Dua Pangeran Satu Cinta 2

Dua Pangeran Satu Cinta 2
See You


__ADS_3

Sungguh aku manusia biasa yang tidak tahu masa depan. Jadi aku berusaha semaksimal mungkin dari awal. Jika hasilnya masih mengecewakan, itu berarti aku harus lebih bersabar lagi. Setidaknya aku sudah serius dalam menjalani kehidupan ini. Dan semoga kesabaranku itu membuahkan hasil yang baik untuk ke depannya. Aku berharap itu.


Rain, sampai bertemu kembali.


Mungkin seiring berjalannya waktu, hatiku bisa memilih siapa yang akan menjadi suamiku nanti. Karena untuk sampai ini getaran saat bersama Rain lebih kuat dibanding yang lainnya. Kedekatan kami tidak terhalang apapun terkecuali restu ibunya. Dan Rain selalu ada untukku di setiap suka maupun duka. Tak pantas bagiku untuk tidak mencintainya. Karena selama ini dialah yang banyak berkorban untukku. Cintanya begitu besar dan aku sangat menghargai itu. Aku juga berharap kami ditakdirkan bersama. Aku menyayanginya.


Keberangkatan ke Negeri Bunga...


Satu jam berlalu akhirnya semua telah selesai disiapkan pihak istana untuk keberangkatanku ke Negeri Bunga. Ternyata aku tidak pergi sendiri, melainkan bersama Tuan Shane yang juga ikut menemani. Menteri Luar Negeri Angkasa ikut mengantarkanku menuju sebuah negeri yang memiliki banyak wanita cantik. Entah benar atau tidak, aku belum tahu. Tapi rasanya Rain tidak berbohong padaku.


Mungkin saja istilah bunga memang pantas disematkan untuk negeri yang didominasi oleh banyak perempuan. Tapi setelah mendengar cerita dari Rain, sepertinya negeri itu memiliki sisi gelap yang hanya diketahui oleh kalangan atas saja. Aku tersentak saat dia mengatakan jika banyak putra mahkota dari negeri barat yang datang dan berpesta di sana. Mau tak mau pikiranku tertuju kepada hal-hal yang negatif. Maklum perempuan, terlalu banyak memikirkan.


Ini adalah tugas pertamaku ke luar negeri. Aku harus memberikan yang terbaik untuk Angkasa.


Kini aku sedang menunggu di dalam kereta kuda sambil meneguk wedang jahe yang dikemas dalam botol plastik oleh pihak dapur istana. Aku juga dibawakan cemilan berupa pastry yang sangat enak. Pastry sendiri adalah sejenis kue lilit yang terbuat dari campuran tepung terigu, mentega dan telur. Dan rasanya memang enak sekali, apalagi jika ditambah cokelat dan kismis. Manis-manis asam sedap.


"Ara." Tiba-tiba Cloud datang memasuki kereta kuda ini.


"Cloud? Kau ingin ikut mengantarkanku?" tanyaku padanya.


Cloud duduk di sampingku lalu tersenyum. "Inginku begitu, Ara. Tapi pekerjaan tidak bisa kutinggalkan. Nanti tuan Shane yang akan menemanimu," katanya.


"Satu kereta kuda?" tanyaku lagi.

__ADS_1


Cloud menggelengkan kepala. "Tidak. Kalian terpisah kereta. Jadi kau bisa beristirahat selama di perjalanan. Jangan khawatir, ya." Dia mencolek ujung hidungku.


Aku mengangguk seraya tersenyum padanya.


"Ini." Dia lalu memberi sebuah kotak hitam padaku.


"Apa ini?" tanyaku seraya menunjuknya.


Cloud membukakan kotak hitam itu untukku. Dan betapa terkejutnya aku saat melihat apa isinya. "Jepit kupu-kupu saat kau baru pertama kali datang ke istana ini. Aku akan menyerahkannya kembali sebagai tanda tugas kenegaraan dimulai," katanya lalu memakaikan jepit kupu-kupu itu padaku.


Aku menundukkan sedikit kepala. Cloud pun segera memakaikannya. Di sisi kiri rambut ini dia pakaikan jepit kupu-kupu berwarna hijau zamrud. Dan entah mengapa, saat memakainya aku merasa aneh sekali. Saraf-saraf di otakku terhubung dengan cepat. Berfungsi tak biasanya. Jaringan neutron di otakku seakan bekerja maksimal hingga aku bisa mengingat apa saja dengan sangat cepat.


"Ara, kau baik-baik saja?" tanya Cloud padaku.


Cloud menatapku. Dia memegang wajahku. Dia mendekatkan bibirnya ke bibirku lalu mengecupnya. Kecupan hangat kurasakan di pagi ini. Saat itu juga getaran kembali kurasakan di tubuhku. Aku pun membalas ciumannya sepenuh hati. Sampai akhirnya gelora di dalam tubuhku bangkit.


Cloud ....


Cloud pun menyudahi ciumannya. Dia membuka mata perlahan lalu menatapku. Seolah menyiratkan perasaannya saat ini.


"Ara ... entah bagaimana cara mengatakannya. Tapi, aku mohon kau mengerti tentang tugas dan tanggung jawabku sebagai calon raja negeri ini. Sebisa mungkin aku akan berlaku adil padamu dan juga rakyatku. Aku tidak bisa meninggalkan mereka, tapi aku juga tidak bisa melepaskanmu. Jadi aku mohon pengertianmu." Dia mengungkapkan keadaannya saat ini.


Aku mengangguk, mencoba mengerti keadaannya.

__ADS_1


Dia menundukkan kepala. "Terkadang aku juga membenci diriku sendiri karena tidak mempunyai banyak waktu untukmu. Tapi percayalah..." Dia kembali mengangkat wajahnya, melihatku. "Sesungguhnya aku ingin seperti sepasang kekasih lainnya. Selalu bersama dalam setiap kesempatan. Tapi, hal itu tidak bisa kulakukan. Banyak hal yang harus kukerjakan. Jadi ... aku mohon. Sekali lagi aku mohon tolong maklumi pekerjaanku."


Dia meminta padaku dengan berlinang air mata. Tersirat dari bola mata birunya tidak menginginkan hal ini. Tapi, dia juga seorang calon raja yang tidak bisa menelantarkan rakyatnya. Sedang di sisi lain dia menginginkan kebersamaan yang lama denganku.


Kupegang wajahnya yang putih kemerah-merahan. Kuusap pelan dan dia pun memberatkan kepalanya di tanganku. Seperti menerima dengan sepenuh hati sentuhan ini.


"Kau tidak perlu mengkhawatirkannya, Cloud. Semampu mungkin aku akan membantu." Aku menguatkannya.


Cloud tersenyum senang. Dia lalu memelukku. "Terima kasih, Ara. Terima kasih." Pelukannya pun terasa sampai ke relung hati ini.


Sebagai wanita aku juga mempunyai logika. Walaupun sebenarnya perasaanku lebih mendominasi. Tapi di keadaan seperti ini aku tidak boleh egois apalagi mementingkan diri sendiri. Cloud memang super sibuk. Apalagi dia akan diangkat menjadi raja. Rasa-rasanya jika itu sudah terjadi, dia akan semakin tidak mempunyai waktu untukku. Dan pastinya hal itu akan berpengaruh terhadap perasaanku. Tapi di lain sisi aku juga harus memakluminya. Karena Cloud tidak mungkin meninggalkan rakyatnya.


Cloud adalah tipikal pria yang bertanggung jawab. Dia bercita-cita ingin menjadi seperti mendiang kakeknya. Seorang raja yang adil dan bijaksana, tapi juga sayang keluarga. Bahkan Cloud pernah bercerita jika di tengah kesibukan sang kakek masih sempat bermain dengannya. Dan dia amat mengagumi sosok kakeknya. Sehingga rasa patriot itu begitu tinggi tertanam di dalam jiwanya.


Mungkin jika bukan karena mimpi buruk yang melanda negerinya, Cloud juga tidak akan nekat melintasi portal ruang dan waktu untuk menjemputku. Kami berbeda bumi dan sangat jauh. Tapi kini langkah kami sudah sampai sejauh ini. Tidak mungkin rasanya untuk mundur lagi. Satu putaran matahari telah kami lalui.


"Semangat ya, Cloud. Kau pasti bisa." Aku menguatkannya.


Cloud tersenyum. Dia melepaskan pelukannya lalu mencium keningku ini. Ciuman lama yang terasa menembus relung hatiku. Aku pun menerimanya dengan senang hati.


"Hati-hati, Ara. Jaga dirimu di sana." Dia berpesan padaku.


Aku mengangguk. Tak tahu mengapa aku merasa dia juga sebenarnya tidak rela dengan keberangkatanku. Tapi demi negeri, dia harus merelakannya. Karena dia adalah calon raja yang bekerja untuk negerinya.

__ADS_1


__ADS_2