
Zu diam. Dia berjalan mendekat lalu menunjukkan kunci kamarnya padaku. "Sekarang hanya ada kita berdua di sini. Kita bebas melakukan apa saja tanpa ada yang mengetahuinya." Dia kembali membuat jantungku berdebar kencang.
"Pa-pangeran, ja-jangan macam-macam! Ak-aku ... aku bisa melaporkanmu ke Angkasa!" Dia semakin mendekatiku.
Zu tersenyum tipis. Dia kemudian membuka dua kancing baju kerajaannya di depanku. Raut wajahnya tampak berbeda sekali. Sinar matanya seolah menyiratkan sesuatu untukku. Rambutnya juga terlihat masih basah seperti habis mandi. Dan dia tidak mengindahkan peringatanku sama sekali. Mungkinkah dia sudah gila lagi?
Ya Tuhan.
Aku pun segera berdiri untuk menghindar darinya. Tapi langkah kakinya terus mendekatiku. Jantungku pun berdebar kencang semakin tak menentu. Napasku ikut tersengal seperti kehabisan udara. Aku mulai berpikiran yang macam-macam tentangnya.
Dia tersenyum tipis. "Laporkan saja." Dia malah menantangku. "Seorang istri harus menurut pada suaminya. Kira-kira apa ada yang marah jika aku menginginkan istriku sendiri?" tanyanya tanpa merasa bersalah.
Istri?! Dia benar-benar sudah gila!
Aku pun mencoba mencari cara agar bisa pergi dari ruangan ini. Tapi sepertinya tidak ada jalan selain mengambil kuncinya terlebih dulu. Lantas apa yang harus kulakukan agar bisa mendapatkan kunci itu? Apa aku harus menyerah kepadanya?
Dasar Zu! Kubunuh dirimu!
Karena tak punya pilihan lain, lebih baik aku menghindarinya saja. Saat dia mendekat, aku menghindari. Terus seperti itu sampai dia lelah sendiri. Tapi bukannya berhenti, dia malah tertawa manis di depanku. Seperti orang yang sedang gemas sekali. Benar-benar menyebalkan.
"Ara, kau semakin membuatku mencintaimu."
"Aaaa! Lepaskan!"
__ADS_1
Lantas dia menangkapku dengan cepat. Dia balikkan badanku hingga menghadap ke arahnya. Dia tarik pinggulku agar mendekat ke pinggulnya. Dia juga menahan tubuhku agar tidak bisa lari darinya. Dia melingkarkan kedua tangannya di pinggangku sehingga aku terkunci di tubuhnya.
"Pa-pa-pangeran ...." Aku sadar benar hal apa yang akan terjadi pada kami. Namun, aku tidak bisa lari.
Dia menatapku, memperhatikan apa yang ada di wajah ini. "Ada seorang gadis nakal yang tidak mau dinikahi pangerannya. Gadis itu selalu menolak dan menolak niat baik sang pangeran. Lalu apakah salah jika sang pangeran memaksa gadis itu untuk menurut padanya?" Dia membenarkan poniku yang sebenarnya tidak acak-acakan sama sekali.
"Pangeran, kau gila!" Aku pun mengumpat di hadapannya.
Dia tersenyum padaku. "Teruslah mencaciku, Ara. Kata-katamu itu sungguh tidak berarti untuk hati yang sudah terlanjur mencintai. Aku sudah gila karenamu. Dan kau ingin membuatku lebih gila lagi dengan menikah dengan kedua pangeran itu?" Dia menggelengkan kepalanya. "Tidak, Ara. Jikalaupun harus menikah, harusnya kau menikah denganku. Tidak dengan mereka." Dia menegaskan padaku.
"Pangeran, lepaskan!" Aku pun berontak padanya.
Zu semakin erat mengunci tubuhku. Dia memelukku bak tidak ingin melepaskannya sedetikpun. Wajah kami akhirnya berdekatan dengan jarak yang amat dekat sekali. Sampai-sampai hangat napasnya itu terasa menerpa permukaan pipi ini. Dia memang sudah gila dan menginginkanku.
"Ap-apa?!"
Jantungku berdetak kencang bukan main. Tersentak hebat karena perkataannya. Seperti satu hentakkan keras yang mendobrak pintu hatiku. Sungguh aku benar-benar tak percaya jika dia akan sekukuh ini untuk mendapatkanku.
Zu tidak pernah menyerah dan tidak akan menyerahkanku kepada siapapun. Baginya, aku sudah membuatnya gila dan harus mempertanggungjawabkannya. Jika tidak, dia bisa melakukan apa saja untuk mendapatkanku. Sepertinya dia memang sudah benar-benar gila.
Pangeran, kau terlalu memaksa ....
Lambat laun wajah Zu mendekati wajahku. Aku tahu benar apa yang akan dilakukannya. Namun, aku masih berusaha untuk melepaskan diri darinya. Dan semakin mencoba melepaskan diri, semakin terasa sesak dadaku ini. Dia semakin mempererat pelukannya terhadapku.
__ADS_1
Pangeran, kau benar-benar keterlaluan!
Pagi ini menjadi saksi. Dinginnya angin laut yang masuk lewat ventilasi jendela kamar seolah memaksaku untuk terhanyut dalam suasana yang dia ciptakan. Zu semakin mendekatkan wajahnya ke wajahku. Memiringkan sedikit kepalanya untuk meraih sesuatu. Saat itu juga jantungku semakin berdegup kencang tak menentu.
Pangeran ....
Aku tak tahu harus bagaimana lagi saat wajahnya semakin mendekati wajahku. Hingga akhirnya dahi kami pun bersentuhan, hangat napasnya bisa kurasakan menerpa pipi ini. Saat itu juga aku seakan tidak bisa bergerak sama sekali. Tubuhku tertarik kuat olehnya.
Pangeran, sudah hentikan. Jangan paksa aku. Nanti aku luluh dan kau akan kewalahan menghadapi cintaku.
Aku mencoba menahan dadanya dengan tanganku, mencoba mencegah agar dia tidak lebih mendekat ke wajahku ini. Tapi, entah mengapa tubuhku seolah tidak bisa digerakkan. Semakin lama bibir itu pun semakin mendekati bibirku. Detak jantungku mulai tidak stabil karenanya. Hormon di dalam tubuhku ikut bereaksi dalam sekejap.
Dari telapak tangan ini aku bisa merasakan betapa cepat detak jantungnya. Hingga akhirnya ujung hidungnya menyentuh ujung hidungku. Hangat napasnya pun terasa semakin melambat. Aku mencoba melihatnya dengan mata sedikit mengintip. Dan kulihat dia memejamkan mata sambil terus mendekati bibirku.
Pangeran, jangan. Ini tidak boleh terjadi.
Satu tangannya kemudian mengusap pipi ini. Sedang tangan yang lain menahanku agar tidak bisa lari. Tangannya yang mengusap pipiku pun perlahan-lahan bergerak menuju tengkuk leherku. Saat itu juga aku merasakan sensasi aneh pada tubuhku. Hormon kebahagiaan mulai kurasakan dan membuatku tak berdaya. Hingga akhirnya jarak bibir kami semakin dekat saja. Aku pun pasrah dan ikut memejamkan mata.
Pangeran ... tidak ada lagi yang bisa kulakukan jika sudah seperti ini.
Akhirnya bibir kami bertemu, berpadu dalam jantung yang berdetak semakin kencang. Dia mengecup lembut bibirku dengan bibirnya. Dan sentuhan lembut dari bibirnya itu menyapu pikiran burukku tentangnya. Dia ternyata tidaklah seburuk yang kukira. Semua hal yang dia lakukan hanya karena kesal terhadapku. Karena aku tidak juga memberi ruang padanya untuk singgah di hati ini. Pada akhirnya aku pun pasrah diciumnya. Aku tidak bisa melawannya.
"Balas aku," pintanya di sela-sela ciuman ini.
__ADS_1
Bibir kami berpadu dan hati seolah terikat kembali. Hangat napasnya kuhela hingga terasa masuk ke rongga dada ini. Aku tak tahu pertanda apa, tapi aku masih berusaha melawannya. Walaupun nyatanya tubuhku tidak lagi bisa berkutik di depannya. Zu memelukku dengan erat dan melampiaskan seluruh perasaannya melalui ciuman ini. Aku pun tak bisa melarikan diri. Aku hanya bisa menikmati.