Dua Pangeran Satu Cinta 2

Dua Pangeran Satu Cinta 2
Jealous?


__ADS_3

Akhirnya aku melepas keberangkatan Cloud kembali ke Angkasa. Dan kini aku akan menjalankan tugas dari negeri itu untuk mengambil bunga malaikat yang dibutuhkan. Kubalikkan badan lalu berjalan menuju istana. Kulangkahkan kaki seraya menjinjing sedikit gaunku ini. Aku berniat menuju lantai dua istana untuk menemui Zu yang ada di sana.


Aku membenci perpisahan. Tapi hari ini harus juga terjadi.


Sejujurnya aku ingin selalu berada di dekat Cloud. Sejak titah raja dicetuskan, aku merasa tidak ada jarak lagi di antara kami. Kedua putra mahkota, baik Rain maupun Cloud sangat menyayangiku. Walaupun terkadang mereka memiliki cara pandang dan sikap yang berbeda. Tetapi selama ini aku diperlakukan bak seorang putri oleh keduanya. Mereka tidak pernah berlaku kasar apalagi sampai melakukan kekerasan fisik kepadaku. Dan aku sangat menyayangi keduanya.


Perasaan sayang itu begitu besar tertanam di dalam hati ini. Dan aku pun rela melakukan apa saja untuk keduanya, termasuk datang kembali ke Asia. Mungkin inilah yang dinamakan cinta itu buta. Karena aku sekarang merasakannya. Aku tidak peduli lagi dengan Zu yang juga mencintaiku. Walau terkadang perasaan rindu itu datang dan membelenggu.


Semangat, Ara! Kau pasti bisa melewatinya!


Kuteruskan langkah kaki ini dengan sedikit menjinjing gaunku. Halaman istana yang begitu luas tentu saja tidak bisa membuatku dengan cepat sampai ke istana. Aku pun melihat bunga-bunga di sekitar taman terlebih dahulu. Entah mengapa aku malah kepikiran untuk menanam bunga yang akan kuambil di perbatasan nanti. Aku ingin menanam bunga malaikat itu di Angkasa.


Mungkin aku bisa minta dengan akar-akarnya juga.


Bunga malaikat itu ternyata hanya bisa diambil setelah fajar sampai matahari setinggi tombak. Mungkin sekitar sampai pukul tujuh pagi. Aku tidak mengerti mengapa jadwal mekarnya hanya di jam segitu. Setahuku tidak ada waktu spesifik tentang mekarnya bunga jintan hitam alias habbatusauda. Dan setahuku juga bisa diambil kapan saja. Tapi mungkin karena beda dunia, beda juga cara pengambilannya.


Eh? Ternyata dia melihatku mengantarkan keberangkatan Cloud?


Tanpa sengaja aku melihat ke arah balkon istana lantai dua. Dan kulihat Zu tengah berdiri di sana sambil memperhatikanku. Sepertinya dia melihatku melepas keberangkatan Cloud ke Angkasa. Dan tentu saja pandangan matanya menyiratkan ketidakinginan dirinya melihatku bersama Cloud. Pangeran berseragam kerajaan hitam itu seolah tidak terima dengan perlakuan Cloud terhadapku.


Dia cemburu?

__ADS_1


Zu mencintaiku. Begitu juga dengan Cloud dan Rain. Entah mengapa pangeran yang mencintaiku bertambah satu. Aku juga heran dengan cerita ini. Tapi ya kujalani saja kisahnya. Entah akan berlabuh ke mana hati ini akhirnya. Sampai detik ini pun aku tidak tahu. Dan daripada sibuk mengurusi teka-teki akhir cerita ini, lebih baik fokus terhadap misiku saja. Ya, misi untuk mendapatkan bunga malaikat itu.


Cuaca terasa panas sekali.


Tak berapa lama akhirnya aku sampai juga di depan pintu masuk istana. Segera saja aku masuk ke dalamnya, ke dalam istana super megah nan mewah. Di mana arsitekturnya mirip seperti bangunan kerajaan Eropa. Berkelas, elegan, luas dan juga mempunyai ciri khas tersendiri. Cat-cat dinding dan tiangnya berwarna keemasan dengan ukiran naga merah di dindingnya.


Entah mengapa aku malah merasa seperti di Asia sesungguhnya. Entahlah. Saat ini yang harus kulakukan adalah menemui Zu untuk membicarakan keberangkatan kami ke perbatasan Asia dan Negeri Bunga nanti. Semoga saja menghasilkan kesepakatan yang berarti.


Di ruang kerja Putra Mahkota Asia...


Aku sampai juga di lantai dua istana, tepatnya di depan pintu ruang kerja Zu. Aku pun segera mengetuk pintu untuk bertemu dengannya. Dan ternyata, dia mempersilakanku masuk hanya dengan satu ketukan pertama. Lantas aku pun segera memasuki ruang kerjanya. Kulihat dia sedang duduk di depan meja kerja seraya memperhatikanku yang berjalan ke arahnya.


"Salam bahagia untuk Pangeran Zu." Aku pun mengucapkan salam seraya membungkukkan badanku ini.


"Boleh saya duduk di sini, Pangeran?" Aku menunjuk kursi yang ada di depan meja kerjanya.


Dia diam. Masih diam yang tidak kumengerti. Tak lama kemudian datang seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya. Zu pun mempersilakan masuk seseorang itu.


"Pangeran."


Ternyata seorang pelayan wanita lah yang datang. Dia dengan santunnya memasuki ruang kerja putra mahkota ini. Dia terlihat menundukkan pandangannya di hadapan kami. Sepertinya Zu telah memanggilnya ke sini sebelum aku datang ke ruangannya.

__ADS_1


"Tolong berikan hidangan terbaik yang kalian punya dan antarkan ke sini," pinta Zu kepada pelayan itu.


"Baik, Pangeran. Permisi." Pelayan itupun segera undur diri dari hadapan kami. Sedang aku ... masih diabaikan olehnya.


Err ... sepertinya aku tidak boleh duduk di sini.


Pintu ditutup dari luar. Tinggal lah aku dan dia di dalam ruangan ini. Namun, permintaan dudukku diabaikan olehnya. Dia masih diam dan hanya sebatas melirikku saja. Tidak menjawab pertanyaanku yang membuatku bertanya-tanya, kenapa dia seperti itu?


"Em, maaf, Pangeran." Aku pun mencoba bicara lagi padanya. "Bolehkah saya duduk di sini?" tanyaku dengan sedikit ragu.


Aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya. Aku bersikap biasa saja seolah-olah memang tamu kehormatan istana. Dan ya, aku Memposisikan hati ini seperti tidak pernah terjadi sesuatu sebelumnya di antara kami. Aku mencoba melupakan semua kisah yang telah terukir di istana tanpa melupakan kebaikannya.


Dia kenapa sih? Tidak tahu apa kakiku pegal jika lama-lama berdiri?!


Zu adalah calon raja Asia. Dia seorang pangeran dan putra mahkota negeri ini. Dia memiliki baju kerajaan berwarna hitam dengan pedang di sabuk kanannya. Tak jauh berbeda dengan kedua pangeranku di Angkasa. Hanya berbeda di warnanya saja. Cloud mengenakan pakaian kerajaan berwarna putih, sedang Rain berwarna merah-hitam. Dan aku rasa warna-warna itu telah memasuki alam bawah sadarku. Aku menyukai warna keduanya.


"Pangeran Zu, apakah saya tidak boleh duduk di sini?" tanyaku lagi, harap-harap cemas karena takut dimarahi olehnya.


Zu menghela napasnya. Dia kemudian menatapku. Tatapan matanya seolah menyiratkan jika hatinya sedang kesal. Ya, dia kesal melihat perlakuan Cloud kepadaku. Apalagi? Nyatanya sebelum ini kami baik-baik saja.


"Kau tidak perlu seformal itu padaku, Ara." Dia akhirnya bicara seraya membuka dokumen di atas meja.

__ADS_1


"Pangeran—"


"Aku tidak perlu mengatakannya berulang kali, bukan? Kau sudah cukup besar untuk mengerti perkataanku." Dia berkata seperti itu lalu membaca dokumen yang dibukanya.


__ADS_2