Dua Pangeran Satu Cinta 2

Dua Pangeran Satu Cinta 2
Beautiful Memories


__ADS_3

"Kau tidak senang mendengar hal ini?" Zu bertanya padaku.


"Pangeran, apa ini serius?" tanyaku memastikan.


"Apa kau melihat keraguan di wajahku?" Dia malah balik bertanya padaku.


Sungguh saat itu aku tak menyangka dengan perkataannya. Aku hanya bisa menelan ludah di hadapannya. Dia membiusku dengan untaian kata yang begitu indah. Berisi janji pernikahannya denganku. Aku juga tidak tahu harus berkata apa. Aku benar-benar bingung untuk menanggapinya. Zu ingin secepatnya melangsungkan pernikahan dan hanya tinggal satu bulan saja.


"Ara?" Zu menegurku.


"Em, Pangeran." Aku segera tersadar. "Mengapa kau ingin secepatnya menikahiku?" tanyaku serius.


Zu tertawa. "Apa jika kubilang karena takut kehilanganmu, kau tidak akan bosan mendengarnya?" Dia lagi-lagi balik bertanya.


"Tapi, Pangeran. Kau belum tahu siapa aku. Sebenarnya aku bukan—"


Belum sempat meneruskan kata-kata, aku tersentak saat melihat seekor kucing besar berlari ke arah kami. Sontak saja aku ketakutan.


"Pa-pangeran!!!" Aku berniat lari.


"Ara, ada apa?" Zu menahanku.


"Pangeran ada kucing besar. Kita harus lari!" Aku pun mencoba lari.


Zu menoleh ke arah yang kulihat. Dan dia melihat kucing besar itu mendekati kami.


"Pangeran, cepat lari!" kataku semakin panik.


"Ara! Jangan lari, di sini saja!" Zu malah menahanku.


Aku bertambah panik saat kucing itu semakin mendekat. Tapi Zu terus saja menahanku agar tidak lari. Dan karena rasa panik tak tertahankan lagi, kupanjat saja tubuh tingginya untuk berlindung.


"Pangeran! Pangeran!"


Kupanjat cepat tubuhnya. Sebisa mungkin berlindung padanya. Kupeluk erat tubuhnya, berusaha menghindari yang sedang lari ke arahku.


"Pangeran, tolong aku!" Aku benar-benar takut.


Zu sepertinya senang dengan sikapku. Aku yang ketakutan pun hanya bisa pasrah sambil terus membenamkan wajah di pundaknya.


"Ara, tenanglah." Dia mengusap-usap punggungku.


Aku tidak tahu apa yang dia lakukan, aku tidak berani melihatnya didekati kucing besar itu. Tapi tak lama kemudian, aku mendengarnya bicara.


"Lion King, pergilah! Ini kekasihku, bukan orang asing!" Zu berbicara kepada kucing besar itu.

__ADS_1


Lion King? Aku bertanya-tanya sendiri.


Aku mencoba melihat apa yang terjadi. Dan ternyata, Zu sedang mengusap-usap kepala kucing besar itu.


Astaga!


Tangan kanannya mengusap kepala kucing besar itu, sedang tangan kirinya memegangi tubuhku agar tidak terjatuh dari gendongannya. Seketika aku merasa seperti anak kecil saja.


"Pangeran ...."


Aku mencoba melihat wajahnya dan Zu pun melihat wajahku. Kami saling bertatapan dan dekat sekali. Hidung kami pun hampir bersentuhan.


"Pangeran, mengapa kau tidak bilang jika kucing itu jinak?" Aku merasa tertipu.


"Kau tidak bertanya padaku," jawabnya seraya memperhatikan wajahku ini.


"Pangeran, kau sengaja melakukannya?" tanyaku lagi.


Dia diam, tidak menjawab apapun. Sedang tangan kanannya memberi kode kepada kucing itu agar segera pergi. Kulihat kucing besar itupun pergi meninggalkan kami.


"Aku sengaja melakukannya agar kau bisa seperti ini. Maaf, ya." Dia menatapku dalam sekali.


Entah mengapa jantungku berdetak tak karuan. Habis panik karena takut, tiba-tiba saja berubah menjadi detakan yang berbeda. Aku pun merasa dekat dengannya, seolah tidak mempunyai jarak lagi.


"Ara, izinkan aku menciummu."


Pangeran ... aku harus bagaimana?


Saat itu juga aku tidak tahu harus bagaimana. Rasanya tubuhku melemah kala merasakan sensasi yang mulai menjalar ke seluruh tubuh. Dan perlahan kurasakan tangannya menyusuri punggungku lalu memegang tengkuk leherku ini. Seketika aku pun merasa seperti terserap olehnya.


Pangeran ....


Zu menarikku ke dalam ciumannya. Bibir kami akhirnya bertemu. Dia mengecupku lembut sekali. Aku bisa merasakan betapa hangat daging lembut itu menyentuh bibirku.


"Balaslah Sayang," pintanya sejenak, memberi waktu untukku bernapas.


Aku seperti tidak kuasa menahan hasrat yang menggelora karena ciumannya. Bibir lembutnya menekan-nekan bibirku, meminta perlawanan. Tapi aku diam saja karena masih ingin menikmati setiap sentuhan bibirnya ini.


Pangeran, kau mulai nakal!


Mungkin dia kesal karena tidak ada reaksi dariku. Jari-jemarinya pun mulai memegang telingaku lalu mengusap-usapnya perlahan. Sontak aku merasa geli dibuatnya. Tangan kirinya pun mulai bergeser, menyusuri pahaku, sehingga sensasi aneh itu mulai kurasakan.


Pangeran, jangan lakukan ini.


Dia menggelitik telingaku dengan jemari tangannya. Seketika tenagaku seperti terserap olehnya, seakan hilang begitu saja.

__ADS_1


"Mmm..."


Akhirnya kupejamkan mata ini seraya membalas ciumannya. Aku pun pasrah dengan apa yang terjadi. Biarlah semua menjadi saksi atas cintanya. Kubiarkan Zu menyalurkan perasaannya padaku.


Pangeran, kini aku seperti gadis kecil yang dimanja dan tidak ingin lepas dari gendonganmu.


Sejuk angin pagi membawa kami ke suasana yang romantis sekali. Aku dan Zu seakan sudah menyatu. Bibir kami yang berpadu menjadi saksi akan cinta dan hasrat yang menggebu. Aku pun membiarkan tubuh ini merasakan sensasi yang dia berikan.


"Ara." Sesaat kemudian, dia menyudahi ciumannya.


"Pangeran?"


Kubuka perlahan kedua mataku, kulihat dia menatapku dengan lembut. Dia pun membenarkan poniku ini. Usapan lembutnya begitu memanjakanku. Hingga akhirnya dia menyampirkan rambutku ke belakang telinga. Saat itu juga aku mengangkat bahu karena geli. Dan ternyata, ekspresi wajahku ini membuatnya menciumku kembali.


Pangeran, aku lemah sekarang. Kau harus bertanggung jawab atas hatiku.


Akhirnya aku luluh dengan segala sikapnya. Dan kini aku tak berdaya untuk menolak ciumannya. Hatiku terasa terikat dan dia pun menyambut gembira hal ini.


Dia begitu bahagia hingga tidak menyadari di mana gerangan kami berada. Dibelainya lembut rambut panjangku hingga ciuman itu berangsur lama tanpa terasa. Dia terus saja menciumku. Dan tak lama kemudian kudengar suara pelayan-pelayan yang melarikan diri dengan cepat. Mungkin mereka melihat apa yang kami lakukan di depan istana ini.


.........


"Sayang." Zu menyapaku.


Sontak kata sayang yang terucap dari bibirnya itu menyadarkanku. "Pa-pangeran?" Aku pun tersadar dari ingatanku.


"Jangan cemas. Semua akan berjalan dengan baik. Percayalah padaku." Dia meyakinkanku.


Aku bingung harus mengangguk atau menggelengkan kepala. Aku masih bingung dengan hal yang terjadi pagi ini. Tapi mungkin ada baiknya jika aku tersenyum saja. Aku pasrah dengan takdir yang harus kujalani. Jika memang Zu adalah jodohku, apalah daya untuk menolaknya. Tapi setidaknya aku telah berusaha untuk mempertahankan kedua pangeran Angkasa di hatiku.


.........


Kau adalah udara yang kuhirup.


Gadis, kau adalah segala yang kubutuhkan.


Dan aku ingin berterima kasih kepadamu, Nona.


Kau adalah kata-kata yang kubaca.


Kau adalah cahaya yang kulihat.


Dan cintamu adalah segala yang kubutuhkan...


Kau adalah lagu yang aku nyanyikan.

__ADS_1


Gadis, dapatkah kau menjadi segalanya bagiku?


Dan aku ingin berterima kasih padamu, Nona...


__ADS_2