
Lima belas menit kemudian...
Aku sudah sampai di istana. Dan sesampainya aku segera berpisah dengan Zu. Zu bilang sendiri akan menemui ratu dan memintaku untuk menunggu. Dan kini aku sedang berjalan menuju ke ruang kerja Cloud. Aku ingin menemuinya. Menjelang siang ini pastinya dia sudah sedikit senggang. Jadinya aku ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk berbicara empat mata. Aku ingin meminta pendapatnya.
"Cloud."
Aku mengetuk pintu ruangannya. Namun, ketukan pertama tidak ada jawaban darinya. Aku pun segera masuk walau belum sempat mendapatkan izin. Tetapi sesampainya di dalam, ternyata tidak ada siapa-siapa. Ruang kerjanya kosong dan tidak ada orang.
Cloud, kau di mana?
Lantas aku pun mencoba masuk ke dalam kamarnya. Namun nyatanya, dia juga tidak ada. Aku mencarinya ke taman kecil yang ada di atas kamarnya, tapi sama saja. Cloud juga tidak ada. Aku jadi heran di mana gerangan dirinya berada.
Cloud, aku ingin bertemu. Tetapi kenapa kau malah tidak ada?
Aku pun bergegas keluar dari kamarnya karena ternyata dia tidak berada di dalam. Kulangkahkan kaki menuju pintu keluar lalu berniat mencari di tempat lainnya. Dan saat keluar dari ruang kerjanya, kulihat Menteri Luar Negeri Angkasa sedang berjalan bersama Menteri Dalam Negerinya. Sepertinya mereka tengah membahas hal yang penting.
Apa yang sedang mereka bicarakan?
Karena penasaran, aku mencari dinding untuk menguping. Dinding yang berada di dekat ruang kerja Cloud. Aku pun menguping pembicaraan yang terjadi. Kali-kali saja bisa mendapatkan informasi tanpa harus bertanya lagi.
"Pihak Terusa meminta pangeran Rain untuk segera ke sana dan melatih kekuatan militernya. Mereka bersedia menyerahkan seluruh pendapatan negeri itu untuk dikelola oleh Angkasa. Tapi, pangeran saat ini tidak bisa pergi ke mana-mana." Kudengar Tuan Count, Menteri Dalam Negeri Angkasa berbicara kepada Tuan Shane.
__ADS_1
"Situasi sangat tidak memungkinkan saat ini untuk kedua putra mahkota keluar dari istana, apalagi berlama-lama. Raja belum tersadarkan. Aku khawatir ada yang memanfaatkan keadaan ini untuk merebut Angkasa dari dalam. Baiknya kita juga ikut berantisipasi." Tuan Shane menanggapinya.
"Ya. Anda benar, Tuan Shane. Sebelum kita dapat menyamakan kekuatan militer, sepertinya Angkasa masih harus berbaik hati kepada negeri lain. Semoga Yang Mulia lekas sembuh dan kembali memimpin negeri ini." Tuan Count menimpali.
Tuan Shane mengangguk. Kedua pria paruh baya itu kemudian masuk ke ruang kerja Cloud. Itu berarti Cloud sedang tidak berada di istana. Tapi, ke mana dirinya berada?
Aku harus bertanya kepada prajurit yang berjaga.
Lekas-lekas aku keluar dari persembunyian lalu menuju lantai satu istana. Aku ingin menanyakan keberadaan Cloud pada prajurit yang berjaga. Langkah kaki pun kupercepat karena sepertinya ada hal genting yang sedang terjadi di istana ini. Namun, baru saja menginjakkan kaki di lantai satu istana, kulihat Rain bersama pasukan berkudanya keluar dari gerbang istana belakang. Entah mau ke mana.
Ya Tuhan, sebenarnya ada apa? Kenapa aku merasakan hal tak baik sedang terjadi?
Mungkin ini hanya sebatas firasatku saja. Tapi selama ini firasatku juga jarang ada yang salah. Jika mendengar perbincangan Tuan Shane dan Tuan Count, sepertinya sesuatu sedang terjadi dan membutuhkan waktu yang cepat untuk menyelesaikannya. Sepertinya juga berhubungan dengan Terusa, negeri yang ada di barat Angkasa. Di mana negeri itu berdekatan sekali dengan Arthemis dan hanya dipisahkan hutan saja. Apakah sesuatu benar-benar terjadi di sana?
Dengan langkah kaki yang cepat, akhirnya aku berhasil menemui salah satu prajurit yang berjaga di belakang istana. Aku pun lekas-lekas bertanya tentang keberadaan kedua pangeranku padanya. Dan ternyata, jawabannya tak terduga. Aku pun menelan ludah karenanya.
Beberapa menit kemudian...
Aku berjalan cepat menuju lantai tiga istana. Niat hatiku ingin bertanya kepada ratu di mana kedua putranya berada. Namun, sesampainya di sana kulihat Zu masih berbicara dengan ratu di teras balkon lantai tiga istana. Dan di sana tidak ada prajurit khusus yang mengawal pembicaraan mereka. Sepertinya memang sengaja.
Sebenarnya apa yang sedang dihadapi oleh Angkasa?
__ADS_1
Aku penasaran. Sungguh penasaran. Aku ingin tahu apa yang sedang dihadapi Angkasa saat ini karena negeri ini sudah seperti kampung halamanku sendiri. Di negeri ini pulalah awal kisahku dimulai. Sehingga aku harus berempati terhadap hal yang terjadi.
Zu dan ratu terlihat berbincang serius sekali.
Dan karena kepo dengan pembicaraan mereka, aku bersembunyi di balik dinding untuk mengetahui hal apa yang sedang mereka bicarakan. Sepertinya ratu memang sengaja berbicara di balkon istana agar terkesan tidak ada yang dirahasiakan dari pembicaraannya. Aku pun segera menguping apa yang sedang mereka bicarakan. Aku ingin tahu mengapa raut wajah mereka sampai seserius ini.
"Saat ini kekuasaan aku yang mengambil alih. Tapi sepertinya untuk hal yang Anda katakan, aku tidak bisa mengambil keputusannya sendiri. Aku harus menunggu suamiku pulih." Ratu berbicara seperti itu kepada Zu. Dia terlihat amat bersahaja di hadapan putra mahkota.
Zu tampak mengerti. "Saya juga tidak akan memaksakannya, Yang Mulia. Tapi saya rasa jika Yang Mulia tidak memenuhinya, Yang Mulia akan menemui kesulitan di masa mendatang. Karena saya adalah saksi mata atas apa Yang Mulia lakukan pada Ara waktu itu." Zu membalasnya.
Ap-apa?! Jadi mereka sedang membicarakanku?!
Sayang aku tidak mendengar semua pembicaraan yang terjadi di antara mereka. Pembicaraan ini sepertinya mengarah ke hal yang ratu lakukan dulu padaku. Dan Zu menggunakan kesempatan itu untuk menarik kembali titah raja yang telah dicetuskan. Yang mana isi titah itu adalah menikahkanku dengan kedua putra mahkota. Entah benar atau tidak, tapi sepertinya Zu memang bersungguh-sungguh untuk memperistriku.
"Apa ini sebuah ancaman untukku?" tanya ratu dengan dinginnya.
Zu tersenyum. Dia tampak santai saat berbicara dengan ratu. "Saya tidak ada niatan untuk mengancam Yang Mulia. Hanya saja ... saya rasa ini adalah kesepakatan yang saling menguntungkan kedua belah pihak. Bukankah Yang Mulia tidak menyukai Ara?" tanyanya pada ratu.
Pangeran, sebenarnya apa yang kau katakan?!
Jantungku rasanya ingin copot mendengar pembicaraan ini. Bisa-bisanya dia berkata seperti itu kepada Ratu Angkasa. Dia benar-benar sudah gila.
__ADS_1
Ratu berdehem. "Itu bukan urusan Anda, Pangeran Zu. Suka atau tidak aku terhadap gadis itu, tidak ada kaitannya denganmu. Aku ibu dari kedua putra mahkota negeri ini. Aku berhak memutuskan apa yang terbaik untuk mereka. Dan hal itu adalah yang seharusnya dilakukan seorang ibu." Ratu seperti sedang berdalih dari kesalahannya.
Sontak aku menelan ludah karena mengetahui isi pembicaraan ini. Zu benar-benar memenuhi janjinya untuk menyelesaikan semuanya. Dia menepati janji.