
"Ara." Dia menatapku dalam sekali. "Jika karena titah raja kau masih menahan diri, aku akan menyelesaikannya hari ini. Kau jangan khawatir." Dia berjanji padaku.
Saat itu juga aku tersadar jika Zu mulai nekat dengan pemikirannya. "Pa-pangeran, ti-tidak perlu. Kau tidak perlu melakukannya. Aku ... aku tidak ingin mengambil risiko. Ak-aku—"
"Ssstt." Dia menahan bibirku untuk melanjutkannya. "Tugasmu hanya satu. Belajar untuk mencintaiku. Itu saja. Selain itu biar aku yang mengurusnya." Dia seperti ingin memaksakan situasi.
Aku menggelengkan kepala. "Pangeran, tidak bisa. Aku tidak bisa meninggalkan mereka. Kami sudah terikat janji." Aku merasa pusing menghadapi sikap Zu ini.
Zu menghela napasnya dalam-dalam. "Hah ... kau masih menyebut mereka lagi, Ara. Baiklah. Jika kau tidak bisa meninggalkan mereka, maka aku juga tidak bisa kehilanganmu." Dia menegaskan padaku.
"Mak-maksud Pangeran?" Aku segera bertanya.
"Jadikan aku yang ke tiga," katanya yang sontak membuatku terbelalak kaget.
"Ap-apa? Ti-tidak mungkin." Aku tak percaya dengan keinginannya.
Dia mengangguk. "Aku rela jadi selir hatimu. Kau bisa membagi waktu untuk kedua negeri. Sebulan di Angkasa, sebulan di Asia. Itu mudah." Dia seenaknya saja berkata seperti itu.
Sungguh Zu benar-benar sudah gila. Dia memintaku untuk menjadikannya yang ke tiga. Aku amat heran dengan posisiku sekarang. Mengapa semuanya bisa jadi begini? Apakah yang dikatakan oleh Tabib Fu benar adanya? Jika aku memiliki daya tarik yang begitu kuat dan mampu menaklukan hati pria mana saja? Jika benar, itu berarti aku akan memecahkan rekor dengan suami terbanyak. Ini gila. Benar-benar gila. Bagaimana bisa hal ini terjadi di kehidupan nyataku? Sungguh tak pernah terpikirkan sebelumnya olehku.
Ya Tuhan, apa yang harus kukatakan?
__ADS_1
Jika di bumiku pastinya sudah menepi ke atas gunung untuk menghindari massa yang menolak statusku. Sedang di sini ... di sini aku bisa memiliki ketiganya. Apa iya tidak akan terjadi masalah ke depannya?
Andai aku bisa bernegosiasi, tentu saja aku ingin memiliki ketiganya. Sifat serakah itu muncul alami dari dalam diriku. Ketiganya tampan, rupawan, kaya, bertahta, dan juga berkharisma. Siapa yang tidak mau dengan mereka? Tapi masalahnya, mereka mempunyai hati yang harus dijaga. Apa aku mampu menjaga hati ketiganya dalam waktu yang bersamaan? Oh Tuhan, tolonglah aku.
Zu tersenyum padaku. "Kau terlalu banyak berpikir, Ara. Kita jalani saja yang ada. Aku berjanji akan membuatmu bahagia." Dia meraih tanganku lalu mengecupnya. Aku pun hanya bisa menelan ludah melihatnya.
Tidak ada jalan lain untuk menghadapi orang gila selain berpura-pura gila juga. Tapi haruskah aku melakukannya? Kuakui jika cinta itu membutakan dan tidak lagi melihat siapa korbannya. Sungguh setiap manusia harus bijak dalam menyikapi cinta, karena jika tidak, mereka akan salah langkah.
Pangeran, kau benar-benar memaksakan kehendak. Terus saja meminta hatiku tanpa peduli bagaimana jika dirimu di posisi kedua pangeranku. Apakah kau tidak takut jika karma itu berlaku?
Entahlah bagaimana akhirnya, aku juga tidak tahu. Lebih baik kunikmati saja perjalanan ini sambil mempersiapkan diri sebelum bertemu kembali dengan ratu. Aku harap dia bisa berlaku baik setelah aku mendapatkan bunga malaikat ini. Jika dia baik, pastinya aku akan tetap berada di Angkasa dan meminta Zu untuk pulang ke Asia. Tapi jika ratu yang mengusirku sendiri, mungkin sudah suratan takdir untukku tinggal di Asia. Kita lihat saja nanti bagaimana akhir ceritanya.
Dua jam kemudian, sesampainya di istana Angkasa...
Kulihat paras tampan yang ikut tertidur dengan satu siku tangan bersandar pada sisi kereta. Dia amat manis jika tertidur seperti ini. Aku pun beranjak bangun lalu menatapnya erat. Kuingat kembali apa yang terjadi di kamar kapal pesiar itu. Bagaimana bibir merahnya mencium dan menyapu bibirku. Rasanya sebagian hati ini masih tertinggal di dirinya. Entah mengapa hatiku jadi mulai goyah.
"Pangeran." Tiba-tiba saja ada yang mengetuk jendela kereta dari luar.
Aku pun segera tersadar. Begitu juga dengan Zu. Dia cepat bangun saat ada yang memanggilnya. Aku pun yang sedang memperhatikannya seperti kepergok olehnya. Dia kemudian mengusap kepalaku lalu segera membuka tirai jendela kereta kuda.
"Ada apa?" tanyanya kepada seseorang yang mengetuk jendela. Dia adalah salah satu pasukan khusus milik Asia yang ikut mengantarkanku kembali ke Angkasa.
__ADS_1
"Kita sudah tiba di depan istana, Pangeran," katanya yang sontak membuatku terperanjat kaget.
Ap-apa?! Sudah tiba di depan istana?!
Aku pun tersentak lalu segera membuka tirai jendela. Dan kulihat ternyata memang benar jika kami sudah berada di depan gerbang istana Angkasa. Kulihat dari kejauhan pasukan khusus yang mengawal di depan sedang menyerahkan surat izin masuk kepada prajurit penjaga. Tak lama kemudian surat itu pun dikembalikan kepada pasukan khusus Asia. Itu berarti kami diizinkan masuk oleh mereka.
Aku termenung dalam degup jantung yang berpacu cepat. Aku sudah kembali ke istana dan berarti harus siap jika terjadi sesuatu dengan Zu dan kedua pangeranku. Zu ingin memilikiku, tapi apa mungkin kedua pangeranku menyetujuinya? Jika tidak berkelahi, ya mereka akan adu mulut. Yang mana akan memancing keributan di istana. Tapi, semoga saja tidak. Mereka sudah sama-sama dewasa. Pastinya bisa menyelesaikan masalah tanpa perkara.
"Ara, kenapa?" tanya Zu, bersamaan dengan kereta kuda yang mulai memasuki istana.
"Em, aku ...." Aku bingung harus berkata apa.
Zu membenarkan poniku. Dia lalu menggenggam tanganku ini. "Ingat tugasmu. Hanya satu. Selebihnya biar aku yang menyelesaikannya." Dia meyakinkanku.
"Pangeran, jangan ajari aku untuk—"
"Sst!" Dia menghentikan ucapanku dengan menahan bibir ini dengan jari telunjuknya. "Aku tahu masih ada rasa cinta di hatimu. Izinkan aku memperbaikinya. Aku berjanji akan menjaganya sampai mati." Dia meyakinkanku lagi.
Pangeran ....
Saat itu juga aku tak tahu harus bagaimana. Rasanya yang kubutuhkan adalah waktu untuk berpikir sejenak. Zu mengambil keputusan sepihak yang tidak dapat kubantah. Dia merasa amat yakin dapat menyelesaikan semuanya. Sedang hatiku sebagian besar masih milik kedua pangeranku. Sungguh aku bingung sekali menghadapi hal ini.
__ADS_1
Andai ratu bisa bersikap baik padaku, mungkin aku tidak akan ragu dengan keputusan hati ini.
Mungkin lebih baik jika aku pasrah saja. Jika bisa ketiganya juga tak apa. Tinggal mereka saja bisa atau tidak merelakan aku berbagi waktu. Karena aku tidak tahu harus bagaimana selain pasrah. Dan mungkin itulah jalan yang terbaik untukku.