
Kulihat Zu tersenyum lagi. "Tapi bagaimana jika saya melaporkan hal yang terjadi waktu itu ke pengadilan tinggi Antara, Yang Mulia? Apakah Yang Mulia siap menanggung malu dan konsekuensinya?" tanya Zu seraya tersenyum tipis kepada ratu.
"Kau!" Saat itu juga kulihat wajah ratu memerah. Dia seperti menahan amarah karena perkataan Zu.
"Kami telah memenuhi perjanjian dengan baik. Tapi, tidak ada sesuatu yang gratis di dunia ini. Saya harap Yang Mulia bisa mempertimbangkan kembali apa yang telah saya ajukan tadi. Jika tidak ada tanggapan sama sekali, berarti Yang Mulia harus siap menanggung konsekuensinya. Itu saja." Zu menegaskan kembali.
Ratu menelan ludahnya. Dia tidak berbicara sepatah kata juga.
"Kalau begitu saya undur diri. Saya tunggu kabar baiknya. Permisi, Yang Mulia." Zu pun berpamitan pada ratu.
Saat itu juga aku lekas-lekas pergi dari tempat persembunyianku. Aku menuju ke belakang istana untuk bersembunyi dari Zu. Aku tidak bisa banyak berpikir saat ini. Rasanya masalah terus saja datang dan bertubi-tubi. Seperti tidak pernah ada habisnya. Jadi alangkah baiknya jika aku mencari tempat sementara untuk menenangkan diri. Baru setelah itu berpikir kembali.
Setengah jam kemudian...
Aku tak peduli apakah Zu mencariku atau tidak. Saat ini lebih baik aku bersembunyi dari hal-hal yang bisa saja terjadi. Dan kini aku baru sampai di depan sebuah rumah mewah yang ada di kawasan perumahan elit Angkasa. Aku ingin singgah dan beristirahat sejenak di sini.
"Salam bahagia untuk Nona Ara." Prajurit yang berjaga pun memberi salam padaku.
__ADS_1
"Terima kasih. Bisa izinkan aku beristirahat sebentar di sini? Aku sangat lelah," kataku padanya.
"Tentu, Nona. Silakan." Dia pun mempersilakanku masuk.
Pintu gerbang dibuka. Aku pun dipersilakan masuk ke halaman rumah mewah ini. Ya, aku sedang singgah di rumah mewah yang Cloud berikan padaku waktu itu. Tapi karena tidak memegang kuncinya, aku meminta prajurit yang berjaga untuk membukakannya. Alhasil aku pun bisa masuk ke rumah ini.
"Prajurit, jika ada yang datang mencariku, tolong katakan jika aku tidak ada di sini. Aku sedang tak enak badan dan ingin segera beristirahat. Tolong ya," pintaku padanya.
"Baik, Nona." Prajurit pun memenuhi permintaanku.
"Terima kasih." Aku pun lekas-lekas menutup pintu lalu menguncinya dari dalam. Aku ingin beristirahat sejenak di sini.
Lantas aku pun menuju dapur rumah ini. Aku ingin melihat ada makanan apa saja yang bisa kusantap siang ini. Aku juga haus. Benar-benar haus seperti habis berlari jauh. Kurasa membutuhkan waktu untuk tidur sejenak terlebih dulu. Aku merasa lelah sekali.
Sore harinya....
Aku tertidur di ayunan rotan yang berada di dekat kolam renang rumah ini. Dan ternyata saat bangun, semburat merah sudah menghiasi langit angkasa. Ternyata waktu telah memasuki sore hari tanpa terasa. Aku pun duduk sebentar sambil menyatukan nyawa ini. Tubuhku juga seperti lebih segar dari sebelumnya. Aku tidak merasa kelelahan lagi.
__ADS_1
Tadi sesampainya di istana, aku segera menyerahkan bunga malaikat kepada tabib yang kebetulan baru saja datang untuk bergantian menjaga raja. Setelah itu, aku pun berpisah dengan Zu di lantai dua istana. Zu menuju ke lantai tiga, sedang aku ke ruang Cloud di lantai dua. Tetapi ternyata, Cloud tidak ada di ruangannya. Malahan informasi terkini kudengar tanpa sengaja dari Tuan Shane dan Tuan Count tentang keadaan Angkasa.
Aku pun lekas mencari Rain, berniat menanyakan hal apa yang sebenarnya terjadi. Tapi baru saja turun dari lantai dua, aku melihat Rain bersama beberapa pasukan berkuda keluar istana lewat gerbang belakang. Tentu saja hal itu membuatku semakin bertanya-tanya. Mengapa kedua putra mahkota tidak berada di istana dalam waktu yang bersamaan? Dan karena rasa penasaran aku menanyakannya kepada salah satu prajurit yang berjaga di belakang istana. Dan ternyata, jawabannya mengejutkan.
Seorang mayat ditemukan di dekat sungai yang ada di bawah kaki bukit pohon surga. Aku belum pernah ke sungai tersebut, tetapi rasa-rasanya memang ada di balik bukit pohon surga. Mungkin jaraknya beberapa ratus meter dari kaki bukit. Dan saat kuterima kabar itu, saat itu juga bulu kudukku merinding. Aku belum tahu hasil investigasi Rain seperti apa. Tapi mungkin ada kaitannya dengan jatuh sakitnya raja.
Berbeda dengan Rain, Cloud ternyata sedang melakukan pertemuan penting di pelabuhan barat Angkasa. Tepatnya di dekat Antara dan Terusa. Katanya mereka sedang membahas keamanan dan geopolitik negeri-negerinya. Entah bagaimana hal yang sesungguhnya, sepertinya sesuatu memang sedang terjadi dan menguras pikiran kedua pangeranku. Aku pun lebih baik menjauhkan diri sementara waktu agar tidak ikut terkena imbasnya. Karena bisa saja ratu memintaku untuk melakukan hal yang aneh-aneh selama kedua pangeranku tidak ada. Ratu sangat berkuasa.
Kini yang harus aku pikirkan adalah bagaimana cara memberi pengertian kepada Zu tentang hubungan kami. Aku tidak bisa meninggalkan kedua pangeranku karenanya. Ya, walaupun harus kuakui jika getaran di hatiku masih ada untuknya. Tetapi tetap saja Rain dan Cloud lebih bertahta. Terkecuali jika dia sendiri mau dijadikan yang ke tiga, itu tidak masalah. Namun masalahnya, dia juga nekat untuk jadi yang ke tiga dalam hidupku. Dan hal itu membuatku bertambah pusing saja. Kalau sudah begini, aku harus bagaimana?
Kenapa aku terjebak di antara banyak hati? Sampai saat ini aku tidak tahu harus berlabuh ke mana? Apakah pada akhirnya tidak ada satupun yang kudapatkan? Sungguh jika bisa memilih, aku akan memilih. Tapi jika ketiganya bisa kudapatkan, kenapa tidak? Itu lebih baik dibanding terjadi permusuhan di antara mereka.
"Ara!"
Tiba-tiba saja kudengar suara seseorang memanggil namaku dari kejauhan. Aku pun segera menoleh, mencari asal suara. Dan ternyata, kutemukan Rain yang datang tergesa-gesa ke rumah ini.
"Ara, apa yang kau lakukan di sini?" Dia berjalan mendekatiku.
__ADS_1
"Rain?!" Saat itu juga aku terkejut dengan kedatangannya. Dia ternyata mengetahui keberadaanku di sini.
Tentu saja aku tidak bisa jujur tentang alasan mengapa bisa sampai ada di sini. Bisa-bisa dia mengambil keputusan cepat untuk menindaklanjuti hal yang terjadi. Sedang dirinya saja sedang menanggung beban yang berat untuk negeri. Sehingga tidak mungkin bagiku untuk jujur saat ini. Tahu sendiri bagaimana sifat Rain yang cepat bertindak. Dan aku takut salah langkah karenanya. Aku harus menutupi hal yang terjadi.