Dua Pangeran Satu Cinta 2

Dua Pangeran Satu Cinta 2
Meet


__ADS_3

"Oh, Bibi. Aku ingin ke rumah konveksi istana," kataku padanya.


Pelayan itu melihat ke belakang. "Sudah tutup, Nona. Sudah jam delapan. Besok lagi saja ya. Rumah konveksi sangat gelap jika malam karena tidak ada pekerjanya." Pelayan memberi tahuku.


"Oh ...." Aku pun mengerti maksudnya.


"Kalau begitu saya permisi, Nona." Dia pun berpamitan seraya tersenyum padaku.


Aku mengangguk, mengiyakan kepergiannya.


Aku terlambat ternyata.


Sedih rasanya karena tidak bisa menyelesaikan pekerjaan dengan cepat. Lantas rancangan yang ada di tanganku ini kubawa kembali menuju kamarku. Hari sudah malam dan rumah konveksi sudah tutup. Itu berarti aku tidak bisa menyelesaikan pekerjaan dengan segera. Jadi ya sudah, aku kembali ke kamarku saja yang berada di belakang istana. Aku ingin bersantai sambil menatap bulan yang sebentar lagi purnama.


"Rain ... Cloud ... sedang apa kalian di sana?"


Tak lama kemudian aku pun sampai di dalam kamarku. Segera kubuka jendela lalu kutatap bulan seraya mengingat wajah keduanya. Namun, tiba-tiba saja rasa rindu itu datang dan menggebu. Tak terasa sudah dua hari tidak ada kabar dari mereka. Rasanya rindu ini semakin menyiksaku. Aku ingin melampiaskan rasa rindu ini segera.


"Aku begitu mencintaimu, Ara. Tidak bisakah belajar untuk mencintaiku?" tanyanya dengan tatapan sendu.


"Astaga ...."


Entah mengapa tiba-tiba saja terbersit perkataan Zu waktu itu. Dimana dia memintaku agar belajar mencintainya. Raut wajahnya pun seketika menyingkirkan wajah kedua pangeranku. Wajahnya hadir dan memenuhi pikiran ini. Aku tak tahu mengapa, tapi mungkin di sana dia sedang merindukanku.


Pangeran, maaf ....


Hanya kata maaf yang bisa kuucapkan. Karena aku tidak menganggap sama sekali kedatangannya waktu itu. Aku pergi begitu saja tanpa memikirkan bagaimana perasaannya. Dan sekarang rasa bersalah itu melanda hatiku. Ingin rasanya menjelaskan semuanya, tapi kurasa dia telah sakit hati padaku.


Ya, berulang kali aku menegaskan jika tidak bisa kembali bersamanya. Tapi selama itu juga dia mengukuhkan hatinya untukku. Entah mengapa, aku sendiri tak menyangka jika dia akan segigih ini mempertahankan perasaannya terhadapku. Apakah aku benar-benar gadis pertama yang dicintainya?

__ADS_1


"Hah ... sudahlah. Lebih baik beristirahat saja."


Karena tidak ingin terlarut dalam pikiran, kuputuskan untuk beristirahat segera. Besok juga aku harus mengukur busana para pelayan istana. Jadi ya sudah, kubaringkan tubuhku lalu bersiap memasuki alam mimpi. Semoga malam ini mimpi indah kan menyertai.


Hari ke tiga...


Pagi-pagi aku mendatangi pihak konveksi istana sebelum matahari terbit. Dan ternyata di sana sudah mulai ramai oleh para pekerja. Mereka bekerja keras untuk menyelesaikan rancangan busana keluarga utama kerajaan. Yang mana ratu menginginkan hari ini diselesaikan. Jadi mau tak mau fajar datang mereka sudah beraktivitas.


Aku sendiri segera membersihkan diri selepas dari sana. Mandi menggunakan sabun aroma terapi dan setelahnya berdandan rapi. Dan kini aku sedang sibuk di sebuah ruangan terbuka sambil menunggu pelayan kloter ke lima datang. Aku akan mengukur baju mereka.


Hari ini adalah hari terakhirku mengukur busana yang dipinta pihak istana. Namun, hari ini juga hari yang paling melelahkan bagiku. Bayangkan saja, seratus pelayan wanita harus kuukur badannya untuk menentukan busana yang pas dipakai mereka. Dan itu amat melelahkan sekali. Sudah hampir jam makan siang seperti ini pun pekerjaanku belum juga selesai.


Err ... sepertinya aku butuh tenaga tambahan.


Dalam melakukan pengukuran, aku bekerja sendiri. Karena semua pekerja konveksi sibuk menyelesaikan rancangan busanaku. Namun, aku dibantu oleh seorang asisten untuk mencatat ukuran bajunya. Dia juga yang mendata nama-nama pelayan yang ada di istana. Sehingga pekerjaanku terasa lebih ringan. Tapi tetap saja yang namanya bekerja, pasti terasa lelah.


"Terima kasih, Lara. Tapi tinggal dua puluh orang lagi. Sekalian saja. Tolong panggilkan ya," pintaku padanya.


Asistenku yang bernama Lara itu tampak segan hati. "Baik, Non. Kalau begitu permisi." Dia pun bergegas pergi untuk memanggilkan pelayan yang tersisa.


Sejujurnya aku lelah. Baru saja melakukan perjalanan jauh dari Angkasa ke Asia, Asia ke Angkasa, tapi sudah diminta untuk pergi lagi ke Negeri Bunga. Yang mana negeri ini berbatasan langsung dengan Asia. Sama saja aku bolak-balik ke negeri pangeran berkulit putih itu. Benar-benar melelahkan sekali.


Aku sendiri berusaha seprofesional mungkin melakukan pekerjaan ini. Karena sudah menjadi tugasku sebagai calon ratu untuk mengharumkan nama negeri. Tapi tetap saja harus ada jeda sebelum melakukan perjalanan jauh lagi. Namun sayangnya, ratu seperti tidak memikirkan hal itu. Dia memintaku untuk pergi ke negeri ini tanpa peduli dengan staminaku. Mungkin ratu ingin mengujiku.


Semangat Ara! Hanya tinggal dua puluh orang lagi!


Terkadang aku berpikir, apa iya bisa mengimbangi ibu kandung dari kedua pangeranku? Jelas-jelas dia menunjukkan ketidaksukaannya padaku. Tapi aku masih bersikeras untuk bersama kedua putranya. Mungkinkah aku sudah dibutakan oleh cinta hingga seperti ini? Sampai detik ini dilema masih melanda hatiku. Haruskah kulanjutkan hubungan tanpa restu atau menyerah sampai di sini?


"Nona, saya juga ingin mengukur pakaian." Seorang pria berkata seperti itu padaku.

__ADS_1


Aku masih sibuk membuat sketsa busana pelayan. "Ya, mohon tunggu, ya," kataku tanpa melihatnya.


Aku duduk di depan meja sambil merancang busana para pelayan. Tapi, tiba-tiba saja ada seorang pria yang menghampiriku. Dan karena sibuk, aku tidak memedulikannya.


"Nona, serius sekali. Apa tidak ingin makan siang terlebih dahulu?" tanyanya padaku.


Aku tidak mengindahkannya karena masih sibuk. "Nanti saja. Terima kasih," kataku padanya.


Dia masih berdiri juga di hadapanku, tidak mau pergi. "Nona, nanti Nona jelek kalau tidak makan," katanya yang membuatku menghentikan aktivitas sejenak.


Jelek?!


Saat itu juga aku penasaran. Siapa orang yang berani-beraninya mengatakan jelek kepadaku?


Aku tak tahu siapa yang bicara, tapi aku segera mengangkat wajah untuk melihatnya. Dan ternyata, saat itu juga aku dibuat terkejut olehnya.


"K-k-kau ...?!" Aku tak percaya melihat pria itu berdiri di hadapanku.


Dia tersenyum. "Apa kabar, Nona? Senang bertemu kembali denganmu," katanya seraya menjulurkan tangannya kepadaku.


Aku menelan ludah. Tak menyangka akan bertemu dengannya di sini. Lantas aku beranjak berdiri. Kami pun berdiri berhadapan di ruangan ini. Detak jantungku berpacu cepat bukan main. Tak menyangka akan bertemu kembali dengannya di sini.


"Tu-tuan, Anda ...?" Aku seperti kesulitan bicara.


"Pangeran Xi!" Tiba-tiba kudengar suara seorang wanita berteriak memanggilnya.


Pangeran? Xi?


Saat itu juga aku tersadar siapa gerangan pria di hadapanku ini. Dia ternyata adalah seorang pangeran dan namanya adalah Xi. Pria yang kutemui di danau cinta waktu itu.

__ADS_1


__ADS_2