
"Aku ... aku baru saja bicara dengan ibu," katanya.
"Lalu?" Aku pun serius menanggapi.
"Ibu tidak sependapat denganku. Ibu sependapat dengan kak Cloud. Tidak ada yang mengerti kekhawatiranku." Dia menjelaskan keadaannya.
Oh, jadi begitu ....
Kini aku bisa mengerti apa yang sedang terjadi pada Rain. Ternyata dia dan Cloud membicarakan hasil keputusan negosiasi dengan pihak Asia. Dan ratu menyetujui jika aku ke sana, sedang Rain tidak terima.
Rain, kau tidak perlu mengkhawatirkanku. Aku sudah besar. Pastinya bisa menjaga diri sendiri. Tapi, terima kasih karena telah mengkhawatirkanku.
Rasanya hati ini terharu dengan pengorbanan yang dia berikan padaku. Mungkin saja di sana tadi terjadi adu mulut yang menyebabkan hatinya terluka. Kulihat matanya memerah seperti habis menangis. Mungkin saja dia merasa ratu tidak sayang lagi padanya sehingga rasa sakit itu begitu mengoyak hatinya.
"Ara, apakah aku terlalu bodoh dalam menimbang suatu urusan?" tanyanya padaku.
"Rain, apa yang kau katakan? Mengapa sampai berpikiran seperti itu?" tanyaku heran.
Rain menelan ludahnya. Dia kemudian mengusap wajahnya sendiri. Dia menyandarkan punggung di sofa. "Aku mencintaimu. Aku juga mencintai negeri ini. Tapi aku pun tahu bagaimana Zu terhadapmu. Aku tidak ingin kehilanganmu, Ara." Dia menuturkannya padaku.
Saat itu juga aku mengerti apa yang dia rasakan. Kupegang wajahnya dengan lembut lalu kutatap bola mata birunya yang pekat. Aku pun mendekatkan wajahku ini ke wajahnya. Aku ingin menciumnya.
Rain, jangan terlalu khawatir. Kau ini seperti anak kecil.
Kuraih bibirnya. Kukecup bibir tipis nan merah muda yang bergetar karena menahan rasa kesal. Aku pun mencoba menenangkan hatinya dengan memberi penekanan lembut pada bibirnya. Kulihat Rain pun memejamkan matanya. Dia menerima ciuman dariku. Saat itu juga kugerakkan pelan-pelan tanganku ini untuk memegang permukaan dadanya. Aku ingin mengetahui laju detak jantungnya. Dan saat itu juga kurasakan detak jantungnya mulai stabil. Rainku tenang kembali.
Dasar hujan ....
__ADS_1
Kulepaskan ciuman ini seraya membuka mata perlahan. Aku pun tersenyum manis kepadanya. Aku memegang tangannya lalu mengecupnya bergantian. Kutunjukkan jika aku baik-baik saja. Saat itu juga kulihat matanya berkedut seperti ingin meneteskan air mata. Dia tampak terharu dengan hal yang kulakukan ini.
Begitu besar energi cinta yang kurasakan darinya. Aku pun merasa tidak salah untuk mencintainya. Ya, aku mencintai hujanku. Sekarang dan selamanya.
"Ara ...."
"Rain ...."
Aku masih tersenyum untuk menarik senyumnya. Rainku pun tersenyum padaku. Dia kemudian menarikku ke dalam pelukannya. Hangat tubuhnya bisa kurasakan sampai terasa memenuhi relung dada ini. Aku pun menyandarkan kepala di dada bidangnya. Aku tidak ingin dia sedih lagi. Aku ingin dia bahagia selamanya.
Beristirahatlah, Rain. Kau sudah terlalu lelah berjaga semalam.
Lantas aku memintanya untuk beristirahat setelah lelah berjaga di belakang istana. Aku pun bersikap manja untuk mengalihkan perhatiannya dari kesedihan. Rainku pun kembali ke sediakala. Dia kembali menjadi seorang ksatria. Senang rasanya bisa membuatnya bahagia. Dan aku harap cinta kami ini abadi selamanya.
Jam makan siang di istana...
"Ara." Cloud pun masuk ke ruangannya. Dia baru saja menerima tamu dari negeri lain.
"Cloud, sudah selesai?" tanyaku lalu menyambut kedatangannya.
"Ya. Sudah. Tuan Count yang menemani mereka makan siang. Kau mau makan siang bersamaku?" tanyanya padaku.
Aku berdiri, mendekatinya. "Kita makan siang di mana? Aku ke sini untuk membicarakan keberangkatan ke Asia." Segera kuutarakan tujuanku datang.
Cloud terkejut. Raut wajahnya menyiratkan ketidakpercayaan dengan keputusanku ini. "Kau serius, Ara?" tanyanya seraya memegang wajahku ini.
"He-em." Aku mengangguk. "Waktunya hanya tersisa lima hari lagi. Kita harus segera mendapatkan bunga itu. Aku tidak punya pilihan lain. Biarlah aku berangkat ke sana untuk mendapatkan bunga itu." Aku begitu yakin mengatakannya.
__ADS_1
Saat itu juga Cloud menarikku ke dalam pelukannya. Dia membenamkan wajahnya di bahuku. Dia memelukku erat yang membuat hatiku bertanya-tanya, mengapa dia melakukannya? Tak lama dia pun mencium bahuku ini.
"Maafkan aku, Ara." Dia meminta maaf padaku.
"Cloud?"
Sambil terus memelukku dia pun berkata, "Aku tidak punya pilihan lain. Maafkan aku yang harus mengorbankanmu." Suaranya terdengar mulai serak.
Cloud ....
Aku rasa Cloud ingin menangis. Aku tahu beban berat yang sedang dipikulnya saat ini. Sehingga sebisa mungkin tidak menambah bebannya dengan tingkah lakuku yang tidak disukainya. Aku harus selalu mendukungnya dalam keadaan suka maupun duka. Biarlah waktu yang menjadi saksi betapa aku menyayanginya. Andai ini jalan untuk kami agar berpisah, aku rela. Sampai di sini saja aku sudah merasa bahagia karena bisa mengenalnya. Dekat dengannya dan mengarungi satu putaran matahari di Angkasa.
"Cloud, jangan berkata seperti itu. Aku tidak merasa keberatan." Aku tersenyum di pelukannya. "Sekarang mari kita makan siang dan bicarakan rencana selanjutnya. Semangat, Pangeran!" Aku memberinya semangat seraya mengusap-usap punggungnya.
Cloud melepaskan pelukan. Dia kemudian menatapku erat. Dia pegang wajahku ini lalu mengecup keningku. Aku pun membiarkannya menyalurkan semua energi cinta yang dia punya. Aku menerima cintanya. Dan sebisa mungkin aku akan menjaga cinta itu. Karena aku menyayanginya.
Sore harinya...
Keputusanku sudah bulat. Aku akan berangkat ke Asia hari ini juga. Tak banyak waktu untuk berleha-leha dan menunggu keajaiban atas kesembuhan raja. Harus ada yang dikorbankan untuk mendapatkan sebuah keberhasilan. Dan aku sadar benar akan konsekuensi dari keberangkatanku ini.
Ya, anggap saja ini adalah tanda cinta seorang rakyat kepada rajanya. Yang rela melakukan apa saja untuk menyelamatkan nyawa rajanya. Dan mungkin seperti itulah yang sedang kulakukan untuk Angkasa.
Sore ini pihak Angkasa telah menyiapkan armada cepat untukku sampai ke Asia. Burung pengantar pesan pun telah diterbangkan menuju negeri itu. Diperkirakan sebelum pergantian hari, aku sudah sampai di sana. Kebetulan mengambil jalur khusus dengan ditemani beberapa pasukan khusus. Mungkin ada sekitar dua sampai tiga puluh orang yang ikut ke sana. Cloud pun ikut mengantarkanku ke Asia. Dia ingin bertemu langsung dengan raja dan menitipkanku.
Semangat, Ara! Kau pasti bisa!Yakinlah!
Cloud sebenarnya ingin menemaniku sampai berhasil mendapatkan bunga itu. Tapi Zu tidak mengizinkannya. Dia mengajukan persyaratan sebagi bukti kepercayaan yang pihak Angkasa berikan. Kuakui jika Cloud maupun Zu adalah seorang negosiator handal. Sehingga saat keduanya bertemu, salah satu pihak harus mengalah demi tercapainya kesepakatan. Dan Cloud menimbang ulang persyaratan yang diajukan oleh Zu. Mau tak mau dia harus memenuhinya.
__ADS_1