Dua Pangeran Satu Cinta 2

Dua Pangeran Satu Cinta 2
What's Going On?


__ADS_3

"Cucuku benar-benar mencintaimu, Nona. Dan dia tidak mempunyai saingan di sini. Nona, tolong pikirkan kembali perasaannya bilamana kau menikah dengan kedua pangeran Angkasa. Bagaimana jika kau berada di posisinya?" Nenek Zu memintaku menimbang ulang.


Aku tertunduk seraya memikirkan jawaban apa yang harus kuberikan padanya.


"Aku tidak pernah melihatnya bersikeras dalam menggapai sesuatu. Baru kali ini aku melihat semangat api itu berkobar di dalam dirinya. Aku harap perbincangan kali ini bisa membuatmu menimbang ulang keputusan. Aku yakin kau adalah gadis baik yang tidak ingin berbagi ranjang dengan banyak pria, sekalipun sudah berstatus suami sendiri. Mari, Nona. Kita nikmati hidangan makan siang ini."


Perkataan nenek Zu membuat hatiku tersentak hebat. Bagaimana tidak, kalimat terakhir seperti menekankan jika aku harus memilih satu untuk membuktikan kalau aku adalah gadis baik-baik. Sungguh siang ini hatiku dipatahkan olehnya. Ternyata dia amat menginginkan aku memilih cucunya. Tanpa peduli dengan bagaimana perasaan kedua pangeran yang ada di sana. Jika sudah begini, aku harus bagaimana? Sungguh dilema itu masih melanda.


Setengah jam kemudian...


Akhirnya yang ditunggu-tunggu juga datang. Zu datang bersama beberapa pengawal dan pasukan khususnya untuk mengantar kami ke perbatasan. Dia juga telah menyiapkan kereta kuda besar untukku selama di perjalanan. Pria berseragam kerajaan berwarna hitam itu menghampiriku yang baru saja selesai makan siang bersama neneknya. Dan kami pun berpamitan kepada nenek untuk segera melaju ke perbatasan. Terlihat wajah Zu yang semringah kali ini.


Sebenarnya di istana sangat mudah untuk membedakan mana prajurit biasa, prajurit tinggi dan pasukan khusus yang hanya bisa diperintah raja. Hal itu dibedakan dengan seragam yang dikenakannya. Mereka memiliki seragam dinas yang berbeda-beda. Jika pasukan khusus mengenakan seragam serba hitam seperti ninja dengan penutup kepala yang hanya terlihat matanya saja. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa melihat wajah mereka. Dan anehnya, pihak istana bisa membedakan mana pasukan khusus milik mereka, tanpa harus membuka penutup kepalanya.


Prajurit tinggi sendiri memiliki seragam berwarna cerah, seperti biru, hijau atau warna lainnya. Sedang prajurit biasa mengenakan pakaian yang lebih gelap seperti cokelat tua, hijau lumut atau warna sejenisnya. Dan biasanya prajurit biasa atau prajurit tinggi hanya dilengkapi dengan satu pedang saja di sabuknya. Berbeda dengan pasukan khusus yang bisa dilengkapi sampai dua hingga tiga pedang sekaligus. Itu dikarenakan mereka adalah orang-orang terpilih yang langsung dibawahi raja.


"Silakan Ara."


Zu membukakan pintu kereta kuda untukku. Dia mempersilakanku masuk lebih dulu, sedang dirinya menjagaku di belakang agar tidak sampai terjatuh. Hingga akhirnya kami menaiki kereta kuda bersama milik keluarga utama kerajaan. Kami pun segera melaju ke perbatasan hutan Asia dan Bunga. Aku pun duduk menyamankan diri di dalam kereta.


Saatnya memulai misiku.


Senang rasanya yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Bukan Zu, melainkan misiku untuk segera mendapatkan bunga malaikat itu. Aku pun tak sabar untuk segera sampai ke sana. Aku ingin melihat sendiri bagaimana bunga malaikat itu tumbuh. Aku pun berdoa semoga selamat sampai tujuan dan kembali ke istana tanpa kekurangan apapun. Aku ingin membawa kabar bahagia untuk Angkasa.

__ADS_1


"Kau membawa pakaian ganti dari Angkasa?" tanya Zu seraya menoleh ke arahku.


Zu duduk di sisi kananku dengan sedikit mendekat. Padahal kalau dipikir-pikir tempat duduknya luas. Tapi entah mengapa dia malah ingin duduk berdekatan denganku.


"Iya. Aku membawa beberapa gaun dari Angkasa," jawabku segera.


Zu tersenyum. Dia menunduk sejenak lalu menatapku kembali. Wajah cerianya bisa kulihat kala ini. Tirai jendela yang sengaja kubuka membuat sinar matahari menyorot wajah tampannya. Kuakui dia memang tampan sekali.


"Ara, kau tampak kaku padaku." Dia berbicara seperti itu.


Aku terdiam. Tidak tahu harus berkata apa.


"Apa aku harus seagresif dulu?" tanyanya yang tiba-tiba mengejutkanku.


Zu mengangguk pelan. Sepertinya dia kecewa dengan ucapanku. Entahlah, mungkin akunya saja yang terlalu perasa.


"Cloud dan Rain akan menikah denganmu. Bagaimana kau akan membagi waktu untuk keduanya?" Dia tiba-tiba bertanya seperti itu.


"Pangeran, apa maksudmu?" Aku pun menanyakan apa maksudnya mengajukan pertanyaan seperti itu padaku.


Zu menghela napasnya di dekatku. "Ara, kau tahu maksudku. Kau sudah cukup dewasa untuk mengerti isi hati ini." Dia berkata seperti itu.


"Aw!!!"

__ADS_1


Tiba-tiba saja kereta kuda kehilangan keseimbangan yang membuatku menabrak tubuh Zu. Tanganku pun refleks berpegangan padanya. Aku tak ingat lagi siapa dirinya siapa diriku. Kejadian tak terduga kualami kali ini.


"Pangeran ...." Aku pun segera tersadar saat laju kuda normal kembali.


"Ara ...."


Zu melihatku, aku pun melihatnya. Kami saling bertatapan dengan wajah yang dekat sekali. Dia pun menatapku seperti sedang mengingat masa-masa indah itu. Masa di mana hanya ada aku dan dirinya yang mengukir hari bersama. Aku pun segera tersadar dari keadaan ini. Aku melepaskan peganganku darinya. Aku tidak boleh menyentuhnya karena dia bukan milikku. Namun, dia menahannya. Seolah memintaku untuk terus memegangnya.


"Pangeran, kita ...."


"Kau tidak bisa membohongi dirimu, Ara." Dia berkata seperti itu.


Kutelan ludahku sambil berusaha keras untuk melepaskan tanganku darinya. Namun, tenaganya seolah tidak bisa kulawan. Entah mengapa aku seperti tidak mempunyai kekuatan untuk mencegahnya. Dia membuatku goyah di setiap kali pertemuan. Tapi aku berharap hal ini tidak berlangsung lama.


"Pangeran, lepaskan aku. Kau sudah janji untuk menjaga kehormatan dan keselamatanku." Kukatakan kembali isi dokumen perjanjian itu.


Zu menelan ludahnya. Dia seperti kecewa dengan perkataanku. Namun, aku tidak bisa membiarkan situasi ini semakin tumbuh dan merekah. Aku manusia biasa, gadis dengan segala kekurangan yang ada. Bukankah cinta datang karena terbiasa? Aku khawatir jadi jatuh cinta karena terbiasa melihatnya.


Maafkan aku, Pangeran ....


Harus kuakui jika Zu adalah pangeran tampan berkulit putih yang dimiliki Asia. Berbeda dengan kedua pangeranku yang ada di Angkasa. Cloud dengan kulit putih kemerah-merahan, sedang Rain lebih gelap dari kakaknya. Berbeda dengan Zu yang putih bersih sempurna.


Aku tidak tahu bagaimana kisah ini selanjutnya. Namun, yang kutahu ketiganya mencintaiku. Sama-sama menginginkanku untuk menjadi istrinya. Andai bisa ketiganya, mungkin aku akan lebih serakah. Jika ketiganya bisa, kenapa harus dapat satu saja? Tapi, kembali lagi ke hati seorang pria. Mereka tentu tidak ada yang mau dimadu oleh pasangannya. Apalagi berbagi ranjang dengan pria lain. Hal itulah yang membuatku goyah jika menikah dengan kedua pangeran Angkasa. Apakah hidup kami bisa bahagia?

__ADS_1


__ADS_2