
Aku harus melakukan sesuatu untuk menghentikannya.
Akhirnya kucubit saja pinggangnya sekuat tenagaku. Saat itu juga kedua matanya terbuka dan melihatku.
"Pangeran, kau memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan!" Aku kesal padanya.
Jarak kami dekat sekali karena tubuhku belum dapat beranjak bangun darinya. Dia masih mengunci tubuhku dan tidak membiarkanku lari. Aku pun jadi malu sendiri dibuatnya. Tak pantas dia melakukan hal ini kepadaku.
Pangeran, aku ingin menggigitmu.
Angin kencang menerbangkan rambut-rambutku yang jatuh. Zu pun tersenyum padaku. Tangannya menyampirkan rambutku ini. Sedang satu tangannya memegang kuat punggungku. Dia tidak memperkenankanku lari. Aku pun tidak bisa melepaskan diri. Tenaganya bukanlah tandinganku.
Dia tersenyum. "Ara ... ternyata kau masih mencintaiku." Dia berkata seperti itu dengan suara yang serak.
"Pangeran, kau bodoh! Aku akan membunuhmu!" Aku mengancamnya karena rasa kesal yang bukan main.
Dia tersenyum lagi seraya menampakkan gigi-gigi kecilnya padaku. Matanya menatapku dengan dalam. Tak tahu apa yang sedang ada di dalam pikirannya, sepertinya dia telah berhasil menjebak ku pagi ini. Kulihat sinar matanya seperti menyiratkan kebahagiaan atas apa yang terjadi.
"Bunuhlah aku, Ara. Jika hal itu bisa membuatmu senang, maka lakukanlah. Tapi, kumohon jangan bunuh aku dengan cintamu. Aku mencintaimu," katanya yang membuatku terenyuh seketika.
Zu mengatakannya dengan tulus. Sinar bening matanya menyiratkan kejujuran hatinya. Kami pun saling berpandangan dengan jarak yang dekat sekali. Detak jantungnya kurasakan seirama dengan detak jantungku ini. Sepertinya ini adalah pertanda takdir bagi kami.
Pangeran, kenapa kau membuat hatiku bercampur aduk?
Pagi ini bak sudah digariskan akan terjadi. Dimana seorang calon penguasa negeri melakukan hal bodoh untuk mengetahui isi hati gadis yang dicintainya. Dan begitu juga yang dilakukan Zu padaku. Entah mengapa dia bisa mengambil langkah seperti ini. Aku tak habis pikir sendiri. Tak percaya jika hal ini benar-benar akan terjadi padaku.
Pasukannya?!
Sesaat kemudian aku menyadari jika sedang ditonton oleh pasukannya sendiri. Aku pun segera melepaskan diri. "Pangeran, lepaskan! Kita ditonton banyak orang!" Aku berontak kepadanya agar dia membiarkanku bangun.
Dia menggelengkan kepala. "Tidak, Ara. Biarkan dunia mengetahuinya."
"Ap-apa?!" Dia membuatku bertambah jengkel saja.
__ADS_1
Aku mencoba melihat keadaan sekitar. Dan ternyata ... hanya ada kami di sini.
Astaga! Kemana mereka semua?!
Tak tahu mengapa para pasukan khusus itu sudah pergi dari kami. Aku tidak tahu kapan persisnya mereka pergi. Tapi sepertinya hal ini sudah direncanakan Zu sebelumnya. Aku pun menyadari jika sedang dikerjai oleh putra mahkota ini. Aku benar-benar kesal padanya. Rasanya ingin sekali menggigitnya sampai berdarah-darah. Bisa-bisanya dia melakukan hal ini padaku.
Pangeran, kau benar-benar ya!
Lantas karena kesal merasa dipermainkan, aku pun melakukan sesuatu kepadanya. Kugigit lehernya sambil mencubit pinggangnya dengan kuat. Saat itu juga dia menjerit kesakitan.
"Aaaa!!!"
Di saat itulah aku melepaskan diri. Aku segera bangkit lalu menjauh darinya. Aku ingin kembali ke kamarku lagi.
"Ara!" Dia memanggilku.
Aku tidak menggubrisnya. Aku terus saja pergi.
"Ara! Jangan pernah bohongi hatimu! Kau masih mencintaiku! Aku bisa merasakannya, Ara!" Dia berteriak kembali di tengah lautan ini.
Pangeran, bagaimana mungkin aku bisa melawan kehendak takdir. Aku tak berdaya melakukannya. Tolong jangan paksa aku untuk mengakuinya. Tolong.
Angin kencang membuatku harus segera merapikan rambutku ini. Aku pun kembali melangkahkan kaki menuju kamar istirahatku di kapal. Aku tidak boleh membiarkan hati ini terombang-ambing kembali. Aku harus kuat dan bertahan. Ya, hanya hal itu yang perlu kulakukan agar tidak terjebak lagi ke dalam cintanya. Aku ingin mengakhiri hubungan ini.
Belasan menit kemudian...
Aku mengurung diri di dalam kamar. Aku masih kesal padanya. Dia nekat bunuh diri karena ingin mengetahui bagaimana perasaanku yang sesungguhnya. Jika bukan karena calon raja, tentunya sudah kuacak-acak tak bersisa. Bisa-bisanya dia melakukan hal seperti itu untuk mengetahui isi hatiku. Dia benar-benar gila.
Pangeran!!! Kau keterlaluan!!!
Aku duduk di tepi kasur sambil mencengkram sprei kasurku sendiri. Aku benar-benar kesal dengan kejadian tadi. Aku ingin melampiaskan rasa kesalku ini. Tapi aku juga tidak tahu bagaimana caranya.
Arrghh! Dia itu!
__ADS_1
Aku syok, malu, panik, semua rasa bercampur aduk di pikiranku. Bagaimana tidak syok menghadapi tingkah konyolnya tadi. Dia seperti tidak berpikir lagi bagaimana jika benar-benar mati dan aku dituntut ganti rugi oleh negerinya? Yang ada aku juga akan menyusulnya dan tidak bisa melihat dunia kembali. Menyebalkan sekali.
Pastinya seribu satu cara Asia akan menyalahkanku. Jika sudah begitu apa yang bisa dilakukan kedua pangeranku? Sedang sekarang bukti dijadikan sebab perkara. Ya, walaupun nyatanya masih bisa dimanipulasi. Sungguh aku ingin mencekik putra mahkota itu untuk meluapkan kekesalanku.
"Nona. Sarapan pagi sudah siap!" Seseorang mengetuk pintu kamarku dari luar. Sepertinya koki kapal ini.
"Aku tidak mau makan!" jawabku ketus.
Keadaan hening sejenak saat aku berkata seperti itu, namun tak lama kemudian dia bicara lagi. "Nona, pangeran meminta Nona untuk segera sarapan pagi bersama. Tolong kerja samanya agar kami tidak terkena hukuman." Dia berkata lagi.
Arrrghh ....
Sungguh bukan main kesal hatiku. Aku seperti diperdaya olehnya. Setelah dibuat panik, dia ingin mengancamku dengan menyuruh orang itu. Sebenarnya apa peduliku jika mereka dihukum? Bukan urusanku juga!
"Nona Ara?" Dia memanggilku lagi.
"Bilang saja padanya, aku tidak lapar!" jawabku setengah kesal.
"Tapi, Nona—"
"Sudah, aku tidak ingin diganggu!" kataku lagi pada orang itu.
Aku masih duduk sambil mengepalkan kedua tanganku. Hatiku kesal bukan main dan ingin segera mencacaknya. Tapi dia malah menambahi rasa kesalku dengan meminta orang itu menyampaikan keinginannya. Maka bertambahlah rasa kesal di hatiku.
Bisa-bisanya dia menggunakan kekuasaannya untuk mengancamku!
Tak lama, terdengar suara pintu yang dibuka paksa dari luar. Dan ternyata suara itu adalah suara pintu kamarku. Seorang pria berpakaian kerajaan hitam datang memasuki kamarku ini. Dia membuatku terbelalak dengan kehadirannya yang tiba-tiba.
"Jadi tidak mau sarapan?" tanyanya seraya menyilangkan kedua tangan di dada.
"Pa-pangeran?!"
Tentu saja yang datang adalah pria bodoh itu. Calon raja Asia yang hampir membuatku gila karena ulahnya. Jantungku ini sudah tak karuan dibuatnya. Andai dia tidak terselamatkan, pastinya aku juga yang akan terkena getahnya. Dia benar-benar menyebalkan.
__ADS_1
Zu melakukan sesuatu terhadap pintu kamarku.
"Pa-pangeran! Apa yang kau lakukan?!" Kulihat dia mengunci pintu kamar ini.