeran, kau terlalu bersikeras untuk memilikiku ....


Aku tahu benar apa yang akan terjadi, sehingga sebisa mungkin aku mengelak darinya agar hal ini tidak terjadi. Tapi ... dia terus memaksakan kehendaknya. Tubuhku serasa dikunci olehnya.


Pangeran, tolong jangan paksa aku.


Bukan naif ataupun munafik. Wanita manapun pasti mau dicium olehnya. Tapi saat ini ada hati yang harus kujaga. Aku tidak boleh mengkhianatinya.


Lantas kutempelkan telapak tangan ini di dadanya agar bisa mendorongnya dengan cepat. Tapi, detak jantung itu seakan beresonansi dengan jantungku. Kami memiliki irama yang sama dalam memompa darah ke seluruh tubuh. Saat itu juga pikiranku mulai terganggu untuk melakukan perlawanan. Aku seperti tak bisa menghindarinya.


Apakah ini pertanda untuk kami?


Bibir merah merekah indah itu semakin mendekati bibirku. Aku pun hanya bisa memejamkan mata karena tidak tahu harus berbuat apa lagi. Aku berharap ada seseorang yang dapat menolongku dari situasi ini.


"Pangeran!" Tak lama kemudian pintu ruangannya terketuk dari luar.


I-itu?


Saat kudengar ketukan pintu, saat itu juga aku mendorong tubuhnya. Zu pun tersadar jika ada yang datang. Dia melihat ke arah pintu bersamaan dengan pelayan yang masuk mengantarkan makanan. Pelayan itu datang di waktu yang tepat.


"Pangeran, hidangannya telah tersaji." Dia membawa meja dorong untuk mengantarkan pesanan Zu.


Zu diam. Wajahnya tampak kesal. Dia melihat ke arahku dan ke arah pelayan itu secara bergantian. Kulihat dadanya naik-turun karena amarah yang tertahan.

__ADS_1


"Pergi!"


Dia kemudian meminta pelayan itu pergi dengan raut wajah yang amat kesal. Pelayan itu pun mengerti jika telah salah waktu datang ke ruang kerja putra mahkotanya. Dia dengan terburu-buru berpamitan kepada kami.


"Maaf, Nona, Pangeran. Permisi." Dia undur diri lalu segera menutup pintu cepat-cepat. Pintu pun tertutup sehingga tinggal lah kami.


Astaga ... hampir saja.


Aku sendiri akhirnya dapat bernapas lega setelah hampir saja terjadi sesuatu yang tak kuinginkan. Bagaimana mungkin aku dan Zu dapat berciuman sedang aku adalah calon istri kedua pangeran? Aku pun segera mencari cara untuk mengalihkan suasana setelah apa yang terjadi tadi. Aku bersikap luwes dengan banyak bertanya kepadanya. Tanpa malu aku pun membuka hidangan yang telah disajikan pihak dapur istana. Aku mencoba mengalihkan perhatiannya sampai jawaban atas pertanyaan ku dapatkan.


Menjelang siang di istana Asia...


Aku diminta oleh Zu untuk menunggunya sebelum berangkat ke perbatasan Asia. Dan kini aku sedang duduk di teras belakang istana sambil menikmati gemercik air kolam yang menenangkan. Aku tidak tahu mengapa diminta olehnya untuk menunggu di sini. Aku turuti saja agar dia lekas membawaku mengambil bunga malaikat itu. Karena lebih cepat lebih baik.


Kulihat awan putih begitu tebal menghiasi langit menjelang siang. Udara di sekitar pun terasa terik yang membuatku ingin segera berganti pakaian. Busana yang kukenakan ini rasanya kurang pantas jika digunakan saat musim panas. Aku ingin menggantinya dengan gaun terusan yang lebih tipis dan berbahan dasar jatuh. Namun untuk sementara, aku menunggu kedatangan Zu terlebih dulu. Aku masih menantinya agar lekas berangkat ke perbatasan.


Tak lama kemudian kulihat seorang wanita bergaun putih yang ditarik paksa oleh dua prajurit menuju ke arah istana. Lambat laun aku pun mengenali wanita tersebut. Dia adalah Jasmine, putri dari Negeri Bunga yang Zu temukan di perbatasan hutan. Kulihat Jasmine tampak kesakitan karena ditarik paksa oleh prajurit-prajurit itu. Entah bersandiwara atau tidak, aku juga tidak ingin memedulikannya. Dia sudah cukup menghancurkan hatiku waktu itu.


"Cepat lakukan apa yang pangeran perintahkan!"


Salah satu prajurit berseru lalu membawa Jasmine kepadaku. Sontak aku terkejut saat putri itu sudah tiba di hadapanku. Aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan.


"Salam, Nona. Kami diperintahkan pangeran untuk membawa putri ini ke hadapan Nona." Salah satu prajurit menuturkan padaku.


"Ap-apa?" Aku pun gelagapan menerima kedatangan mereka.


"Kami permisi, pangeran akan segera datang." Prajurit pun segera undur diri dari hadapanku.

__ADS_1


Aku beranjak berdiri, berhadapan dengan Jasmine. Kulihat dia menunduk di hadapanku, seolah menyimpan kesalahan yang amat besar. Tak berapa lama langkah kaki pun terdengar mendekati kami. Dan ternyata, Zu lah yang datang.


"Cepat katakan hal yang sebenarnya kepada Ara, Jasmine!"


Putra mahkota Asia itu datang lalu bersandar di sisi pintu sambil menyilangkan kedua tangan di dada. Tak jauh dari tempat di mana aku dan Jasmine berada. Aku pun menelan ludah saat tahu mengapa Zu sampai memintaku untuk menunggu. Ternyata dia ingin membawa Jasmine menghadapku.


"Pangeran, apa yang kau lakukan? Kasihan Nona Jasmine kesakitan." Aku mencoba berempati setelah tahu apa yang terjadi.


Zu berjalan mendekatiku. "Kau kasihan padanya, Ara? Tapi tidak kasihan padaku?" Dia balik bertanya padaku.


Errr ....


Saat itu juga kusadari maksud dia membawa Jasmine kepadaku. Ternyata Zu ingin menyelesaikan kesalahpahaman yang telah terjadi waktu itu. Di mana Jasmine mengatakan jika dia sedang mengandung anak dari Zu. Yang mana hal itu membuatku ingin cepat-cepat kembali ke Angkasa.


"No-nona. Nona maafkan aku."


Jasmine terbata meminta maaf padaku. Dia menunduk dan tidak berani menatapku. Tangannya gemetaran seperti ketakutan. Aku pun tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya. Tapi aku berusaha berempati saja. Tak ada salahnya menaruh rasa empati walaupun dia telah menyakiti. Setidaknya bisa menunjukkan jika aku adalah seorang manusia yang mempunyai naluri dan belas kasihan.


"Katakan yang benar. Atau kau akan kubawa ke Bunga sekarang juga?!" Zu berkata tegas kepada Jasmine.


"Pangeran?" Aku pun tak percaya dengan apa yang Zu katakan kepada putri ini.


"Ja-jangan Pangeran, aku mohon. Biarkan aku tinggal di sini. Aku tidak mau kembali lagi ke Negeri Bunga." Jasmine memohon kepada Zu.


Entah apa yang terjadi, Jasmine seperti ketakutan dengan ucapan Zu. Aku tidak tahu permasalahan apa yang terjadi padanya dan juga tanah kelahirannya. Tapi yang kulihat dia amat ketakutan saat Zu bilang akan membawanya ke Negeri Bunga. Ini aneh sekali. Mengapa harus takut untuk pulang ke negeri sendiri? Sebenarnya apa yang telah terjadi?


"Cepat katakan yang sebenarnya kepada Ara!" Zu meminta lagi.

__ADS_1


Jasmine pun mengangguk takut. Dia menelan ludahnya berulang kali di hadapanku. Dia juga menarik napas dalam sebelum mengatakan sesuatu. Aku sendiri masih menunggu apa yang ingin dia katakan padaku. Aku ingin tahu.


__ADS_2